
Kenangan tak selamanya harus bahagia.
Justru yang menggores lebih terkesan.
~Author
Dua hari Gerani tak kunjung kembali bekerja dirumah sakit.
Disini, mengigat kembali perasaan yang sempat Gerani kecewakan.
Membenci dirinya sendiri,akibat sebuah tragedi yang menghilangkan rasa cintanya terhadap diri sendiri.
sudut senyum yang selama ini tergambar hangat dipelupuk wajahnya, menyimpan kebencian tersendiri terhadap dirinya.
Senja. Gerani harap dirinya seperti itu.
Pergi sementara, berjanji kembali untuk esok.
"Tidak ada gunanya aku hidup! Semuanya sia sia! Ya Tuhan kenapa tak ada satu orang pun yang diduduki!" Teriak Gerani penuh emosi.
Dipinggir pantai seorang Gerani bergeming sendiri, menuggu senja yang segera pergi.
"Aku ingin pergi! Hiks hiks..... Aku merindukan kehangatan dari semua,semua–semua yang kini telah hilang"
Gerani menitihkan keristal putih itu dari wajah nya,terduduk pada pasir putih nan eksotis.
Terpaan ombak membasahi setiap celah-celah wajahnya, kedinginan semakin melanda ketika hati tak kunjung membaik.
Batinya tergores,namun fisik memanipulasi segala-galanya.
***
Pukul delapan malam,Gerani kembali disebuah apartemen yang jauh dari suasana ramai.
Saat ini gerani benar benar letih,terus tertatih menanti yang tak pasti.
"Hiks hiks Gerani rindu mama papa" Gerani masih terisak, memeluk erat bingkai foto tersebut.
Kringg...
"Tau aja,kalok aku udah lapar" monolog gerani.
"Mas tolong bawain saya nasi goreng sama jus jeruk, sekalian sama bubur ayam" titah Gerani yang mendapati seorang lelaki berdiri membelakanginya.
"Mas dengar–" lelaki itu memutar tubuhnya.
Duarrrr.....
Itulah adalah Justin. Sorot matanya menggambarkan kekhawatiran,Gerani tampak melihat jelas itu.
"B–bapak kok disini?"
"Seharusnya saya yang tanya sama kamu? Ngapain disini! Enak enakan liburan! Pekerjaan kamu masih banyak"
Jangan berharap dia akan berkata aku khawatir,aku takut kamu kenapa kenapa,aku takut bila and bla bla
Ternyata dugaan ku hanya menjatuhkan ku kembali,sontak raut wajah Gerani berubah.
"Maaf ya pak tapi saya sudah sampaikan pada paman saya,dan saya yakin pasti akan langsung memberi tahu bapak,jadi tolong bapak enggak usah terlalu lebay dan enggak usah cari cari saya! Paham" tukas gerani, kemudian langsung membanting pintunya.
Apa aku salah ngomong lagi?
Ya kalok salah yah malah bagus sih, ngapain dipikiran bodo amat.
Terus kalok dia berbuat yang aneh aneh gimana?
Tanpa pikir panjang lebar,Justin menghentikan aksi debat parpol dibatinnya.
"Gerani buka pintunya"
1
2
3
Tak jua ada sambutan.
"Gerani !! Apa kau enggak denger? Ini sudah malam,mobil saya mogok" teriaknya
1
2
__ADS_1
Ceklek
Pintu apartemen Gerani terbuka, sesaat Justin tersenyum sedetik.
Senyum yang selam ini hanya dapat dia saja yang merasakan.
"Bapak Justin yang terhormat,bapak terlalu berisik,kan bapak bisa pulang naik tax–"
Justin langsung menerobos masuk,oh dan jangan lupaka perkataan nya,"kamu itu terlalu cerewet,suka suka saya!" Balasnya tak kalah sengit.
"Whatt?" Gerani terganga mendengar ucapannya. Entahlah Gerani rasa Justin perlu melakukan operasi otak agar bisa mengeluarkan isi otaknya yang sudah membusuk.
"Tolong buatkan saya minum saya haus"titah Justin yang sudah duduk disebuah sofa.
"Bisa buat sendiri kan?"
"Jadi begini cara kamu memperlakukan seorang tamu"
"Saya tidak pernah menyuruhnya bapak bertamu diaparteman saya,dan SAYA JUGA TIDAK MENERIMA TAMU" tukasnya yang memperjelas kalimat terakhir nya.
Duar...
Baru kali ini seorang Justin kalah adu mulut dengan seorang Gerani.
Tapi tetap saja Justin harus bersikap cool seolah-olah dialah pemenangnya.
"Sudahlah jangan banyak bicara! Atau kamu tidak bisa membuat minuman? Gadis macam apa hah" ujar Justin menyepelekan Gerani. Dengan motif menutupi kekalahan adu mulutnya tadi.
"Baik tunggu disini !" Balasnya kesal.
"Saya minta maaf atas perlakuan saya kemarin,maaf saya terlalu kasar dan berlebihan"
Kumat penyakit kepribadian gandanya?" Tanya Gerani dalam hati.
"Sekali lagi saya minta maaf,dan mungkin kali ini saya akan berusaha jadi manajer yang lebih baik kedepannya"
"Hmz" hanya demehan yang Gerani lontarkan,bukan marah. Tapi binggung ingin menjawab apa pernyataan justin.
"Ini sudah malam,kalok gitu saya pulang. Saya harap kamu bekerja besok"
"Baiklah,tau kan pintu keluar nya dimana? Saya tinggal" balas Gerani yang beranjak pergi meninggalkan Justin.
"Dikasih hati malah minta jantung,dasar wanita!" Monolog Justin yang menatap punggung Gerani yang perlahan menjauh.
Setidaknya kali ini Justin mengalah.
