
Gerani masih terdiam tidak percaya, lelaki itu seperti tahu akan isi benaknya.
Malam ini desiran ombak yang menerpa menjadi saksi bisu pertanyaan yang selama ini di pedamnya.
Tangan Gerani masih menggenggam bunga tulip beserta surat–surat itu.
Gerani juga binggung, binggung dengan perasaannya. Dan sekarang Gerani benar–benar yakin sikap yang ditunjukkan pada Justin selama ini karena ke kecewanya pada perlakuan Justin.
Tiba–tiba seorang anak kecil datang menghampirinya, " ini apa dek?" Tanya Gerani ketika anak kecil itu menyodorkan sebuah mahkota bunga yang begitu indah.
" Ini buat kakak, sini kak aku pasangin" Gerani merendahkan tubuhnya, tak lama kemudian sebuah mahkota bunga tulip asli melingkar dikepalanya.
Semerbak aroma harus bunga tulip itu menggelegar di Indar penciumannya.
" Ayok kak" anak kecil itu mengulurkan tangannya. Gerani pun menerima uluran tangannya.
Hingga akhirnya dirinya diboyong kesebuah tepi pantai, dengan sebuah kapal yang begitu indah dihiasi lampu–lampu berwarna warni disekitarnya.
Gerani melepaskan gandengan tangan anak kecil itu, dirinya menatap takjub dengan pandangan di depannya.
Gerani tidak pernah menyangka akan mendapatkan semua ini, dan satu hal Gerani masih tidak yakin jika semua ini adalah perbuatan Justin, hingga akhirnya itu semua terbukti.
" Ehemz, cuman mau diliatin aja enggak mau naik?" Seketika gerani membalikkan tubuhnya, mendapati Justin yang telah berdiri dibelakangnya.
Justin melangkah menaikkan kapal itu terlebih dahulu, kemudian mengulurkan tangannya pada Gerani," ayo"
Dengan ragu–ragu Gerani menerima uluran tangan itu.
Hingga akhirnya Justin membawa kapal kecil itu tepat berada di tengah laut, bintang–bintang yang begitu cerah kelihatan antusias menemani mereka.
Terlebih lagu suasana angin yang begitu bersahabat, membuat buraian air ombak berdesir lembut.
" Ran aku mau ngomong sama kamu" Gerani masih diam, tidak tahu apa yang akan dia jawab
__ADS_1
Dirinya syok plus tidak percaya semua ulah Justin.
" Maafin semua perlakuan aku selama ini, perlakuan kasar yang selalu buatmu menangis. Tapi kalo ini aku enggak mau menyesal untuk kedua kalinya" tangan justin bergerak menarik tangan Gerani.
Tangannya memegang erat tangan gadis didepannya, matanya menatap lekat gadis cantik itu.
" Aku selalu kasar sama kamu selama ini, itu karena hati aku nolak kamu masuk ke dalam hati aku ran, aku takut enggak bisa jagain kamu. Hingga pada akhirnya aku menemukan sebuah fakta bahwa kamu ngejauhin aku ran harusnya sih aku bahagia karena bisa bebas. Tapi ada rasa kehilangan dari diriku ran aku sadari itu sekarang"
" Kadang aku ngerasa iri dengan apa yang bisa buat kamu bahagia, dengan mereka yang bisa mengukir senyum mu sementara aku? Aku enggak bisa menghadirkan itu ketika kita bersama"
" Rasanya begitu sulit untukku membuat mu tersenyum saat disamping ku ran, hingga akhirnya kau malah terluka dengan sikapku. Aku minta maaf jika selama ini banyak sekali air matamu menetes karena aku"
Mata Gerani berkaca-kaca mendengar pengakuan tulus Justin, lelaki dingin dihadapannya ini kini bersikap jujur tanpa mementingkan gengsi.
Tak terasa buliran–buliran putih mengalir deras dipipi Gerani.
" Ran kok nangis?" Tanya Justin binggung sembari menghapus perlahan air mata Gerani.
" Gue terharu tau, Lo enggak sakit atau semacamnya kan? Atau jangan-jangan Lo lagi kerasukan?" Tanya Gerani tidak percaya.
" Tapi gue takut, kalok sewaktu–waktu Lo berubah. Lo kadang baik tapi sedetik kemudian Lo bentak–bentak gue"
" Enggak ran aku beneran. Maaf atas selama ini ran" Justin mengecup singkat kening Justin.
Membuat Gerani terdiam, astaga lelaki ini sungguh! Selain menyebalkan ternyata lelaki ini juga suka membuat hati Gerani jantung mendadak.
" Iyah gue maafin elo, tapi janji jangan kek gini lagi yah? Apa lagi sama orang lain" ujar Gerani menjulurkan jari kelingkingnya.
" Janji" ucap Justin menerima uluran jari kelingkingnya.
" Ran jadi gimana?" Tanya Justin.
Gerani mengerutkan keningnya. Gerani baru ingat soal perkataan Justin di surat itu.
__ADS_1
" Bantu aku yah ran untuk keluar dari semua ini, aku ngelakuin ini biar semuanya jelas suatu saat jika waktunya sudah pas aku akan menceritakan segalanya dan di hati itu juga aku siap mengikat mu"
Gerani hanya mengangguk-angguk, mengiyakan ucapan Justin membuat dirinya bergerak meringkuh tubuh mungil itu di dekapannya.
" Makasih ran, aku janji setelah ini kebahagiaan akan menjemput kita" bisik Gerani sembari mengelus rambutnya.
Senyum bahagia sedari tadi tidak bisa lepas, betapa bahagianya Gerani hari ini di tempat seindah ini gerani mendapatkan kejutan tidak terduga.
" Elo juga harus nurutin perintah gue sekarang, biar elo bener–bener berubah dan enggak kaku kayak gini. Serem " ujar Gerani ketika pelukannya terlepas.
" Serem–serem gini suka kan sama aku?" Goda justin.
" Ngeri yah? Gelik gue liatnya. Seorang justin manusia kulkas sok jaim"
" Hahahahaha..... Ini juga karena kamu ran" Justin tertawa kecil melihat ekspresi Gerani.
" Gak lucu!" Sarkas Gerani kesal.
" Ran "
" Hmm" sahut Gerani malas.
" Liat deh ke atas" Gerani mengalihkan pandangannya ke atas langit.
" Bintang itu kayak kamu ran, walaupun kecil dia tetep nerangi kegelapan yang luas dimana–mana, sama kayak hati aku yang selalu kamu Sinari ran" tunjuk Justin pada salah satu bintang yang bersinar terang.
" Tapi elo tau gak? Kenapa kadang sinar bintang itu meredup?"
Justin menggelengkan kepalanya," itu karena dia ngerasa sinarnya enggak bisa buat orang disekitarnya bahagia, maka dari itu kecewa dia adaptasi dari redupan sinarnya".
Justin tersenyum mendengar ucapan Gerani," enggak ran justru kamu selalu membuat kebahagiaan dihidupku, makasih karena pertemuan kecil yang terjadi diantara kita tuhan. Aku yakin garis itu menulis nama kita berdua"
" Makasih Justin, hari ini gue bener–bener bahagia banget" Gerani refleks memeluk justin. Kemudian Justin membalas pelukan justin begitu hangat.
__ADS_1
I love you my future wife, Kim Gerani Hell Mahendra. Ucap Justin dalam hati.