
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
__________________________________________
Happy Readingπ₯
Setelah hujan mulai reda, Jane pun kembali pulang dengan diantar oleh sopir pribadi Louis. Ia menaiki sebuah mobil berwarna abu muda, dengan pintu mobil yang otomatis terbuka saat dirinya hendak masuk maupun keluar.
Tak lama berselang, wanita itu akhirnya tiba di kediamannya. Begitu si sopir ditawari untuk mampir, pria itu seketika langsung menolak, mengatakan ingin segera kembali ke tempatnya saja.
Jane merebahkan tubuhnya di ke ranjang, lalu membuka layar ponsel yang tampaknya kosong dari sebuah notifikasi. Belum lama meletakkan kembali ponselnya ke atas lemari kecil, ponsel itu tiba-tiba mengeluarkan suara notifikasi, membuatnya reflek langsung meraih.
"Ah, Dion?"
"Halo, Jane?" sapa Dion setelah Jane mengangkatnya.
"Ada apa?" tanya nya.
"Aku ingin ngobrol sedikit denganmu. Apa bisa?"
Wanita itu sempat terdiam, berpikir apakah dirinya ingin mengobrol dengan teman lamanya atau tidak. Yah, sebenarnya bukan karena malas, tetapi karena tubuhnya yang sudah semakin lelah.
"Jika tidak bisa, tidak apa. Aku tidak akan memaksamu," tuturnya dengan suara pelan.
"Ah, bisa. Ingin mengobrol tentang apa?"
Jane mengangkat tubuhnya dari ranjang, kemudian duduk di sebuah kursi yang terletak di sebelah lemari kecil di dalam kamarnya. Dia membuka mata dengan lebar, sudah tau akibatnya jika terjebak ngobrol dengan pria itu.
"Sebenarnya aku hanya ingin bertanya. Apa kau benar berpacaran dengan tuan Louis?" tanya Dion sukses mengejutkan wanita dari balik telepon tersebut.
"Pffttt β¦ kau bercanda?"
"Aku bertanya, kenapa kau malah tertawa?"
Kini Dion mulai kesal, lantaran Jane telah menganggap pertanyaannya sebagai candaan.
"Mana mungkin aku berpacaran dengan tuanku sendiri. Toh, mustahil,"
"Taβ tapi, tapi kenapaβ "
"Sudahlah, jika hanya itu saja β¦ kututup teleponnya, ya. Aku sudah akan tidur," sela Jane langsung mengakhiri obrolannya secara sepihak.
__ADS_1
*****
Burung-burung berkicau mengelilingi tiap sudut rumah. Menciptakan bunyi merdu bagai alunan musik. Mengepakkan sayapnya hingga mampu terbang ke langit tertinggi.
Jane membuka kedua bola matanya setelah semalaman terlelap. Mengucak matanya yang masih terasa berat, lalu melihat ke arah jarum jam yang terpampang di dinding ruang kamar.
Rasa terkejut seketika menghantuinya, melihat angka jarum jam yang telah menunjukkan pukul delapan lewat. Mungkin karena efek kurang tidur semalam.
Ia langsung bangkit dan berlari menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya dengan sabun beraroma blueberry.
Setelah usai membersihkan tubuhnya, Jane langsung bergegas menuju halaman rumah. Seperti biasa, ia akan menunggu sebuah mobil taxi yang akan melewati halaman rumahnya.
Begitu melihat sebuah mobil taxi dengan cat biru, dia pun menghentikannya. Tapi sayang, ternyata mobil taxi itu telah membawa penumpang, yang ternyata adalah seorang pelayan cafe.
Hampir sepuluh menit menunggu, mobil taxi yang lain akhirnya tampak melewati jalan di depan rumahnya. Saat Menghentikan taxi tersebut, ternyata taxi itu juga telah membawa penumpang.
Mungkin hari ini adalah hari yang sial baginya. Sudah beberapa kali mobil taxi yang ia hentikan, ternyata membawa seorang penumpang. Sampai tak terlihat satupun mobil yang lewat.
Mau tidak mau, Jane terpaksa harus berjalan hingga ke pusat kota, di sana dirinya akan menemukan banyak mobil taxi yang pastinya sedang nganggur. Atau lebih tepatnya, tidak membawa penumpang.
Waktu telah menunjukkan pukul 09.00 tepat. Louis tampak duduk di kursi ruang kerjanya, menanti kehadiran sang sekretaris pribadi. Yah, pagi itu perusahaan akan mengadakan rapat sosialisasi.
