
Gerani memacu mobilnya menepis derasnya air hujan yang menerpa menepis ribuan badai demi bertemu dengan Justin.
Ribuan pemikiran buruk terlintas mengkhawatirkan Justin, mungkin saja Justin sedang sakit atau bahkan dalam masalah.
Sesampainya di apartemen Justin, gereani menekan tombol apartemen
" Iyah cari siapa mbak?" Ucap wanita itu yang tidak lain adalah Kayla yang membuka pintunya.
Deg...
Jantung Gerani terasa di tusuk ribuan jarum, perasaannya tercampur aduk dengan pikiran kotor yang terus-menerus terlintas.
Seketika bulir air mata membasahi pipi Gerani, sementara Kayla mengerutkan keningnya mendapati ekspresi Gerani.
" Siapa ka–" ucapan Justin terpotong ketika mendapati Gerani berada di ambang pintu.
" Gerani?" Seru Justin, namun Gerani berlari meninggalkan Justin.
" Rani tunggu....!!!" Teriak Justin ingin mengejar Gerani namun...
Brukkk
Kayla terjatuh pingsan, seketika Justin berbalik ke arah Kayla membawa tubuh Kayla memasuki apartemen Justin tanpa mengigat lagi Gerani.
Gerani terus menerus berlari hingga menuju jalan raya yang sepi, Gerani menyadari bahwa justin tidak mengejarnya.
" Ini alasan kenapa aku tidak ingin memberi hatiku lagi jika akhirnya berujung dengan hal yang sama" monolog Gerani mengenadahkan wajahnya ke atas menerima setiap tetesan air hujan.
" Kenapa setiap orang yang aku sayangi harus pergi meninggalkan aku dengan cara yang menyakitkan?" Monolog gerani terdengar lirih.
Seketika tubuh mungilnya terjatuh di atas bumi yang menyaksikan betapa lirih tangis Gerani.
Seseorang itu muncul dari arah belakang, mengangkat tubuh Gerani yang terjatuh dan membawanya ke dalam mobil.
Berbeda dengan Justin yang tidak merasa bersalah bahkan untuk memberikan penjelasan saja Justin lupa karena saat ini Kayla sedang pingsan.
Terlebih lagi satu jam Kayla pingsan namun tidak kunjung bangun hingga Justin teramat binggung, Justin benar–benar lupa dengan Gerani.
Hingga akhirnya sejenak gadis itu sadar namun kepalanya teramat sakit hingga akhirnya Justin memberikan beberapa obat hingga akhirnya Kayla dapat berisi dengan tenang.
Sementara Gerani di bawa menuju rumah seseorang itu, mendapati seorang gadis tergeletak pingsan di jalan raya dan di bawah hujan seseorang menaruh ibah pada gadis itu.
——
Keesokan paginya Gerani perlahan mengerjakan matanya terdiam untuk beberapa detik sembari mengedarkan pandangannya ke langit-langit yang tampak berbeda dan asing.
__ADS_1
Gerani mencoba berpikir apa yang terjadi kemarin, hingga Gerani sadar Gerani Langsung bangkit syok.
" Aku dimana?" Lirihnya terbangun dari tidur.
" Kamu udah bangun?" Ucap seseorang yang muncul dari pintu membawa nampan.
" Kau siapa?"tanya Gerani was–was.
" Tenanglah nona aku bukan orang jahat, kemarin malam aku menemukan mu pingsan di jalan saat hujan jadi ku bawa kau ke rumah ku" jelas lelaki itu.
Deg
Gerani tertegun untuk sesaat hatinya begitu sakit, ribuan jarum langsung menusuk ketika kenyataan pahit melanda.
Jadi Justin sama sekali tidak memperdulikannya?.
" Kau kenapa? Apa kau masih sakit?" Tanya lelaki itu melihat perubahan ekspresi Gerani.
" Aku tidak apa-apa. Terimakasih sudah menolongku" Gerani tersenyum getir.
" Siapa namamu?" Tanya lelaki itu.
" Aku Gerani, kau sendiri?" Balas Gerani bertanya.
