Little Angel Brings Romance

Little Angel Brings Romance
Bab 20-Tiba-tiba Peka


__ADS_3

Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~


_____________________________________________


Happy Reading šŸ„€


Kumpulan awan hitam tampak di langit, angin bersiul mendinginkan atmosfer ruangan. Hujan terdengar bergemuruh dan tampak air mulai turun dari langit, mampu membasahi jalanan kota hanya dalam sekejap.


Alfred memandang ke arah jendela, belum lama ini dirinya mengimpikan ingin pergi weekend ke negara tetangga. Yah, meskipun hanya khayalan saja.


Selang beberapa waktu, datanglah seorang wanita dengan tangan berisi nampan penuh. Ia meletakkan makanan yang baru saja di pesan oleh Alfred dan ayahnya di atas meja.


"Selamat menikmati," ucap wanita itu tersenyum lebar pada Louis.


"Terima kasih," balas Alfred. Lantas wanita itu berlalu meninggalkan pasangan ayah dan anak itu. Ia kembali menuju tempatnya untuk mengantarkan pesanan pada pengunjung yang lain.


Brrr ...


Alfred memegang perutnya, rasa nyeri lantas ia rasakan. Tidak bisa menahan, anak itupun berlari menuju toilet restoran yang tak jauh dari tempat duduk mereka.


"Ayah, aku akan segera kembali!" teriaknya seraya pergi meninggalkan sang ayah.


"Dasar bocah!"


Begitu tiba di toilet, Alfred langsung membuka layar ponselnya, ia merasa tidak sabar akan menghubungi seseorang.


Sementara itu, Jane tengah terlihat santai dengan meneguk segelas kopi. Ia memandang ke luar jendela dari dalam ruangannya, menatap air hujan yang turun cukup deras.


Drrttt ...


Ponselnya berdering, membuat wanita itu berdalih menatap layar ponsel. Dilihatnya sebuah nomor baru yang tengah menghubunginya. Meskipun sempat ragu, namun Jane akhirnya mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Bibi Lil!" teriak seorang anak kecil dari dalam telepon, tak lain lagi itu adalah Alfred.


"Hah? Alfred, ada apa?" tanya Jane merasa heran.


"Darimana kau mendapat nomor Bibi?" imbuhnya bertanya lagi.


"Mmmm, itu rahasia. Tapi, apakah Bibi bisa menemaniku ke restoran? Aku sendirian, aku ingin makan bersama Bibi ... " tutur Alfred dengan suara lirih. Akibatnya, Jane pun menjadi tidak tega, dan mau tidak mau dirinya harus pergi ke restoran tersebut untuk menemani Alfred.


"Baiklah.Tapi, Alfred ada di restoran mana?"


"Aku ada di restoran J."

__ADS_1


"Ah, gila. Kenapa jauh sekali? Apa tidak masalah jika aku pergi ke sana sebentar? Sudahlah tidak apa, lagipula aku sudah selesai dengan pekerjaan ku," gumam Jane.


"Bibi?" panggil Alfred, ia merasa heran lantaran Jane terdiam sejak tadi.


"Aiya. Bibi akan segera ke sana."


Tiga puluh menit telah berlalu, Jane akhirnya tiba di sebuah restoran yang tampak besar. Bahkan iapun belum pernah datang ke tempat itu sama sekali. Yah, Jane juga merasa ragu tidak dapat membayar makanannya nanti.


Jane masuk ke dalam restoran, dan terlihat setiap sudut ruangan yang tampak mewah. Desain tembok yang juga menarik, mampu memikat hatinya.


Dirinya menoleh ke sana kemari, mencari keberadaan Alfred. Namun hal tak terduga terjadi, wanita itu malah bertemu dengan tuannya sendiri. Lantas ia pun berlari menuju tempatnya.


"Tuan?" sapa Jane yang sontak mampu mengejutkan pria itu. Louis memang orang yang suka terkejut jika ada seseorang yang tiba-tiba memanggilnya.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Louis, menatap heran pada wanita di hadapannya.


"Ah, apa aku boleh duduk?" Louis mengangguk.


"Jadi, Alfred yang sudah menyuruhku datang kemari. Alfred bilang, dia tidak ingin makan sendirian, ingin aku untuk menemaninya," ungkap Jane. Louis hanya bisa termangap heran, tidak habis pikir dengan sikap anaknya.


