Little Angel Brings Romance

Little Angel Brings Romance
Bab 19-Kerja Sama


__ADS_3

Mohon dukungannya untuk karya ini, karena dukungan dari kakak semua sangat berarti bagi saya~


____________________________________________


Happy Reading🥀


Drrrttt ...


Ponsel Jane berdering, membuat ketiga orang tersebut terdiam dan hanya saling memandang. Lantas Jane berdiri dari kursinya, dia sedikit menjauh dari dua orang di hadapannya untuk mengangkat telepon.


"Halo, selamat pagi Tuan," sapa Jane setelah mengangkat panggilan tersebut.


"Ke ruangan ku sekarang," ujar Louis, seseorang yang berada di balik telepon itu.


"Baik."


Jane mengakhiri panggilannya, ia menatap Dion dan Sora lalu tersenyum.


"Maaf, aku harus pergi karena ada urusan. Kalian bisa keluar?" cakap Jane.


Dua orang itu lantas mengangguk, mereka keluar dari dalam ruangan Jane bersama dengan Jane sekaligus. Lalu wanita itu langsung pergi meninggalkan Dion serta Sora yang masih berdiri mematung di depan pintu ruangan.


"Hah, menyebalkan!" decak Dion, memasang raut wajah kesal pada wanita di sebelahnya.


"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu," ujarnya dengan wajah murung menunduk ke lantai.


Dion tak peduli, langkahnya itu berjalan cepat meninggalkan Sora yang masih berdiri di tempatnya.


〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎


Cek lek ...


Pintu ruangan dibuka olehnya, tampak seorang pria tengah duduk seraya sibuk dengan ponsel di tangannya. Matanya terus tertuju pada layar ponsel, sampai tak sadar bahwa Jane telah berada di dalam ruangannya.


"Halo, Tuan?" ucap Jane yang sontak mampu mengejutkan Louis. Ia pun langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku jas yang tengah dikenakan nya.


"Duduklah." Jane duduk, tepat di hadapan Louis.


"Kita akan ke cafe untuk bertemu dengan klien, sebaiknya kau menyiapkan beberapa lembar dokumen untuk nanti," kata Louis memberitahu. Lalu di angguki oleh Jane.


"Memangnya jam berapa?"

__ADS_1


"Setengah jam lagi, setelah kau menyiapkan lembaran itu, kita akan langsung ke cafe Monetary."


Setengah jam telah berlalu, pasangan tuan dan asisten pribadinya itu telah berada di basement. Keduanya sudah siap berada di dalam mobil, dengan mengenakan sabuk pengaman.


Hanya dalam hitungan menit, mereka akhirnya tiba di sebuah cafe Monetary. Cafe yang lengkap dengan CCTV serta tempat pengunjung yang cukup banyak disediakan. Mereka bisa memilih menu melalui buku menu yang telah di sediakan di meja masing-masing.


Louis duduk bersebelahan dengan Jane, hanya suasana canggung yang menyelimuti keduanya lantaran mereka saling sibuk dengan ponsel sendiri.


"Selamat pagi, Tuan Louis, Nona Jane," sapa seorang pria yang baru saja tiba.


Sejatinya, pria dengan tinggi badan diatas rata-rata orang sebaya nya itu tengah duduk di kursi yang sama dengan Louis dan Jane. Tampaknya beberapa lembar dokumen yang memenuhi tangannya.


"Ah, selamat pagi," balas Louis kompak dengan Jane.


Setelah kedatangan pria itu, mereka langsung menyimpan ponsel masing-masing. Lantas ketiga orang tersebut beralih membahas mengenai perusahaan yang sekiranya akan dibuat kerja sama pada dua bulan mendatang.


******


Sementara itu, Dion yang berada di ruangannya masih bengong memikirkan kejadian tadi ketika Sora tiba-tiba meraih lengannya. Bukannya senang, pria itu malah merasa tidak enak pada sahabatnya sendiri.


"Ugh! Kenapa dia seperti itu di hadapan Jane?! Sungguh menjengkelkan!" kesal nya dengan tangan yang membelai rambut.


Seluruh pekerjaannya masih menumpuk di atas meja, bahkan belum ada satupun tugas hari ini yang ia selesaikan. Tampaknya pria itu masih kesal karena perbuatan Sora.


