Love Scenario Gerani

Love Scenario Gerani
pengorbanan


__ADS_3

Pukul tujuh malam, Gerani sudah berdiri didepan cermin. Memandangi tubuhnya dengan balutan dress selutut berwarna keemasan.


Ditambah dengan lipstik berwarna peach menambah kesan sensual. Geraian rambut yang terurai lurus itu begitu menampilkan kesan anggun.


Aroma strawberry dari tubuhnya rasanya menenangkan setiap orang yang berada didekapannya.


" Gue yakin sih Justin hati batu, pasti bakal muji gue, secara gue udah dandan pol "


"Kurang kontras warnanya." tukas gerani seraya menambah warna dibibirnya lagi.


Tok...tok...


Suara ketukan pintu, membuat Gerani langsung bangkit turun dan menyambar sling bag berwarna hitam.


" Maaf pak lama." Kata Gerani sambil membukakan pintu untuk Justin.


"Iyaudah kalok gitu kita jalan sekarang." Titah Justin, Gerani mengekori Justin dari belakang.


Menatap punggung itu tanpa berkedip, balutan kemeja biru Dongker itu begitu menyatu pada kulit putih Justin, terlebih lagi aroma senyum Justin yang tergambar beberapa detik dari wajah tampan itu, menampilkan sebuah lesung pipi yang selama ini tidak diketahui khalayak banyak.


" Kita makan disini pak, emangnya enggak berlebihan banget yah? " Itulah yang dikatakan Gerani, setelah mobil Justin berhenti pada sebuah restoran bintang lima yang mewah.


Bukan masalah Gerani memperlihatkan jika Justin tidak mampu, hanya saja restoran ini adalah restoran yang begitu romantis banyak pasangan yang mengutarakan perasaannya atau bahkan melamar kekasihnya.


Restoran ini begitu indah, ditambah dengan sungai buatan yang mengalir di bersama dengan cahay lilin disekitarnya.


" Kan cuman makan buat ucapan permintaan maaf, pindah tempat aja kali yah pak." Lanjutnya ragu


" Apa kamu pikir saya tidak mampu membayar makanan disana?."


Mulai, ya Tuhan nyesel gue ngomong kek gitu sama dia. Untung manajer kalok enggak gue gaplok batin Gerani.


Gerani hanya bisa menyupah serapah untuk Justin dalam batinnya.


Sedari tadi Gerani terdiam, memanyungkan bibirnya beberapa senti. Bahkan saat turun dari mobil Gerani hanya mengekori dari belakang, tidak ingin berjalan seiringan dengan Justin.


" Kenapa makanannya enggak enak? " Namun Gerani hanya terdiam, tidak memperdulikan pertanyaan itu.


Gerani asyik, memotong stick yang berada dipirinya tanpa ada sesuapun yang melayang kemulutnya.


" Saya punya sesuatu buat kamu."


"Saya enggak mau apa–apa pak" balasnya ketus.


" Tapi saya mau ngasih ini buat kamu, sebagai permintaan maaf saya " Gerani menjatuhkan sendok itu, lantas menghadirkan percikan suara gaduh.


Gerani menghentikan aktivitasnya, menatap maniak Justin.

__ADS_1


"Pak, saya enggak butuh apa–apa dari bapak, yang saya mau cuman satu pak!" Suara Gerani tampak begitu benar–benar kecewa.


"Orang–orang disekitar bapak enggak butuh apa–apa pak, yang mereka butuhkan adalah gimana cara bapak memperlakukan mereka, enggak buat hati mereka sakit. Karena kehangatan yang pertama dirasakan orang disekelilingnya itu adalah perlakuan bapak terhadap orang itu." Jelasnya dengan nada gemetar.


"Buat apa bapak meminta maaf seribu kali kalok akhirnya bakal di sakiti lagi?, Saya enggak bisa nyalahian bapak kalok sifat bapak dingin seperti ini atau menyakitkan, tapi pak jangan seenaknya aja bapak nyakiti perasaan orang setelah itu minta maaf dan well bapak ulangin lagi"


" Mau bapak kasih apa, bapak kasih dunia sekali pun. Kalok sikap bapak kayak gini enggak akan ada orang yang disamping bapak yang ngerasa hangat pak."


Gerani bangkit dari duduknya, "maaf pak kalok saya lancang, saya permisi pulang duluan."


Justin terdiam, hatinya begitu sakit mendengar pernyataan yang bertubi-tubi keluar dari Gerani.


