Love Scenario Gerani

Love Scenario Gerani
Kencan


__ADS_3

Setelah berjam-jam, perjalanan melelahkan ini akhirnya selesai.


Welcome to Bali batinku.


Gerani berjalan santai, membawa tangan kosong pandangan nya mengedarkan pada seluruh sudut.


Betapa indahnya Bali.


" Apa kamu tidak bisa membantu hah?" Suara bass yang tidak asing lagi dipendegaran Gerani.


Iyah itu Justin yang sedang membawa kopernya.


" Maaf yah, tapi malas berbuat baik sama lo" ujarku tanpa membalikkan badan.


Gerani mempercepat langkahnya, memasuki mobil. Sementara Justin masih berada dibelakangnya.


" Welcome to Bali Gerani, gue senang banget Lo datang deh " sapa angkasa yang menunggu kami di mobil.


" Gue jugak senang, tapi gue enggak senang pigi bareng sama dia" lirik Gerani pada Justin yang baru berada disampingnya.


Justin balik menata sinis matanya," yang mau sama kamu juga siapa!" Balasnya tak kalah sengit.


" Oo masnya sekarang amnesia? Yang nyeret gue kesini siapa? Ah mungkin itu orang gila" ujarnya kemudian memasuki mobil.


Sementara angkasa hanya cengengesan melihat kejadian itu.


" Elo mah bro, kaku banget Pepet teros dong kel–" ujar angkasa merangkul bahu Justin.


" Mau gue buat mulut Lo diem selamanya" sengit Justin memotong perkataan angkasa.


Justin pergi meninggalkan nya dan beralih memasuki mobil. " Yaelah serem amat punya temen satu udah kayak psikopat" ujar angkasa mengelus dada, sembari menyusul mereka berdua.


——


Malam ini disebuah hotel yang mengarah langsung pada sebuah pantai di Bali membuat senja tampak begitu dekat menampakkan jati dirinya ketika hendak berpamitan.


Gerani berdiri di balkon, menatap seluruh penjuru yang berada dipandangnya.


Indah. Satu kata yang dapat Gerani ungkapkan sudah sekian lama dirinya tidak berlibur biasanya Gerani hanya bisa melihat usus, hati, pankreas, dan jantung.


" Rani........." Teriak Justin dari dalam.


Oh Iyah lelaki bernama Justin itu baru saja merusak keheningan dirinya.


Satu hal yang paling menyebalkan untuk Gerani ditempat seindah ini.


Dirinya harus satu hotel dengan Justin. Catat satu hotel bukan kamar!.


" Kamu itu enggak denger saya apa gimana?" Justin menghampiri Gerani yang sedari tadi tak kunjung jua mendatangi panggilannya.


" Bodo amat, emang Lo siapa? Manggil–manggil gue? Ada urusan apa? Ga penting jugak kan?" Balasnya sinis.


Gerani mengalihkan pandangannya pada Justin, menatap bola mata lelaki itu, " udah ah gue mau tidur" lanjut Gerani pergi meninggalkan justin.


Namun tangannya dicekal oleh Justin.


" Awww sakit tau, ihhh lepasin gak" Justin menyeret tangan Gerani menuju kamarnya.


" Aww sakitttt....lepasin gak! Lo itu yah..." Sarkas Gerani memukul tangan justin yang menariknya.


" Masuk, ganti baju sekarang!" Titah Justin saat sampai kamar Gerani.

__ADS_1


" Males, emang Lo si–" perkataan Gerani terpotong, ketika Justin mendekat dengan tubuhnya.


" Sa..aya sakit perut" elaknya dengan gugup.


Ayolah ran jangan takut sama dia, dia itu cuman mainin Lo **** banget suara hati Gerani.


Gerani pun akhirnya mendorong tubuh Justin agar menjauh.


Tetapi Justin malah menarik tubuh Gerani, hingga akhirnya tubuh Justin berada diranjang bersama Gerani.


Justin memeluk erat tubuh Gerani, sementara sang empunya hanya terdiam kaget atas perlakuan tiba–tiba itu.


" Maafkan aku ran, aku mohon ikutlah denganku" bisiknya lirih ditelinga Justin.


Tangan Justin terulur mengelus pucuk rambut Gerani sedari tadi.


Deg...deg...


Gerani memang begitu dekat dengan tubuh justin tidak ada jarak sama sekali.


Tapi sungguh ini bukan suara detakan jantungnya. Lelaki itu? Lelaki dingin itu jantung berpacu begitu cepat?


Sungguh tidak bisa dipercaya.


Gerani menarik tubuhnya dari dekapan Justin kala rengkuhan itu merenggang.


" Oke gue mau keluar" Justin tersenyum ke arah Gerani.


Senyum? Ini tidak mimpi bukan?


" Ngapain Lo senyum–senyum ga jelas? Serem banget sih. Udah ah sana keluar gue mau ganti baju."


" Aku tetep di sini"


" Aku hanya takut kau kabur, atu mengunci pintu mu"


" Gak usah ngaco!"


