
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
_________________________________________
Happy Reading🥀
Lambat laun angin berhembus, suasana canggung kini menyelimuti sekumpulan orang yang tengah berkerumun membicarakan keburukan Jane.
"Kenapa kalian berpikir kalau Jane adalah wanita penggoda?" tanya pria itu yang kemudian berjalan menghampiri orang-orang tersebut.
"Karena memang begitu kenyataannya, Tuan!" decak wanita yang kini tengah berdiri berdampingan dengan Jane.
"Huh, itu tidak benar. Jangan menyebarkan gosip aneh lagi jika tidak ingin terkena konsekuensi nya! Mengerti?" tegur nya. Pria itu berbalik memandang Jane, lalu menarik lengannya agar mereka segera menjauh dari sekumpulan wanita penggosip itu.
"Sebentar, aku jadi bingung," ucap Jane melepas genggaman tangan dari pria di sebelahnya.
"Dion, apa kau bekerja di sini?" imbuhnya bertanya. Yap, pria yang memiliki bola mata biru adalah Dion. Sahabatnya sendiri.
"Haha, kau baru tau? Masa sahabat sendiri tidak tau sahabatnya bekerja di mana, sih?!" balas nya dengan senyuman kesal yang terpampang di wajah tampannya itu.
Tanpa sadar, Jane mencubit hidung Dion, membuat warna di pipi nya berubah drastis menjadi semerah apel.
"Hei, kau demam?" tanya Jane seraya menempatkan tangannya di jidat Dion.
"Ah, lepas! Jangan asal sentuh begitu, dong!" ujar nya jengkel menahan rasa malu. Pria itu bukannya demam, melainkan salang tingkah karena Jane tiba-tiba mencubit batang hidungnya yang mancung.
"Jane, apa hari ini adalah hari pertamamu bekerja?" tanya Dion sembari menatap serius wajah wanita di sebelahnya, lantaran selama ini Dion hanya tau bahwa Jane bekerja di perusahaan R.A Grup atau perusahaan sang mantan kekasih.
"Iya."
"Eh? Apa aku boleh bertanya apa alasannya?" tanya nya kembali. Posisi mereka saat ini adalah berdiri saling berhadapan.
"Aku memutuskan untuk keluar dari perusahaan Ray. Lagipula, posisi ku juga tidak akan aman jika terus berada di dekatnya," balasnya. Wajah cantiknya itu terlihat murung dengan menatap ke lantai lorong.
"Semoga kau senang bisa bekerja di sini!" cetus Dion memberi semangat. Lantas wanita itupun tersenyum lebar, mampu membuat detak jantung pria di hadapannya berdetak kencang.
__ADS_1
"Ah, situasi macam apa ini?" batin Dion berusaha memalingkan pandangannya dari senyuman manis wanita itu.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya seorang pria yang datang secara tiba-tiba. Kedatangannya itu mampu mengejutkan sosok Jane dan Dion. Mereka lantas saling berjauhan untuk memberi jarak.
"Tuan Louis? Ka-- kami hanya-- "
"Kami tidak sengaja bertemu, dan kami mengobrol." Dion memotong ucapan Jane. Dia tersenyum seraya melirik wanita di sebelahnya.
"Sebaiknya jangan terlalu dekat. Orang-orang akan bisa beranggapan buruk tentang kalian. Bukan hanya itu, nama perusahaan juga mungkin akan ikut terseret!" tegur Louis. Tatapan matanya terus tertuju pada Jane yang sedari tadi hanya terdiam.
"Baiklah, maafkan kami," ucap Dion dengan membungkukkan tubuhnya sebagai rasa hormat pada sang atasan. Hal itu juga diikuti oleh Jane.
"Jane, ikut aku," ucap Louis. Langkah kakinya berlalu meninggalkan tempat tersebut.
"Maaf, aku harus pergi sekarang. Kita lanjut ngobrol nanti saja," tutur nya. Jane berjalan cepat mengejar Louis yang sudah cukup jauh meninggalkannya di belakang.
