Little Angel Brings Romance

Little Angel Brings Romance
Bab 37-Menjadi Pendamping


__ADS_3

Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~


__________________________________________


Happy ReadingπŸ₯€


Hari yang telah lama ditunggu oleh Alfred akhirnya tiba dengan cepat. Dirinya berlari menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Setelah usai membersihkan diri, Alfred langsung bergegas menuju ruang makan, dimana terlihat meja yang telah penuh oleh makanan.


Bukannya duduk di kursi ruang makan, Alfred justru malah pergi ke dapur, membuat beberapa pelayan menjadi heran karena perangainya.


"Kenapa Tuan Muda tidak makan?" tanya Lala, salah seorang pelayan di rumahnya.


"Aku ingin membuat kue untuk bibi Lil. Apa kau bisa membantuku?" balasnya dengan memohon.


"Hmmm, apa kau sangat menyukai bibi Lil?" tanya Lala lagi, namun kali ini Alfred menunjukkan raut wajah tidak suka terhadapnya.


"Jangan panggil dia bibi Lil! Hanya aku yang boleh memanggilnya dengan sebutan itu!" kesal Alfred.


"A-- ah, baiklah. Maafkan aku. Kalau begitu, biar aku bantu Tuan Muda membuat kue nya."


"Benarkah? Terima kasih!"


Lala bersama Alfred pun mulai membuat kuenya. Lala mengambil beberapa bahan kue dari lemari kulkas, lalu menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk membuat kuenya.


Sementara itu, Louis yang sejak pagi belum melihat keberadaan sang anak lantas mencarinya hingga ke lantai bawah. Dan kini dirinya menemukan Alfred yang tengah melakukan sesuatu di dapur.


Louis perlahan mulai berjalan mendekati Alfred, namun seorang pelayan tiba-tiba menabraknya, membuat kemeja yang tengah ia pakai menjadi kotor.


"Astaga! Maafkan saya!" lontar si pelayan, sukses membuat Lala dan Alfred menoleh ke arahnya secara bersamaan.


"Ada ayahmu, pergilah ...," ucap Lala, lalu dibalas anggukan olehnya.


"Ayah, sedang apa?" tanya Alfred seraya tersenyum dan menghampiri Louis yang sibuk melepas kemeja.


"Kau yang sedang apa!" sahutnya dengan jengkel.


"A-- Ayah! Ayah jangan melepas kemeja di sini, tubuh Ayah hanya boleh untuk bibi Lil saja!"


Sontak semua orang yang mendengarnya langsung menoleh ke arah sepasang ayah dan anak itu.


Seketika tangan Louis yang hendak membuka kemejanya itu menjadi terhenti, lantaran terkejut dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Alfred.


"Tutup mulutmu! Siapa yang sudah mengajari mu bicara tidak sopan seperti itu?!" ujar Louis tegas, namun sama sekali tidak menggoyahkan hati Alfred.


"Aku belajar dari Ayah," balasnya tersenyum.


Hal itu membuat Louis semakin kesal dan habis kesabaran. Tangannya hampir saja mendarat di pipi Alfred, jika saja Lala tidak menghentikannya.

__ADS_1


"Jangan Tuan, dia masih anak-anak," tuturnya cemas.


"Urus dia! Suruh untuk sarapan dan segera mengganti baju untuk tampil nanti!" perintah Louis pada pelayan yang berdiri di sebelahnya.


"Baik."


Pria itu akhirnya pergi meninggalkan ruangan dapur setelah melemparkan kemejanya pada si pelayan.


"Huh, ayahmu sangat mengerikan. Sebaiknya jaga ucapanmu, Alfred," ucap Lala memberi nasihat.


Waktu yang telah menunjukkan pukul 06.18 membawa Jane menuju kediaman Louis. Dia menaiki sebuah mobil taxi yang telah dipesan nya melalui aplikasi online.


Tak lama berselang, Jane akhirnya tiba di depan gerbang rumah milik Louis. Dia menekan tombol bel yang terpampang di gerbang tersebut, lalu seorang pria penjaga gerbang membukakan gerbangnya.


"Oh, Nona Jane?"


"Iya."


"Silahkan masuk."


Jane perlahan masuk ke dalam rumah megah itu, merasakan aura berbeda setelah menginjakkan kakinya di lantai.


