
Keesok harinya Justin begitu bahagia ketika mendapat kabar dari Aurel bahwa Gerani sudah lepas dari keterpurukan. Langkah Justin semakin mudah untuk melanjutkan rencana membongkar siapa dalang di balik semua kecelakaan tersebut.
Hari ini seperti biasa Gerani sudah bekerja di rumah sakit, bahkan Gerani tidak mengabaikan keberadaan Justin yang berada di sekitarnya atau bahkan ingin sekedar menyapa maupun mengobrol tentang pekerjaan.
" Ran apa ada jadwal operasi lagi?" Tanya Justin ketika sudah memasuki ruangan.
" Tidak pak, yang tadi itu operasi terakhir kita." Seru Gerani sebelumnya memeriksa dokumen.
" Kalau begitu saya permisi pak" lanjut Gerani.
" Tunggu..." Teriak Justin, langsung berjalan mendekati Gerani yang berada di ambang pintu.
" Ran aku minta maaf, satu hal yang perlu kamu tahu. Kalau aku cinta sama kamu sampai kapanpun" Justin memegang tangan Gerani, " aku bakalan memperlihatkan semua sama kamu, aku tunggu kamu sepulang kerja" lanjut Justin.
Gerani memandang lekat mata Justin tampak tiada kebohongan dari mata Justin, sesaat mereka saling memandang melepaskan rindu mereka selama ini.
Hingga Gerani sadar untuk melepaskan cengkraman tangan justin.
" Baik tapi saya tidak bisa lama-lama, permisi pak" ujar Gerani langsung pergi meninggalkan ruangan Justin.
Justin bertekad bahwa malam ini akan membongkar siapa dalang di balik ini semua, Justin juga sudah menghubungi kedua sahabatnya untuk mempersiapkan semuanya.
Waktu terus berputar senja kini tampak muncul menggantikan mentari, kali ini untuk pertama kali Justin dan Gerani kembali dalam satu mobil setelah berbulan-bulan hubungan mereka renggang.
Mereka sampai di salah satu cafe yang biasanya Justin dan Gerani kunjungi saat kencan, entahlah ada rasa kerinduan bagi gerani berada di tempat ini.
Dan di sana juga sudah ada tiga orang yang sangat Gerani kenal juga sudah berada di sana, tentu Gerani merasa heran sekilas matanya menatap Justin seolah mengisyaratkan bahwa Gerani sedang bertanya namun Justin acuhkan.
__ADS_1
" Rel kamu kok di sini sih?" Tanya Gerani.
" Kenapa? Gak mau di gangguin ngedate nya?" Goda Aurel.
" Serius rel!!" Decak Gerani kesal.
" Aku sama angkasa, sekalian makan malam bareng"
" Karena semua sudah ada di sini, maka aku akan kasih tahu yang sebenarnya" ucap Justin, " Hendra" lanjutnya. Seakan paham maksud Justin Hendra menyerahkan sebuha amplop merah pada Gerani, lantas Gerani langsung membukanya.
Betapa terkejutnya Gerani mendapati foto-foto orang yang telah melakukan sabotase mobil pamannya adalah Leon.
Gerani juga kaget ketika mengetahui ada foto Andini yang juga berada di situ.
"Ini.. maksudnya apa?" Tanya Gerani gemetar.
" Aku baru mengetahuinya saat angkasa tadi menceritakannya" lanjut Aurel seolah paham maksud tatapan Gerani.
" Kenapa? Kenapa bibi tega ngelakuin ini sama aku?" Air mata Gerani perlahan mulai menetes.
" Itu karena dia ingin mengambil semua ahli rumah sakit Mahendra, dan kah ran satu-satunya penerus yang sah dari keturunan Mahendra. Dan setelah dia membunuh Paman mu dia berencana membunuhmu" jelas Justin.
Air mata Gerani tidak dapat lagi tertahan, bagaikan di tusuk ribuan jarum hatinya sakit mengetahui orang yang selama ini ada di samping nya bertahun-tahun begitu tega melakukan hal keji.
" Inilah alasan kenapa aku menjauh ran, itu karena aku melindungi mu dengan tidak langsung. Aku sengaja diam-diam menyelidiki semua ini"
" Justin maafin aku...maaaf" lirih Gerani menyentuh tangan justin.
__ADS_1
" Tidak masalah sayang, setelah ini semua selesai kita akan menikah" ucap Justin tersenyum manis.
" Jadi Ran kamu harus ikutin rencana kita, besok adalah rapat pemegang saham dan kita harus siapkan hadiah untuk bibi mu itu" lanjut Hendra.
" Kau benar ndra, aku akan balas dia!! Dia wanita biadab!" Amarah Gerani semakin memuncak.
Malam itu mereka semua merencanakan segala sesuatu yang akan mereka mainkan.
Dan benar dugaan Hendra bahwa setelah pertemuan ini Andini sudah berada di rumah Gerani.
" Sayang kamu udah pulang?" Tanya Andini.
" Udah bi, panas banget Rani jadi pengen yang segar-segar" ujar Gerani, sebenarnya dalam hatinya ingin membunuh wanita di depannya ini.
" Kebetulan bibi buat jus jeruk buat kamu, sebentar bibi ambil dulu" Andini berlari ke arah dapur menyiapkan sebuah jus jeruk untuk Gerani.
Ucapan selamat tinggal Rani sayang. Batin Andini tersenyum sinis membawa nampan berisi jus tersebut.
" Nah ini minum" Gerani mengambil minuman tersebut dengan perlahan Gerani meminumnya, tiba-tiba mulut Gerani menggeluarkan banyak busa.
Tubuhnya menggeliat di atas lantai, busanya semakin banyak terlihat mata Gerani sudah melotot.
" Hahahahaha mati kau anak sialan" tawa Andini pecah ketika melihat Gerani sekarat.
" Ahh bibimu ini pamit pulang, mempersiapkan acara pemakaman mu untuk besok" ujar Andini melenggang keluar dengan senyuman kemenangan.
***
__ADS_1