
Setibanya mereka kembali ke medicube Gerani dan Justin tampak selalu bersama tiada lagi Justin yang dingin di hadapan Gerani, Justru Justin yang manja.
seperti sekarang mereka menikmati mie buatan Gerani berdua di dalam medicube.
" siapin dong" pinta justin manja.
" astaga Justin! kan bisa makan sendiri" ucap Gerani geleng–geleng mendengar keluhan manja Justin.
" kan punya pacar" goda Justin mengedip kan sebelah matanya.
" jijik kayak abg labil tau gak" sarkas gerani.
Tidak lama kemudian angga datang menghampiri medicube, dan ternyata mendapati dua insan tersebut sedang menyantap makan malam.
" wahh pada lagi makan yah?" tegus Angga.
" eh pak Angga, sini pak makan bareng" tawar Gerani.
" enggak usah saya udah makan tadi"tolak Angga.
" gimana nyaman di sini? atau masih mau tinggal di sini? saya malah senang ada dokter cantik di sini" tanya Angga.
sementara Justin merasa dirinya tiada di hadapan kedua manusia itu, bagaimana mana tidak mereka sibuk mengobrol sedangkan Justin di abaikan dan hanya bisa melihat mereka ketawa ketiwi.
" enggak pak, gak jadi sinyal di sini GSM" jelas Gerani.
" GSM???" tanya Angga binggung.
" geser sedikit mati hehehehe" cengir Gerani.
" ada–ada saja, kalau begitu lanjutkan makan saya mau memeriksa yang lainnya" pamit Angga.
" kayaknya dia suka sama kamu" ucap datar Justin sembari menyantap mienya setelah Angga pergi meninggalkan mereka.
" ngaco kamu! orang cuman temen doang. kamu cemburu?" goda Gerani.
" enggak!! siapa juga yang cemburu cuman nanyak doang" elak justin.
" yakin?? liat tuh pipi bulshing" ejek Gerani
dan ini kedua kalinya aku menyesal punya kulit putih. batin Justin
" udah malam lebih baik kau istirahat ran, aku pamit ke medicube kami dulu"pamit Justin mengalihkan pembicaraan
" iyaudah, aku juga udah ngantuk selamat malam" gerutu Gerani.
" Night kiss?"goda Justin.
Mata Gerani membulat mendengar ucapan Justin, spontan memberi tatapan tajam ke arah Justin.
" bencanda doang, night too baby" balas Justin melambaikan tangan pergi meninggalkan Gerani.
" astaga manusia kulkas itu lebih menyeramkan jika seperti itu terus" monolog Gerani frustasi menghadapi kelakuan justin.
Kini Gerani sendiri berada di medicube, sedetik kemudian Aurel datang menghampiri Gerani
" Sekarang jelasin!!" Ucap Aurel kesal.
Gerani yang paham dengan maksud Aurel hanya tersenyum sembari di iringi tawa kecil.
" Gerani aku suruh jawab!! Bukannya kayak orang bodoh gini" ucap Aurel bersedekap dada.
" Kami pacaran" jawab Gerani to the point.
" Haaahhh?" Kaget Aurel menganga.
" Tutup tuh mulut, entar ke masukan lalat baru tahu" petuah gerani yang melihat ke kagetan Aurel.
" Kan bener, ke makan omongan sendiri! Makannya mbak jangan banyak gaya ujung–ujungnya cinlok" cerca Aurel.
" Iyah Aurel" lirih Gerani.
" Udah ah panas di sini, mending cari yang adem–adem. Seperti ketua tentara tadi" pamit Aurel sembari mengibaskan tangannya.
Bagaimana tidak panas, melihat raut wajah Gerani penuh kasmaran di tambah lagi senyum Gerani tidak luntur.
Aurel jadi ngeri sendiri berada di sana, jiwa–jiwa jomblo Aurel mengelegar.
Sementara Gerani tidur dengan senyuman indah di Dalama hidupnya. Tiada Tara kebahagiaan Gerani hari ini.
__ADS_1
Keesokan paginya suara teriakan para gadis sudah mengangu hening tidur pagi Gerani.
"Arrrghhhh apaan sih berisik banget" gerutu Gerani menggeliat di atas kasur.
Akhirnya kaki Gerani melangkah pada sumber suara yang tengah mengusik dirinya.
Hingga dirinya tiba pada sebuah lapangan, mendapati Aurel beserta perawat yang lainnya berdiri di pagar.
" Gerani sini....coba lihat itu deh" ucap Aurel antusias.
Sementara Gerani masih menguap, mengucek–ngucek bola matanya.
" Apaan sih kalian bising banget tau gak!" Balas kesal Gerani.
" Liat dulu kesana dok" ucap perawat Zahra.
Gerani akhirnya menuruti permintaan mereka, hingga sekarang matanya terbelalak kaget melihat pemandangan didepannya.
Bagaimana tidak para tentara–tentara itu sedang lari pagi, yang paling eksotis dari pemandangan itu adalah mereka bertelanjang dada.
Menampilkan fostur tubuh dengan otot-otot besar di sertai perut kotak–kotak. Astaga sungguh pemandangan terindah.
" Astaga...." Ucap gerani melongo setelah sadar.
Gerani akhirnya bergabung pada mereka, seperti menunggu Abang tukang cireng lewat mereka antusias para tentara–tentara itu latihan.
" Ekhem" deheman Justin sama sekali tidak berpengaruh pada mereka.
" Ekhem"
1
2
3
Hell, masih saja terabaikan.
Hingga Justin menutup mata Gerani dari belakang, menyeretnya dari tempat itu.
" Ihhh apaan sih, kok gelap lepasin gak!!!" Hardik Gerani memuku tangan yang menutup matanya.
