
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
________________________________________
Happy Reading 🥀
Suhu ruangan semakin dingin. Dengan berhembus nya angin yang masuk melalui lubang udara, dapat dirasakan hingga menusuk ke seluruh anggota tubuh. Disertai dengan lambat laun nya cahaya matahari yang hampir terbenam. Langit jingga tampak jelas terlihat sesaat mata memandang.
Meeting antara dua perusahaan akhirnya selesai dan mendapatkan hasil akhir yang baik. Jane dapat membawakan informasi yang telah dipersiapkan nya hanya dalam hitungan jam. Kini wanita itu masih dengan kaki tegak berdiri di sebelah Louis.
Satu-persatu di antara mereka mulai berlalu meninggalkan ruangan, hanya ada seorang pria yang masih setia berada di kursinya. Yah, pria itu masih dengan tatapan yang tertuju pada Jane.
"Tuan, ayo kita keluar," ajak Jane dengan suaranya yang lirih. Namun Louis menolaknya secara mentah-mentah, dia ingin agar Jane lah yang keluar terlebih dahulu dari ruangan ini.
Meski begitu, Jane pun mengangguk setuju. Dia berjalan dengan langkah cepat agar pria itu tidak mengejarnya.
"Kenapa anda masih di sini?" tanya Louis heran seraya menatap pria yang masih terduduk di dalam ruangan tersebut. Rasa curiga pun terlintas dibenak nya.
"Saya baru tau, kalau ternyata Jane bekerja di sini. Bahkan posisinya sebagai asisten pribadi anda," cetus Ray. Pria itu tersenyum menatap Louis.
"Apa hubungannya dengan anda? Lagipula, itu juga sebagai balas budi saya terhadapnya."
"Dia mantan kekasih saya!" Ray bangkit dari kursinya dengan emosi yang cukup membara. Jarinya di todongkan tepat di dada bidang Louis.
"Lepas, saya tidak ingin ribut dengan anda," kata Louis seraya menepis jari Ray dari dadanya. Pria itu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, dia pergi meninggalkan Ray seorang diri di dalam ruangan tersebut.
"Sial, Jane. Apa kau akan menjadi kekasih pria itu?" tanya Ray terhadap dirinya sendiri.
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Di kediaman Hanshen, seorang anak kecil tengah sibuk dengan layar komputernya. Yap! Dia adalah Alfred. Sore tadi ia memilih untuk langsung kembali ke rumahnya tanpa harus mengunjungi perusahaan sang ayah.
Mungkin karena mood nya yang tidak baik, membuatnya tidak banyak bicara sejak tadi siang. Bahkan sopir pribadinya pun sempat merasa khawatir karena sikap Alfred yang jauh berbeda dari biasanya.
Tok ... tok ... tok ...
__ADS_1
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, membuat Alfred harus berdalih membukakan pintu tersebut.
Dilihatnya, seorang pelayan tengah membawakan secangkir susu segar dengan buah-buahan di tangannya. Dia melangkah masuk setelah Alfred membukakan pintu.
"Saya membawakan ini untuk Tuan Muda. Segera di habiskan, ya!" tutur sang pelayan sedikit tegas. Memang, Alfred cukup sulit untuk mau memakan buah-buahan.
Tampak wajahnya yang terlihat kesal, membuat si pelayan jadi merasa heran dan bertanya-tanya dalam benaknya. Bahkan hampir tidak pernah tuan muda menunjukkan ekspresi seperti itu di hadapan para pelayan.
"Tuan Muda, jika ingin bercerita ... saya akan setia mendengarkan cerita anda," ujar sang pelayan tersenyum ke arah Alfred.
Alfred tersenyum lebar, dia menarik lengan wanita itu dan mengajaknya duduk di atas ranjang. Tetapi si pelayan menolak, tidak seharusnya seorang pelayan duduk di atas sebuah ranjang milik tuannya sendiri.
"Saya akan duduk di sini saja, tidak masalah ... " tuturnya seraya duduk di lantai. Sedangkan Alfred sudah duduk di atas ranjangnya.
"Pelayan, mmm ... apa anda bisa membantu saya?" tanya Alfred.
"Memangnya membantu apa? Saya akan membantu anda jika itu adalah hal yang positif."
"Ini juga positif. Apa Bibi masih ingat dengan wanita yang pernah ke sini? Si asisten pribadi ayahku?" Alfred mencoba mengingatkan si pelayan. Lantas ia pun mengangguk paham.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan?"
"Bibi hanya perlu membantu setiap rencana saya agar ayah bisa dekat dengan bibi Lil. Setuju?"
"Baiklah, Bibi setuju."
********
Malam semakin larut, hawa dingin menyelimuti kediaman Hanshen. Tampak sebuah mobil terparkir di halaman rumah, dan seseorang keluar dari dalam mobil tersebut.
Kriett ...
Louis membuka pintu kamar Alfred, terlihat sosok sang anak yang terlelap pulas di atas ranjangnya. Pria itu melangkah mendekati ranjang, lalu mengelus lembut kepala putranya.
"Sungguh anak yang baik ... " ucapnya lirih.
__ADS_1
Srak ...
Sebuah kertas tak sengaja ia jatuhkan dari atas meja. Louis pun meraih kertas tersebut dan hanya bisa termangap kaget begitu melihat sebuah gambar yang terdapat di selembar kertas tersebut.
"Siapa ini? Apa ini Jane?" gumamnya dengan mata yang terus menatap pada kertas.
Tampaknya sebuah gambar sosok wanita yang nyaris mirip dengan Jane. Lalu di sebelahnya terdapat sebuah gambar seorang anak kecil, lebih tepatnya dia adalah Alfred. Tak hanya itu, sebuah tulisan juga terlampir di bawah gambar tersebut.
Aku ingin memiliki ibu, aku sayang pada bibi Lil♡
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Keseokan paginya, Jane melihat sebuah informasi di papan informasi lobi perusahaan. Dilihatnya sebuah pemberitahuan anniversary perusahaan yang ke enam tahun akan dilaksanakan minggu depan.
Dengan rasa penasaran yang mengganjal, ia pun berlari menuju ruangan Louis. Dia langsung membuka pintu ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Akibatnya, pria itu terkejut dan hampir menjatuhkan sebuah gelas di genggamannya.
"Ma-- maaf," ucapnya seraya mendekati Louis di kursinya.
"Apa benar minggu depan adalah anniversary perusahaan?" tanya Jane dengan senyuman tipis di wajahnya. Yah, pria itu hanya mengangguk menanggapinya.
"Wah, saya kok tidak dapat pemberitahuan, sih?" imbuhnya dengan bertanya lagi. Louis hanya terdiam menahan rasa kesal lantaran Jane terlalu banyak bicara.
"Surat pemberitahuan sudah diletakkan di atas mejamu. Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?" sahut Louis dengan tatapan tajam yang tertuju pada wanita itu.
Jane yang menyadarinya lantas menggeleng. Dia segera kembali untuk menuju ke ruangan kerjanya. Tampak sebuah lembar kertas di atas meja ketika ia masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Wanita itu lantas meraih kertas tersebut dan membacanya, mungkin anniversary ke enam tahun perusahaan HonE Entertainment akan menjadi pesta pertama yang Jane kunjungi.
Bersambung🍁
Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!
Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.
Terima kasih~
__ADS_1