
Esok harinya adalah hari yang di tunggu-tunggu bagi Andini, rapat pemegang saham yang pastinya akan di harapkan oleh Andini.
" Jadi penerus utama rumah sakit ini adalah Gerani? Satu-satunya pemilik yang sah" ujar salah satu petinggi saham.
" Iyah bapak benar, namun bisa kita lihat kalau Gerani sendiri belum datang. Mungkin karena ger–"
" Bagaimana aku bisa datang bibiku tercinta, jika semalam malam kau memberi ku racun?" Potong sosok suara yang amat Andini kenal, Iyah itu Gerani.
Sontak Andini kaget bukan main, para petinggi saham hanya berbisik-bisik melihat kejadian itu.
" Mungkin bapak-bapak binggung, tapi wanita di depan ini adalah orang yang telah membunuh paman ku dan target selanjutnya adalah aku. Tapi sayang bibi ku ini terlalu bodoh" ujar Gerani bersedekap tangan, tersenyum devil pada Andini yang tengah gugup.
" Ba..ba... bagaimana kau masih hidup?" Tanya Andini gugup.
" Oh ternyata kau penasaran bibi? Baiklah akan aku ceritakan bibi ku yang sangat bodoh" balas Gerani meremehkan.
" Minuman yang berisi racun itu tentu saja sudah kuganti dengan air sabun, kau pikir selama ini kau tidak di awasi. Yah aku hanya menunggu waktu yang tepat dan bom terbongkar" jelas Gerani dengan senyum mengembang.
" Sayang bagaimana para tamu di luar sana? Mau sekarang di pertemukan Dengan bibimu?" Tanya Justin yang tiba-tiba muncul.
" Sayang kau mengagetkan ku, baiklah sayang bawa masuk sepertinya bibiku juga tidak sabar"
" Masuk!!" Titah Justin.
Tidak lama beberapa polisi masuk dan langsung meringkus Andini.
" Ran..maafkan bibi ran bibi mohon" ujar Andini menangis.
" Baiklah akan aku maafkan, asalkan bibi bisa mengembalikan paman ku. Bisa? Bibi bisa haa? Dengan bibi mati pun paman tidak akan kembali!!" Amarah Gerani memuncak.
__ADS_1
" Bawa wanita ini pergi pak, wajahnya sunggu menjijikan" lanjut Gerani.
" Ran..."
" Maafkan bibi ran"
Seru Andini ketika polisi menarik paksa dirinya keluar dari sana.
" Baiklah sekarang saya akan meneruskan rumah sakit ini dengan baik, mohon bantuan dan dukungan nya"
" Dan maaf atas kejadian tadi, ada beberapa adegan yang seharusnya tidak bapak-bapak sekalian lihat"
" Tidak masalah dokter Gerani, sekarang kami yakin bahwa dokter Gerani adalah pemimpin yang bertanggung jawab"
" Ya saya juga setujuh, maka kami semua percaya pada dokter Gerani"
" Terimakasih atas kepercayaan tersebut, dan saya akhiri rapat kali ini. Selamat pagi "
"Menangis lah, aku tahu kau pasti ingin menangis" ujar Justin sontak Gerani langsung menangis tersedu-sedu memeluk Justin.
" Aku udah enggak punya siapa-siapa lagi, kenapa mereka semua ninggalin aku seperti ini? Bahkan bibiku sendiri tega sama aku hiks....hiks....hiks"
" Kau lupa sayang?" Justin menarik Gerani melepaskan pelukannya dan menatap Justin.
" Kau masih punya aku? Pesta pernikahan kita sudah selesai sayang tinggal menunggu mu saja" lanjut Justin tersenyum manis.
" Hah??" Gerani mengganga tidak percaya.
" Tutup mulutmu, atau aku yang menutup nya dengan bibirku. Ah jangan sebentar lagi kita akan menikah" goda justin mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
" Justin!!! Berhenti menggoda ku!! Bagaimana mungkin aku menikah dengan mu, kau saja belum melamar ku. Sudahlah jangan bercanda!" Ucap Gerani kesal, Gerani tahu bahwa justin hanya mencoba menghiburnya tidak serius dengan ucapannya.
Tapi semua dugaan gerani salah ketika Justin mengeluarkan sebuah kotak merah dari sakunya, dan langsung membungkukan badannya.
" Maukah kau Gerani menjadi istriku seumur hidup?"
" Justin..." Ujar Gerani tidak percaya.
" Terima....terima....terima..." Gerani mencari-cari sumber suara dari sana, dan benar saja seluruh staf perawa, dokter dan juga pasien yang berada di sana ikut bersorak.
Dan tidak lupa di sana ada angkasa, Hendra, dan Aurel.
" Terima ran..." Teriak Aurel.
" Iyah... Kasian kalok di tolak entar bisa galau tujuh turunan delapan tanjakan sembilan tikungan" ejek angkasa sementara Justin hanya melihat malas ke arah angkasa.
" Jadi gimana?"
" Iyah aku mau"
" Seriusan?" Gerani menggangguk kemudian Justin menyematkan cincin di jari Gerani.
Pok..pok...pok...pok...
Suara sorakan tepuk tangan terdengar meriah ketika Gerani menerima lamaran Justin.
" Gerani I Love you" teriak Justin.
" I love you more Justin" balas Gerani,mereka berdua tertawa kemudian saling berpelukan.
__ADS_1
****