Love Scenario Gerani

Love Scenario Gerani
jiwa baru justin


__ADS_3

Cinta tidak pernah sesuai harapan, namun seindah kenyataan.


~gerani


Dari kemarin Gerani tidak bisa tidur, dua sudut itu terus terukir manis sampai pagi ini rasanya Gerani tidak sanggup keluar kamar sekedar untuk bertemu pandang dengan Justin.


Gerani lebih memilih untuk membersihkan diri dahulu, walaupun hari ini gerani tidak keluar Gerani tampil begitu cantik.


Berharap lelaki itu kali ini akan mengajaknya keluar atau sekedar mencari udara segar.


Setelah berjam-jam Gerani selesai dengan urusannya, akhirnya Gerani keluar dari kamarnya.


Menuju dapur dan tiba-tiba....


" Mau ngapain?" Suara bass yang begitu familiar ditelinga Gerani.


Gerani membalikan badannya, melihat Justin sudah rapi dengan kemeja berwarna biru Dongker dan celana jeans berwarna hitam.


" Em itu mau buat sarapan" balas Gerani.


" Kita sarapan diluar aja, sekalian jalan-jalan"


Gerani tidak bisa menahan senyum dibibirnya, harapannya akhirnya terwujud Gerani bersyukur lelaki ini telah berubah.


" Bentar, gue ambil tas dulu" Gerani langsung berlari menuju kamarnya dengan sumringah.


" Dasar..." Lirih Justin melihat tingkah Gerani yang begitu excited .


" Ayo" tidak berapa lama Gerani keluar.


" Kita mau makan dimana?" Tanya Gerani ketika mereka sedang berjalan menuju parkiran.


" Liat aja entar" balas Justin.


Sementara Gerani tersenyum, membayangkan bagaimana jika kali Justin memberinya kejutan tidak terduga?


Mereka akhirnya menaiki mobil Justin, Gerani tampak familiar dengan jalanan ini bukannya ini arah ke pantai yang kemarin Justin dan Gerani kunjungi.


" Kok ke sini? Emang ada makanan disini? Kenapa enggak di restoran aja? Lagian ini masih pagi kan–"


" Berisik! Udah ikut aja" Iyah Justin tetaplah justin yang menyebalkan.


Gerani memajukan bibirnya berapa centi, kesal dengan ungkapan Justin padanya.


Gerani mengekori Justin dari belakang dengan kesal, Gerani berjalan sambil mendengus kesal menendang–mendang pasir disetiap jalannya.


Dan memcak–mencak tidak jelas.


Brukkk


Justin tiba-tiba berhenti mendadak, membuat Gerani menabrak punggung Justin.


" Aduh sakit tau, bisa enggak berhenti pakek lampu merah?" Protes Gerani mengelus keningnya yang sakit.


" Ngapain?"


" Ngapain apa?" Tanya Gerani binggung.


" Enggak ada" Justin langsung meninggalkan Gerani dan melanjutkan langkahnya.


" Ihhh Justin nyebelin......" Teriak Gerani sambil mencak–mencak tidak jelas.


Gerani terdiam, melihat justin duduk disebuah meja dengan hiasan yang begitu indah mengarah pada arah pantai.


Dibawah pohon rindang yang besar itu, terdapat meja bernuasa putih dan beragam makanan khas Bali.


" Kenapa diem aja, enggak mau makan?" Tegur Justin.


" E..eh e.. enggak kok" Gerani lekas menjemput Justin, duduk didepannya.


Gerani tertegun melihat isi meja didepan hadapannya matanya berbinar-binar melihat berbagai jenis makanan yang menggiurkan.


" Cuman diliatin doang?" Tanya Justin.


" Heheh bentar lagi mendarat kok diperut gue" balas Gerani cengenges.

__ADS_1


Gerani makan dengan lahap, dirinya sudah menghabiskan tiga piring makanan yang berbeda.


" Ambilin itu, gue pengen itu" tunjuk Gerani pada sebuah pasta yang dekat dengan Justin.


" Masih belum kenyang?" Gerani menggeleng gelengngkan kepala.


Justin menyodorkan satu buah piring, dan langsung diambil oleh Gerani.


Gerani dengan semangat menghabiskan seluruh makannya.


" Ke....kenapa" gugup Gerani, ketika tangan Justin terulur menyentuh sudut bibirnya.


" Belepotan"


Gerani hany tersenyum kikuk, baginya memandangi wajah Justin dari dekat sama saja meminum racun.


Terserah kalian mau bilang Gerani lebay, tapi itu kenyataan.


Jantungnya bergerak poradis, ketika Justin telah selesai namun masih menatap lekat wajahnya.


Gerani mencumbana aroma Pinus Justin, rasanya begitu menghanyutkan hingga dirinya betah dengan situasi itu.


" Udah selesai?" Tanya Justin membuyarkan pikiran Gerani.


Ah Gerani terlalu terhanyut, hingga tidak menyadari lelaki itu sudah kembali duduk seperti awal mula.


" Ehh.. udah kok" balasnya gugup, "gue boleh minta sesuatu enggak?" Lanjut Gerani.


" Apa?" Tanya Justin.


