
Perlahan langkah kaki Gerani berjalan mendatangi Justin, Gerani sadar bahwa dirinya terlalu lama berada di supermarket.
Ini bukan salahnya. Gara–gara lelaki tidak punya hati itu kaki Gerani terkena imbasnya alhasil jadilah Gerani berjalan sedikit meringis padahal penampilanya sudah maksimal.
Gerani merutuki pertemuannya hari ini dengan lelaki menyebalkan.
" Ran? Kaki elo kenapa?" Tanya justin gusar melihat pergerakan gerani yang sakit.
" Enggak papa kok, tadi cuman ga sengaja jatuh aja" alasnya.
" Lain kali hati–hati ran, sini gue bantu" Justin menarik bahu Gerani, memapahnya memasuki mobil.
Hingga akhirnya mobil mereka sampai pada sebuah restoran yang cukup luas milik angkasa.
" Gue ketoilet bentar yah, elo duluan masuk gak papa?" Izin Gerani.
" Enggak papa kok, emangnya bisa ke toilet sendiri?" Tanyanya.
" Ya kalik gue minta temenin elo"
" Gue sih ayo aja" sontak Gerani melotot mendengar ucapan Justin.
" Dasar mesum!!" Dengusnya kesal, padahal Justin hanya berniat menggodanya.
" Yakin gak mau ditemenin ran..." Teriak Justin yang melihat Gerani sudah dari kejauhan.
"No, thanks" sontak Justin tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi wajah Gerani yang malu.
Justin berjalan memasuki restoran angkasa, namun ada yang berbeda dari restoran ini. Iyah restoran angkasa mendadak Sepi bahkan ketika Justin memasukinya beberapa lampu tampak dimatikan.
Apa acaranya sudah selesai?.
Dor...dor...dor...
Suara letupan balon berhasil membuat jantung Justin kalang kabut tidak karuan, Justin membalikkan tubuhnya menoleh pada asal suara yang membuat nya kaget.
Ternyata pelakunya dua manusia sialan itu.
" I MISSS YOUU........'' teriak lelaki itu semabari berlari memeluk Justin.
" Lepas gak! Jijik gue!" Sarkas justin.
" Gak rindu apa sama gue?" Tanyanya berharap.
" Gak" tukas justin, " sa ngapain sih anak curut ini balik ke indo lagi. Bagusan suruh pindah aja keluar negri sana" lanjutnya.
" Astaghfirullah maaf kan temen–temanku yang jahat ini ya Allah, semoga amal ibadahnya diterima disisi mu" dramatis lelaki itu.
" Lo kira gue mau mati?" Dengus Justin.
"Yang bilang kalian mati siapa?" Tanya lelaki itu dengan polos.
" Udah jus, otak dibawah rata-rata gini gak bakal paham" dukung angkasa.
" Daripada Lo otaknya masih ngutang" balas lelaki itu tidak mau kalah.
" Kalian berdua itu sama aja, duplikatan" gerutu Justin.
****** skakmat.
Kini mereka berdua menatap Justin sinis.
__ADS_1
" Apa haa?" Jawab Justin garang, melihat perubahan ekspresi dua lelaki yang saat ini sedang kesal padanya.
" Btw Gerani mana?"Alih angkasa.
" Gerani siapa? Siapa? Pacar Justin? Cantik gak? Gue mau kenalan dong? Mana?mana?" Seru lelaki itu histeris.
" Enggak usah kayak lambe turah bisa gak?" Titah angkasa yang melihat jijik lelaki disebelahnya sudah seperti paparazi.
" Kan harus gercep gue. Udah berapa lama cobak gue ketinggalan info dari Mr. Kutub Utara itu" jawabnya menunjuk justin.
" Maaf yah gue lama" sontak suara tersebut mengalihkan obrolan ketiga lelaki tersebut.
" Elo??" Seru Gerani dan lelaki itu ketika mereka bertemu pandang.
" Kalian saling kenal?" Tanya angkasa," dia Hendra temen kita yang sekolah di luar negeri"lanjutnya.
" Orang model beginian temen Lo sa? Beda banget yah diliat dari segi manapun gak cocok dia temen Lo. Dasar manusia pisang."cerocos Gerani memandangi remeh Hendra.
"Dasar bantet! Punya mulut gak bisa direm apa gimana? Seenak jidat Lo aja ngomong" lawan Hendra tak kalah sinis.
" Lo ****? Gue manusia bukan kendaraan umum!"
"Hahahaha" tawa angkasa pecah melihat perdebatan kali ini dimenangkan oleh Gerani.
" Gak ada yang lucu!" Sarkas Hendra cepat melihat angkasa menertawakan kekalahan nya.
