
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
___________________________________________
Happy Reading š„
Langit masih menggantung jingga ketika Jane tiba di rumahnya dengan menggunakan taxi. Dia melangkah masuk ke dalam rumah, lalu melepas sepatu hak yang baru saja dikenakannya.
"Huh," Jane menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jantungnya masih berdegup kencang akibat kejadian tadi. Benar, sikap pria itu membuatnya jadi salah tingkah.
Handphone di saku jaket Alfred bergetar. Terus terang dia malas membukanya, namun ketika melihat sebuah nama seseorang yang tengah menghubunginya, Alfred langsung bergegas mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, bibi Lil?" sapa Alfred membuka pembicaraan.
"Apa Bibi boleh bertanya?" tanya Jane sedikit meninggikan nada bicaranya, mampu membuat anak lelaki itu menjadi sedikit heran.
"Kenapa kau berbohong pada Bibi?" imbuhnya bertanya lagi. Sontak Alfred terdiam, tidak tau harus menjawab apa.
"Alfred, apa kau dengar?"
"Ma-- maaf, tapi tadi aku sakit perut. Kasihan jika ayah makan sendirian, kan?" balasnya berbohong.
#Flasback on#
Alfred berlari menuju toilet, dibukanya layar ponsel lalu menghubungi sang sopir. Dirinya meminta agar sopir pribadinya itu menjemputnya pulang.
Seusai menghubungi sopir, Alfred lantas menghubungi Jane. Ia berbohong bahwa dirinya sedang makan sendirian. Yah, itu hanya modus. Alfred juga tidak benar-benar sakit perut, dia hanya mengada-ngada agar Jane bisa makan berdua dengan Louis.
#Flashback Off#
"Hah? Sakit perut, tapi apa kau sudah membaik?" tanya Jane terdengar cukup serius. Alfred tersenyum kecil, ingin rasanya dia tertawa karena sikap Jane yang berlebihan menurutnya.
"Tenang, aku sudah baik-baik saja. Apa Bibi senang saat makan sore tadi?" tanya Alfred berusaha mengganti topik obrolan.
"Ah, ya. Be-- begitulah," balasnya gelagapan.
Setelah cukup lama mengobrol, keduanya akhirnya memutuskan untuk mengakhiri obrolan lantaran Jane akan sibuk karena harus membereskan rumah. Begitu juga dengan Alfred, dia harus mengerjakan PR yang diberikan oleh gurunya di sekolah.
Malam telah larut, Jane merebahkan tubuhnya di sofa, sesekali ia menoleh ke arah jam yang terpampang di dinding ruang tamu. Dilihatnya waktu telah menunjukkan pukul 20.13.
Drrrttt ...
Ponselnya tiba-tiba berdering, tampak sebuah nama seseorang yang tengah menghubunginya.
"Ray?!!" kejut Jane. Sudah lama sang mantan kekasihnya itu tidak menghubungi dirinya, namun kali ini pria itu tiba-tiba menghubunginya lagi.
__ADS_1
Merasa takut akan diancam, Jane pun memutuskan untuk tidak mengangkat panggilan tersebut. Dia mematikan ponselnya, lalu melemparnya ke atas meja.
"Sial, ada apa dia menghubungi ku? Pasti ada maunya," gumamnya merasa jengkel.
Tak lama setelah itu, terdengar seseorang yang tengah mengetuk pintu rumahnya. Dia bangkit dari sofa, lalu menuju ke arah pintu.
Cek lek ...
"Jane!"
"Ah, lepaskan!" tegas Jane.
Mantan kekasihnya itu tiba-tiba datang, dan langsung memeluk erat tubuh Jane ketika dirinya membukakan pintu.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu!" ujar Ray dengan tangan yang masih erat memeluk tubuh wanita itu.
"Aku malu jika banyak orang yang melihatnya."
"Ah, baiklah." Ray melepaskan pelukannya, lalu menatap Jane dengan wajah iba.
"Ada apa dengan orang ini?" batin Jane merasa kesal sekaligus heran.
"Kenapa kau datang kemari?" tanyanya seraya memalingkan pandangannya dari Ray.
