Love Scenario Gerani

Love Scenario Gerani
Masakan Candra


__ADS_3

Hari perlahan mulai menjadi siang, terik matahari membakar kulit karena keadaan di sini begitu panas.


" Ran aku pamit deh kan udah ada Justin" ucap Aurel tidak enak mengangu acara pacaran mereka.


" Iyaudah" ucap Justin.


Aurel berjalan menyusuri sekitaran, sambi memegang handphonenya mencari–cari sinyal.


" Ya ampun kalok aja abg go food bisa anterin makanan ke sini mungkin aku gak bakalan kelaparan" monolog Gerani sembari menatap gawainya.


" Mau makan apa emang sih?" Suara itu sontak membuat Aurel membalikkan tubuhnya.


" Ehh pak Candra hehehehe gadak pak" gerutu Aurel cengengesan karena malu tertangkap basah.


" Emang kamu mau makan apa?" Tanya Candra.


" Pengen pasta bosen sama sayuran terus" keluh Aurel.


" Iyaudah ayo aku buatkan" ajak Candra.


" Hah? Ini seriusan pak?"  Ungkap Aurel menganga tidak percaya.


" Gak usah kaget gitu, ayo aku juga lapar" titah Candra .


" YESS!!" Lirih Aurel begitu excited mendengar makanan.


Candra hanya tersenyum kecil melihat kelakuan Aurel, kini keduanya berjalan menuju dapur.


Sesampainya di sana Aurel hanya duduk di meja makan, sementara Candra memasak sendiri Candra menolak Aurel membantu dirinya.


" Ini dia pastanya udah siap" kata Candra berjalan menuju meja makan membawa dua mangkuk pasta.


" Wahh aroma nya kayaknya enak banget" balas Aurel melihat pasta di hadapannya.


" Kirain bapak cuman bisa pakek senjata doang" lanjut Aurel.


" Jangan panggil bapak, Candra saja. Cobain deh gimana rasanya" titah Candra.


Kini Aurel menyantap pasta yang dibuat Candra. Rasanya begitu pas di lidah Aurel untuk Aurel sebagai pecinta makanan cepat saji ini adalah makanan yang enak.


" Enak banget" ucap Aurel memberikan dua jempol pada Candra.


" Cuman dua jempol nih"goda Candra.

__ADS_1


" Iyah dong, kalau mau empat jempol harus buatin lagi pastanya" balas Aurel.


" Siap, tapi kamu temenin aku makan yah" ajak Candra.


" Tenang. Kalau soal makan aku bisa kok langsung otw" kata Aurel cengengesan.


" Iyaudah lanjutin deh makannya" titah Candra.


" Siap komandan" gerutu Aurel memberikan hormat.


Kini mereka telah usai menyantap makan siangnya, sekarang Candra mengajak aurel untuk berkeliling sekitar daerah.


Selang beberapa detik kepergian mereka,Angga kini memasuki dapur yang tengah sepi.


" Lah bahan–bahan buat pasta gue dimana? Perasaan di lemari sini deh" monolog Angga yang terus membuka laci mencari keberadaan pastanya yang sudah mengulang.


Sementara Aurel dan Candra berjalan sembari mengobrol kecil.


" Eh tapi kok di sini ada bahan buat pasta?" Tanya Aurel penasaran pasalnya selama di sini mereka hanya memakan sayuran dan juga tahu yang di olah sedemikian rupa.


" Udah ah yang penting kan kenyang" kata Candra kemudian di angguki paham oleh Aurel.


Untung aja ada pasta di Angga, sorry yah pastanya di jadiin korban pdktan. Monolog Candra dalam hati.


" Eh..enggak kok" balas Candra mengaruk curuh lehernya tidak gatal.


" Emm rel kamu udah punya pacar?" Tanya Candra namun Aurel terdiam tatapan nya kosong memori dimana Leon menyakiti Aurel kini seolah di putar kembali.


" Ehh maaf aku gadak maksud apapun" lanjut Candra segan melihat Raisa jawaban dari Aurel.


" Dulu aku pernah mencintai seseorang tapi setelah itu kami putus karena dia selingkuh rasanya sakit sekali ketika hubungan kami begitu sudah lama dan dua udah berjanji untuk melamar ku tapi yang ada..."ucapan Aurel terhenti Aurel tidak kuasa menahan Isak tangis dari matanya.


Candra langsung membawa Aurel pada dada bidangnya.


" Udah jangan nangis, dia laki–laki yang gak pantes buat kamu tangisin" kata Candra menenangkan Aurel sembari mengelus pucuk rambutnya.


" Hiks..hiks...tapi aku sakit aku cinta sama dia! Tapi dia tega" Isak Aurel.


" Sudah jangan menangis lagi yah, nanti cantiknya hilang" goda Candra menenangkan.


Aurel bangkit dari dekapan Candra, dirinya menghapus kasar air mata yang jatuh membasahi pipin Aurel.


" Maaf yah gara–gara aku bajumu jadi basah" ucap Aurel merasa tidak enak.

__ADS_1


" Justru aku yang minta maaf, gara–gara aku kamu jadi nangis rel" balas Candra.


" Iyah gak papa, emang lagi sedih aja. Untuk itu aku gak mau buka hatiku lagi aku cukup sakit aku enggak mau terluka" lanjt Aurel.


Laki–laki berengsek itu akan ku hajar jika aku bertemu dia. Batin Candra mengepalkan tangannya.


" Jangan anggap pandangan mu membuat semua lelaki itu sama rel, mereka berbeda" nasehat Angga yang merasa sakit mendengar tuturan Aurel barusan.


" Iyah aku tahu, hanya saja untuk saat ini aku ingin sendiri hatiku belum siap" lirih Aurel.


" Gimana kalok kita temenan rel, mau gak?" Tanya Candra.


" Boleh kok asik juga punya temen tentara pasti jago main free fire" cengengesan Aurel.


" Hahahaha ada–ada aja, jangan lupa besok kelas menembak harus semnagat yah jangan maluin aku" petuah Candra.


" Siap komandan" ucap Aurel antusias.


" Emang kamu bisa nembak beneran?" Tanya Candra ragu.


" Bisa dong, aku kan sering main free fire game tembak-tembakan itu jelas bisa dong" kata Aurel membanggakan dirinya.


" Hahahahah Aurel...Aurel...." Tawa Candra seketika lepas.


" Issh kok ketawa!!" Cemberut Aurel.


" Lagian senjata beneran di samain sama game" ejek Candra.


" Udah yah aku gak mau jadi temen kamu!!'' kata Aurel bersedekap dada.


" Jangan ngambek deh!" Goda Candra mencolek dagu Aurel.


" Apaan sih colek–colek!!!" Ucap Aurel menepis tangan Candra.


" Tambah cantik kalok lagi ngambek" bisik Candra pada telinga Aurel.


Membuat Aurel merona malu mendengar tuturan Candra yang begitu intens di telinganya


Kini mereka duduk berdua menikmati terik matahari yang kini perlahan mulai berganti dengan senja.


                         ****


Happy reading 🎉

__ADS_1


Semoga suka yah sama ceritanya maaf kalok ada salah ketik atau bagian yang tidak jelas ♥


__ADS_2