" Simple, ambil bajumu sekarang ganti di kamar mandi. Selesai kan?" Gerani dibuat menganga mendengar ucapan lelaki di depannya.


Justin tetaplah Justin, lelaki dari Antartika kutub Utara manusia es entahlah perumpamaan apa saja yang diberikan Gerani padanya.


Lelaki menyebalkan dan pengatur itu, semanis apa pun perlakuannya dia tetaplah justin yang menyebalkan.


Dengan ogah-ogahan Gerani mengambil dress asal–asalan dan mengganti pakaiannya didalam kamar mandi.


Gerani sudah selesai dengan dress berwarna putih ditubuhnya, kesan elegan begitu menonjol dengan guraian rambut Gerani.


" Udah kan? Sekarang Lo keluar aja deh gue mau make up "


" Enggak, aku tetep disini"


" Serah" lanjut Gerani yang berjalan duduk dimeja rias.


Sedari tadi saat Gerani merias wajahnya, tampak dari kaca padangan Justin tidak lepas menatapnya.


Gerani hanya memberikan tatapan tajam, dan sesekali melotot pada lelaki dicermi itu.


Sementara Justin hanya tertawa kecil melihatnya.


Selesainya Gerani dengan dandannya, Justin melangkah keluar kamarnya.

__ADS_1


Iyah lelaki menyebalkan itu baru saja ingin siap–siap.


Akhirnya Gerani sedari tadi hanya menunggu justin yang begitu lama.


" Lama amat sih Lo, ganti kulit atau gimana?" Sarkas Gerani langsung, saat melihat Justin baru saja keluar dari kamarnya.


" Iyaudah ayo keburu kemalaman"


" Elo kali yang kaya siput" kesal Gerani meraih Sling bag nya lalu melangkah keluar.


Hening. Selama perjalanan berlangsung tidak ada diantara mereka ingin membuka obrolan.


Gerani lebih memilih mengalihkan pandangannya menatap dari luar kaca mobil.


Lelaki itu ternyata membawanya pada salah satu pantai dibali.


Rasanya begitu indah, lampu warna-warni mengiasi seluruh jalan hembusan angin dan derain ombak yang sahut menyahut begitu eksotis.


" Bagus banget" Gerani berlari mendekati pantai, merentangkan tangannya menikmati hembusan angin malam.


" Kalok Lo bawak kesini tadi gue mau gak bakalan nolak, kadang Lo nya aja yang ngeselin" sedari tadi Gerani mengoceh namun tak jua ada balasa.


" Pak...pak jus—" Gerani membalikan tubuhnya," lah kok gadak? Jangan bilang gue ditinggalin"lanjut Gerani.


" Pak Justin... sumpah ini enggak lucu!!" Teriak Gerani berjalan di tepi pantai mencari keberadaan Justin.


Tiba–tiba disekelilingnya lampu–lampu menyala berbentuk sebuah jalan, seperti mengarahkan Gerani.


Gerani melangkahkan kakinya hingga dirinya berhenti pada sebuah bunga tulip yang diletakan dipasir putih bersama secarik surat.


Gerani itu kan namamu? Nama yang selalu orang–orang panggil. Tetapi aku memanggil mu Rani. Tahu kenapa?


" Ini maksudnya apa yah? Enggak mungkin kan ini ulah Justin, enggak–enggak" sarkas Gerani tidak percaya kemudian kembali melangkahkan kakinya.


Kini dirinya berhenti beberapa langkah dari tempat sebelumnya, mendapati kembali bunga tulip beserta secarik surat.


Sadari atau tidak itulah perlakuan istimewa kecil yang kuberikan, hanya aku yang tahu. Aku tidak perlu khalayak banyak mengetahuinya cukup dengan perasaan ku saja.


Kau tau ran kenapa aku menyebalkan?


" I....ini Justin?" Gerani kembali melangkahkan kakinya. Hingga akhirnya dirinya kembali mendapati hal yang sama.


Aku menyebalkan hanya untuk menutupi hati kecilku yang rasanya sudah kau masuki, Rasanya aku ingin kau menjauh ran dengan segala sikap ku yang membuat mu merasa tidak nyaman.


Kau tahu ran kenapa saat kau sudah mejauhiku aku malah semakin menarikmu?


Gerani tidak bisa berkata apa-apa lagi, Gerani memilih melangkahkan kakinya. Hingga pada akhirnya Gerani kembali mendapati bunga tulip yang ke empat kalinya.


Itu karena, aku tidak bisa jauh dari mu Rani entah kenapa perasaanku sakit begitu kau menjauhiku. Hingga akhirnya aku sadar ran aku Justin Hirata Wijaya telah mencintai Kim Gerani Hell Mahendra gadis yang pertama kali kutemui di podium dan gadis itu juga pelaku tabrak lari atas nama Justin.


Gerani tertawa kecil, membaca kalimat terakhirnya.


 



 


Fllwig@mayadasaptyani38


Fllwig@*******_ms17

__ADS_1


Wt@mayadasaptyani


__ADS_2