
Halo semuanya, maaf karena Author baru update lagi. Ngga terasa ya, ternyata udah satu bulan sejak Author terakhir kali update karya ini. Karena itu, Author mohon dukungan dari kakak semua buat karya ini, biar Author bisa semangat lagi updatenya.
Terima kasih~
___________________________________
Happy Reading π₯
Beberapa hari telah berlalu. Awan cerah dengan silauan cahaya mentari menembus kaca jendela, menciptakan suasana panas di dalam ruangan.
Jane memasuki ruang kerjanya, menatap ke arah layar laptop yang terpasang di atas meja. Seusai menyeduh kopi, wanita itu mulai menikmati hari kerjanya setelah beberapa waktu lalu tidak hadir.
Karena hal itu, pekerjaannya pun menumpuk, membuat jadwalnya semakin padat dan jarang juga dirinya keluar untuk mencari udara segar.
Tak lama berselang, seseorang terdengar mengetuk pintu ruang kerjanya. Membuat Jane harus bangkit dari kursi yang dirasa sudah cukup nyaman.
Kriett ...
Dibukanya pintu oleh wanita itu, dan kini ia melihat sosok pria yang tengah berdiri di depan pintu seraya memandang dalam wajahnya.
"Ah, masuklah," ucapnya tergesa-gesa.
Dia menyiapkan sebuah kursi untuk diletakkan di depan meja kerja miliknya. Tujuannya adalah untuk memudahkan dua orang dalam berbicara.
"Ada apa?" tanya Jane pada seorang pria yang duduk berhadapan dengannya.
Pria itu adalah seorang asisten pribadi Louis, yang sudah bekerja kurang lebih sepuluh tahun silam.
"Ini, aku diutus oleh tuan Louis untuk memberikannya pada Nona Jane," tuturnya sembari meletakkan secarik kertas ke atas meja.
Namun karena meja yang penuh dengan beberapa lembar dokumen penting, membuatnya sulit untuk meletakkan surat utusan tersebut di atasnya.
"Kemarikan."
"Oh, baiklah."
Begitu urusannya selesai, pria selaku asisten pribadi Louis pun pergi meninggalkan ruang kerja milik Jane.
Kini wanita itu mulai membaca dengan perlahan sebuah tulisan yang tertulis pada kertas tersebut. Karena sedikit bingung, Jane akhirnya memutuskan untuk menemui sosok tuannya secara langsung.
Saat hendak mengetuk pintu ruang kerja Louis, pria itu tiba-tiba muncul dari balik tubuhnya. Sontak mengagetkan dua pihak sekaligus.
"Sedang apa kau?" tanya Louis sedikit heran dengan keberadaan sekretaris pribadinya itu.
"Tuan? Ini, aku tidak paham dengan surat yang kau berikan padaku. Jadi aku kemari karena ingin menanyakannya secara langsung padamu," ungkap Jane dengan senyum manis yang terukir pada wajahnya.
__ADS_1
"Masuklah."
Keduanya lantas duduk bersebelahan di sebuah sofa, dengan ditemani oleh makanan ringan dan minuman bersoda sebagai hidangan.
"Jadi, besok kau akan dikirim ke panti asuhan untuk mengadakan acara berbagi. Tapi tidak hanya kau, aku juga mengajak Dion sebagai rekan mu," terang Louis.
Kini wanita di hadapannya mengangguk tanda paham.
"Lalu, kau sendiri Tuan?" tanya Jane.
"Aku juga akan ikut, jadi ada tiga orang yang datang ke pantai asuhan."
"Oh, baiklah ...."
"Kembalilah ke ruangan mu dan selesaikan seluruh pekerjaan yang sudah menumpuk," perintahnya dengan lantang, membuat Jane langsung bergegas meninggalkan tempat itu.
***
Waktu yang telah menunjukkan jam pulang kerja, membuat beberapa karyawan langsung berjalan menuju pintu utama di lantai dasar.
Masing-masing dari mereka masuk ke dalam mobil untuk segera kembali ke rumah.
Sementara dengan Jane, dirinya justru masih sibuk dengan pekerjaan yang belum selesai. Namun karena malam yang telah larut, membawa dirinya pada suasana santai. Yang berarti tidur tanpa sadar.
Hingga saat waktu menunjukkan pukul 22.30, suara langkah kaki terdengar semakin mendekat ke arah ruangan wanita itu.
Grep! Tangannya itu mendarat di pundak Jane, sontak ia yang terkejut lantas terbangun.
"Ah, astaga!!" kejut Jane dengan matanya yang tampak merah, menatap pada sosok anak kecil di sebelahnya.