"Ah, dia bohong."


"Bohong? Apa maksud mu?" tanya Jane seraya mendekatkan wajahnya pada Louis.


"Alfred tidak sedang makan sendirian, dia makan denganku. Bahkan Alfred sendiri yang memintaku mengajaknya ke restoran ini ... "


"Ah, begitu ya?"


Louis terdiam, meletakkan sebuah garpu yang baru saja di pegangnya. Yah, dia lupa bahwa Alfred belum kembali sejak setengah jam yang lalu ketika hendak pergi ke toilet.


Ia bangkit dari kursi, langkah kakinya berjalan cepat menuju toilet restoran. Jane yang melihatnya lantas dibuat heran oleh perangainya.


"Kenapa dia pergi tiba-tiba?" gumam Jane. Wanita itu masih terdiam di kursinya. Tak berani untuk mengambil sesendok pun makanan di atas meja tersebut.


****


Di toilet, Louis mencari keberadaan sang anak. Ia sudah mengelilingi seluruh ruangan toilet, dan bahkan mengecek setiap ruang toilet. Namun hasilnya nihil, karena Alfred tidak juga terlihat.


Yah, bagaimana pun juga itu adalah anaknya. Tidak tau harus berbuat apa, Louis akhirnya mencoba untuk menghubungi Alfred terlebih dahulu. Benar sekali, itu adalah cara pertama untuk bisa menemukan anaknya.


Drrrtt ...


"Halo, Ayah?" sapa Alfred, mampu membuat kekhawatiran Louis menjadi sedikit reda.

__ADS_1


"Kau ada dimana?" tanya Louis sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Aku pulang karena sakit perut. Tapi Ayah tenang saja, aku sudah sampai di rumah karena tadi sopir pribadi yang sudah mengantarku," ungkap Alfred dengan menahan tawanya.


Louis mengangguk, dia pun mengakhiri panggilan secara sepihak. Setelah mengetahui keberadaan anaknya yang ternyata baik-baik saja, pria itu akhirnya kembali menuju kursinya dimana ia sedang menikmati makanan enak di restoran tersebut.


"Ada apa Tuan? Kenapa anda terlihat panik begitu?" tanya Jane, memandang Louis dengan penuh rasa khawatir.


"Tidak apa," balasnya dingin.


Karena belum diizinkan makan, Jane pun hanya terdiam. Ia hanya bisa memandang orang di hadapannya melahap makanan enak. Begitulah, orang tidak peka tidak suka menawarkan makanannya.


"Makanlah," ucapnya tiba-tiba, sontak membuat wanita itu terkejut sekaligus heran.


"Apa boleh?" tanya Jane memastikan dengan ucapannya barusan.


"Jika tidak mau ya sudah!"


"Ah, tidak mungkin saya menolak." Jane mengambil sendoknya, lalu mulai memasukkan makanannya ke dalam mulut.


Saat hendak menghabiskan makanan yang terakhir, Jane tak sengaja memakan cabai setan. Akibatnya, wanita itu merasakan pedas yang luar biasa.


Jane segera meraih gelasnya, namun terlihat gelas tersebut yang telah kosong. Wajahnya tampak memerah, menahan rasa pedas yang kini di alaminya.


Tanpa pikir panjang, Louis pun memberikan gelasnya terhadap Jane. Lalu diterima olehnya begitu saja lantaran sudah tidak tahan. Kini ia terdiam, baru sadar bahwa mereka telah berciuman secara tidak langsung.


Deg?!!! Jantungnya berdetak kencang, ketika Louis tiba-tiba membersihkan sisa makanan di bibirnya dengan sebuah tisu. Rasanya seperti mimpi, karena tidak mungkin pria itu peka terhadapnya.


Jane diam-diam memukul pahanya berkali-kali, namun rasa rakit mampu dirasakan olehnya. Artinya, kejadian yang baru saja di alaminya bukanlah mimpi, melainkan sebuah kenyataan.


Kini keduanya saling bertatapan dengan dekat, Louis mampu menatap bibir Jane dengan sangat jelas, lantaran posisi mereka saat ini adalah saling berdekatan wajah.


"Maaf, aku tidak bermak--- "


"I-- iya, aku paham," Jane memotong ucapannya, pipinya tampak memerah seperti apel.


BersambungšŸ


Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!


Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.


Terima kasih~

__ADS_1


__ADS_2