
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
___________________________________________
Happy Readingš„
Angin berhembus kencang, mendinginkan seluruh tempat. Bahkan jalanan kota telah dipenuhi oleh es salju, membuat lalu lintas menjadi padat. Ditambah dengan hujan badai salju yang melanda Kota, mengakibatkan orang-orang sulit beraktivitas.
Alfred dengan mobil yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah toko Winter Shop. Ia akan membeli beberapa pakaian untuk dikenakannya pada musim dingin kali ini.
Setelah hampir satu jama lamanya berada di toko tersebut, ia pun langsung menuju perusahaan HonE Entertainment untuk menemui sang ayah yang sudah sejak pagi berangkat ke perusahaan.
Tidak menggunakan waktu lama, Alfred pun tiba di tempat tujuan. Alfred turun dari mobil setelah sopir pribadinya itu membukakan pintu mobil untuknya. Yah, tuan muda memang harus di layani dengan baik.
Kriett ...
Alfred membuka pintu ruangan Louis, tampaknya tidak ada satupun orang di dalamnya. Dengan langkah pelan, ia memasuki ruangan tersebut dan langsung merebahkan tubuhnya di kursi sang ayah.
"Permisi Tuan," sapa Jane begitu dirinya masuk ke dalam ruangan. Sontak wanita itu terkejut lantaran melihat sosok Alfred yang tengah bersantai di kursi tuannya.
"Bibi Lil?" Alfred bangkit dari kursi, lalu berlari menghampiri Jane yang masih berdiri di depan pintu masuk dengan beberapa lembaran kertas di tangannya.
"Ah, dimana ayahmu?" tanya Jane seraya berjongkok dan mendekatkan wajahnya pada anak itu.
"Aku tidak tau, aku juga baru masuk ... " balasnya.
"Oh iya, aku ada sesuatu untuk Bibi." Alfred mengambil sesuatu dari dalam tas kertas berwarna coklat. Dilihatnya sebuah jaket tebal musim dingin untuk seorang wanita.
"Ini untuk Bibi," ucap Alfred seraya memberikan jaket tersebut pada Jane. Lantas, hal itu benar-benar membuat Jane merasa terharu, meskipun ia juga merasa sedikit tidak enak karena diperlakukan lebihan oleh anak tuannya.
"Terima kasih banyak, Bibi Lil sangat menyukainya!" ujar Jane tersenyum lebar.
"Humm, Bibi menitipkan ini padamu. Nanti kalau ayahmu datang, beri tahu beliau ya ... " Jane menaruh lembaran kertas di tangannya itu ke meja Louis. Jumlahnya yang tidak sedikit membuat Alfred termangap kagum.
"Baik Bi!"
*****
Jane melangkah masuk ke dalam lift, namun karena ruangan lift yang sudah terlalu banyak muatan membuatnya mengalah untuk keluar. Lift pun beroperasi dan Jane masih berdiri di depan pintu lift tersebut.
"Jane!" teriak Dion dari balik tubuhnya, lantas Jane pun menoleh.
__ADS_1
"Sedang apa?" tanya Dion setelah dirinya berhadapan dengan Jane.
"Aku sedang menunggu lift," balasnya seraya tersenyum lebar.
Tanpa mereka sadari, ternyata Alfred tengah memperhatikan keduanya dari pintu ruangan Louis. Ia mengernyitkan dahi, merasa kesal dengan sosok Dion.
Tak lama setelah itu, Sora datang dan menghampiri keduanya. Tanpa angin tanpa badai, wanita itu tiba-tiba langsung merangkul lengan Dion, sensasi empuk lantas dirasakan olehnya.
"Uh, berlebihan ... " batin Jane dengan manatap jijik kedua orang di hadapannya.
"Sora, apa yang kau lakukan?" tanya Dion.
"Aku? Aku tidak melakukan apa-apa," balasnya berpura-pura polos. Yah, Dion hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Begitu lift telah kosong, Jane lantas masuk ke dalam lift. Ia meninggalkan dua orang yang tengah bermesraan tadi.
"Aku pergi dulu, banyak yang harus ku kerjakan," ucapnya dengan suara lembut.