"Kenapa Bibi Lil tidak pulang?" tanya anak kecil itu.
Yah, sosok anak kecil yang berada di sebelahnya adalah Alfred. Entah darimana datangnya, namun yang pasti membuat Jane hampir jantungan.
"Aku ketiduran?" gumamnya seraya menatap layar laptop yang masih menyala dengan terang, serta lembaran kertas yang masih menumpuk di atas meja kerjanya.
"Bibi sedang menyelesaikan pekerjaan Bibi. Tapi sepertinya ... ketiduran?" ungkapnya cengengesan.
"Ah, ya sudah. Besok lagi saja, biar aku bantu bereskan!" lontar Alfred bersemangat, bahkan dia sampai tidak berpikir bahwa tindakannya itu bisa menciptakan masalah bagi Jane.
"Se-- sebentar." Jane menghentikan tangan bocah lekaki itu, merebut kembali kertas di genggamannya.
"Kenapa?" tanya Alfred heran.
"Nanti Bibi akan dimarahi oleh ayahmu jika pekerjaannya tidak selesai malam ini juga. Jadi, biarkan Bibi menyelesaikannya, oke?"
__ADS_1
"Tenang, aku yang akan bilang pada ayah."
Alfred kemudian menata dengan asal berkas-berkas yang sebelumnya sudah diurutkan. Membuat Jane sedikit kesal dengan sikapnya. Tapi bagaimanapun juga, anak lelaki di sebelahnya adalah anak dari tuan pemilik perusahaan tempat ia bekerja.
Beberapa saat kemudian, Jane akhirnya bisa keluar dari dalam ruangannya bersama Alfred, setelah keduanya selesai menata lembaran kertas penting itu.
Langkah kaki mereka terseret menuju sebuah lift, menutup pintu lift dan tibalah di lantai dasar.
Tampak sosok pria sedang berdiri di tengah-tengah pintu utama perusahaan, tak lain pria itu adalah Louis.
"Apa itu ayahmu?" tanya Jane pada Alfred, keduanya jalan beriringan menuju ke arah pintu utama perusahaan.
"Iya, dia ayahku yang menyebalkan!" sahutnya bersemangat.
Louis yang mendengar suara sang anak lantas menoleh, dilihatnya Jane yang tengah berdua dengan Alfred.
"Cepat sedikit," seru Louis pada Alfred.
"Sebentar! Bibi Lil sudah lelah, dia pasti tidak kuat jika berjalan cepat."
Ucapannya barusan sontak membuat Jane terkejut, dia jadi merasa tidak enak karena Alfred yang terus-terusan membelanya di depan bosnya sendiri.
"Antar bibi Lil pulang, ya?" pintar Alfred memohon pada sang ayah, ia menggenggam erat tangan Louis hingga membuat tangannya terasa sakit.
"Ti-- tidak perlu, Bibi bisa pulang sendiri," timpal Jane. Dia melihat wajah tuannya yang tampak menahan emosi.
"Ayolah ... tidak apa-apa. Ayah mau kan mengantar bibi Lil?"
Wajahnya yang diperlihatkan iba sukses membuat Louis menerima permintaannya. Meskipun dihati merasa cukup berat, namun permintaan anaknya ada baiknya juga.
Dia bisa mengabulkan keinginan sang anak, sekaligus menjaga wanita perawan itu agar aman hingga tiba di rumahnya.
"Baiklah, akan ku antar pulang."
"Horee!!"
Mereka masuk ke dalam sebuah mobil mewah, yang dikendarai sendiri oleh pemiliknya. Selama diperjalanan, Alfred terus bertanya-tanya mengenai keseharian Jane.
Karena obrolan yang terus berlanjut, membawa keadaan pada suasana yang hangat. Tak jarang juga Louis ikut mengobrol dan bercanda tawa dengan sekretaris pribadi serta anaknya.
Cukup lama berada diperjalanan, mereka pun akhirnya tiba di kediaman Jane. Sebuah rumah minimalis, namun tampak mewah dan rapih jika dilihat dari dalam.
"Masuk dulu?" tawar Jane seraya membukakan pintu rumahnya.
Louis yang sempat menolak itu gagal, lantaran Alfred yang nyosor menyetujui tawaran Jane untuk mampir ke dalam rumahnya itu.
__ADS_1
π±πππππππππ....
ππππππ πππππ πππππ πππππππ ππππππ πππππ, ππππππ ππππ πππππππ ππππππππ ππππππ ππππ, ππππ, πππππ, ππππ πππ πππππππ! ππππππ πππππ ππ πππππππ ππππππππππ’π!!!πΉπππππ ππππ ππππππππ πππ πππππ ππ’π π’ππ