" Kok dokter Justin kayak orang pacaran gitu?" Tanya perawat chai.
" Emang pacaran" balas datar Aurel yang masih menatap tentara–tentara itu.
" Hah? Seriusan dok? Bukannya mereka itu musuhan" lanjut perawat Zahra.
" Benci bisa jadi cinta kan?'' jelas Aurel, " udah ah ayo mandi entar ketinggalan rapat lagi" lanjut Aurel.
Kini mereka terpaksa meninggalkan surga mata mereka, setidaknya pagi–pagi sudah sarapan.
Di lain sisi, Justin tampak enggan melepaskan tangannya dari mata Gerani.
" Aduh Justin lepasin dong, gelap tau gak" rengek manja Gerani.
Akhirnya Justin menurutinya.
" Aku kan udah bilang kalok aku gak sukak kamu liatin mereka raniii" Justin to the point mengeluarkan unek-uneknya.
Sementara Gerani masih fokus mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina nya.
" Awas aja kalok aku lihat kamu disana lagi ran! Bakalan nyesel sama konsukuensinya" lanjut Justin lagi.
" Astaga Justin sensitif banget sih aku kan cuman liatin doang" bela Gerani.
" Iyah ngeliatin sampai gak denger aku panggi dari tadi" kesal Justin.
" Heheheh maaf khilaf" cengengesan Gerani.
" Udah sana mandi hari ini kita ada rapat" titah Justin.
" Siap komandan" balas Gerani memberikan hormat.
" Enggak mau bareng ran?" Goda justin.
" Enggak mau sama kamu, mau sama tentara itu aja lebih bagus badannya" ejek Gerani membuat kesal Justin kemudian lari meninggalkan Justin.
"Raniiiiii......awas kamu!!! Gadak pengampunan" ucap Gerani menjemput Gerani yang sudah kabur.
__ADS_1
" Enggak takut wekkk " teriak Gerani menjulurkan lidahnya.
Gerani lari sekuatnya menuju medicube nya di susul Justin dari belakang yang mengejarnya.
Hingga sedikit lagi tiba di medicube, tubuh Gerani sudah tertangkap oleh Justin.
" Hahahahaha geli ju...ti...n" ucap Gerani tebatah batah menahan geli yang menghujam tubuh nya.
" Rasakan....ini akibatnya nona Rani yang genit" Justin masih melanjutkan gelitikan pada tubuh Gerani.
" Ekhem...maaf tapi kita harus segera rapat tolong di cancel dulu ketua dan wakil ketua yang terhormat" tegur Aurel.
Justin yang mendengar itu langsung melepaskan rengkuhan dari Gerani.
" Baiklah kalian tunggu di sana aku akan segera siap–siap" balas Justin.
" Hukuman mu belum selesai" bisik Justin di telinga Gerani.
Kini Justin telah pergi meninggalkan mereka, tinggallah gerani dengan Aurel.
" Untung aja ada kamu rel" ucap Gerani menghela nafas.
" Udah sana mandi, yang lain juga udah pada ngumpul. Kami tunggu di ruang rapat" titah Aurel.
" Siap komandan" balas gerani memberikan hormat.
Kini Justin dan lainnya sudah berkumpul di ruangan rapat, sementara Gerani masih tidak menampakkan dirinya.
" Kemana Gerani?" Tanya Angga.
" Tadi katanya pergi mandi" ucap Aurel.
" Kita mulai saja rapatnya mungkin Gerani masih lelah nanti akan di sampaikan apa tugas dia" tukas Justin.
" Baiklah kalau begitu mari kita lanjutkan" ucap Angga.
"Aurel bagaimana vaksin yang akan di berikan pada para tentara setiap harinya"tanya angga.
" Semua sudah sampai di sini pak tinggal membuat jadwal vaksinasi" ucap Aurel.
" Baiklsh kalau begitu jadwalnya akan Gerani buat" tukas Justin.
" Kemudian lusa kami akan ada tugas dari jendral Sudirman untuk membekukan para pengedar senjata gelap yang melewati perbatasan. Jadi untuk itu kami harap siapkan segala perawatan medis yang lengkap" jelas Angga.
" Mengapa harus selengkap itu pak?" Tanya perawat Zahra.
" Di sini senjata di jual bebas dan tidak ada hukum bagi warga di sini. Kita hanya berjaga-jaga saja karena di sini begitu berbahaya apa lagi kehadiran kita di sini menjadi hambatan bagi mereka" lanjut Angga menjawab pertanyaan Zahra.
" Astaga mengerikan sekali" ucap Aurel dramatis.
" Maka dari itu di sela–sela pekerjaan kalian akan ada bimbingan menembak khusus untuk menjaga diri kalian, seorang dokter bukan hanya mahir membedah saja bukan?" Tanya angga.
" Baiklah kami setujuh untuk itu, aku juga sudah mahir menembak"ucap datar Aurel.
" Serius dimana dok?" Tanya perawat chai.
" Free fire" balas polos Aurel.
Seisi ruangan rapat tersebut dengan menatap datar Aurel, meninggalkan ruangan sambil menyusun kasar buku–buku yang mereka pegang.
" Lah...lah...kok ditinggalin? Udah gini aja rapatnya?" Tanya Aurel binggung.
" Apa aku salah?" Monolog gerani.
***
Hallo guys hari ini aku up lagi, jangan lupa vote dan komentarnya ♥
Semoga kalian suka sama ceritanya. Dan maaf jika ada kesalahpahaman dalam penulisan.
Happy reading 🎉🎉
Selamat tahun baru Islam
1 Muharam 1441 hijriah ♥♥
Semoga pandemi ini lekas membaik.
Fllwig@mayadasaptyani38
__ADS_1