"Aku benar-benar menyesal sudah membuatmu kecewa. Tapi aku mohon, kembalilah padaku."
Ckit___
Sebuah mobil berwarna merah tampak berhenti di halaman rumah Jane, membuat keduanya menoleh secara bersamaan. Lantas seorang pria keluar dari dalam mobil tersebut, ternyata pria itu adalah Dion.
"Ray?" Dion terkejut, tangannya itu terlihat sedang membawa sebungkus makanan.
"Jangan ikut campur!" tegas Ray tiba-tiba.
"Ah, maaf. Tapi aku harus ikut campur."
Ray menatap Dion dengan tatapan sinis, merasa kesal dengan pria itu lantaran terus ikut campur dalam masalahnya.
"Aku bilang jangan ikut campur!" Ray hampir mendaratkan telapak tangannya pada wajah Dion, namun pria itu dengan mudahnya menepis tamparan dari Ray.
"Sial, menjengkelkan!"
"Sudah-sudah, aku tidak ingin melihat kalian bertengkar," timpal Jane mampu membuat dua pria di hadapannya menjadi hening, lalu berdalih menatapnya.
"Ray, dengarkan aku baik-baik. Aku tidak ingin kembali padamu, dan aku ingin kau jangan mengganggu hidupku!" Jane mengancamnya, membuat Ray semakin naik pitam.
__ADS_1
Brugh!!
Jane terjatuh, setelah Ray berhasil mendorongnya ke lantai. Akibatnya, kepalanya itu terbentur ke dinding dan mampu mengeluarkan darah yang mengalir cukup banyak.
Dion yang melihatnya tak bergeming, pria itu segera mengangkat tubuh Jane dan membawanya masuk ke dalam mobil. Hanya dalam hitungan detik, mobilnya itu telah lenyap dimakan waktu.
"Mereka meninggalkan ku?" tanya Ray pada dirinya sendiri. Yah, dirinya masih mematung di depan pintu masuk seraya menatap kepergian mantan kekasihnya.
Tidak menggunakan waktu lama, keduanya pun tiba di sebuah rumah sakit ternama di Kota nya. Dion segera membawa Jane masuk ke dalam ruang pengobatan. Tampak seorang dokter wanita yang berjalan menghampiri mereka.
"Ada apa dengan kepalanya?" tanya dokter itu.
"Kepalanya terbentur ke dinding, tolong selamatkan dia ... " balas Dion dengan suara lirih.
Tak kuasa menahan air matanya, pria itu tanpa sadar telah meneteskan cairan bening dari kedua bola matanya, mampu membasahi seluruh pipi.
Jane yang sempat pingsan benar-benar membuat Dion merasa begitu khawatir. Dia hanya bisa berharap sahabatnya akan baik-baik saja.
Setelah cukup lama menunggu di luar ruangan, dokter pun keluar dan menghampiri Dion yang tengah duduk di sebuah kursi tunggu.
"Anda sudah boleh masuk," ucapnya memberi tahu, lantas Dion mengangguk paham.
"Jane, apa kau tidak apa-apa?" tanya Dion begitu dirinya berada di sebelah ranjang Jane. Wanita itu tampak tersenyum seraya memandang Dion.
"Dasar bodoh, apa kau tidak lihat?"
"Ah, aku sangat khawatir ... "
Waktu telah berlalu, Jane akhirnya tiba di rumahnya dengan diantar oleh Dion. Pria itu memberikan sebuah kantung plastik berisi makanan. Tidak lain lagi adalah kebab, makanan kesukaan Jane sejak dulu.
"Terima kasih banyak, kau sangat membantuku hari ini ... " tutur Jane seraya menerima kebab pemberian Dion.
"Sama-sama."
"Sebaiknya kau pulang, ini sudah terlalu malam. Aku tidak ingin banyak orang salah paham karena ada laki-laki di rumahku tengah malam begini," cakap Jane dengan tangan yang mendorong Dion menuju mobilnya.
Lantas pria itu tersenyum, membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
"Aku pergi, jaga dirimu baik-baik!"
Bersambungš
Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!
Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.
__ADS_1
Terima kasih~