
Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~
___________________________________________
Happy Readingπ₯
Namun Louis tidak perduli dengan hal itu, dirinya yang sudah terlanjur khawatir dengan keberadaan Jane pun pergi mencarinya, tanpa tau letak ruangan di dalam bangunan tersebut.
Hingga ia tak sengaja melihat sesuatu dari balik jendela, membuatnya penasaran dan melihatnya lebih dekat.
Namun sesuatu yang tak diduga muncul di depannya, Louis melihat sosok Jane yang tengah santai menikmati pemandangan itu.
Dengan langkahnya yang pelan, Louis mendekati pintu belakang, lalu menghampiri Jane dengan niat mengejutkannya.
"Sedang apa?" tanya Louis secara tiba-tiba.
"Tuan, kenapa anda kemari?"
"Karena aku melihatmu di sini, makanya aku kemari," balasnya tersenyum seraya memandang aurora di atas langit.
Sama seperti Jane, pria itu juga baru kali pertamanya melihat sebuah fenomena alam yang langka. Jarang sekali ditemui.
"Apa kau tidak bisa tidur?" tanya Louis di tengah-tengah kesunyian.
"He'em," balas Jane dengan menganggukkan kepalanya.
Malam yang telah larut itu membawa keduanya pada suasana romantis, disertai gemerlapnya lampu dan pemandangan aurora.
Setelah beberapa saat, Jane yang merasakan kantuk pada matanya itu lantas mengajak Louis untuk masuk ke dalam.
Disaat mereka tengah berjalan melewati ruang belakang, suara yang tak enak didengar itu melintas di telinga Jane. Lebih tepatnya seperti suara anak kecil yang sedang berteriak kesakitan.
"Sebentar!" ucap Jane dengan menghentikan langkah kakinya. Membuat pria di sebelahnya juga ikut berhenti.
"Kenapa?" tanya Louis heran.
"Sepertinya ada suara anak kecil yang sedang berteriak, tapi ... darimana arahnya?" Wanita itu menatap ke setiap sudut ruangan, namun ia tak menemukan apapun.
"Aku tidak mendengar apa-apa. Mungkin kau hanya salah dengar saja, biasanya efek tidak bisa tidur," tuturnya, lalu kembali berjalan dengan langkah pelan.
__ADS_1
Karena takut, Jane pun hanya bisa percaya dengan perkataan pria itu, meskipun masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Mereka masuk ke dalam kamar, dengan posisi tidur seperti sebelumnya. Tidak lupa juga untuk Louis memadamkan lampu, dirinya sudah terbiasa tidur tanpa cahaya.
***
Awan cerah menyambut pagi pertama mereka di panti asuhan. Suara bising anak kecil terdengar dimana-mana, membuat ke-tiga orang tersebut bangun dengan mata yang masih berat untuk terbuka.
Jane turun dari ranjang, dan mendapati dua pria di bawahnya tengah memainkan ponsel masing-masing.
"Sebaiknya ponsel dimainkan nanti saja, kita harus sarapan pagi dulu," ujarnya, kemudian membuka pintu kamar dan keluar.
"Ah, benar juga. Ayo Tuan!" ajak Dion bersemangat, lalu menarik lengan tuannya dengan cepat.
Kini ruang makan yang terletak di lantai atas terlihat penuh oleh seluruh anak panti. Bahkan Jane, Louis dan Dion sampai tidak mendapat kursi mereka.
Namun sebagai orang dewasa, tentu ketiganya sudah mengerti apa yang seharusnya mereka lakukan.
"Kami makan di lantai bawah saja," kata Jane seraya meraih beberapa makanan yang telah dihidangkan.
"Ah, baiklah. Maaf karena tempat kami yang sempit, jadi kalian merasa kesusahan," sahut Delion.
"Tidak masalah, kami kemari juga karena ingin mendonasikan beberapa perlengkapan untuk panti asuhan ini," timpal Louis, lalu dibalas senyuman oleh para pengasuh wanita.
