
gerani bangun terlebih dahulu, bersantai di sofa putih panjang dengan menonton Spongebob Squarepants sembari camilan ditangannya.
" Hahahaha dasar dua sejoli bodoh" umpat nya menonton TV.
" Ekhem" deheman itu sama sekali tidak didengar Gerani.
" Loh kok mati? Apa belum bayar tagihan listrik kalik yah?" Gumamnya.
" Mandi Rani udah jam delapan" suara itu membalikkan tubuh Gerani, mendapati Justin bersedekap dada memandangi nya.
" Males buanggettt...." Keluh Gerani dramatis sambil menggeliat diatas sofa.
Justin bergerak mendekati Gerani, membopong tubuhnya memasuki kamar.
" Ihh turunin gak!!"pinta Gerani.
" Mandi sana!" Usir Justin.
" Iyaudah sana keluar!"
" Gak mau dianterin hmm?" Goda justin.
" Dasar mesum" cercanya.
" atau mau dianterin masuk?" godanya lagi.
" gak" serunya kemudian pergi masuk ke kamar mandi.
Justin tertawa melihat gemas wajah Gerani yang seketika bulshing mendegar godaan recehnya.
Beberapa detik kemudian Gerani sudah selesai dengan sesi mandinya. Kini Gerani keluar mengenakan hot pant dan kaus oblong berwarna pink lengkap dengan kacamata hitam sebagai hiasannya.
" Oke gue udah selesai, cusss berangkat" ucap Gerani antusias sembari keluar mendahului Justin.
"Dia yang tadi males diajak jalan, sekarang malah antusias gitu. Kemasukan setan apaan sih kepalanya. Dan bodoh nya gue sayang dia" decak Justin yang kelihatan kesal.
"Justtttiiiinnn......buuuruuuuaaan" teriak Gerani dari luar.
" Iyah bawel"
Saat dalam perjalanan Gerani begitu antusias, hingga sedari tadi tidak berhenti mengoceh membuat telinga Justin hampir saja kabur dari sang pemiliknya.
" Udah sampai ran, ayo turun"titah Justin.
" Sepi banget, pasti ini destinasinya gak bagus"
" Rani sayang bisa gak jangan ngoceh Mulu mending masuk liat kesana" satu kata yang mampu membuat Gerani terkesipa.
Iyah ini adalah salah satu cara agar sang pemilik bibir ini segera menjadi bisu dadakan.
Gerani menuruti perintah justin . Matanya terksemi melihat pohon–pohon Pinus berdiri begitu rimbun, ribuan bunga warna-warni ditepian jalan yang mengiasi, dan juga sebuah tebing yang terdapat satu pohon besar beserta ayunan yang menggiurkan jiwa anak–anak Gerani.
" Mau kesituuu" tunjuk Gerani layaknya anak kecil yang melihat Abang tukang es krim lewat.
" Iyaudah ayo" sangking antusias nya Gerani sampai–sampai berlari menuju ayunan tersebut.
__ADS_1
" Pegangan yah ran"petuah Justin.
" Siap komandan, keselamatan akan kami junjung tinggi" patuhnya dengan hormat.
Justin mendorong ayunan Gerani begitu kuat membuat sang pemiliknya, tertawa lepas. Sensasi memegangkan dan menyenangkan menjadi satu berbaur saat bermain wahan satu ini.
Apalagi ditepi tebing begini lebih menguji andrenalin.
" Gila!! Seruu banget" monolog Gerani ketika ayunannya sudah mulai melambat.
" Disana ada pulau kecil, kesana yuk" tawar Justin.
Gerani mengangguk mengiyakan ajakan Justin.
" Gila bagus banget pemandangan nya, selama ini gue dirumah sakit cuman bisa liat pankreas, jantung,hati,usus." Kejujuran Gerani yang menghadirkan gelak tawa justin.
" Kenapa sih maka ketawa?"tanyanya.
" Lucu aja, kayak selama ini dipenjara organ manusia aja" cetusnya.
" Ihhh nyebelinn"seru Gerani mendorong Justin hingga jatuh ditepian pantai.
" Hahahaha...aduh kacian banget. Basah yah? Uhhh kacian"ejek Gerani.
" Rani awas elo yah" Gerani menjulurkan lidahnya, meremehkan Justin.
" Sekarang elo bisa ngejek–ngejek gitu, Awas aja entar kalo ketangkap" seru Justin, sembari berlari mengejar Gerani.
