
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
_________________________________________
Happy Readingπ₯
Rembulan bersinar seakan waktu malam telah habis. Suara kicauan burung di pagi hari terganti oleh suara mengerikan burung hantu. Awan-awan gelap berjalan mulus melewati langit malam.
Jane terdiam bengong, matanya sama sekali tak berkedip menatap tubuh pria di depannya. Begitu Louis berjalan pelan, Jane mulai kehilangan rasa sadarnya. Melamun semakin jauh seakan hampir tenggelam.
"Kenapa?" tanya Louis, ia meletakkan tangannya pada bahu wanita itu.
Seketika Jane terkejut, mengedipkan matanya dan menunjukkan senyum gugup pada Louis, namun tampaknya lelaki itu tak sadar bahwa Jane terus memperhatikan tubuh kotak-kotak miliknya.
"Ini, Alfred," tutur Jane seraya memberikan ponselnya pada Louis.
"Hai Ayah!" seru Alfred dari balik telepon tersebut. Tampak Louis yang hanya diam tak bersemangat.
"Wah ... tubuh Ayah indah sekali!" lontar nya mampu membuat Louis tersadar, bahwa dirinya tengah mengumbar aurat.
"Sial, pantas saja Jane memandang ku terus sejak tadi," batinnya dengan mata melirik pada wanita itu.
"Sudah malam, tidurlah!" perintah Louis tegas.
"Sebentar, aku ada satu permintaan,* ucapnya tersenyum senang.
" Apa?"
"Besok telepon aku lagi, ya ...."
"Baiklah-baiklah."
Setelah tidak ada hal yang ingin dibicarakan lagi, Alfred pun mengakhiri panggilan tersebut. Kemudian Louis mengembalikan ponsel milik Jane yang sebelumnya ia pinjam.
"Terima kasih," ucapnya.
"Sama-sama."
Jane kembali ke kamarnya, melompat ke atas ranjang dan meletakkan ponsel di atas lemari kecil yang terletak di sebelah ranjang.
Tak lupa untuk nya memasang alarm pada ponsel, agar tidak terlambat bangun besok pagi. Apalagi ia bersama dua pria itu harus melanjutkan perjalanannya ke kota D.
***
Awan cerah disertai dengan mentari pagi memanjakan matanya yang baru saja terbuka. Menatap ke arah luar jendela, terlihat banyak kendaraan yang sudah beroperasi di pagi seperti ini.
Jane berjalan menuju kamar mandi dengan handuk yang menempel pada pundaknya, pagi ini ia akan membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum sarapan.
__ADS_1
Seusai membersihkan diri, Jane melanjutkannya dengan mengenakan pakaian yang sempat ia bawa kemarin. Dan satu hal lagi yang tak pernah dilupakan, yaitu menggunakan make up pada wajah.
Tak lama berselang, terdengar ada seseorang yang tengah mengetuk pintu kamar hotelnya. Membuatnya segera bergegas membukakan pintu tersebut.
"Ayo sarapan," ajak Dion dengan pakaian yang berbeda dari hari kemarin, begitu juga dengan Louis.
Kini ke-tiga orang itu berjalan masuk ke dalam lift, dan akhirnya tiba di lantai dasar untuk mengisi perut mereka yang terasa lapar.
"Pesan apa?" tanya si pelayan wanita.
"Sandwich dan susu. Masing-masing tiga," ucap Louis tanpa menunggu persetujuan dari dua orang di sebelahnya.
"Baiklah, mohon ditunggu." Wanita itu berjalan pergi meninggalkan meja mereka.
"Tuan, aku ingin bertanya," ucap Jane seraya tersenyum memandangnya.
"Apa?"
"Apakah biasanya Tuan sarapan dengan sandwich dan susu?" Louis menggeleng, menanggapi pertanyaan wanita itu barusan.
Dion yang sedari tadi terdiam sebenarnya tengah memperhatikan keduanya. Ia merasa iri dengan Louis yang diperlakukan sangat istimewa oleh Jane.
"Sebenarnya ... aku tidak suka sandwich," ungkap Jane, sukses membuat dua pria menoleh ke arahnya secara bersamaan.
"Baiklah, biar aku pesan kan yang lain," timpal Dion seraya bangkit dari kursinya.
"Aku saja yang pesan kan. Kau cukup di sini dan menunggu pesanan," ujar Louis menatap sinis pada Dion.
