Love Scenario Gerani

Love Scenario Gerani
membuka hati?


__ADS_3

Lebih baik mencoba membuka rasa.


Daripada kehilangan untuk kesekian kalinya.


~justin


Gerani megatur pikiran nya yang kacau, menghapus tiap derain air matanya yang sempat terjatuh.


Tok...tok....


"Masuk"serunya.


Lelaki yang barusan mengetuk pintu itu langsung masuk kedalam.


"Paman? Ada apa paman keruangan Gerani" lelaki itu adalah pamannya Robert.


"Paman ada hal yang ingin bicarakan"


"Apa paman?"


"Suster Silvia sepertinya dia sakit,kemarin panti asuhan ya tidak terusurus dan dianjatuh sakit maka dari itu paman membawanya kesini"


"Apa? Paman tidak bercanda kan? Kalau gitu Rani mau liat keadaan suster Silvia sekarang"


Suster Silvia adalah seorang biarawati, walaupun Gerani sebagai seorang muslim dia tetap menjalin hubungan dengan erat sebagai sesama saudara.


Terlebih lagi suster Silvia lah yang menyelamatkan nyawanya sewaktu dipuncak,suster silvia adalah orang yang benar-benar menghargai,baik,dan juga penuh kasih sayang.


"Kalau begitu mari ikut paman" Gerani pergi mengikuti Robert menuju salah satu ruangan VVIP.


"Bawa saja aku pulang" suara suster Silvia yang terbaring di ranjangnya nya.


"Kenapa?"tukas Robert


"Ini pemborosan harganya sangat mahal,anak anak itu tidak ada yang mengurus"


"Tenang saja nek,biar Rani yang mengurusnya sementara nenek disini dulu sampai benar benar sehat"Gerani mengulum senyumnya.


"Paman. Aku ingin dokter yang mengurus nya,bukan perawat-"


Tok...tok...


Perkataan Gerani terpotong oleh ketukan pintu tersebut,Gerani langsung menuju kearah sumber suara.


"Masuklah" titah Robert.


Untuk apa dia disini batin Gerani


"Ini dokter yang akan bertanggung jawab atas suster Silvia"Robert memperkenalkan Justin pada Silvia.


Justin membungkuk badannya sebagai rasa hormat nya,"astaga dia sangat tampan,pasti aku akan lebih cepat sembuh" puji silvia


"Paman bukanya seharusnya aku yang bert-"


"Manajer Justin yang akan bertanggung jawab"potong Robert sebelum Gerani melanjutkan protesnya.


Sunggu saat itu Gerani susah payah menahan amarahnya. Gerani sungguh tidak terima. Seorang Justin yang dingin dan tidak memiliki hati harus merawat suster Silvia yang begitu baik.


Suster Silvia sekarang sedang berada dalam proses pemeriksaan lebih lanjut dengan penyakit yang sedang dideritanya.


"Seperti yang diperkirakan,ini tumor klatskin. Sudah menyebar didalam hati,tumornya sekarang ada dalam stadium 2. Dengan kondisi seperti ini, Pengangkatan tidak mungkin dilakukan. Ini sungguh sulit" jelas Justin yang telah selesai melihat monitor hasil pemeriksaan medis.


"Aku tahu,jadi apa kau hanya bisa memotong ukurannya?" Tanya Gerani.


"Sampai saat ini,tidak ada jadwa pembedahan. Dan bahkan dengan melakukan operasi,reseksi R2-"

__ADS_1


"Sudah kukatakan untuk tidak melakukan nya!" Suara Gerani sedikit meninggi namun matanya berkaca-kaca.


"Aku tidak tahu cara kau menangani para pasien, tolong lebih sopan sedikit menyangkut dirinya"


"Apakah aku bertindak dengan cara yang kurang sopan?" Justin mengalihkan pandangannya pada Gerani,bukan tatapan amarah melainkan sendu, melihat mata Gerani yang berkaca-kaca.


"Selalu begitu kan?" Tatap Gerani


"Mengapa juga aku harus mengkhususkan nya?"


"Karena dia adalah keluarga ku,bukan tapi dia ibu ku. Aku tidak punya siapa siapa lagi disini dan aku tidak akan membiarkan dirinya juga pergi" balas Gerani lirih,matanya sudah mulai berkaca-kaca hingga penglihatan nya kabur.


Gerani meninggalkan ruangan itu.


Justin hanya menatap sendu kepergian gadis itu,ada rasa bersalah yang menjalar melihat apa yang barusan Gerani ungkapkan.


Gerani berjalan tak tentu arah,dengan genangan air mata yang sudah tidak tertahan lagi.


Flashback


"Apa kau tidak apa apa nak?apa kau tersesat?" Tanya seorang biarawati muda yang hendak pergi berbakti.


"Hiks...hiks....mama...."


"Marilah nak jangan takut,aku akan membantumu. akan aku Carikan ibumu.mari ikut dengan ku"


"Apa kau berjanji" gadi kecil itu mengarah jari kelingking nya membentuk sebuah tanda janji.


Perlakukan itu disambut baik oleh Silvia,"Iyah aku janji, sekarang mari kita obati kakimu yang terluka"


Gadis kecil itu hanya mengangguk,terdiam dalam gendongan silvia.


