
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
__________________________________________
Happy Readingπ₯
Suasana berubah mendung, menampakkan warna gelap pada awan-awan di langit. Disertai dengan gemuruh nya suara guntur yang terus menyambar, membuat hawa dingin kala itu semakin mencekam.
Jane masuk ke dalam mobil milik Louis, memasang sabuk pengaman pada tubuhnya, kemudian mobil pun mulai melaju dengan kecepatan tinggi.
Melewati beberapa gedung-gedung besar di kota, serta toko diseberang jalan sudah menjadi kebiasaan mereka.
Cuaca mendung sore itu membawanya menuju sebuah tempat, yang tak lain adalah ke sekolah Alfred.
Setelah membahas mengenai pekerjaan dengan seorang klien dari perusahaan Z, mereka memutuskan untuk langsung menjemput Alfred, karena letaknya yang kebetulan tak jauh dari tempat itu.
Tidak menggunakan waktu lama, mobil yang ditumpangi mereka akhirnya tiba di depan sebuah gedung sekolah. Tampaknya banyak murid yang berjalan keluar dari gerbang. Dan diantara murid-murid itu, Alfred juga ada di sana.
Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan mobil sang sopir pribadi ayahnya. Karena sopir itulah yang selalu antar jemput Alfred ke sekolah.
Begitu Louis keluar dari mobil, Alfred yang melihatnya reflek tersenyum, dan berlari menghampirinya yang masih berdiri di sebelah mobil berwarna hitam kilau.
"Ayah tumben sekali menjemputku, kenapa?" tanya Alfred langsung memeluk pria di hadapannya, yang tak lain adalah Louis sang ayah.
"Masuklah, Ayah membawa seseorang," ucapnya seraya tersenyum.
Louis membukakan pintu mobil belakang untuk Alfred, dan terlihat sosok Jane yang tengah tersenyum lebar memandangnya.
Langsung dengan ekspresi, Alfred kemudian bersorak kegirangan, tak biasanya sepulang sekolah dia sebahagia itu. Benar, seorang ibu memang sangat dibutuhkan untuk anak seusianya. Meskipun Jane bukanlah ibu dari Alfred, namun dia sudah menganggapnya seperti seorang ibu sungguhan.
Mobil yang di kemudi oleh Louis perlahan mulai melaju, meninggalkan halaman sekolah yang begitu luas.
Awan yang sebelumnya terlihat mendung kini mulai meneteskan air dengan lebat. Guntur terdengar makin keras hingga membuat suasana kota seakan ramai oleh suara menyeramkan.
Selama di dalam mobil menuju ke kediamannya, Alfred terus tersenyum memandang wanita yang duduk berseberang dengan sang ayah. Senyuman yang benar-benar tidak memudar, hingga akhirnya mereka tiba di kediaman Hanshen.
__ADS_1
"Wah, Tuan Muda Alfred sudah pulang? Eh β¦ bersama Tuan Louis dan Nona Jane?" sambut Lala yang kebetulan berdiri di tengah pintu masuk.
"Bibi! Hidangkan banyak makanan, ya!" seru nya bersemangat, lantas diangguki oleh Lala.
Pelayan itu kemudian langsung berjalan menuju dapur yang terletak di lantai atas, ia akan mengambilkan banyak makanan sesuai denga permintaan Alfred untuk dihidangkan pada Jane.
"Bibi Lil, ayo temani aku meletakkan tas ke atas!" pinta nya.
Namun Jane hanya terdiam, jika dia menuruti permintaan anak kecil itu, tentu akan dipandang tidak sopan oleh sebagian orang, termasuk tuannya, selaku ayah Alfred.
"Ayo Bibi!" Alfred mulai merengek, menciptakan suara bising di lantai dasar.
"Naiklah, aku tidak masalah," timpal Louis, menampakkan senyum yang terukir di wajah tampannya.
Jane mulai berjalan menaiki tangga bersama Alfred, hingga akhirnya tiba di lantai tiga, dimana terdapat ruang kamar Alfred yang begitu luas.
Saat memasuki ruang kamar tersebut, Jane sudah bisa merasakan aura yang berbeda. Jika dibandingkan dengan kamar miliknya, tentu kamar milik Alfred memiliki luas lima kali lipat.
