
Angkasa sibuk mempersiapkan acara launching restoran baru nya.
Beberapa pengusaha dan teman bisnis papanya hadir dalam acara tersebut.
Kini telah tersedia satu buah tumpeng berukuran besar sekaligus hiasan dari setiap sudut restoran.
" Hallo bro gimana kabarnya?" Seru lelaki itu.
" Gadak akhlak Lo yah, gue kira hantu lagian ngapai sih serba putih gitu baju Lo" kaget angkasa mendapati lelaki Dengan pakaian yang membuatnya risih.
" Suka–suka dong, heboh banget si Lo. Saya banget kan diacara elo gini gadak tamu specil" tukas lelaki itu.
" Maksud elo apa hah? Gue tau yah jalan pikiran elo"
" Hahahah kasian yah derita jones gadak bahagi–bahagianya, hidupnya gelap"
" Bodo yang penting gue ganteng banyak kali cewek yang antri buat jadi pacar gue"
" Kaca yang gue kasih dihadiah ulang tahun elo, dipakek kan?" Tanya lelaki itu.
Seakan mengerti dengan ucapan lelaki itu, angkasa langsung memukul punggung lelaki itu.
Hingga sang empunya meringis kesakitan dan memilih pergi meninggalkan angkasa.
" Dasar temen laknat, jahat banget sama babang angkasa" monolog angkasa dramatis.
" Maaf pak semuanya udah selesai, apa ada yang masih kurang?" Tanya pekerja angkasa.
" Sudah tidak ada, kalok gitu kalian istirahat aja" titahnya.
" Baik pak"
Justin merogoh kantongnya, mencari gawainya dirinya terlihat menscrool beberapa kontak.
" Elo dimana? Jangan lupa entar jam delapan malam"
"......"
" Lagi kencan yah? Hayoo"
"......"
" Elo mah...."
" Halo....haloo" teriak angkasa ketika tidak terdengar lagi suara sahabatnya itu.
__ADS_1
" Astaghfirullah, kenak azab baru tau elo yah asal matiin sepihak aja" ujar angkasa mengelus dada.
" Kenapa lu" lelaki itu kembali muncul, dengan membawa cake yang sedang dia nikmati.
" Wahh bagus yah, asal makan aja" angkasa berdecak pinggang.
" Galak amat, pantesan jomblo"
" Emang elo enggak jomblo hah?"
" Gue single enggak jomblo"
" Sama aja itu kampret"
"Bedalah"
" Bedanya dimana hah?"
" Gini nih, otaknya dibawah rata-rata jelas–jelas katanya berbeda ya pasti artinya beda jugak"
" Serah, bisa darah tinggi gue ngomong sama elo" lanjut angkasa pergi meninggalkan lelaki tersebut.
" Bodo amat" lelaki itu menjulurkan lidahnya.
***
" Sebentar lagi ran.." monolognya lirih menatap senja yang perlahan mulai menggelap.
Setengah jam usai, mereka bersiap-siap kini Gerani keluar dengan gaun panjang berwarna keemasan dengan belahan sedikit kebawah.
Justin tidak bisa mengelak jika malam ini gerani benar–benar sangat cantik.
Tapi Justin tetaplah Justin, dirinya mencoba mengontrol dirinya agar terlihat biasa saja.
" Kenapa ngeliatin terus? Jelek yah?" Tanya Gerani binggung, karena tanpa Justin duga sedari tadi matanya asik memperhatikan Gerani dari atas sampai bawah.
" E...enggak kok" balasnya gugup. Sila kenapa gue jadi gini lanjut Justin dalam hati merutuki kebodohannya.
" Iyaudah ayo buruan" titah Gerani, namun langkahan kaki Gerani terjatuh ketika Hells nya menginjak bawah gaunnya yang cukup panjang.
Refleks Justin menangkap tubuh Gerani yang hampir menyentuh tanah itu.
Duar......
Memang situasi tidak bersahabat pada Justin, susah payah Justin menahan agar terlihat biasa saja.
__ADS_1
Namun kini dirinya harus sedekat ini dengan Gerani, wajah Gerani ditatapnya tanpa lenkang.
" Ran elo cantik banget" suara Justin sembari tersenyum manis mengatakannya.
Ini setan mana yang masukin! Batin Gerani.
Tidak lama akhirnya Justin menyadari posisi mereka, hingga dirinya membantu Gerani berdiri kembali.
" Makasih" lirih Gerani canggung.
Mereka akhirnya berjalan menuju parkiran, selama dalam perjalanan tidak ada sama sekali dari mereka yang ingin membuat pecah suasana dingin ini.
Hingga akhirnya mobil Justin berhenti pada salah satu gedung yang cukup besar.
" Elo mau ikut masuk ran?"
" Enggak deh, gue mau ke supermarket itu Deket situ" Gerani menunjuk sebuah supermarket yang dekat dari gedung itu.
" Iyaudah, gue duluan ran nanti tunggu dimobil aja kalok gue belum balik"
" Iyah"
Gerani berjalan pelan menuju supermarket, sembari menunduk menjinjing gaunnya yang cukup panjang.
Namun ada kesan tersendiri bagi Gerani, nyatanya berkat gaun ini gerani mendapat pujian dari Justin.
Gerani sengaja tidak ingin Justin mengulang kata-kata nya karena dirinya yakin pasti lelaki itu terpesona dengannya.
Gerani sudah bela–belain berdandan se–perfect mungkin hanya untuk mendapatkan perhatian lelaki itu.
Brukkk
" Awww" ringis Gerani ketika dirinya menabrak seseorang.
" Aduh gimana sih mbak, jalan enggak liat–liat" omel lelaki itu.
Disini memang Gerani yang salah, tapi setidaknya lelaki itu bisa bukan membantunya berdiri? Bukan malah ngomel-ngomel.
" Biasa aja mas, bukannya bantuin malah ngomel-ngomel" cerca Gerani yang kemudian bangkit.
" Eh dasar bantet! Emang elo jugak yang salah kan dari tadi?" Sewot lelaki itu.
" Eh biasa aja dong, enggak usah ngeledekin ga sadar apa kalok tinggi Lo itu udah kelebihan batas alias overdosis" balas Gerani tidak mau kalah.
" Emang yah kalok ngomong sama orang yang bener beginian, udah tau salah bukannya minta maaf"
__ADS_1
" Bodo amat" balas gerani yang kemudian pergi meninggalkan lelaki itu.
" Emang dasar gadak akhlak, semoga gak ketemu lagi sama cewek model begituan" monolognya sembari mengelus dada.