
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
___________________________________________
Happy Reading🥀
Sepasang ayah dan anak itu menatap sosok Jane yang masih menetap di tengah pintu masuk ruangan. Tanpa pikir panjang, Alfred sebagai anak yang sopan itu mempersilahkan Jane untuk masuk ke dalam.
Sifat ayah dan anak itu memang cukup jauh berbeda. Louis memiliki sifat dingin dan tidak perduli dengan kehidupan orang lain. Sedangkan Alfred memiliki sifat yang jarang dimiliki banyak orang. Dia sangat baik bahkan pada orang yang tak di kenali nya.
"Bibi, kenapa tidak masuk?" tanya Alfred seraya memegang jari tangan wanita itu. Yah, siapa yang tidak kaget jika seorang anak kecil tiba-tiba memegang jari kita?
"Aiya, Bibi hanya ingin menyerahkan ini," kata Jane dengan langkah kaki pelan masuk ke dalam ruangan. Dia meletakkan beberapa lembar dokumen penting tersebut di atas meja kerja Louis.
"Saya permisi."
"Bibi!" teriak Alfred begitu Jane hendak keluar dari ruangan itu. Dia berlari menghampiri Jane dimana dirinya tengah berdiri di depan pintu yang tertutup rapat. Lantas Jane pun menoleh kearahnya dengan tatapan heran.
"Nama Bibi, siapa?" tanya Alfred yang belum mengerti.
Jane tersenyum seraya menanggapinya, "Namaku Jane Lilson. Kau bisa memanggilku Bibi Jane? Atau Bibi Lilson? Sesuka hatimu saja ingin memanggilku apa."
"Bibi Lil?" Alfred tersenyum, dia mencoba membuat wanita di depannya juga ikut tersenyum.
"Astaga, sebutan nama macam apa itu? Sudahlah, diakan anak kecil. Lagipula wajahnya juga imut!" batinnya. Jane menundukkan kepalanya, dia berjongkok dan menatap Alfred dari dekat.
"Bibi Lil? Itu nama yang bagus," bohong Jane dengan di iringi senyum tipis.
"Jelas-jelas wanita itu keberatan di panggil Lil," pikir Louis. Dia mampu mengetahui isi pikiran seseorang hanya dengan melihat raut wajahnya.
"Jangan ganggu dia. Bibi Jane di sini untuk bekerja. Bukan bermain denganmu," timpal Louis yang sejak tadi hanya memperhatikan keduanya mengobrol.
"Ayah, jangan memanggilnya bibi Jane! Panggilannya itu bibi Lil!" jengkel nya dengan kedua bola mata menatap wajah sang ayah. Lantas Louis pun hanya mengangguk, dia ingin mengalah dengan anaknya.
"Baiklah, Bibi pergi dulu ya. Bibi harus bekerja."
Alfred mengangguk. Kemudian Jane berlalu meninggalkan ruangan tersebut. Langkah kakinya itu tidak menuju sebuah lift, dia akan menuruni anak tangga untuk tiba di ruangan miliknya.
"Alfred itu anak yang penurut. Dia juga baik, sifatnya berbeda jauh dengan tuan Louis."
__ADS_1
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Beberapa hari telah berlalu. Tidak terasa sudah satu minggu lamanya sejak pertama kali Jane bekerja di perusahaan HonE Entertainment. Langit cerah menyambut pagi di hari yang baru. Suara kendaraan tak jarang terdengar pagi ini.
Banyak orang-orang yang sudah sibuk untuk pergi bekerja, termasuk Jane. Dia masuk ke dalam sebuah mobil taxi yang telah di pesannya melalui aplikasi online. Penampilannya yang elegan sukses mencuri perhatian orang-orang di sekitarnya.
Setelah cukup lama berada di perjalanan, Jane pun akhirnya tiba di tempat bekerjanya. Dia menghirup udara pagi yang masih sejuk, meskipun sudah cukup banyak terkena polusi akibat kendaraan.
Begitu masuk ke dalam ruang kerjanya, Jane melihat sebuah kotak makan yang diletakkan di atas meja. Dia berjalan mendekati meja tersebut lalu meraihnya.
"Apa ini?" tanya Jane pada dirinya sendiri. Dia perlahan membuka kotak makan tersebut, dan terlihat empat potong sandwich di dalamnya.
"Pasti ada sebuah surat di sekitar sini," ucapnya berusaha mencari kertas surat. Sudah pasti, orang yang mengirimnya sarapan pagi itu menyertakan nya dengan surat.