" Aku Leon, apa kau mau kuantar pulang Gerani mungkin orang tuamu sangat khawatir" kata Leon menawarkan tumpangan pada Gerani.
Hari ini gerani pergi menuju rumahnya, diantar oleh Leon sebelum berangkat Gerani mengirimkan pesan pada Aurel agar tidak bekerja dan menemaninya di rumah dengan alasan sedang tidak enak badan.
Sesampainya di rumah Gerani langsung menuju kamarnya, membanting pintu kamar lalu menangis sejadi-jadinya.
" Sampai sekarang kau bahkan tidak khawatir dengan ku?"lirih Gerani menangis meratapi gawainya yang tampak begitu sepi.
" Ketakutan ku untuk kehilangan mu benar–benar terjadi!!" Ucap gerani melempar gawainya.
" Astaga Gerani!!!!" Pekik Aurel ketika gawainya hampir mengenai kakinya.
" Apa kau sudah gila? Kau bilang kau sakit? Tapi kau seperti orang putus cinta!!!" Hardik Aurel langsung.
" Apa kau tidak bisa sedikit saja tidak mengejekku?" Tanya Gerani.
" Baiklah"Aurel berjalan menuju ranjang Gerani duduk tepat di sebelah Gerani.
" Ceritakan ada apa sebenarnya?" Aurel memulai membuka alasan mengapa Gerani menangis.
" Justin rel...di..a se..l...i..ngkuh" kata Gerani terbatah–batah menahan isaknya.
__ADS_1
" Selingkuh?" Aurel mengerutkan keningnya pasalnya tidak mungkin seorang Justin manusia kulkas itu selingkuh.
" Coba ceritakan kronologis kejadiannya" ucap Aurel mencari penerangan.
" Semalam aku ke apartemennya dan yang membukakan pintu itu wanita, terus Justin muncul aku marah tapi tidak di kejar Justin berarti dia memilih wanita itu" jelas Gerani.
" Hahaha itu bukan alasan spesifikasi yang bisa dikategorikan selingkuh rani!!!" Aurel tertawa melihat kecemburuan Gerani.
" Maksudnya?" Gerani masih binggung dengan ucapan Aurel.
" Aku pernah salah paham dahulu waktu aku pacaran dan itu ternyata sepupunya"jelas Aurel.
" Jadi maksud mu bisa jadi itu sepupunya? Bukan selingkuhan" jawab Gerani mengerti maksud Aurel.
" Yahiyahlah tidak ada unsur spesifikasi yang menunjukkan mereka bermesraan, lebih baik kau temuin Justin nanti siang" jelas Aurel.
" Kau benar, aku benar-benar bodoh" ucap Gerani cemberut.
" Kau memang bodoh"timpal Aurel.
" Sudah ah aku ingin membuka hadiah" lanjut Aurel meraih tasnya lalu mengambil kota berwarna merah.
" Itu apa?" Tanya Gerani.
" Hadiah perpisahan dari Candra" balas Aurel singkat sembari membuka kotak merah itu perlahan.
" Bagus banget" Gerani langsung mengambil gelang yang berada di dalam kotak itu, sementara Aurel fokus pada kertas yang berada di dalam kotak itu.
Aurel mengambil kertas berwarna putih itu lalu membuka isinya, Aurel membacanya dalam hati.
Aku harap kita bisa bertemu lagi, semoga gelang matahari ini tidak akan melupakan mu dengan aku. Kita yang selalu memandang jingga bersama di bawah langit, memandangi matahari terbit yang begitu indah bahkan melebihi indahmu. Aku harap suatu hari nanti aku akan menjadi matahari mu.
~candra.
" Itu apa?" Tanya Gerani ketika sudah usai dengan gelang yang dipegangnya.
Dengan cepat Aurel meremas kertas tersebut.
" Tidak ada hanya bukti pengiriman" elak Aurel, " bagaimana menurutmu gelangnya bagus?" Aurel mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
" Bagus banget, Candra benar–benar bagus memilihnya" seru Gerani kembali memperhatikan gelang itu.
" Sini kembalikan gelangku" ucap Aurel merebut gelang tersebut dan langsung memakainya.
__ADS_1
***