Little Angel Brings Romance

Little Angel Brings Romance
Bab 38-Bibir Merah


__ADS_3

Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~


_____________________________________


Happy ReadingπŸ₯€


Setelah cukup lama berada di perjalanan, mereka akhirnya tiba di halaman sekolah yang tampak luas, serta tempat taman yang memang dibuat khusus untuk anak-anak.


Ketiganya turun dari mobil, setelah Louis membukakan pintu mobil untuk Jane dan anaknya. Langkah kaki mereka terseret menuju lantai dasar di sekolah itu.


Baru kali ini Jane menginjakkan kakinya di lantai sekolah yang begitu mewah, bahkan bisa ditebak berapa biaya sekolahnya tiap bulan.


Beberapa anak lain memandang kagum ke arah Jane, tentu membuat wanita itu menjadi heran.


"Dia siapa?" tanya seorang anak perempuan yang seumuran dengan Alfred.


"Dia ibuku," sahut Alfred pelan.


Sontak gadis itu langsung melompat kegirangan, lalu memberitahu pada anak yang lain mengenai sosok ibu Alfred.


****


Waktu telah menunjukkan pukul 08.00 tepat, seluruh para siswa serta wali murid dan para guru telah berkumpul di ruang pentas.


Beberapa anak yang akan mementaskan penampilan mereka telah siap mengenakan kostum. Semuanya berkumpul di balik panggung besar untuk persiapan.


Selama duduk di kursi yang telah disediakan, Jane merasa canggung dengan pria di sebelahnya, lantaran ia hanya terdiam tanpa mengajaknya mengobrol.


Meskipun berniat ingin memulai obrolan terlebih dahulu, namun Jane merasa ragu. Sosok wanita yang hanya bawahan dari sang pemilik perusahaan tentu tidak bisa seenaknya.


Hingga saatnya, acara pementasan pun dibuka oleh seorang pembawa acara. Sorak sorai dan tepuk tangan ramai terlontar dari para penonton.


"Alfred mementaskan apa?" tanya Jane seraya tersenyum, berusaha mencairkan suasana yang telah canggung.


"Tidak tau," balasnya dingin tanpa berekspresi.


Karena sikap dinginnya, seorang pasangan suami istri yang duduk tapat di belakang mereka pun menjadi keheranan.


"Tuan ingin permen?" Jane menunjukkan permen pada pria itu, lalu di balasnya dengan menggeleng kepala.


"Ah, kalian bukan suami istri?" tanya seorang wanita terkejut, setelah mendengar Jane memanggilnya dengan sebutan tuan.


"Bukan, kami bu-- "


"Kami suami istri," sosor Louis, sontak membuatnya terkejut sekaligus panik.

__ADS_1


"Pantas saja kalian terlihat sangat serasi, tapi kenapa Nona ini memanggilnya tuan?" tanya wanita itu lagi.


"Karena dia suka mengejekku," balas Louis sedikit jengkel.


"Eh? Sebentar, kau kan ...."


Saat wanita tadi sedang berbicara, Louis langsung menarik lengan Jane, ia memutuskan untuk berpindah tempat duduk daripada harus berdekatan dengan orang yang banyak bertanya.


Yah, pria itu memang tidak suka pada orang yang memiliki kebiasaan sering berbicara. Bisa-bisa dirinya menjadi gila jika terus bersama orang yang memiliki kebiasaan itu.


Beberapa jam telah berlalu. Dan kini saatnya giliran Alfred yang akan mementaskan pertunjukannya. Namun tidak hanya Alfred seorang, tetapi dia memiliki teman satu grup dalam pementasan nya.


"Selamat siang semuanya, terima kasih karena kalian masih berada di tempatnya. Saya ingin memamerkan beberapa pertunjukan untuk kalian, termasuk untuk ayah dan ibuku," ucapnya memberi sambutan pada para penonton.


Tentu, ucapan yang baru saja terlontar dari mulutnya membuat Jane terkejut dan gelagapan. Dia tidak menyangka kalau anak dari tuannya bisa menganggap dirinya sebagai seorang ibu.


Setelah sambutan itu selesai, Alfred bersama teman satu grupnya memulai pertunjukkan paduan suara.


Mereka menyanyikan sebuah lagu berjudul kisah masa kecil dengan sangat baik dan kompak. Bahkan suara yang keluar dari mulut masing-masing anak itu sempat mengejutkan para penonton.