Mereka saling berkejaran, tertawa bahagia diatas pasir putih ditemani suasana ombak yang berseru bahagia.
Gerani meronta-ronta untuk dilepaskan namun hal itu mustahil Justin malah mengangkat tubuh Gerani dan memutar–mutsrkannya.
" Hahahah Justin pusing tau, berhenti gak"tawa Gerani geli atas perlakuan Justin.
" Enggak, rasain ini hukuman elo yang udah ngebuat seorang justin basah" sarkas Justin.
Sedetik kemudian pelukan Justin dioinggang Gerani terlepas.
" Maaf deh kan gak sengaja" cengengesan Gerani.
" Sengaja atau enggak sengaja ran" tanya Justin meyakinkan.
" Opsi yang pertama lebih tepat hehehehe" tawa Gerani.
" Tunggu disini dulu" pinta justin.
" Emang mau kemana?" Tanya Gerani.
" Kepoo"
Justin langsung pergi meninggalkan gerani, perlahan punggung Justin perlahan mulai menjauh dari hadapannya.
Gerani terduduk dipasir putih dibawah pohon rindang menikmati hembusan angin yang mengehpas rambutnya.
" Gue bahagia banget hari ini" teriak Gerani dengan senyuman.
__ADS_1
" I LOVE YOU JUSTIN HIRATA WIJAYA " teriak Gerani bahagia.
" I love you too Rani" sahut Justin dari belakang yang mendengar ucapan Gerani. Perlahan Gerani membalikan tubuhnya mendapati sosok Justin yang kini tengah tersenyum.
" Enggak usah malu gitu" Justin ikut duduk disebelah Gerani kini suara justin terdengar meyakinkan
" Ini buat Rani yang manis biar enggak malu lagi" Justin menyodorkan sebuah kembang gula besar yang begitu menggoda.
Bukannya hilang malu Gerani, malah pipinya semakin merah dibuat Justin.
Justin menyodorkan kembang gula itu tepat dibibir Gerani hingga mengenai wajahnya.
" Ihhh Justin nempel tau, entar kalok wajah gue dirubungi semut gimana" omel Gerani yang langsung mengambil kembang gula tersebut dan menjauhkan nya dari wajahnya.
" Semut gak bakalan sukak, cuman satu yang bakalan suka manis diwajah elo Rani"
" Ya kalik bua–"
Cup..cup..cup...
Perkataan Gerani terpotong dengan tiga kecupan singkat yang Justin berikan.
" Karena cuman gue yang sukak sama wajah elo Rani" lanjut Justin.
" Hikss hikss " Gerani menutup wajahnya dengan sebelah tangannya.
" Lah kok nangis gitu sih"
" Abisnya elo buat gue malu terus dari tadi, liat tuh merah kan pipi gue" ujarnya yang kemudian mengipasi wajah nya dengan sebelah tangan.
" Sini.." Justin merentangkan tangannya menawarkan dada bidangnya pada Gerani.
Gerani tergerak menerima tawaran itu kini wajah Gerani ditenggelamkan didada bidang Justin.
Lelaki yang selalu membuat nya berdecak kagum sekaligus lelaki menyebalkan yang pernah Gerani temui.
" Gemes banget kalok kayak gini, jadi pengen cium lagi" bisik Justin.
" Ihhh apaan sih" Gerani memukuli dada Justin.
" Makan dulu deh kembang gulanya entar meleleh terlalu lama dikacangi cewek cantik" titahnya halus.
Gerani melepaskan pelukannya memandangi kembang gula jumbo yang saat ini ditangannya.
" Emm enak banget" seru Gerani ketika menikmatinya.
" Manis?"basa basi Justin. Namanya juga gula yah pasti manis kan?.
" Enggak pahit kayak empedu"sarkas Gerani.
" Cobain dong, pengen yang pahit–pahit" suara Justin yang sedikit manja, kemudian mendekatkan mulutnya ikut menikmati kembang gula tersebut dengan Gerani.
Sampai kembang gula mereka habis mereka masih setiap berada ditempat tersebut, menikmati senja yang begitu indah yang pada akhirnya bisa mereka saksikan berdua. Mereka saling mengeggam tangan melihat matahari yang perlahan mulai terebut malam, langit–langit yang perlahan berubah menjadi keemasan begitu menawan dengan suasana burung–burung yang berterbangan menuju sarang masing–masing. Ditempat ini tidak akan terlupakan pada dua insan tersebut, tempat dimana kebahagiaan sederhana dari mereka tercipta dan itu lebih dari cukup.
__ADS_1
***