Gerani tidak tahu apa yang telah disiapkan oleh Justin. Kali ini Justin merutuki kebodohannya.


" Maaf pak, apa kejutannya ini mau di laksanakan sekarang?" Tanya pelayan yang menghampiri Justin.


"Enggak usah, saya tidak jadi hari ini." Ucapannya lirih


"Baiklah pak, kami akan selalu menunggu bila sudah ada info dari bapak, saya permisi"


Flashback


Kali ini Justin tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, dahulu Justin menyukai seseorang gadis sewaktu dirinya SMA.


Karena gadis itu, Justin yang dahulunya begitu dingin dan tertutup perlahan menjadi pribadi yang begitu berubah.


Hingga dimana saat itu, gadisnya itu mengalami leukimia.


Namun seiring berjalannya waktu, Justin mencoba membuka hatinya pada seorang gadis.


Namun gadis itu bukan pilihan yang terbaik, gadis itu hanya memanfaatkan Justin hingga membentuk Justin hampir bangkrut dan terpuruk.


Keputusan nya untuk membuka hati pupus, melihat realita yang menyayat atmanya.


Hingga dimana hatinya mulai dimantapkan oleh sosok Gerani yang membuat mulai merobohkan hatinya.


Gerbang itu kini perlahan terbuka.


Sebenarnya malam ini Justin sudah menyiapkan surprise untuk Gerani.


Justin ingin menceritakan semuanya, dan berharap Gerani dapat membantunya keluar dari zona berbahaya nya selama ini.


Namun kali ini, semua hanya angan-angan setelah perbuatan bodoh yang dilakukan.


Sekarang Justin memilih, mengulur waktu mungkin timingnya belum pas.


Gerani berjalan di trotoar, matanya berkaca-kaca mengingat kejadian tadi.

__ADS_1


Gerani juga heran kenapa dirinya menjadi lemah dan terlalu baper. Bukannya selama ini Justin selalu bersikap kasar?.


" Arrrghhhh Gerani Lo udah enggak waras yah? Astaga ya tuhan! Enggak gue enggak mungkin kan sukak sama dia?."


Gerani terus, berteriak tidak jelas dengan Hells yang sekarang ini sedang dijinjingnya, berhasil menarik perhatian setiap orang yang melihatnya.


Gerani berdiri ditepi jalan, menunggu taksi melintas.


Dan akhirnya Gerani memberhentikan sebuah taksi yang tak lama melintas.


" Ke Ancol yah pak "


" Uda malam kok enggak pulang kerumah mbak." Tanya supir taxsi tersebut.


" Mas...." Jawab nya lirih, menitihkan keristal putih dari rona merah wajahnya.


" Loh mbaknya kenapa?."


" Mas kayaknya saya udah gila" tukasnya polos.


" Emang kenapa mbak?"


" Saya ngerasa suara bapak sama kayak manajer saya, atau saya emang udah cinta kali yah mas "


" Pacarnya ya mbak?" bukannya malah diam supir taksi itu malah kembali berbicara.


" Kepo banget sih mas, udah mas diem aja saya enggak sanggup denger suara masnya " teriak Gerani dengan sedikit meninggi kan nada suaranya.


"Yeee mbaknya galak."


Gerani masih terisak, sesekali sesenggukan akibat aksi tangisannya yang begitu lama. Menguras tenaga, jiwa dan raganya.


Heran. Itulah yang dirasakan Gerani, supir taksi itu sedari tadi memperhatikan nya dari kaca depan mobilnya. Gerani merasa tidak nyaman.


" Mas kok liatin saya aja sih " namun tidak ada jawaban, supir taksi itu malah terdiam.


" Mas kok diem sih? Nanyak jugak dikacangi!" Dengus nya kesal.


" Salah Mulu yah mbak, tadi disuruh diem"


"Auh ah masnya gak jelas, nyebelin sama kayak sih manusia kutub Utara"


Beberapa menit kemudian Gerani sudah turun dari mobil taksi tersebut.


Sementara supir taksi berbalut topi hitam yang hampir menenggelamkan wajahnya itu. Terdiam saat sudah sampai tempat tujuan.


Gerani lekas meninggalkan mobil taksi yang dia kendarain tadi.

__ADS_1


" Suatu saat kecewamu akan kuganti, terimakasih telah mencintai ku terlebih dahulu. Rasa cintamu merobohkan segalanya" monolog sopir taksi tersebut, menatap kepergian Gerani dari dalam mobil yang semakin menjauh.


                             ****


__ADS_2