Setelah menuju lantai dasar, Jane lagi-lagi dibuat heran oleh keberadaan Beliiago. Anak lelaki itu selalu terdiam di bawah tangga, entah apa yang ia lakukan.
Tetapi ketika Jane menatap Beliiago, anak itu bukannya tersenyum atau menunjukkan perasaannya, justru malah berpaling. Menatap ke arah lain dan bersembunyi semakin dalam.
Jane yang sedari tadi bengong memikirkan Beliiago sontak tersandung oleh sebuah benda di tangga tersebut. Akibatnya, wanita itu nyaris terjatuh, jika saja Louis tidak menangkapnya.
"Ah, maaf ... aku bengong sejak tadi, makanya tidak sadar kalau ada benda di sana," ungkap Jane menahan rasa malu.
"Huh, ceroboh sekali."
Dion yang melihat kejadian itu lantas menjadi iri, ia akhirnya berjalan pergi meninggalkan kedua orang tersebut tanpa memikirkan akibatnya.
"Dimana Dion?" tanya Jane begitu sadar bahwa rekan kerja sekaligus teman lamanya itu telah pergi.
"Mungkin sudah duluan?" tebak Louis dengan asal.
__ADS_1
Sementara itu, beberapa pengasuh panti sedang kewalahan mencari sebuah benda yang hilang. Tentu, benda itu sangat berharga bagi mereka.
Seorang wanita yang semalam bertemu dengan Jane, namanya adalah Caroline. Dia bersurai hitam legam, dan kedua bola matanya terlihat menggoda ketika ditatap dari dekat.
Caroline adalah pengasuh termuda sekaligus pengasuh pertama di panti tersebut. Dia ditempatkan sebagai orang yang mengurus beberapa pengasuh wanita lainnya.
Di sana, Caroline tengah meminta beberapa pengasuh lainnya untuk berpencar dalam mencari benda yang hilang.
"Kenapa bisa ada benda yang hilang? Padahal sebelumnya tempat ini tidak pernah kehilangan satu benda pun, atau jangan-jangan ...," gumam Caroline.
Angka jarum jam menunjukkan pukul 09.22 waktu setempat, Jane beserta dua pria itu kembali menuju lantai atas untuk meletakkan piring yang telah kosong.
Tapi karena Louis yang mendadak ingin pergi ke toilet, ia akhirnya memisahkan diri, lalu berjalan sendiri menuju toilet yang letaknya berada di ujung lantai dasar.
Brugh!!!
Seorang wanita yang tiba-tiba muncul membuatnya terkejut, hingga membuat mereka saling bertabrakan.
"Ah, maafkan aku yang ceroboh ini, aku tidak sengaja menabrak mu," ucap Caroline, wanita yang baru saja bertabrakan dengan Louis.
Pria itu tak menggubris ucapannya, justru malah berjalan dan akhirnya tiba di toilet.
"Dia dingin sekali, melebihi wajahnya yang sudah terlihat seperti es," gerutunya dalam hati.
Setelah beberapa saat, Louis akhirnya keluar dari dalam toilet tersebut. Namun dirinya lagi-lagi dipertemukan dengan Caroline, yang muncul secara tiba-tiba.
"Apa ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Louis dengan tampangnya yang dingin, sukses membuat wanita di depannya itu terdiam kaku.
"Jika tidak, maka jangan halangi jalan ku terus, apa kau paham?"
Seketika Caroline memeluk erat tubuh pria itu, reflek Louis langsung melepasnya dan menatap keji pada Caroline.
"Siapa kau?!! Tidak sopan sekali," kesalnya, kemudian beranjak pergi dari tempat itu.
"Hai! Tunggu! Aku sedang mencari barang yang hilang," ucapnya dengan berteriak, sukses membuat langkah kaki Louis terhenti.
"Carilah barangmu, kenapa harus bertanya padaku? Kau pikir, aku adalah Tuhan yang selalu tau apa saja?"
Yah, kini Louis benar-benar pergi meninggalkan Caroline, meskipun sudah beberapa kali ia berusaha memanggilnya.
__ADS_1
π±πππππππππ....
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