
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
_________________________________
Happy Readingπ₯
Suasana kembali hening, hanya ada suara anak kecil yang terus berbicara di dalam telepon tersebut. Hingga akhirnya Louis merebut ponselnya dari genggaman Jane.
"Nanti Ayah telepon lagi jika sudah sampai," ucap nya dengan tegas. Ia kemudian mengakhiri panggilannya secara sepihak.
Tak lama berselang, seorang wanita pun datang dengan membawa beberapa makanan yang memenuhi isi nampan nya. Wanita itu meletakkan makanan ke atas meja besar.
"Silahkan menikmati ...."
"Terima kasih," balas Dion.
Mereka mulai melahap makanan tersebut, mengambilnya secara asal demi mengisi perut agar cepat kenyang.
Namun Jane menjadi sedikit geram lantaran Dion tidak bisa berhati-hati dalam mengambil makanan, membuat bumbu-bumbu pada makanan itu terjatuh berantakan.
Karena merasa tidak enak jika menegur temannya sendiri, wanita itupun memilih untuk diam daripada memulainya.
Setelah beberapa menit berlalu, meja besar itu tampak sudah bersih, gelas yang sebelumnya berisikan air kini kosong tanpa setetes air pun di dalamnya. Bahkan beberapa piring juga sama kosong dari makanan.
Waktu yang telah menunjukkan pukul 13.30 tepat itu membawa ketiganya pergi dari bangunan cafe, setelah usai membayar tagihan makanan.
Perjalanan yang mereka butuhkan untuk bisa tiba di tempat tujuan sudah diperkirakan sekitar satu hari dua belas jam lamanya. Namun karena sempat terjebak kemacetan tadi siang, mungkin waktu yang mereka butuhkan akan lebih lama.
Selama berada di dalam mobil, Louis hanya terdiam memandang ponselnya. Sedangkan Jane yang tidak tau harus melakukan apa, ia pun hanya bisa memandang jalanan yang ramai oleh kendaraan tertutup.
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita memesan kamar hotel saja nanti malam?" tanya Dion tiba-tiba, sukses mengejutkan Jane yang sebelumnya hanya termenung diam.
"Jika perlu, nanti aku akan memesannya," balas Louis dingin.
"Ta-- tapi, bukankah lebih baik jika kita terus melanjutkan perjalanan saja? Pasti kita juga akan cepat tiba di kota D," timpal Jane.
Louis pun menoleh ke arahnya, menjadikan wanita itu salah tingkah dengan tatapan yang tersorot dari matanya.
"Kita lihat saja nanti."
"Ehm, baiklah."
Setelah langit mulai terlihat gelap, burung-burung berterbangan membawa angin berhembus masuk ke setiap ruangan. Jalanan yang sebelumnya terlihat padat oleh kendaraan, kini hanya tersisa asapnya saja. Lampu-lampu mulai menyala, menerangi tiap bangunan kota serta toko-toko diseberang jalan.
__ADS_1
Jane menguap kantuk setelah berada di mobil hampir delapan jam, tubuhnya yang hanya dibalut dengan kain tipis juga membuat angin cepat menusuk ke tubuhnya.
Perlahan kedua bola matanya mulai tertutup lantaran tak kuasa menahan kantuk yang berat.
Louis yang menyadari bahwa wanita di sebelahnya tertidur, ia lantas memakaikan jas pakaian padanya.
Bahkan Dion yang sebelumnya fokus mengemudi, kini menjadi salah fokus karena Louis yang sepertinya cukup perhatian pada Jane.
Karena lampu lalu lintas yang berganti tiba-tiba, Dion akhirnya mengerem mobil secara mendadak. Mengakibatkan kepala Jane terbentur keras ke kursi depan.
Bugh!!!
"Auh ... sakit ...," rintih nya seraya memegang bagian dahi yang sempat terbentur.
Seketika dua lelaki itu menoleh ke arahnya dengan tatapan khawatir. Tanpa sadar, Louis langsung menarik tubuh Jane ke dalam pelukannya.
"Apa kau terluka?" tanya Louis menatap wajah wanita itu.
"A-- aku baik ...," balasnya dengan suara lirih.
