
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
_________________________________________
Happy Readingπ₯
Hari yang sudah semakin siang ini mengantarkan kedua orang itu menuju perusahaan. Karena posisi mereka yang kebetulan berada di satu tempat, Louis pun memberi Jane tumpangan.
Selama diperjalanan, jantung pria itu terus berdebar tanpa alasan. Sesekali matanya mencoba melirik pada wanita yang duduk di sebelahnya. Yah, wajahnya itu terlihat sangat cantik.
Karena tidak terlalu fokus saat mengemudi, Louis pun sampai tak sengaja menerobos lampu lalu lintas, hingga membuat keadaan jalan menjadi berantakan.
Ia menghentikan mobilnya secara mendadak, saat Jane memberitahu padanya bahwa Louis telah menerobos lampu lalu lintas.
Tak lama berselang, sebuah sirine mobil polisi berbunyi dari kejauhan, dan semakin lama semakin mendekat ke arah mereka.
"Tuan, keluarlah," pinta sang polisi wanita, ia mengetuk kaca mobil milik Louis beberapa kali, hingga membuat pria itu terpaksa harus keluar.
"Anda sudah menerobos lampu lalu lintas, tunjukkan SIM," perintahnya.
Lalu Louis mengeluarkan kartu SIM yang diminta dari dalam saku jas, dan menunjukannya pada si polisi itu.
"Biarkan aku pergi, aku benar-benar sudah terlambat ke perusahaan," ujar Louis seraya memberikan beberapa lembar uang kertas, yang jumlahnya bukan main.
Di dunia ini, mana ada yang menolak uang, meskipun dalam keadaan genting sekalipun.
Yah, si polisi wanita itu langsung merebut uangnya, lalu tersenyum dan kembali masuk ke dalam mobil. Langsung saja, dia menginjak gas mobil, berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Apa yang telah Tuan lakukan padanya?" tanya Jane sedikit heran, melihat kejadian yang begitu singkat di depan matanya.
"Tidak ada. Aku hanya memberinya sedikit uang."
***
Cukup lama berada di perjalanan, mereka pun akhirnya tiba di sebuah perusahaan milik Louis, perusahaan HonE Entertainment.
Beberapa para karyawan yang melihat keduanya datang secara bersamaan, tentu menjadi curiga, dan saling berbisik membicarakan dua orang itu dibelakang.
Begitu menaiki lift, Jane pun tiba di lantai ruang kerja miliknya. Sedangkan Louis harus melewati beberapa lantai lagi, baru dirinya akan tiba di lantai ruang kerjanya.
Saat masuk ke dalam ruangan, Jane dibuat rindu dengan aroma lavender, serta suhu AC yang selalu mendinginkan ruangan disaat cuaca sedang panas.
Wanita itu merebahkan tubuhnya di kursi, lalu perlahan mulai membuka layar laptop di atas meja.
__ADS_1
Satu hari cuti saja sudah membuatnya pusing, melihat tugas yang menumpuk di dalam dokumen laptop. Untuk memulai pekerjaannya pagi ini, Jane menghirup nafas dengan panjang, lalu mengeluarkannya secara perlahan.
Tangan kecilnya mulai menyentuh keyboard yang terasa cukup asing, namun tidak di ambil pusing. Ia tetap fokus dengan tujuannya, yaitu menyelesaikan seluruh tugas yang menumpuk berat.
Kring ....!!!
Telepon perusahaan berbunyi, membuat dirinya terpaksa harus mengangkat panggilan terlebih dahulu.
"Halo, ada apa?" tanya Jane sekaligus membuka pembicaraan.
"Ini Dion, apa kau ada waktu siang nanti?" sahutnya dari balik telepon, yang ternyata adalah teman dekatnya.
"Maaf, tapi ... aku sibuk. Ada urusan apa untuk nanti siang?"
"Oh, tidak ada. Lupakan, kau lanjutkan saja pekerjaan mu."
Dion langsung mengakhiri panggilannya secara sepihak, membuat Jane menjadi keheranan.
Matahari telah berada di puncak tertingginya, mampu menyilaukan mata yang terbuka dan memanaskan suhu ruangan.
Jane akhirnya bisa menutup layar laptop untuk sementara, hanya karena akan mengisi perut yang terasa kosong. Terus berbunyi, hingga membuatnya tidak fokus menyelesaikan pekerjaan.
