Little Angel Brings Romance

Little Angel Brings Romance
Bab 26-Rumah Hantu


__ADS_3

Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~


__________________________________________


Happy Reading 🥀


"Kenapa?" tanya Louis masih dengan tatapan yang tertuju pada Jane. Tampaknya wanita itu sedang salah tingkah.


"Ah ti-- tidak."


Louis bangkit dari duduknya, ia menjulurkan tangan pada Jane.


"Kita jalan-jalan dulu saja, mungkin akan bertemu Sora?" ajaknya, lalu di angguki oleh Jane.


Mereka lantas berjalan mengelilingi pasar malam. Melewati beberapa wahana serta tempat bermain. Louis menghentikan langkahnya ketika berada di depan sebuah grobak penjual sate usus.


"Mau coba?" tanya Louis seraya menujuk sate sate tersebut.


"Aku tidak suka," jawabnya menahan rasa malu.


"Oh, kita cari makanan lain saja ... "


Louis dan Jane kembali berjalan, tampaknya pria itu sedang kelaparan. Yah, atau lebih tepatnya ingin mencoba makanan yang di jual di tempat itu.


Hampir belasan menit mereka memutari pasar, akhirnya mereka pun berhenti di depan sebuah grobak penjual harumanis. Tentu saja permen gula itu sukses memikat hati Jane.


Namun tampaknya beberapa orang tengah mengantri untuk membelinya. Akibatnya, Jane dan Louis pun harus mengantri di bagian paling ujung belakang.


Harumanis itu dibentuk menyerupai benda, balon bahkan hingga makanan. Yang paling indah, harumanis itu di bentuk menjadi sebuah buket bunga.


"Aku ingin yang itu!" lontar Jane seraya menunjuk harumanis dengan bentuk buket bunga.


Sontak beberapa orang di depannya menoleh dan menatap kesal pada Jane. Mungkin karena ia tiba-tiba berteriak seakan tidak mau mengantri terlebih dahulu.


"Hei, apa kau tidak bisa sabar?" tanya seorang pria yang tengah berdampingan dengan pasangannya.


"Maaf, kami akan mengantri," balas Louis dengan cuek. Jane pun tertunduk malu dan merasa bersalah terhadap sang tuan.


"Jangan membuatku malu," ucapnya lirih seraya main mata ke arah Jane.

__ADS_1


"Ah, ma-- maaf. Aku tadi hanya bercanda," balasnya tersenyum tipis.


Cukup lama mereka mengantri untuk membeli harumanis tersebut, akhirnya mereka pun berdiri di antrian paling depan. Jane sangat bersemangat untuk membeli harumanis dengan bentuk buket bunga.


"Ambilkan saya satu," kata Louis pada si penjual. Wanita itupun memberikan harumanis yang ditunjuk oleh Louis.


"Harganya $3." Louis memberikan yang lebih. Saat hendak memberikan kembali, Louis menolaknya dan langsung angkat kaki.


"Terima kasih banyak Tuan!" lontar si wanita penjual harumanis tersebut.


*****


Waktu menujukkan pukul 23.33. Malam yang semakin larut menampakkan langit yang semakin gelap. Namun sesuatu yang tak terduga tiba-tiba terjadi. Angin kencang dengan hujan badai salju menyerbu pasar pusat kota. Akibatnya, Jane hilang keseimbangan dan hampir terjatuh.


Grep!


Pria itu menangkapnya, menatap mata Jane dengan jarak yang cukup dekat. Adegan itu sukses menangkap perhatian orang-orang disekitar. Lekas Jane pun berdiri, tak ingin banyak orang menjadi salah paham.


"Maaf! Aku tidak bermaksud mencari perhati-- " ucapannya terpotong ketika Louis tiba-tiba meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Jane. Tentu saja membuat warna pipinya berubah menjadi merah, ia langsung memalingkan wajahnya lantaran tak ingin Louis melihat reaksinya.