Louis yang baru sadar bahwa dirinya tengah memeluk Jane pun dengan cepat melepas pelukannya. Kini suasana canggung menyelimuti seisi mobil.
Ketika malam sudah semakin larut, mereka yang melewati gedung hotel lantas memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu dan menginap di dalam hotel tersebut.
"Tolong dua kamar," pinta nya pada seorang pria pegawai hotel.
"Ini." Pria itu kemudian memberikan dua buah kunci sesuai permintaan Louis.
Ketiganya berjalanan masuk ke dalam lift, dan akhirnya tiba di lantai tiga puluh di hotel tesebut.
"Selamat malam Tuan, selamat malam Dion," ucap Jane ketika dirinya hendak masuk ke dalam kamar yang berbeda.
"Selamat malam," balas dua pria itu dengan kompak.
Selama didalam ruang kamar, Jane masih terbayang dengan kejadian saat tadi si tuan memeluk dirinya dengan erat. Seketika pipinya itu berubah merah, serta jantung yang berdegup kencang.
Karena terus memikirkan kejadian itu, Jane pun jadi tidak bisa tidur. Ia akhirnya memutuskan untuk bermain ponsel hingga matanya bisa tertutup.
Yah, meskipun sebelumnya sempat tertidur di mobil karena mengantuk, namun kini dirinya sama sekali tidak bisa tidur.
Sesaat hampir memejamkan kedua bola matanya, ponsel miliknya tiba-tiba berdering. Membuatnya gagal tidur lagi.
Begitu diraih ponsel tersebut, ternyata Alfred lah yang menghubunginya. Dengan cepat Jane mengangkat panggilan tersebut, karena ia pikir ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakan.
__ADS_1
"Halo, selamat malam Alfred ...," sapa Jane dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Halo Bibi Lil, selamat malam," balasnya.
"Kau ... sedang berada dimana?" tanya Jane ketika melihat bocah dari balik teleponnya itu berada di luar ruangan.
Tentu saja, seorang anak kecil harus banyak diperhatikan. Meskipun hanya suatu hal kecil yang dilakukan olehnya.
"Aku sedang di luar karena merasa bosan."
"Alfred, apa Bibi boleh meminta tolong padamu?" Alfred mengangguk, tak sabar menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Jane.
"Masuklah ke rumah, tidak baik jika kau berada di luar," tuturnya pelan memberi nasihat.
Tanpa banyak berpikir, Alfred lantas berjalan masuk ke dalam rumahnya yang tampak besar meskipun hanya dipandang sebelah mata.
Wajah tampannya itu tersirat senyum manis. Hampir setiap saat senyuman itu tidak pernah hilang dari wajahnya.
"Bibi, dimana ayah?" tanya Alfred seraya duduk di sebuah kursi ruang makan.
"Sepertinya ayahmu sudah tidur."
"Bisakah Bibi panggil ayahku? Aku ingin berbicara dengannya," pinta Alfred terus memohon.
Ingin rasanya menolak, namun dia tidak tega karena melihat wajah anak lelaki itu tampak menyedihkan.
Mau tidak mau, iapun berjalan keluar dari dalam kamar hotelnya. Perlahan mengetuk pintu kamar hotel milik sang tuan.
Tok ... tok ... tok ...
Setelah beberapa saat, pintu kamar tersebut masih belum terbuka. Menandakan bahwa dua pria itu sudah tertidur dengan pulas.
"Bagaimana?" tanya Alfred, berharap ayahnya akan membukakan pintu untuk Jane.
"Maaf Alfred, tapi pintunya tidak terbuka," balasnya seraya tersenyum tipis.
Langkah kaki Jane mulai berjalan semakin menjauh dari tempat itu, namun tak menyangka kalau pintu kamar tiba-tiba terbuka. Membuatnya menoleh ke arah pria yang tengah berdiri di tengah-tengah pintu.
Tubuh Louis yang hanya dibalut dengan pakaian tidur itu sukses membuat pipi Jane memerah. Dengan bentuk tubuh kotak-kotak yang menawan, serta wajah tampannya tentu menjadi idaman para wanita.
"Jane?"
Bersambung ...
__ADS_1
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