
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
_________________________________________
Happy Readingπ₯
Louis bersama Alfred duduk di sebuah sofa ruang tamu. Rumah yang tidak terlalu luas itu membuat keduanya sedikit merasa tidak nyaman, lantaran selama ini tinggal di rumah yang besar.
Jane berjalan menuju arah dapur, mengambil gelas dari dalam rak dan menuangkan air ke dalamnya. Dengan sedikit bubuk rasa coklat serta roll wafer sebagai hiasan.
Wanita itu kemudian kembali ke ruang tamu, dimana tampak sepasang ayah dan anak yang tengah diam memandang setiap sudut ruangan.
Sudah tentu ia paham dengan sikap mereka yang sepertinya kurang nyaman berada di rumahnya.
"Maaf, rumahku tidak mewah seperti rumah kalian," ucapnya seraya meletakkan dua buah gelas ke atas meja.
"Tidak, kok! Rumah Bibi Lil sangat indah, bahkan melebihi rumahku," sahut Alfred berbohong.
Anak kecil sepertinya memang tidak pandai berbohong, sekalipun berbohong pasti sudah terlihat hanya dari raut wajahnya saja.
Setelah cukup lama berada di sana, Louis meminta izin untuk pulang dengan alasan malam yang sudah semakin larut. Apalagi tidak baik jika seorang wanita bersama pria bukan sahnya berada di tempat sepi.
"Besok kita bertemu lagi ya!" lontar Alfred kegirangan. Dirinya masuk ke dalam mobil setelah sang ayah membukakan pintu mobil untuknya.
"Baik, berhati-hatilah di jalan ...."
Mobil yang ditumpangi oleh Louis dan Alfred mulai menjauh, semakin tak terlihat dari pandangannya.
Setelah kepergian mereka, Jane yang sudah kelelahan lantas beranjak masuk ke dalam ruang kamar. Melompat ke atas ranjang lalu meraih selimutnya.
Awan cerah dengan mentari pagi menyambut hari berikutnya. Sayup-sayup angin bertiup menembus kaca jendela, mampu menyejukkan seisi ruangan yang terbuka.
Begitu alarm di ponselnya berbunyi, Jane langsung bangun. Menguap kantuk karena tidur hanya dalam waktu lima jam. Tentu, waktu lima jam adalah waktu yang cukup singkat menurutnya.
Wanita itu memasuki kamar mandi, membasuh tubuhnya dengan air hangat yang keluar dari shower. Kemudian mengusapnya dengan sabun beraroma buah anggur.
Selepas membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, ia mulai mengacak-acak lemari untuk memilih sebuah pakaian yang cocok untuknya pergi mengunjungi panti asuhan.
"Warna merah muda? Atau yang merah jambu saja? Ah, tapi sepertinya terlalu norak. Bagaimana jika yang hitam saja? Aku pasti akan terlihat elegan ...," ucapnya dengan mencoba beberapa pakaian yang sudah dikeluarkan dari dalam lemari tersebut.
Setelah beberapa saat, Jane masih tidak menemukan pakaian yang cocok. Hingga terdengar suara klakson berbunyi dari area halaman rumahnya.
Namun Jane tidak ambil pusing dengan suara itu, dia tetap bersikeras mencari pakaian untuk dikenakannya nanti.
Tok ... tok ... tok ...
__ADS_1
Seseorang mengetuk pintu rumahnya, sontak membuat Jane kewalahan lantaran masih belum mengenakan pakaian.
Tetapi karena suara ketukan pintu terus berbunyi, wanita itu pun terpaksa membuka pintu rumahnya dengan tubuh yang hanya dibalut dengan sebuah handuk saja.
Kriett ...
Pintu rumahnya terbuka, menunjukkan dua orang lelaki tengah menatapnya kaget. Bukan hanya dua lelaki itu saja, namun Jane sendiri sempat terkejut karena si bos bersama temannya tiba-tiba datang tanpa memberi kabar.
"Se-- sebentar, biarkan aku memakai pakaianku dulu!" lontar Jane seraya berlari masuk ke dalam kamar.
Kini Louis dan Dion duduk di sofa ruang tamu. Keduanya hanya saling terdiam karena tidak ada topik bagus untuk dibicarakan.
Hingga akhirnya Jane datang menemui dua lelaki itu. Ia memutuskan untuk memakai pakaian sederhana, yang tidak terlalu mencolok dengan warna dan desain.
"Maaf kami datang tiba-tiba," kata Louis tanpa menunjukkan senyum pada wajahnya.
"Tidak masalah untuk kali ini. Tapi aku berharap ke depannya Tuan Louis bisa mengabari ku terlebih dahulu."