"Lihat dia, suaranya benar-benar indah. Pasti karena keturunan ayahnya," Jane berbisik tepat di telinga Louis.


"Bukan, itu keturunan ibunya," sahut nya seraya memandang Jane dari dekat.


Kini wajah mereka saling berdekatan, membuat Louis salah fokus menatap bibir pada bagian wajah Jane. Bibirnya yang berwarna merah apel itu sukses menggugah hawa nafsunya.


Tanpa sadar, Louis tiba-tiba merangkul pundak Jane, lalu menariknya secara perlahan. Reflek wanita itu langsung mendorong tubuhnya dengan keras.


"A-- ah, maaf," ucap Louis dengan menatap sekeliling, berharap tidak ada siapapun yang melihat aksinya tadi.


"Apa yang Tuan lakukan?" tanya Jane heran.


"Tidak, tadi ada hewan di kepalamu. Dan aku hanya ingin mengambilnya," jawabnya berbohong.


***


Langit yang semakin gelap membawa pada suasana hening. Acara pementasan murid sekolah itu akhirnya telah usai. Beberapa para penonton mulai berjalan keluar dari ruangan tersebut bersama anak mereka.


Namun Louis dan Jane masih duduk terdiam di kursi mereka, menanti kedatangan Alfred yang belum kunjung terlihat dari balik panggung.


Kini ruangan itu semakin sepi dari orang-orang, bahkan hanya tersisa Louis dan Jane saja yang masih berada di sana.


Setelah beberapa saat, sosok anak kecil yang telah lama ditunggu akhirnya mucul. Terlihat sebuah karangan bunga berwarna merah muda di tangannya.


"Wah, Alfred keren sekali!" lontar Jane dengan langkah kaki yang berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Ah, terima kasih. Tapi tadi itu bukan apa-apa. Dan ... ini untuk Bibi Lil," ujar nya seraya memberikan karangan bunga itu pada wanita di depannya.


"Be-- benarkah? Indah sekali ...."


Louis yang masih duduk di tempatnya lantas terdiam, memandang dua orang itu dari arah yang cukup jauh.


"Ayo kita pulang," ajak Jane bersemangat, kemudian dibalas anggukan oleh Alfred.


Langkahnya membawa mereka menuju tempat parkir, dimana terlihat sebuah mobil milik Louis yang masih terparkir di tempatnya semula.


Louis membukakan pintu bagian belakang untuk Jane serta Alfred, namun anak itu menolaknya dan meminta ingin duduk sendirian di belakang.


Apa boleh buat? Ia hanya bisa menuruti permintaannya kali ini, dan membukakan pintu mobil bagian depan untuk Jane.


Mobil pun perlahan mulai berjalan, meninggalkan halaman sekolah yang begitu luas dengan keindahannya tersendiri.


Selama diperjalanan, Alfred terus tersenyum memandang sosok sang ayah yang tengah mengemudi dan duduk bersebelahan dengan Jane.


"Tunggu!" lontar Alfred, sukses mengejutkan dua orang sekaligus.


"Ada apa?" tanya Louis setelah menghentikan mobilnya karena sempat terkejut tadi.


"Akun ingin pergi ke taman itu."


Alfred menunjuk sebuah taman yang terlihat di seberang jalan, wajahnya yang iba membuat pria itu sulit untuk menolaknya.


"Bibi Lil harus bekerja di perusahaan. Jika tidak, pekerjaannya akan menumpuk besok," ujarnya memandang sang anak yang tampak murung.


"Huh, kalau begitu aku sendirian saja!" kesal Alfred, tangannya itu hendak membuka pintu mobil.


"Baiklah, kita ke sana."


Louis segera melajukan mobilnya lagi, dan kini berjalan mengarah ke sebuah taman yang berada di seberang jalan.


"Berhasil!"


Begitu tiba di area taman, Alfred langsung bergegas membuka pintu mobil. Dirinya berlarian ke segala arah setelah menginjakkan kakinya di taman.


Sama halnya dengan Jane, ia yang sudah dewasa bahkan ikut berlari mengelilingi tepi taman bersama Alfred.


Wajahnya terlihat sangat bahagia, disertai senyum yang terukir di bibir merahnya.


"Ternyata dia sangat cantik saat tersenyum," gumam Louis pelan, dengan matanya yang masih terus fokus menatap ke arah Jane.


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....

__ADS_1


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€


__ADS_2