"Ayo cepat pergi!" lontar Jane. Tanpa sadar, ia telah menarik tangan tuannya sendiri. Yah, mungkin agak kurang sopan jika mereka memang hanya sebatas tuan dan asisten pribadi.


"Kau ingin mencobanya?" tanya Louis seraya menatap Jane dengan heran. Lantas wanita itupun mengangguk dan langsung berjalan menuju sebuah loket untuk membeli dua buah tiket.


"Dua tiket Pak," ucapnya pada pria penjaga wahana. Pria itu memberikan Jane dua buah tiket dengan masing-masing tiketnya memiliki harga $4.


"Biar aku yang bayar," timpal Louis.


Setelah beberapa saat, akhirnya orang-orang keluar dari dalam wahana tersebut. Rasa takut jelas terpampang di wajah mereka. kini giliran Jane dengan Louis.


Aturannya setiap orang harus berpasangan, dan orang yang masuk ke dalam wahana di beri kesempatan waktu sepuluh menit untuk bisa keluar lagi.


Mereka masuk ke dalam rumah hantu tersebut, beberapa orang dengan pasangan mereka tampak ketakutan. Terutama para wanita.


"Awas saja jika kau takut," ujar Louis sedikit jengkel.


"Tenang saja Tuan, saya bukan wanita penakut kok!" seru nya bersemangat.


Langkahnya bahkan sudah bisa ditebak, bahwa Jane memang bukan wanita penakut seperti para wanita pada umumnya. Dia terus berjalan di depan Louis layaknya sebagai pemimpin.

__ADS_1


Bum!


Sesuatu tiba-tiba muncul di hadapan mereka, sontak mampu mengejutkan banyak orang di sana. Begitulah, termasuk dengan Jane. Meskipun dia bukanlah seorang penakut, namun dia juga bisa juga terkejut karena sesuatu yang muncul dengan tiba-tiba.


Tak lain juga dengan Louis, dia langsung tergoyah kaget. Pria itu memang memiliki kepribadian mudah terkejut.


"Tu-- Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Jane merasa khawatir dengan Louis yang wajahnya tampak memucat.


"Aku baik," balasnya dingin tanpa menatap wanita itu.


Mereka pun melanjutkan berjalan di dalam rumah hantu. Beberapa orang memilih untuk menyerah. Namun berbeda dengan Jane, ia ingin lolos dari dalam rumah hantu tersebut agar mendapatkah hadiah sesuai pilihan sendiri.


Tibalah mereka di depan sebuah pintu. Ketika Jane hendak membuka pintu tersebut, Louis melarang untuk membukanya. Dia menggeleng dengan raut wajah iba. Yah, mau bagaimana lagi? Jane pun menuruti keinginan pria itu.


Sudah hampir tujuh menit berada di dalam sana, namun keduanya masih belum menemukan jalan keluar. Tampaknya orang-orang yang sebelumnya berada di belakang mereka sudah berpencar untuk mencari jalan keluar.


Grawwwww!!!


Seekor monster aneh tiba-tiba muncul, akibatnya Louis pun tergeletak pingsan tak sadarkan diri. Membuat Jane semakin takut dan khawatir.


"Tuan! Astaga, ada apa dengannya?" ucapnya bingung sembari berusaha membangunkan Louis.


〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎


Sementara itu, Sora tengah asyik menonton film horor dengan didampingi sebuah popcorn dan soda untuk camilan. Ia menonton film di sebuah bioskop di dalam pasar malam tersebut.


Tentu saja, Sora tidak hanya sendrian berada di sana. Dia menikmati film bersama dengan Alfred. Tidak perlu mengeluarkan uang, anak kecil itu sudah membayarkan seluruh biaya nonton film beserta cemilannya.


"Twe-- rwimwa-- kwasih!" ucap Sora dengan makanan penuh di mulutnya.


"Seharusnya aku yang berterima kasih pada Kakak. Ngomong-ngomong, aku penasaran dengan bibi Lil dan ayah. Mereka sedang apa ya sekarang?"


Bersambung🍁


Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!


Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.


Terima kasih~

__ADS_1


__ADS_2