Disertai sebuah televisi dan pendingin ruangan, bahkan tercium aroma wangi di dalam ruangan tersebut. Lantai yang didesain dengan keramik kayu itu menjadikan salah satu keunikan yang dimiliki ruang kamar.
"Apa kau rajin belajar?" tanya Jane, setelah dirinya melihat meja belajar yang penuh dengan lembaran kertas.
"Eh, jangan dilihat!" seru Alfred langsung merebut lembaran kertas itu dari tangan Jane.
Kini suasana berubah menjadi hening. Wanita itu menatap Alfred dengan pandangan heran, merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
"Iβ ini, ini adalah gambarku yang jelek. Bibi Lil jangan lihat, ya?" ungkapnya.
Tetapi wajahnya itu menunjukkan kebohongan, yang sepertinya bukan sebuah gambar jelek, melainkan suatu rahasia.
Di saat keduanya masih saling terdiam, Louis tiba-tiba datang, membuat Alfred langsung menyembunyikan lembaran kertas itu ke kolong kasur miliknya.
"Ayo makan dulu, bibi Lala sudah menyiapkan banyak makanan di bawah," ujarnya, kemudian kembali pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Haih! Dasar ayah menyebalkan!" gumam Alfred merasa kesal.
__ADS_1
Kini Jane besama Alfred berjalan menuju ruang makan yang terletak di lantai dua. Sebenarnya Jane merasa tidak enak lantaran terus numpang makan di rumah sang tuan. Apalagi siang tadi dirinya juga sempat ditraktir makanan mahal di sebuah restoran bintang lima.
Hujan yang terdengar begitu lebat di luar rumah membuat Alfred menjadi ketakutan. Pasalnya, Alfred memiliki rasa takut yang berlebihan pada suara hujan yang disertai dengan petir, benar-benar mewarisi sifat ibu kandungnya.
"Bibi! Aku takut!!!" teriaknya, sukses membuat beberapa orang yang tengah berada satu ruangan dengannya seketika menoleh.
Alfred memeluk erat tubuh Jane, membuatnya sulit untuk menggerakkan tubuh.
"Teβ tenanglah, Bibi ada di sini untuk Alfred," sahutnya, wanita itu mengelus pelan kepala Alfred sembari mendekap ke tubuhnya.
Pelayan yang melihat hal itu menjadi terharu, tidak banyak wanita di dunia ini yang benar-benar tulus mencintai seorang anak dari pria yang bukan suaminya.
"Jangan bersikap manja dengannya. Kau benar-benar akan membuat Bibi Jane merasa tidak nyaman," cibir Louis.
"Tidak, kok. Justru aku senang jika dia seperti ini," timpal Jane.
Wajah pria itu seketika terdiam. Tidak bisa menunjukkan ekspresi apapun, bahkan mulutnya juga hanya bisa terdiam tanpa kata-kata.
Sementara itu, Dion masih berada di perusahaan HonE Entertainment untuk menyelesaikan pekerjaan. Setelah membantu menyelesaikan pekerjaan Sora, iapun harus bisa menanggung pekerjaan miliknya, meskipun tidak seberapa.
Ditemani dengan secangkir minuman rasa matcha, serta beberapa cemilan ringan. Benar, Dion tidak bisa menghindri makanan-makanan itu saat dirinya tengah mengerjakan tugas kantor.
Di tengah-tengah kesibukannya, Sora tiba-tiba datang dan membuatnya terkejut. Terlihat wanita itu yang sedang membawa sebuah kertas berisi makanan, makanan yang sering ditemuinya di cafe perusahaan.
Meskipun belum dipersilahkan untuk duduk, Sora langsung ber singgah di sebuah kursi yang bersebrang dengan Dion. Tidak heran, karena itu memang sesuatu yang biasa dilakukannya.
"Ini untukmu. Ngomong-ngomong β¦ sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau membantu menyelesaikan pekerjaan ku," tuturnya pelan, seraya memberikan kertas berisi makanan tersebut pada Dion.
"Tidak masalah. Tapi, lain kali kau harus bisa mandiri, agar tidak bergantung pada orang lain."
"Baik!" Sora mengangguk dan tersenyum.
π±πππππππππ....
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ
__ADS_1