Sementara itu, Jane yang tengah duduk berdua dengan Dion justru merasa canggung. Tak biasanya mereka canggung saat duduk atau bicara berdua.
"Aku tidak menyangka, ternyata tuan Louis perhatian juga," gumam Dion merasa kesal dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, Louis pun kembali ke meja mereka dan di waktu yang bersamaan, pesanan pun akhirnya datang.
Karena terburu-buru, ketiganya jadi makan dengan cepat tanpa menikmati sensasi enak pada makanan tersebut. Bahkan Jane sampai tidak sempat mencicipi bolu dengan rasa coklat.
Begitu selesai dengan urusan makanan, mereka bertiga langsung menuju mobil. Dion membukakan pintu mobil untuk dua orang sekaligus, dan dirinya lagi-lagi harus menyetir.
Mobil mulai melaju secara perlahan, meninggalkan halaman hotel tersebut, dan kini mulai menginjak jalan raya yang penuh dengan kendaraan lain.
Di dalam mobil Jane termenung diam, tak sadar bahwa seseorang tengah meneleponnya.
"Jane, sepertinya ada yang menelepon mu," ucap Dion sedikit ragu.
"Ah, benarkah?"
Jane meraih ponsel dari dalam tas nya, dan kini terlihat siapa orang yang meneleponnya.
__ADS_1
"Halo, selamat pagi ...," sapanya sekaligus membuka pembicaraan.
"Kejam sekali, ayah bahkan tidak mengangkat panggilan dari ku!" kesal Alfred, anak yang lagi-lagi menghubunginya.
Lantas pria itu yang mendengar ucapan Alfred pun langsung membuka layar ponsel, namun tak terlihat bahwa ada seseorang yang sudah berusaha menghubunginya.
"Kau tidak menelepon Ayah," timpal Louis dengan jengkel, membuat Jane menoleh ke arahnya.
"Alfred tidak boleh berbohong. Bisakah jujur pada Bibi?" tuturnya pelan.
"Aku tidak berbohong. Aku memang benar menelpon ayah tadi. Tapi ayah jahat, dia tidak mau mengangkatnya!" sungut Alfred.
"Baiklah, Bibi Lil percaya padamu."
Merasa geram, Louis pun merebut ponsel dari Jane secara tiba-tiba. Membuat wanita itu terkejut sekaligus heran.
"Jangan berbohong, atau Ayah tidak akan memberimu uang jajan lagi!" tegas Louis.
Alfred terdiam, tidak tau dirinya harus jujur atau tidak setelah pandai berbohong. Namun setelah itu, Alfred mengakhiri panggilannya secara sepihak.
"Huh, menjengkelkan!" Louis menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Saat hendak mengembalikan ponsel milik Jane, Alfred tiba-tiba menghubunginya lagi. Membuat Louis bertambah geram dan mematikan ponsel milik wanita di sebelahnya.
"Ini." Pria itu melempar ponselnya ke arah Jane.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Jane bingung.
"Tidak perlu dipikirkan, lain kali jangan jawab jika anak itu menelpon mu," balasnya.
"Tega sekali pada Alfred, aku jadi kasihan pada anak itu ...."
Langit mulai terlihat gelap, karena waktu yang telah menunjukkan pukul 16.22. Tak terasa, mereka akhirnya bisa tiba di kota D dengan waktu yang lebih cepat dari perkiraan.
Dion turun dari mobil, lalu membuka pintu mobil untuk sang tuan dan Jane.
Ke-tiga orang tersebut jalan beriringan masuk ke dalam bangunan panti yang tampaknya usang, lebih tertuju pada tempat yang tidak terawat.
Padahal jika dilihat dari bentuk bangunannya, tempat itu cenderung mirip seperti rumah mewah. Lantai yang dibuat menjadi dua bagian, serta halaman yang luas, tentu menjadi pemandangan indah.
Namun hanya karena keadaan yang kotor, pemandangan itu seketika lenyap, bahkan lebih mirip seperti tempat penampungan sampah.
Apalagi letak bangunannya yang berada di wilayah dalam, membuat sebagian orang menjadi kewalahan dalam mencarinya.
"Ah, selamat datang Tuan ...," sapa seroang pria, yang tak lain adalah si pemilik tempat tersebut.
Didampingi oleh tiga orang wanita, sebagai pengasuh para anak-anak panti. Namun penampilannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pengasuh, melainkan seperti seorang pelacur pada umumnya.
__ADS_1
π±πππππππππ....
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