" Gue minta panggil aku gue–elo aja, jujur gelik aja liat elo formal banget, mungkin dirumah sakit aja kayak gitu"


" Iyaudah" balas Justin," iyaudah ayok" lanjutnya.


" Mau kemana?"


" Jalan–jalan lah elo mau disini aja?"


" Enggak, iyaudah ayo" Gerani lekas bangkit dari duduknya, menyeimbangi jalannya dengan Justin.


Kini mereka berjalan ditepi pantai, dengan Gerani meneteng hellsnya memilih berjalan membasahi kaki nya.


" Gue jadi penasaran, sebenarnya elo punya mau cerita apa ke gue. Kapan mau cerita? Penasaran banget? Emang itu rahasia besar? Atau semacamnya ata–"


" Ran bisa enggak nanyak satu–satu" dengus Justin.


" Ya maaf namanya juga penasaran" cengenges Gerani seperti orang tidak berdosa.


Hening. Seketika hening mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.


" Suatu hari nanti gue bakal cerita, tapi yang pasti saat ini gue mau elo tetep disamping gue" ucap Justin memecahkan keheningan.


Gerani lantas mengarahkan pandangannya pada Justin.


" Kenapa?" Tanyanya mengerut kan keningnya.


" Elo tau sendiri"


" Enggak" balas Gerani pura–pura polos.


" Emang kenapa?" Pancing Gerani.


" Gue...gue... gue..."


" Gue apa sih Justin?"


" Gue suka sama elo"


Senyum Gerani merkah mendengar ucapan Justin, ditambah wajah Manajernya itu bushing ketika dirinya menggoda.


" Hahaha "


" Kok ketawa?"


" Abis lucu sih, liat tuh bulshing"

__ADS_1


" Berisik!"cerca Justin kemudian pergi meninggalkan Gerani.


" Yee ngambek" monolongnya," tungguin Justin..." Teriaknya.


Sementara yang dipanggil malah melambaikan tangannya.


Gerani mengejar justin, hingga akhirnya Gerani mendorong Justin ke tepi pantai membuat Justin basah.


Justin balas memercikkan air melalui tangannya pada Gerani.


Gerani tertawa bahagia hari ini, sungguh hal yang menggembirakan bisa tertawa dengan Justin manusia kulkas yang menjelma menjadi hangat seketika.


Mereka menghabiskan waktu bersama dengan ukiran senyum yang mengembang tiada henti.


Buana menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka.


———


Gerani dan Justin kini tengah berada dalam mobil, mereka sudah selesai dengan acara jalan-jalan singkat mereka.


" Angkasa yah?" Tebak Gerani.


" Iyah"


" Ada apa emangnya?"


" Ngasih tau jadwal acara aja" geraning ber oh ria menyimak jawaban Justin.


Mereka mengemudikan mobilnya kembali ke hotel, sebenarnya hari masih cukup panjang untuk bermain diluar.


Tapi tiba-tiba Gerani tidak ingin berjalan–jalan dan memilih untuk kembali ke hotel.


Sesampainya dihotel Gerani menikati secarik kopi di balkon, memandangi pemandangan yang menghiasi matanya.


Ditemani Justin yang juga sedang menikmati kopi buatan Gerani.


Gerani sesekali tersenyum melirik Justin, lelaki disampingnya kini adalah sumber kebahagiaannya.


" Aku ada sesuatu biar ditempat ini kita bisa mendapatkan keinginan kita kedepannya " suara Gerani memecahkan keheningan, Justin sontak menatap Gerani.


" caranya?" Tanya Justin binggung.


" Tunggu yah" Gerani berlari membawa kopinya beranjak menjauh dari Justin.


Tidak lama kemudian Gerani muncul.


" Sini" panggil Gerani yang kini tengah duduk di kursi dekat balkon tersebut.


" Buat apa ini?" Tanya Justin memegang kertas origami yang dibawa Gerani dengan dua buah bolpoint.


" Ini bye elo, tulis keingin elo di sini terus abis itu kita terbangun deh" seru Gerani antusian memberikan satu kertas berwarna pink pada Justin.


" Gue enggak suka warna pink ran"protes Justin.


" Adanya itu gimana dong?"


Justin menghela nafas berat, mau tidak mau dirinya harus menerimanya.


Gerani cengenges melihat ekspresi wajah Justin yang perlahan berubah.


" Udah buruan ditulis sana" titah Gerani.


Gerani mulai merangkai tiap-tiap kata dilembaran kertas tersebut, sama halnya dengan Justin yang begitu antusias.


Setelah selesai mereka membentuknya menjadi sebuah pesawat kecil nan mungil.


" Udah selesai? "


" Udah ran. Sekarang tinggal diterbangi kan?" Gerani mengangguk angguk mengiyakan pertanyaan justin.


Kini mereka bergerak mendekati balkon.


" Are you ready?" Tanya Justin.


Gerani mengangguk angguk," satu...dua.... tiga" titah Gerani.

__ADS_1


Justin dan Gerani kini tengah melepaskan pesawat mereka berkelana ke udara menuju sang pencipta alam.


Menepis terpaan angin membuat pesawat mereka beranjak menjauh dari padanganya.


__ADS_2