Sementara Gerani terlentang di ranjang putihnya,menatap langit-langit kamarnya bersanding dengan boneka Teddy bear berukuran jumbo.
"Fixs aku harus ruqyah si Justin,kadang nyebelin kadang care banget"
"Atau jangan-jangan tebakanku bener,dia memang bener punya kepribadian ganda"
Gerani terbangun dari ranjangnya,terduduk sambil bermonolog layaknya seperti seorang yang sedang mengobrol, "Tunggu...tunggu apa dugaan ku benar,dia punya kepribadian ganda. Menurut drama yang sering aku tonton sih biasanya kalok dikasari kepribadian lain bakalan muncul?"
Gerani tersenyum nakal,hingga perlahan Gerani melepaskan kesadarannya.
***
"Hey ran,udah puas liburan nya?" Sapa Aurel yang melihat Gerani tersenyum bahagia.
"Aku udah tau apa yang harus kulakukan rel" balasnya yang tidak berhubungan dengan pertanyaan Aurel.
"Maksudnya RAN?"
"Iyaudah bye" Gerani meninggalkan Aurel, yang masih dengan tatapan heran.
"Wah beneran sakit tuh anak. Semoga aja dia gak aneh aneh lagi sama si Justin" monolognya
—
"Permisi pak" sapa Gerani yang telah usai mengetuk pintu. Jangan lupakan senyum lebar Gerani
"Uda selesai liburannya?"
"Udah pak,saya mau ngasih laporan bahwa ada satu pasien dengan kanker pankreas yang meminta ditangani sama bapak, konsultasi nya sekitar dua menit lagi pak"
"Terimakasih,kalau begitu sambil menunggu mari periksa pasien terlebih dahulu"
"Baik pak,silahkan"
__ADS_1
Ini bukan Gerani. Atau jangan-jangan Gerani memiliki kepribadian ganda kenapa bisa Gerani yang berubah drastis?
Mereka berjalan menuju ruang ruang pasien rawat inap,menebar senyum dan sapa pada setiap karyawan.
Sungguh seperti sepasang kekasih yang bahagia.
"Selamat pagi dok" sapa para perawat.
"Pagi" balas Justin, sementara Gerani hanya tersenyum.
"Sus saya minta daftar keadaan pasien saya, apakah ada masalah"
"Ini pak, semuanya baik baik saja,sudah mulai membaik"
"Terimakasih kalau begitu saya mau memeriksa pasien saya dulu"
Perawat perawat tersebut hanya mengangguk memberikan hormat pada kedua dokter tersebut.
Justin berjalan menuju ruangan pasien, diikuti Gerani dari belakang.
"Wah kalok gitu kan adem diliatnya" tukas perawat chai memecah pendang para perawat lainnya menatap punggung kedua dokter tersebut.
"Atau jangan-jangan mereka udah mulai suka atau udah jadian barangkali" tukas perawat Diah
"Bisa jadi" balas perawat chai
"Huss udah kerja jangan nge gosip aja" tukas kepala perawat Zahra.
"Yee ga asik mah " gumam mereka.
—
"Selamat pagi buk Wulan,apa sudah membaik keadaan nya"
Wulan tersenyum bahagia, melihat dokter penyelamat nya langsung memeriksanya," sudah dok, terimakasih dok karena dokter saya jadi sudah membaik"
"Keluarga ibu belum datang?" Lanjut Gerani
"Belum,anak saya masih sekolah biasanya kalok sudah pulang sekolah baru menjenguk saya"
"Baiklah. Kalok ada apa apa tinggal pencet tombol dibawah kasur ibu yah"
"Terimakasih dok"
Gerani tersenyum," sama sama,kalok begitu kami tinggal dahulu"
Kedua dokter yang sedang dimabuk kebahagiaan itu pergi meninggalkan ruangan pasien.
Menebarkan senyum keseluruhan sudut rumah sakit.
Menjadi pusat perhatian bagi ribuan mata yang melihatnya.
"Pak sepertinya pasien sudah datang"
"Baiklah kalau begitu,kita temui mereka"
Sementara diruang tunggu pasien, seseorang lelaki paruh baya dengan kedua wanita itu tampak penuh harapan.
Rona putih menghiasa bibir lelaki itu,kerutan kerutan dipelipis lelaki itu menggambarkan kesakitan yang tengah asyik mengguncang dirinya.
"Lihat ini sudah menyebar ke paru paru anda,g.hati dan bahkan rongga perut anda" diagnosis Justin sambil menunjuk kan hasil pemeriksaan medis nya.
"Operasi, kemoterapi,radiasi tidak akan berhasil" lanjutnya.
Sedangkan lelaki paruh baya itu pasrah," aku kesini bukan untuk disembuhkan,aku tahu seberapa buruknya keadaan ku,aku hanya ingin hidup beberapa bulan lebih lama lagi"
"Dalam keadaan seperti ini, seperti orang lain bilang sulit bagi anda untuk hidup lebih lama dari tiga bulan"
"Kami mendengar kalu kalian dokter yang paling terkenal didunia,itu sebabnya kami disini" lanjut istrinya.
" Aku tidak menyarankan untuk dirawat di RS tidak ada gunanya dalam kehidupan untuk memperpanjang pengobatan"
"Ku mohon.. hanya satu tahun" lanjut lelaki itu dengan suara lirih.
"Tidak hanya enam bulan saja"
"Kalau begitu anda akan mendapatkan perawatan di RS ini tapi jika pengobatan diperpanjang kami tidak bisa membiarkan Anda terlalu lama disini karena peraturan dari RS yang ada"
Lelaki itu mengerjakan jarinya yang lemah,menjabat tangan Justin," terimakasih dokter"
\*
__ADS_1