
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
___________________________________________
Happy Reading 🥀
Brugh!
Jane terjatuh, tanpa sengaja Louis menahan tubuhnya hingga mereka saling berdekatan. Kini kedua bola mata tampak saling memandang, suara nafas terdengar jelas, hingga detak jantung yang berdetak melebihi batas normal.
Pria itu masih dengan tangannya yang menahan tubuh Jane, merasakan sensasi berbeda saat menyentuh lengannya. Kulit yang halus serta harum, membuatnya tidak ingin cepat-cepat melepaskan wanita itu.
"Ah, maaf Tuan," ucap Jane seraya menyingkir dari hadapan Louis. Rasanya canggung setelah kejadian tadi.
"Apa kubilang, semua wanita memang suka ngeyel!" jengkel nya dengan kepala yang menengok ke segala arah.
"Ah, malu sekali. Apa dia akan marah?" tanya Jane dalam benaknya.
Dia duduk di atas ranjang, lebih tepatnya bersebelahan dengan Louis. Tampak suasana canggung yang kian menyelimuti keduanya, tak ada diantara mereka yang membuka pembicaraan bahkan memandang pun tidak.
Brrrr ...
Tubuhnya merinding, merasakan hawa dingin dari siulan angin yang baru saja menembus celah ruangan. Dia menatap sekeliling, dan nampak sebuah lubang udara di atas kaca jendela.
Jane melangkahkan kakinya, mendekati kaca jendela yang lebar dan panjangnya kurang lebih hampir dua meter. Tangannya itu mengusap kaca yang tampak bersih nan mengkilau. Bahkan sebutir debu pun tak menempel.
"Bagaimana jika kita keluar lewat sini?" tanya Jane berusaha memberi solusi.
Lantas pria itu menoleh, ia berdecak kesal melihat tingkah dan pemikiran Jane yang tidak senonoh.
"Jika kau ingin mati pun tidak apa lewat jendela itu."
"Ah, benar juga. Tapi ... "
"Tidak Tuan, maksudku bagaimana jika kita berteriak saja lewat jendela ini?" usulnya lagi.
__ADS_1
Louis membulatkan kedua bolan matanya, dirinya juga berpikiran sama dengan Jane. Yang artinya, pria itu setuju dengan saran dari Jane untuk berteriak meminta pertolongan melalui kaca jendela tersebut.
"Kenapa tidak kau coba terlebih dahulu? Kau bisa berteriak sekencang mungkin," kata Louis seraya melangkah mendekati Jane yang tengah berdiri di sebelah kaca jendela.
"Kenapa harus aku? Suara lelaki bukankan lebih keras?"
"Tidak, suaraku kecil. Suara perempuan bahkan lebih cempreng."
Sontak Kata-kata nya itu mampu membuat Jane jadi merasa kesal. Dia tidak habis pikir dengan sikap tuannya yang memang tidak peka sejak lahir.
"Pantas saja dia tidak memiliki istri. Sifatnya juga begini," ucapnya dalam hati.
"Tolong!!! Apa ada seseorang di luar sana? Halo!!! " Jane berusaha mengeluarkan seluruh suaranya, berharap seseorang akan mendengarnya meminta tolong.
"Hai!!! Apa kalian tidak mendengarnya? Halo?? Tolong, kami terjebak di atas sini!!!" teriaknya lagi. Namun sekeras apapun ia berusaha, tidak ada satupun orang yang mendengar suaranya lantaran suasana di lantai utama terlalu bising.
"Ah, suaraku ... "
"Menyerah lah. Tidak ada orang yang akan mendengar suaramu," ucap Louis dengan langkah kaki yang kembali menuju ranjang.
Pria itu berbaring di atas ranjang dengan tubuh telentang, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Di lantai utama, terlihat banyak orang yang tampak mabuk akibat terlalu banyak meminum wine. Tubuh mereka dalam kondisi tak sadarkan diri, dan beberapa diantaranya ada yang menenangkan diri di dalam kamar hotel.