"Tuan, apa anda berpikir kerja sama ini akan menguntungkan?" tanya Jane dengan tangannya yang sibuk memegang cermin.


"Iya."


"Tapi, apa aku boleh mengusulkan sedikit saran?" tanyanya lagi. Ia menatap pria di sebelahnya sambil tersenyum dengan tujuan untuk membujuk.


"Katakan saja, aku tidak suka orang yang basa-basi."


"Ah, dasar tuan Louis!"


"Tapi, sebelumnya aku sudah pernah bertemu dengan pria itu. Lebih tepatnya saat aku masih bekerja di perusahaan R.A Grup. Yah, perusahaan nya mengakibatkan kerugian yang cukup besar."


"Bagimana kau bisa membuktikannya?" tanya Louis. Ia mencoba mendengarkan ucapan Jane dan melepaskan kemudi nya.


"Tuan bisa mencari latar belakangnya dulu. Lagipula, perusahaan MONNY kan memang belum cukup terkenal?" ujar Jane memberi saran, lantas Louis pun mengangguk paham.


Waktu telah menunjukkan pukul 16.22. Langit cerah telah berubah menjadi jingga. Awan dilangit tampak gelap, dan mungkin akan meneteskan air hujan.

__ADS_1


Alfred masuk ke dalam ruangan kerja sang ayah, setelah pulang dari sekolahnya. Dilihatnya seluruh ruangan yang kosong tiada seseorang. Anak itu berjalan mendekati meja, lalu nampak sebuah ponsel milik ayahnya yang tergeletak di atas meja.


"Kenapa ayah meninggalkan ponselnya?" gumamnya seraya meraih ponsel tersebut.


Yah, tanpa ragu, Alfred membuat layar ponsel dan membuka sebuah aplikasi kontak. Dia mencari nomor seseorang lalu dikirim pada ponsel miliknya.


"Lumayan. Jangan salahkan aku karena mencuri nomor bibi Lil. Salahkan ayah sendiri, meninggalkan ponsel di sini," ucapnya cekikikan.


Selang beberapa waktu, Louis tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya. Dan terlihat sang anak yang tengah memandangnya seraya tersenyum lebar.


"Ayah, apa Ayah sibuk?" tanya Alfred, langkah kakinya itu mendekati Louis yang masih berdiri di pintu masuk.


"Tidak, ada apa?"


"Ayo kita ke restoran. Aku lapar, belum sempat makan ... "


"Baiklah, ayo!"


"Hore!!! Hore!!!" lontar Alfred kegirangan.


Mereka langsung menuju sebuah restoran yang letaknya cukup jauh dari perusahaan. Namun ketika masih berada di perjalanan, terdengar suara bergemuruh dari arah yang masih cukup jauh. Jelas sekali, hujan akan melanda kota itu.


Setelah hampir satu jam lamanya di perjalanan, mereka pun akhirnya tiba di tempat tujuan. Khalayak banyak memandang mereka, lantaran mobil yang di gunakan bukanlah mobil biasa. Yah, sudah terlihat mahal hanya dilihat dari penampilannya saja.


Pasangan ayah dan anak itu masuk ke dalam restoran, seluruh tempat yang bersih membuat segar mata memandang. Ditambah dengan beberapa tanamam kecil di dalamnya, mampu menyegarkan ruangan setempat.


"Selamat sore, ingin pesan apa?" Seorang wanita dengan buku catatan di tangannya berdiri di sebelah mereka. Parasnya yang cantik mampu menggoda pria mana saja, namun tidak dengan Louis.


"Aku pesan ini, ini, ini, ini ... ummm, yang ini juga. Minumannya yang ini!" Alfred asal memilih menu makanan, bahkan makanan yang belum pernah dicoba nya sekalipun.


"Ah, baiklah."


"Tidak papa kan, Ayah?" tanya Alfred seraya memandang ke arah sang ayah. Lantas pria itu hanya mengangguk menanggapi permintaan anaknya.


"Wah, tuan Hanshen memang tidak diragukan lagi kekayaannya!" batin si wanita itu.


Bersambung🍁


Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!


Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.

__ADS_1


Terima kasih~


__ADS_2