Gadis kecil itu sampai pada sebuah rumah sederhana,jauh dari keramaian suasana alama begitu melekat.


"Mari masuk"Silvia menatap gadis kecil itu,dia hanya bisa mengangguk.


"Namaku Gerani"


"Nama yang bagus,kau gadis yang cantik nak. Teruslah berdoa semoga orang tuamu selamat


"Aku mau sholat,aku mau mendoakan mama papa ku" ujarnya menatap Silvia


"Kau seorang muslim nak?"


Gerani hanya mengangguk,Silvia tersenyum manis.


"Mari ikut denganku"Silvia menggandeng tangan Gerani menuju ke sebuah masjid kecil yang tak jauh dari kawasannya.


"Silahkan masuk"


"Apa dirumah Tante tidak ada tempat ibadah? Dirumah aku ada dan biasanya mama selalu sholat dengan ku"


Silvia tersenyum mendengar pernyataan itu,"nak kita berbeda agama,kau seorang muslim. Aku adalah seorang biarawati itu artinya aku beragam Kristen."


"Lalu kenapa kau menolongku?"


"Karena kebaikan tidak memandang ras maupun agama,kita sama sama manusi justru perbedaan itu yang akan membuat kita semakin lengkap. Kita harus sama sama saling mengayomi"


Gerani tersenyum bahagia mendengarnya,"terimakasih,Tante memang orang baik"


Silvia mengacak rambut gadis itu,"sudahlah lekas kau beribadah, sepertinya sudah waktunya"


Flashback off


Berkali-kali tetesan air mata Gerani terjatuh.

__ADS_1


Langkah mulai lemah,mengingat pertemuan pertama dengan Silvia.


Gerani tidak sanggup kehilangan Silvia.


Gerani tidak sanggup kehilangan orang yang berada disisinya selama ini, Silvia sudah seperti ibunya sendiri.


Kasih sayang yang diberikan Silvia tidak pernah lekat,dan juga Silvia sama sekali tidak menyangkutpautkan tentang permasalahan perbedaan.


Kebaikan hatinya begitu lembut.


"Dokter Gerani,kenapa kau menangis?" Tanya dokter Andre yang sedang melintas bersama dokter Albert.


Gerani langsung menghapus jejak air matanya."Ahh tidak apa-apa"


"Lebih baik kau istirahat saja, sepertinya akhir akhir ini kau kelihatan lelah"lanjut dokter Albert


"Aku tidak apa-apa,tadi hanya kelilipan saja. Permisi" cekal Gerani yang kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


"Aku rasa akhir akhir ini,Gerani memang memiliki banyak masalah" gerutu dokter Andre


"Aku rasa begitu,terlebih lagi tentang kematian orang tuanya yang sampai sekarang belum diketahui sebabnya. Sekarang dia benar-benar sendiri"lanjut dokter Albert.


"Kau benar,hanya ada satu orang yang bisa melindungi Gerani. Tapi orang ini sepertinya perlu melakukan operasi dibagikan kepalanya agar sedikit sadar"


"Siapa?"tanya Albert heran


Dokter Andre hanya menaikan bahunya,kemudia pergi meninggalkan dokter Albert.


"Kau belum selesai dokter Andre" teriak dokter Albert.


Sementara dokter Andre hanya melambaikan tangannya.


"Dasar menyebalkan" gerutu dokter Albert kesal.


-


Tok...tok...


"Masuk"titah Gerani yang masih fokus pada berkas berkas yang sedang dia kerjakan saat ini.


"Ada ap-"perkataannya terpotong melihat siapa yang baru saja masuk keruangan nya. Seketika raut wajah Gerani berubah menjadi malas menatap seseorang yang sedang berdiri didepannya.


"Em-aku mau" Justin mendadak susah berbicara, mulutnya kaku untuk melontarkan kata-kata.


"Sudahlah pak kalau tidak ******,silahkan keluar saya sedang sibuk" balasnya cetus.


Sial kenapa aku jadi grogi gini sih batin Justin.


Justin merilekskan tubuhnya,mencoba mengatur nafasnya,"ran saya mau mengajak kamu makan malam,sebagai ucapan permintaan maaf saya"


Deg...


Aku enggak salah denger kan? Dia tadi bilang makan malam? Dinner? Right? Batin Gerani tak percaya atas apa yang didengarnya.


Gerani mencoba tampak biasa saja,"tidak usah repot-repot pak,bapak enggak punya salah dengan saya"


"Bisa enggak sih ran kamu nurut aja, pokoknya saya tidak terima penolakan nanti malam saya jemput jam tujuh" titah Justin dengan suara memerintah yang lumayan meninggikan satu oktaf nada bicaranya.


Tanpa mendengar tanggapan Gerani,Justin langsung meninggalkan tempat itu.


Gerani terpelongo tak percaya,ternyata sifat pengaturnya sudah mendarah daging.


"Arghhhh.......dasar Justin menyebalkan,gadak romantis romantisnya jadi cowok " teriak Gerani kesal.


"Itu kan hak aku,mau terima apa enggak. Awas aja kau yah Justin akan aku balas" monolognya dengan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


***


__ADS_2