"A-- ah, baiklah ... "
Dion menatap Sora, wanita itu tengah tersenyum menatapnya. Bahkan lengannya pun masih berada di dalam pelukan Sora.
"Apa maumu?" tanya Dion tiba-tiba, membuat Sora merasa heran sekaligus terkejut.
"Tidak," balasnya dengan suara dingin. Lantas pria itu berjalan dengan lengan yang masih dipeluk erat oleh Sora.
--
"### Menarik ... "
Waktu telah menunjukkan pukul 13.22. Matahari telah berada di puncaknya, namun suhu Kota masih tetap dingin lantaran sedang terjadi musim salju.
Louis masuk ke dalam ruangannya setelah hampir setengah hari tidak tidak terlihat. Alfred yang mengetahui ayahnya pulang lantas merubah posisi duduknya, yang semula kaki berada di atas meja langsung ia turunkan.
"Ayah dari mana saja?" tanya Alfred heran.
"Ada urusan."
"Ayah, ayo makan!" ajak Alfred seraya meraih tangan Louis.
"Ayah sudah makan."
__ADS_1
"Huh, menjengkelkan! Tapi, ini membuatku jadi punya rencana ... "
"Baiklah, aku akan makan dengan bibi Lil." Louis membulatkan kedua bola matanya, terkejut dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut anaknya itu.
"Apa kau tidak bisa sehari saja tidak bersama dia?" tanya Louis, menatap sinis pada sang anak. Alfred pun menggeleng sebagai tanda jawaban.
"Baiklah, terserah padamu saja."
Alfred keluar dari dalam ruangan. Langkahnya itu berjalan menuju sebuah lift. Yah, dia akan menghampiri Jane di ruangannya.
Begitu tiba di ruangan Jane, ternyata Sora juga tengah berada satu dalam ruangan tersebut. Alfred tersenyum menatap keduanya, membuat mereka nyaris terkejut lantaran Alfred tiba-tiba muncul.
"Bibi, ayo makan siang bersama!" ajaknya kegirangan. Sontak Sora yang mendengarnya menjadi bengong, tidak habis pikir dengan sosok Jane yang bisa dekat dengan pria manapun, bahkan anak dari tuannya pun bisa dekat dengannya.
Tetapi Jane terdiam, ia merasa tidak enak pada teman di hadapannya yang sudah lebih dulu mengajaknya makan siang bersama.
"Tidak apa Jane, kita makan siang bertiga saja. Bagaimana?" saran Sora.
"Baiklah," balasnya setuju.
Ketiga orang tersebut akhirnya bersama-sama menuju sebuah kantin di perusahaan. Jane mengenakan sebuah jaket tebal yang telah diberikan oleh Alfred padanya. Yah, tentu saja hal itu membuat Sora sedikit merasa iri.
Setibanya di kantin perusahaan, Jane memesan menu makanan hangat yang juga diikuti oleh Alfred. Sedangkan Sora memesan soda dingin dan tteokbokki. Meskipun sedang terjadi musim salju, namun itu bukanlah masalah besar untuk Sora mengkonsumsi minuman dingin serta makanan pedas.
Tidak menggunak waktu lama, makanan yang telah mereka pesan pun di hidangkan dengan diantar oleh seorang pelayan pria.
Sejatinya, pria dengan wajah yang putih bersih serta tubuhnya yang memiliki tinggi badan di atas rata-rata pria sebaya nya sukses memikat perhatian para pengunjung.
Tampaknya pria itu adalah pekerja baru yang sudah masuk sejak beberapa hari lalu. Kedatangannya mampu menambah para pengunjung, terutama pengunjung wanita yang merasa tergila-gila pada sosoknya.
"Terima kasih," ucap Jane yang di balas senyuman manis oleh pria itu.
"Sial, senyumannya itu manis sekali!" batin Sora.
Alfred melirik memandang Sora, dilihatnya wajah wanita itu tampak kesal melihat Jane dibalas senyuman oleh pelayan pria tadi.
Bersambungš
Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!
Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.
__ADS_1
Terima kasih~