" Jelas ada! Karena elo kalah! Gini nih pas sekolah tidur jadi gak pinter" lanjut Gerani.
" Maksud Lo gue bodoh gitu"
" Upss bukan gue yang ngomong. Elo sendiri yang ngaku"ucap Gerani sembari menutup mulutnya dengan ekspresi mengejek.
Kini tidak hanya tawa angkasa saja, namun tawa Justin jugak ikut pecah apalagi melihat wajah Hendra Semerah tuan krab.
" Banteetttt!!!!!"teriak Hendra ketika Gerani pergi, dan hanya dihadiahi juluran lidah Gerani.
Kini mereka duduk disalah satu tempat yang lumayan jauh dari keramaian.
" Permisi, silahkan dinikmati mas mbak"seru pelayan itu memberikan hidangan dimeja.
" Terimakasih" balasku memberikan senyum.
" Pas banget gue lagi pengen cake cokelat"lanjut Gerani menikmati cake tersebut.
Tidak disangka Justin bangkit dari duduknya, medekati Gerani hingga mereka begitu dekat tanpa ada batasan," belepotan" seru Justin membersihkan dua sudut manis Gerani.
" Ran ??" Panggil Justin melihat tatapan kosong Gerani.
" Eh...en.. enggak kok" gugup Gerani.
Pengen rasanya gue golok manusia didepan gue ini, bisa banget buat jantung gue kalang kabut. Batin Gerani.
" Bulshing??"goda Justin.
" Apaan sih gak lucu"elak Gerani.
" Jangan cemberut dong, gemes banget" ungkap Justin mencubit pipi Gerani.
"Aww..." Ringis Gerani. " Please jangan godain gue". Dan sika elo yang kayak gini makin buat gue jatuh cinta lanjut Gerani dalam hati.
" Iyaudah Iyah deh" malam itu Gerani tidak melihat justin sosok manusia dingin berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1
Senyum manis itu hanya Gerani yang dapat menikmatinya dan hanya untuk Gerani.
Ketika semua acara sudah selesai, mereka malah masih asik dengan perbincangan mereka.
" Ya ampun ada tamu abstrak yah"sindir angkasa.
" Sorry sa, gue males aja ada manusia pisang disini. Jadi gak MOOD" ucap Gerani melirik Hendra dan menekan kalimat terakhir.
" Maksud Lo?" Basa–basi Hendra.
" Gak usah sok ****, oh Iyah lupa emang ****" hardik Gerani.
" Bantet!!!! Awas elo yah" amarah Hendra.
" Hahahah cocok ini jadi bahan liburan dibali jadi gak gitu–gitu aja" tawa angkasa meledek dua manusia ini.
" Iyaudah kami pulang dulu sa" pamit Justin.
" Iyaudah hati–hati bro" mereka bertiga sebagai lambang perpisahan.
Sesampainya diparkiran hotel, sebenarnya Gerani cukup merasakan sakit dikakinya apalagi jarak parkiran dan lantai kamar hotelnya begitu jauh.
" Kenapa?" Tanya Justin melihat Gerani meringis kesakitan.
" Gak papa kok,cuman sakit aja" setelah mengatakan itu, Justin langsung mengangkat tubuh Gerani.
Iyah justin menggendong tubuh Gerani membuat sang empunya menggebu–gebu.
"Tu... turunin aja, gue bisa kok" gugup Gerani.
" Enggak, udah diem aja" Gerani lebih memilih diam dan menuruti Justin toh dirinya juga bersyukur Justin menggendong nya.
Tibanya di dalam Justin meletakan Gerani di sofa, " tungguin disini"
Gerani mengangguk mengiyakan perintah Justin.
Tidak lama kemudian Justin muncul dari kamarnya.
" Mau ngapain?" Tanya Gerani masih heran.
" Sini gue pijit"tawar Justin.
"Emang bisa" ragu Gerani.
" Sampel percobaan" Gerani mengerucutian bibir nya mendengar ungkapan Gerani.
" Aww...sakit" ringis Gerani.
" Udah, coba gerakin masih sakit gak?" Gerani mengerakkan kakinya ke kanan dan kiri.
" Makasih yah Justin, udah agak lumayan" ucapannya begitu senang.
" Iyaudah tidur sana, besok kita akan jalan–jalan"
" Jalan–jalan?"binggung Gerani," bukannya kita balik ke Jakarta besok" lanjutnya.
" Sudahlah jangan berisik!" Cerca Justin kemudian pergi memasuki kamarnya.
" Ditanya apa dijawab apa"gerutu Gerani.
***
__ADS_1
ini nih Hendra Odiga Frazanatan , bebuyutan Gerani 😅