Begitu duduk di sofa ruang tamu, seorang pelayan datang menghampirinya. Menanyakan minuman apa yang ingin dihidangkan.


"Air putih saja," balas Jane seraya tersenyum.


Lantas si pelayan langsung berlari menuju dapur untuk mengambil beberapa makanan serta minuman untuk dihidangkan.


Penampilannya rapih menggunakan pakaian berwarna merah muda, yang memang sebelumnya dibelikan oleh Alfred dari mall terbesar di kota mereka.


Sontak, Louis mendadak kaget begitu melihat warna pakaian yang dikenakan olehnya sama persis seperti pakaian milik Jane.


Tentu bukan hanya pria itu saja yang terkejut, namun Jane juga merasa heran dengan warna pakaian yang mereka kenakan benar-benar sama.


"Tuan memakai pakaian itu?" tanya Jane memastikan, dan diangguki oleh pria yang kini tengah berdiri di depannya.


"Kenapa bisa sama?" pikir Louis heran.


Saat keduanya saling bertatapan karena bingung, Alfred yang baru saja selesai sarapan itu datang menghampiri mereka.


Di sana Alfred menahan tawa kecilnya, melihat dua orang yang saling berhadapan.


"Wah, Bibi Lil sangat cocok dengan pakaian itu!" lontar Alfred seraya berlari ke arah mereka.


"I-- iya, tapi ...."


"Ayah juga sangat cocok dengan pakaian yang kuberikan," imbuhnya.


Kini dua orang itu mulai mengerti dengan ucapan Alfred, anak kecil itu sengaja memberikan pakaian dengan warna yang sama pada mereka. Atau bisa disebut dengan pakaian couple.

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang sejak awal?" tanya Louis menatap kesal pada anaknya.


"Untuk apa aku bilang? Sekarang ... ayo kita berangkat!"


Alfred menarik lengan Louis dan Jane secara bersamaan, kini ketiganya mulai berjalan mendekati sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah.


***


Sementara itu, urusan pekerjaan Louis telah sepenuhnya diserahkan pada asisten pribadinya. Ia menyelesaikan tumpukan dokumen yang benar-benar menumpuk di atas meja.


Ditengah-tengah kesibukannya, Dion tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Joy. Joy adalah asisten pribadi kepercayaan Louis setelah lima tahun bekerja di perusahaan tersebut.


"Ah, Joy? Kenapa kau di sini?" tanya Dion heran, lantaran Joy berada di dalam ruangan si pemilik perusahaan.


"Iya, tuan Louis menyerahkan seluruh pekerjaannya padaku untuk sementara waktu," balas Joy masih sibuk dengan bolpoin serta lembaran-lembaran kertas.


"Memang tuan Louis ada kesibukan apa?" tanya nya lagi.


"Dia sedang pergi ke sekolah tuan muda Alfred, karena ada acara di sekolahnya."


"Oh, baik. Terima kasih."


"Sebentar, kau ada keperluan apa?" tanya Joy, berhasil menghentikan langkah kaki Dion yang hendak keluar dari ruangan tersebut.


"Tidak jadi."


Setelah keluar dari ruangan itu, dirinya langsung berhadapan dengan Sora yang kebetulan sedang lewat.


Wanita itu menunjukkan senyum lebarnya, membuat Dion terdiam kaku.


"Bisakah kau membantu menyelesaikan pekerjaan ku? Biasanya Jane yang membantu, tapi sekarang dia sedang pergi," ucap Sora memohon.


"Jane? Dia pergi kemana?" tanya Dion penasaran.


"Eh, kau tidak tau? Dia pergi bersama tuan Louis untuk mengunjungi sekolah Alfred. Menurutku ... mereka sudah terlihat seperti keluarga yang harmonis."


"Kenapa Jane mau menerima duda dingin itu? Memangnya tidak ada pria lain yang bisa dia layani? Hah!" Dion berdecak kesal dalam hatinya.


"Kenapa diam?"


Sora mengibaskan tangannya tepat di depan wajah pria itu, sukses membuyarkan lamunannya.


"Tidak apa-apa. Apa kau jadi meminta bantuan ku?"


"Tentu saja!"


"Oke, kebetulan aku tidak sedang sibuk."


Mereka jalan beriringan menuju ruangan Sora, yang letaknya berada di lantai enam di perusahaan tersebut.

__ADS_1


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€


__ADS_2