Little Angel Brings Romance

Little Angel Brings Romance
Bab 33-Tiba Di Panti


__ADS_3

Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~


___________________________________


Happy ReadingπŸ₯€


Udara berhembus menyejukkan seisi ruangan yang gelap, sampai tak terlihat sedikitpun cahaya matahari di dalamnya. Serta pohon-pohon besar yang menutup tiap lubang ventilasi, menambah daya seramnya tersendiri.


Ketika awan mulai terlihat gelap, dan datang rembulan, lampu-lampu mulai dinyalakan, menyinari tiap ruangan di bangunan panti asuhan tersebut.


Jane meletakkan tas berisi pakaian, serta beberapa perlengkapan miliknya di dalam ruang kamar yang telah disiapkan oleh pengurus panti.


Karena lelah, wanita itu langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Sudah hampir seharian ini punggungnya terasa kaku lantaran terus duduk di kursi mobil.


Tak lama berselang, seorang wanita pengurus panti datang menghampirinya di dalam kamar, reflek mengejutkan Jane yang hampir terlelap.


"Maaf saya masuk secara tiba-tiba. Tapi saya kemari karena ingin memberitahu pada Nona, bahwa makan malam telah siap," ujar wanita tersebut.


Jane tersenyum menanggapinya, lantas ia bangkit dari ranjang. Dirinya jalan beriringan bersama wanita itu menuju ruang makan yang terletak di lantai atas.


Namun ketika hendak menaiki anak tangga, Jane sempat dikejutkan oleh seorang anak kecil yang tengah bersembunyi di bawah tangga itu. Wajahnya menunjukkan rasa takut, serta terdapat bekas pukulan pada pipi.


Langkah kakinya yang terhenti, membuat si wanita pengurus panti menjadi heran karena perangainya.


"Kenapa berhenti?" tanya nya seraya memandang Jane yang menoleh ke arah bawah tangga.


"Ti-- tidak, aku hanya lelah saja," balasnya gugup.


Mereka pun akhirnya melanjutkan naik ke lantai atas, hingga tiba di sebuah ruangan besar yang terdapat beberapa orang di dalamnya.


Dion melambaikan tangan ke arah Jane, lalu memberi kode agar duduk di sebelahnya.


Karena hanya kursi itu saja yang tersisa, mau tidak mau Jane harus menerimanya dan duduk bersebelahan dengan Dion, berada diantara dua pria tampan.


"Maaf, aku hanya menyiapkan sedikit makanan ... karena aku mengira kalau kalian akan datang esok hari," ucap pria selaku pemilik panti.


"Oh ya, namaku adalah Delion," lanjut ucapannya, yang ternyata memiliki nama yaitu Delion.


"Tidak masalah, senang berkenalan dengan anda, Tuan Delion," sahut Louis menampakkan senyum pada wajahnya.


"Romo, kami permisi," pamit salah seorang pengasuh wanita, diikuti oleh pengasuh wanita lainnya.

__ADS_1


Di tempat itu, semuanya terbiasa memanggil Delion dengan sebutan Romo. Karena usianya yang lebih tua dari para pengasuh lain, sekaligus dirinya adalah si pemilik panti asuhan tersebut.


Setelah kepergian para pengasuh wanita, Jane bersama dua pria serta Delion menikmati makan malam dengan obrolan hangat.


Namun di tengah-tengah obrolan itu, Dion tak sengaja menjatuhkan sebuah gelas, hingga membuat suasana berubah seratus sembilan puluh derajat.


"Maaf, aku tidak sengaja," ucapnya panik seraya membersihkan serpihan beling yang tersebar di lantai ruang makan.


"Tidak perlu di bereskan, nanti biar ku suruh salah satu pengasuh untuk membereskannya," sahut Delion, wajahnya itu menunjukkan rasa tidak suka pada Dion.


"Sekali lagi aku minta maaf," lanjut ucapnya.


"Tenanglah, hal seperti ini sudah biasa dilakukan oleh anak-anak."


Kemudian mereka pun melanjutkan makan malam dengan rasa canggung yang menyelimuti. Karena merasa tidak enak, Louis akhirnya meminta izin untuk beristirahat di kamarnya yang telah dipersiapkan oleh pengurus panti.


Lalu Jane bersama Dion juga ikut bersamanya, sama-sama meminta izin untuk segera beristirahat.


"Ngomong-ngomong terima kasih atas hidangan malam ini. Besok akan saya usahakan untuk bisa bangun lebih awal," cakap Louis.