"Kami kemari karena jadwal untuk ke panti dimajukan. Jika tidak pun kami tidak akan menjemput mu," imbuh Dion.
"Oh, begitu ya ...."
Ketiganya berjalan menuju mobil, Dion membukakan pintu mobil untuk Jane duduk di bagian belakang. Lalu dirinya duduk di bagian depan karena diperintah untuk mengemudi.
Setelah dirasa cukup siap, Dion mulai menginjak gas mobil, membuat mobil yang ditumpangi nya itu melaju dengan kecepatan sedang.
"Oh ya, ngomong-ngomong ... Alfred dimana?"
"Dia sekolah," jawabnya singkat tanpa memandang ke arahnya.
"Apa dia tau kalau Tuan akan pergi ke panti?" lanjut tanya nya, kemudian pria itu menggeleng sebagai jawaban.
Selang beberapa waktu kemudian, mobil yang mereka tumpangi mendadak berhenti karena macet pada lalu lintas.
Tak tau harus melakukan apa di situasi tersebut, Jane mengusulkan agar Dion menyalakan musik di ponselnya.
"Tidak perlu menggunakan ponsel, kau bisa memencet tombol itu saja," timpal Louis dengan tangannya yang menunjuk pada sebuah tombol di sebelah kemudi.
Tombol itulah yang nantinya akan mengeluarkan suara lagu sesuai keinginan manusia.
"Aku terlalu payah kalau soal urusan mobil," ucap Jane diselingi tawa kecil, Dion yang mendengarnya lantas ikut tertawa.
"Maklum, mobil saja tidak punya," ledek nya, namun sama sekali tidak menyinggung perasaan wanita itu.
Perlahan mobil kembali berjalan, setelah kemacetan mulai reda. Jane menikmati suasana di dalam mobil dengan mendengarkan musik yang keluar dari radio tersebut.
__ADS_1
Lambat laun angin berhembus, menyejukkan seisi dalam mobil yang terasa cukup panas akibat terik panas matahari.
Jam menunjukkan pukul 12.00 waktu setempat, mereka berhenti di depan sebuah cafe untuk mengisi perut yang terasa lapar.
Sebelum itu, Dion memarkirkan terlebih dahulu mobilnya pada sebuah tempat parkir yang telah disediakan di sebelah bangunan cafe.
Lalu mereka masuk ke dalam cafe yang dirasa cukup mewah bagi kalangan orang seperti Jane, yang hidup hanya berkecukupan.
Bahkan selama duduk di kursi, Jane terpikirkan oleh biaya tagihan yang akan ia keluarkn untuk makan siang di tempat tersebut.
"Ini buku menunya, silahkan dilihat dan katakan pesanannya," ucap seorang wanita pelayan cafe.
Louis menerima bukunya, lalu melihat tiap menu di dalam buku tersebut. Gambar makanan yang tampak enak membuatnya tergiur dan memesan hampir setengah dari menu tersebut.
"Baik, ditunggu pesanannya." Si wanita pelayan cafe pergi meninggalkan meja mereka.
"Apa tidak berlebihan, Tuan?" tanya Jane sedikit khawatir.
Belum sempat menjawab, nada dering ponsel di dalam saku jas nya itu tiba-tiba berbunyi. Dan terlihat bahwa Alfred yang tengah meneleponnya.
"Hai, Ayah dimana?" tanya Alfred dari balik telepon. Lantas Louis pun menggantinya dengan voice camera.
"Wah, ada bibi Lil! Halo Bibi ...," sapa anak lelaki itu seraya tersenyum lebar.
"Hai Alfred, apa kau sudah makan?" tanya Jane yang juga tersenyum.
"Tentu saja sudah."
Tak sengaja melihat Dion yang duduk di sebelah kursi Jane, membuatnya menjadi geram dan ingin sekali memukul pria itu.
"Ayah, tolong berikan ponselnya pada bibi," kata Alfred.
Louis pun memberikan teleponnya pada wanita itu, membuat Dion merasa iri lantaran mereka sudah tampak seperti keluarga.
"Bibi, jangan terlalu dekat dengan paman di sebelah itu ...," tuturnya pelan, berusaha agar tidak didengar oleh Dion.
"Memangnya kenapa?" tanya Jane heran.
"Pokoknya jangan, lebih baik dekati ayahku saja!"
Suaranya yang cukup keras itu sukses mengejutkan tiga orang sekaligus. Seketika Jane mulai terdiam dan menatap si tuannya.
π±πππππππππ....
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ
__ADS_1
Oh ya, jangan lupa untuk mampir ke novel sebelah juga, "Terjerat Pacaran Kontrak".