"Ah, ini?" Jane menemukan secarik kertas berisi tulisan dari seseorang. Kertas itu diletakkan di balik kotak makan.
_____________________________
By : Dion Halbert
To : Jane Lilson sahabat bodoh
Hai, ini sandwich untukmu. Aku tau, kau pasti tidak sarapan. Yah, kau kan memang seperti itu sejak dulu. Aku sebagai sahabatmu yang perhatian, jadi memberikan ini untukmu. Aku harap kau menyukainya, makanlah di pagi hari!
____________________________
Jane meraih sepotong sandwich, wanita itu perlahan memasukannya di kedalam mulut. Wajahnya terlihat senang ketika menerima sebuah sarapan pagi dari sahabat lamanya. Memang, perhatiannya tidak pernah pudar dari sosok Dion.
Tok ... tok ...
Seseorang mengetuk pintu ruangan Jane, membuatnya sedikit jengkel lantaran mengganggu waktu sarapannya. Wanita itu berjalan ke arah pintu, dan membukakan pintu tersebut untuk seseorang.
"Halo! Jane!" sapa Sora yang sontak membuat Jane merasa terkejut. Terlihat sebuah kotak bekal berwarna biru muda di tangan kecilnya itu.
"Ah, Sora? Ada apa?" tanya Jane tanpa mempersilahkan nya untuk masuk terlebih dahulu.
Meskipun demikian, Sora tidak merasa tersinggung. Dia malah asal masuk dan duduk sebelum dipersilahkan oleh pemilik ruangan. Hal seperti itu sudah biasa dilakukan olehnya pada atasannya sekalipun.
"Kau membawa sandwich? Huh, padahal aku sudah membuatkan kotak bekal khusus untukmu," ucap Sora terlihat murung setelah dirinya melihat sebuah kotak makan berisi sandwich di atas meja.
__ADS_1
"I-- itu,"
"Hah? Apa ini?" Sora meraih secarik kertas yang sempat diletakkan di kursi Jane. Dia hendak membacanya, namun langsung disergah oleh Jane. Wanita itu tak ingin ada seseorang yang mengetahui hubungan persahabatannya dengan Dion.
"Rahasia?" tanya Sora. Matanya memandang Jane dengan pandangan heran. Namun hanya dibalas dengan anggukan pelan oleh Jane.
"Ya sudah. Tidak masalah!"
"Sial, apa aku tidak salah lihat tadi? Dion memberinya kotak bekal ini? OMG!!" teriaknya dalam hati, setelah tak sengaja membaca sebuah nama seseorang di kertas tersebut.
"Aku harus kembali. Aku ambil lagi kotak ini," ujar Sora dengan langkah kaki yang semakin menjauh dari tempatnya semula.
Jane hanya bisa memandang sosoknya yang sudah tak terlihat di matanya.
"Sora tidak membacanya, kan?" Jane bertanya dalam benaknya dengan perasaan khawatir.
Waktu telah menunjukkan pukul 11.22. Waktu yang tepat unik beristirahat. Jane keluar dari ruangannya untuk pergi makan siang di kantin.
"Jane!" teriak seseorang dari balik tubuhnya. Jane lantas menoleh dan memandang orang yang baru saja memanggil namanya.
"Ayo makan siang bersama di kantin!" ajak Sora, wanita yang baru saja memanggil nama Jane.
"Hmmm, baiklah."
Baru beberapa langkah, seseorang kembali memanggil namanya dari belakang. Jane dan Sora lantas menolah secara bersamaan. Betapa terkejutnya Sora, ketika melihat sosok Dion yang sedang berlari menghampiri tempatnya berdiri. Sudah tentu karena Jane, bukan karena dirinya.
"Kau mau kemana?" tanya Dion pada Jane.
"Makan siang," balasnya dengan senyuman yang mengembang.
"Sebenarnya aku juga ingin mengajakmu makan siang," ungkap Dion. Pipinya tiba-tiba berubah menjadi semerah apel. Sontak hal itu mampu mengejutkan kedua wanita di hadapannya.
"Eh? Kenapa begitu lagi?" tanya Jane belum mengerti.
"Sial! Sorot matanya kenapa begitu? Pipinya juga berubah memerah." Sora bersecak kesal dalam hatinya.
Bersambung🍁
Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!
__ADS_1
Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.
Terima kasih~