Sementara itu, Alfred yang baru saja keluar dari lift tak sengaja menabrak seorang pria. Yah, pria itu adalah Dion. Alfred menatapnya dengan sinis, dan membuat Dion merasa heran dengan sikap anehnya.
"Bukankah kau Alfred? Kenapa anda ada di sini?" tanya Dion seraya berjongkok dan mendekatkan wajahnya pada anak itu.
"Iya, saya di sini hanya ingin melihat para tamu undangan saja," balasnya dengan di iringi senyuman lebar.
"Dimana ayahmu? Tuan Louis?" imbuhnya bertanya lagi. Namun Alfred hanya menanggapinya dengan mengangkat kedua bahu.
"Ah, bocah ini aneh sekali!" kesal Dion.
__ADS_1
"Di-- Dion? Kau sedang apa berdiri di sana?" seorang wanita dengan suaranya yang keras berjalan menghampiri Dion yang tengah berhadapan dengan Alfred.
Sora, dia meraih lengan Dion dan membawa ke dalam pelukannya. Sensasi empuk lantas mengejutkan pria itu, pipinya tampak memerah dan detak jantungnya berdebar kencang.
"So-- Sora, bisa lepaskan?" tanya Dion seraya berusaha melepas lengannya dalam pelukan Sora.
Namun tampaknya wanita itu tengah mabuk, Dion yang menyadari akan hal itu lantas mengecek suhu tubuhnya. Dia menempelkan telapak tangannya pada jidat Sora.
"Panas ..., jelas sekali dia sedang mabuk."
Dion pun lekas membawa Sora masuk ke dalam lift, ia tak ingin anak dari sang pemilik perusahaan melihat tingkah laku seseorang ketika sedang mabuk. Apalagi situasinya sedang bersama dengan lawan jenis mereka.
"Paman permisi," ucapnya begitu pintu lift hampir tertutup.
"Haha!!! Paman itu memang menjengkelkan, ya. Sudah berani mendekati bibi Lil, dia juga dekat dengan wanita lain," gumam Alfred.
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Dua jam telah berlalu. Kini waktu telah menunjukkan pukul 23.55. Lima menit lagi akan menginjakkan pukul 00.00. Yang artinya, hari akan berganti hari.
Louis membuka kedua bola matanya yang terasa berat, setelah tak sengaja tertidur pulas di atas ranjang. Tampaknya sang asisten pribadi yang terbaring di sofa, membuatnya tidak tega melihat wanita mengalah seperti itu.
"Ah, aku lupa kalau aku sedang terjebak dengan Jane," gumamnya seraya mengangkat tubuh Jane dari sofa. Ia membaringkan tubuh wanita itu di atas ranjang, lalu membalut nya dengan sebuah selimut yang sangat tebal.
"Jangan pergi, aku takut ... " ucap Jane dengan suara lirih. Ia meraih tangan Louis dan tidak mengizinkan pria itu untuk pergi. Yah, tampak kedua bola matanya yang masih terpejam.
Akibatnya, Louis pun dengan berat hati duduk di lantai dengan lengan yang masih berada di genggaman Jane. Ia merebahkan kepalanya di atas ranjang, dengan tubuhnya yang masih dalam posisi duduk.
Tanpa sadar, pria itu terlelap. Ini adalah malam pertama kali bagi Jane tidur bersama dengan seorang pria. Mungkin kejadian ini adalah keberuntungan baginya, karena bisa berada dalam satu kamar dengan Louis, tuannya sendiri.
Berbeda dengan Louis, dirinya merasa malam ini adalah malam ter konyol, sebab telah terjebak di dalam kamar hotel dengan asisten pribadinya sendiri. Apalagi, asistennya itu adalah seorang wanita yang belum bersuami. Yup, pria itu masih beruntung, tidak terjebak dengan wanita yang telah bersuami.
Bersambung🍁
Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!
__ADS_1
Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.
Terima kasih~