Ketika hendak membuka pintu ruangan, wanita itu dibuat kaget dengan sosok Louis yang tiba-tiba berada di balik pintu tersebut. Bibirnya terlihat mengukir senyum tipis dengan mata yang sedikit di sipit kan.
"Aku ingin mengajakmu makan siang bersama," ungkapnya. Seketika pipinya berubah memerah, dengan tatapannya yang terus tertuju pada wanita itu.
"Ah, boleh saja. Tapi, apa tidak masalah?" tanya Jane masih dengan rasa ragu.
"Tentu saja."
Louis dengan cepat langsung menarik lengan Jane, membawanya berjalan memasuki lift yang terlihat kosong dari siapapun.
Setelah melewati beberapa lantai, mereka akhirnya tiba di lantai dasar, dan terlihat lantai yang ramai dipenuhi dengan orang-orang.
Merasa ragu untuk melangkah, membuatnya terus terdiam di dalam lift tersebut. Tentu Louis yang melihatnya menjadi keheranan dengan perangai Jane.
"Ayo," ajaknya kembali menarik lengan Jane.
Kini banyak orang yang memandang mereka. Tidak tau kalau hubungan Jane bersama Louis semakin dekat sejak mengunjungi panti kala itu, lalu berlanjut dengan menjadi pasangan palsu Louis untuk menonton pertunjukan Alfred.
"Apa mereka berpacaran?" tanya salah seroang wanita pada rekan kerjanya.
"Mungkin begitu? Tapi bukankah tuan Louis itu sangat dingin, sampai tak ada yang bisa meluluhkan hatinya selain mantan istrinya dulu?"
__ADS_1
"Jangan bicara aneh-aneh, mereka itu berpacaran!" timpal Sora yang baru saja tiba di lantai itu bersama Dion.
"Wah, kau tau darimana?"
"Aku kan teman dekatnya Jane, bagaimana mungkin aku tidak tau status hubungan dia?"
Sora kembali berjalan bersama Dion, pria itu hanya terdiam selama dirinya jalan berdampingan dengan Sora. Hatinya merasa sakit melihat Jane, wanita yang dicintainya itu berpacaran dengan bos nya sendiri.
Meskipun sebenarnya rumor bahwa mereka berpacaran hanyalah akal-akalan Sora saja, tapi sepertinya Dion terlalu percaya hingga menganggap bahwa hubungan itu memang benar.
"Mau makan apa?" tanya Louis, ia menunjukkan beberapa menu makanan di dalam buku.
"Ini saja, sepertinya enak. Jujur, aku belum pernah mencobanya." Jane menunjuk sebuah makanan yang terlihat pedas, serta minuman dingin.
Kini mereka berada di sebuah restoran bintang lima, restoran yang sebelumnya belum pernah Jane kunjungi, karena harga makanannya yang terlalu mahal.
Namun, kali ini dia berani berkunjung ke restoran itu, karena Louis yang akan membayarkan seluruh makanan yang di pesannya.
Drttt β¦
Ponsel Louis berdering, dan terlihat Joy yang tengah berusaha menghubunginya. Karena ada sesuatu yang cukup penting, iapun beranjak dari kursi untuk mengangkatnya.
"Tumben sekali," batin Jane heran.
"Selamat siang Tuan Louis, saya ingin memberi laporan," sapa Joy sekaligus memberitahu alasan mengapa ia menelepon Louis.
"Jelaskan saja nanti saat aku kembali ke perusahaan. Sekarang aku sedang berada di restoran bersama Jane," perintahnya dengan tegas.
"Baik Tuan."
Setelah panggilannya berakhir, Louis pun kembali ke mejanya, dan kembali berhadapan dengan Jane.
Tidak perlu menunggu lama, pesanan akhirnya dihidangkan. Aroma sedap tercium dari bau makanan itu, menggugah selera makan mereka seratus delapan puluh derajat.
"Buka mulutmu," ucap Louis tiba-tiba, sukses membuat wanita di hadapannya itu terkejut hebat.
"Enak?" tanya nya, setelah Jane melahap sesuap makanan dari Louis.
Tentu yang ada dalam pikirannya sekarang bukanlah rasa enak pada makanan, namun rasa heran dengan sikap sang tuan yang benar-benar berubah hanya dalam waktu semalam.
Kini mereka menghabiskan waktu makan siang dengan sedikit obrolan hangat, namun bukan mengenai pekerjaan. Dibarengi dengan itu, Louis juga sempat beberapa kali memberi suapan pada Jane, begitu juga sebaliknya.
π±πππππππππ....
__ADS_1
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