Tiba di sebuah ruangan luas, yang tak lain dan bukan lain lagi adalah ruangan pribadi milik Louis. Keduanya duduk di sebuah kursi yang saling berhadapan.
"Tuan Louis tidak akan memarahi ku, kan?" batinnya bertanya sendiri.
"Tugasmu di sini untuk bekerja, bukan untuk pacaran!" tegas Louis tiba-tiba. Sontak perasaan Jane menjadi tidak tenang, dia khawatir akan langsung dipecat di hari pertamanya bekerja hanya karena suatu kesalah-pahaman.
"Saya benar-benar minta maaf. Tapi tadi itu saya memang tidak sedang pacaran," tukas Jane membela dirinya sendiri.
"Lupakan saja. Aku memanggilmu karena ingin memberi tugas."
"Benarkah? Tugas apa?" tanya Jane dengan girang. Akhirnya dia bisa menerima tugas di hari pertamanya bekerja.
"Tugasnya ... "
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Seorang wanita dengan rambut pendek sebahu itu menatap kesal ke arah pintu masuk ruangannya. Yap! Dia adalah Sora, dirinya tengah menahan amarah karena suatu hal.
"Kenapa dia bisa dibela oleh tuan Dion? Ah, Menyebalkan! Semua yang ku inginkan di rebut oleh wanita sialan itu hanya dalam waktu sehari!" Sora melempar sebuah vas bunga ke lantai, dia benar-benar merasa kesal dengan sosok Jane.
__ADS_1
"Padahal selama ini, aku ingin berada di posisi nya sebagai asisten pribadi tuan Louis. Tapi, Jane merebutnya hanya dalam waktu sehari. Lalu, aku sudah menanti perhatian Dion sejak lama, namun lelaki itu tidak juga memberi ku perhatian seperti yang ia lakukan pada Jane. Siapa sebenarnya wanita itu? Kedatangannya sungguh membuatku kesal!" ucapnya.
Sejak tadi wanita itu hanya berjalan ke sana kemari memikirkan sosok Jane seorang.
******
"Kenapa aku merasa begitu familiar dengan sosok Jane? Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" ucap Louis dalam hatinya. Dia terus melamun seraya menatap jalanan kota yang padat akibat kendaraan.
"Ayah!" teriak Alfred yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Louis. Anak itu baru saja pulang dari sekolahnya setelah seharian belajar di sana.
"Lain kali ketuk pintu sebelum masuk," tegur Louis. Dia merasa terkejut karena kedatangan sang anak yang tiba-tiba.
Setelah sepulang sekolah, anak itu langsung menuju ke perusahaan milik ayahnya. Hal itu sering ia lakukan lantaran merasa bosan karena tidak memiliki teman beramain di rumah.
Alfred pulang dengan dijemput oleh sopir pribadi, biasanya juga dia berangkat dengan diantar. Namun terkadang Alfred menolak untuk naik kendaraan dan memilih untuk jalan kaki menuju ke sekolahnya yang cukup jauh. Itu dilakukan olehnya demi mendapatkan banyak teman.
******
Jane menatap sebuah jam yang terpampang di dinding ruangan. Dilihatnya waktu telah menunjukkan pukul 16.22. Wanita itu segera bangkit dari kursi, akhirnya semua tugas yang diberikan oleh sang atasan itu mampu diselesaikan olehnya hanya dalam kurun waktu selama tiga jam.
Dia berjalan keluar dari ruangannya. Langkah kakinya itu berjalan masuk ke dalam lift. Tangannya kecilnya telah dipenuhi oleh beberapa lembaran dokumen yang cukup penting karena mencakup identitas perusahaan.
Setibanya di lantai tujuan, Jane langsung berjalan menuju sebuah ruangan. Dia mengetuk pintu tersebut dan langsung membukanya.
"Permisi," ucap Jane setelah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Sontak wanita itu terkejut ketika melihat sosok Alfred tengah berdua dengan ayahnya. Niatnya untuk menyerahkan tugas malah membuatnya menjadi ragu untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
Bersambung🍁
Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!
Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.
Terima kasih~
__ADS_1