Kini ketiganya berjalan menuju lantai dasar, dimana terdapat kamar mereka yang hanya ada satu. Meskipun cukup berat untuk menerimanya, namun Jane terpaksa lantaran tidak ada kamar lain yang tersisa.


"Tidurlah diatas, aku akan tidur di bawah," kata Dion seraya meraih sebuah bantal yang tergeletak di atas ranjang.


"Kenapa tidak kalian saja yang tidur di atas?" usul Jane, namun ditolak oleh kedua pria itu secara bersamaan.


"Baiklah ... maaf jika merepotkan."


Waktu terus berputar, tanpa disadari malam yang telah semakin larut, menunjukkan angka pukul 00.13 waktu setempat.


Jane yang merasa tidak nyaman lantas bangkit dari ranjang, dirinya perlahan membuka pintu ruang kamar, dan melangkah keluar untuk mencari udara segar.


Ketika berjalan melewati sebuah ruangan asing, Jane tak sengaja melihat anak kecil yang sebelumnya ia lihat di bawah tangga.


Kini tampaknya anak itu sedang terdiam memandang sebuah foto di genggamannya.


Dengan ragu, ia mendekati anak tersebut. Hingga membuat keduanya saling terkejut saat berhadapan.


"Tidak perlu takut, Bibi ini orang baik," tutur Jane pelan, berharap tidak ada siapapun yang mendengarnya.


"Ah, be-- benarkah?" tanya anak lelaki itu dengan gugup.

__ADS_1


"Iya, benar. Nama Bibi adalah Jane Lilson, dan kau bisa memanggil ku Bibi Jane. Lalu, siapa namamu?" Jane mengulurkan tangannya, lalu dibalas serupa.


"Namaku Belliago," balas si anak yang ternyata bernama Beliiago.


"Wah, nama yang indah. Kalau Bibi boleh tau, kenapa kau ada di sini?" Jane yang penasaran lantas menanyakan alasan Beliiago ada di tempat itu.


Belum sempat menjawab, salah seorang wanita pengasuh panti tiba-tiba datang dengan tampangnya yang mengerikan.


Dia menarik lengan Beliiago dengan kasar, hingga meninggalkan bekas merah pada tangan kecilnya.


"Kenapa kau menariknya?" tanya Jane tanpa merasa takut sedikitpun. Dia justru menarik Beliiago ke dalam pelukannya.


"Nona, sebaiknya anda lepaskan Beliiago, dia adalah anak yang nakal dan cenderung mudah kerasukan," ungkap wanita itu berusaha meyakinkan Jane.


"Be-- begitu, ya?" Jane perlahan melepaskan Beliiago dari pelukannya, dan menyerahkannya pada si pengasuh wanita tadi.


Tanpa berbicara sepatah katapun, ia lekas membawa anak tersebut bersamanya, hingga tak terlihat oleh pandangan mata Jane hanya dalam waktu sekejap.


Merasa bingung ingin kemana, Jane akhirnya memutuskan untuk jalan mengelilingi ruangan di panti tersebut, sampai dirinya tak sengaja melihat sebuah pemandangan indah dari balik jendela.


Terlihat bintang-bintang berkelip di atas langit, serta aurora yang bahkan belum pernah ia lihat sekalipun dalam seumur hidup.


Tanpa ragu, dirinya langsung berlari keluar dari bangunan panti. Melihat pemandangan malam yang indah secara langsung dengan kedua bola matanya sendiri.


Sampai tak sadar kalau ternyata Louis tengah menatapnya dari balik pintu. Pria itu kemudian berjalan pelan menghampiri Jane yang kagum dengan pemandangan alam.


"Sedang apa?" tanya Louis tiba-tiba, sukses membuatnya terkejut.


Mungkin saat itu Jane yang sering membuatnya terkejut, hingga membuat jantungnya hampir lepas. Namun kini, Louis membalasnya dengan datang secara tiba-tiba dan mengejutkan wanita itu.


"Tuan? Kenapa anda kemari?" Bukannya menjawab, dia justru malah bertanya balik.


"Tadi ...."


Flashback on


Louis tak sengaja terbangun setelah mendengar suara keributan entah darimana. Merasa cukup penasaran, pria itu akhirnya bangun dan melihat ranjang tempat tidur yang telah kosong.


Tentu, rasa khawatir terus terbayang dalam benaknya, begitu mengetahui bahwa Jane sudah tidak berada di dalam kamar.


Dengan cepat Louis keluar dari kamar, dan melihat seorang pengasuh wanita menyeret anak lelaki. Membawanya berjalan menaiki tangga dengan paksaan.

__ADS_1


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€


__ADS_2