"Kenapa dia tidak datang juga?" tanya Louis pada Joy yang tengah berdiri di sebelahnya sejak dua puluh menit yang lalu.
Saat Louis hendak bangkit dari kursinya, Jane tiba-tiba masuk melalui pintu ruangan. Membuat kedua pria itu reflek menoleh dengan wajah terkejut.
Jane tersenyum, lalu menarik nafasnya dengan panjang dan menghembuskannya. Kini nafasnya sudah mulai teratur, tidak terlalu berantakan.
"Kenapa terlambat?" tanya Louis tanpa menunjukkan suara dingin seperti biasanya.
"Sebenarnya, aku sedikit kesiangan. Lalu aku ada kendala dengan taxi, akhirnya aku kemari sambil berlari," ungkapnya seraya menundukkan kepala.
"Angkat kepala mu," perintah Louis, langsung dilakukan oleh wanita itu.
"Joy, kau keluar."
Joy si asisten pribadi mulai berjalan keluar meninggalkan ruangan, kemudian menutup pintunya dengan rapat.
Kini hanya tersisa dua orang saja di dalam ruangan tersebut. Tak ada yang tau apa yang akan mereka lakukan di dalam sana, yang hanya berdua saja.
Louis perlahan mendekati Jane, tubuhnya yang hanya dibalut dengan kain kurang bahan sukses membuat pria itu terangsang nafsu.
__ADS_1
Ia langsung mengangkat lengan Jane ke atas, membuatnya tidak dapat bergerak, selain menggerakan kedua bola matanya saja.
"Sebenarnya aku akan melaksanakan rapat sosialisasi. Tapi sepertinya β¦ kau mengagalkan nya," papar Louis dengan wajahnya yang semakin didekatkan pada si wanita.
"Maaf, aku juga tidak tau kalau aku akan terlambat," sahut Jane dengan gugup.
Ia benar-benar tidak berani menatap kedua bola mata sang tuan, pandangannya hanya fokus pada dada bidang yang terbalut dengan kain di depannya.
"Sebenarnya β¦ karena bibirmu yang sangat menarik. Aku ingin memainkannya lagi."
Seketika Jane langsung menelan ludah, bersiap akan ada sebuah bibir yang menempel pada bibir mungilnya.
Louis langsung memainkan bibir wanita itu, hingga tanpa sadar tangannya perlahan membuka rok yang tengah dikenakan oleh Jane, mengelus lembut pahanya sampai tiba di puncak kenikmatan.
Brugh!!!
Mereka menjatuhkan tubuh ke lantai, merasakan sensasi nikmat dengan permainan bibir itu.
Kriett β¦
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, membuat keduanya menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Betapa terkejutnya, ketika melihat Alfred tengah berdiri di pintu masuk, dengan pandangan yang tertuju pada dua orang di sana.
"Ah, begitu? Lanjutkan saja, aku tidak akan melarang. Ayah, bersenang-senanglah dengannya! Aku akan pergi," lontar Alfred seraya berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
Sudah terlanjur ketahuan, Louis pun mengakhiri permainannya. Ia menata kembali kemejanya yang sudah berantakan, dan mengusap bibirnya yang berwarna merah lantaran terkena lipstik milik Jane.
"Ayo, sepertinya rapat sosialisasi akan tetap dilakukan."
Pria itu menarik lengan Jane, membawanya keluar dari ruang kerja miliknya. Ia tidak perduli dengan para karyawan yang terus menatap ke arah mereka, melihat dua buah tangan yang saling bergandengan.
Hingga tibalah keduanya di ruangan rapat. Tapi tampaknya ruangan itu masih terlihat kosong tanpa adanya beberapa orang yang akan melaksanakan acara rapat sosialisasi.
Karena hal itu, Louis langsung murka. Dia menelepon si asisten pribadinya untuk menyelesaikan seluruh permasalahan ini.
"Halo, ada apa Tuan?" tanya Joy setelah dirinya mengangkat panggilan.
"Kenapa tidak ada satu orangpun di ruang rapat? Apa kau tidak memberitahu pada mereka?" tanya Louis dengan kesal.
"Maaf. Tapi β¦ tadi tuan muda Alfred yang memerintahkan pada saya agar rapatnya di tunda saja."
π±πππππππππ....
__ADS_1
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