Love Scenario Gerani

Love Scenario Gerani
Bertemu keluarga Justin


__ADS_3

Pagi mereka berdua sudah bersipa–siap untuk kembali ke Jakarta. Meninggalkan semua kenangan indah dibali yandg kelak akan menjadi tumpuan ingatan mereka ketika badai menghantam.


Kini mereka telah berada di bandara, bersama dengan angkasa dan Hendra yang mengantarkan mereka ke bandara.


" Hati–hati yah bro, mungkin gue balik dua hari lagi karena masih ada urusan di sini" perjelas angkasa.


" Geraninya dijagain yah bang entar babang angkasa ambil Lo" goda angkasa.


" Bantet aja sok cantik" lirih Hendra.


" Elo bilang apa tadi hah?" Sahut Gerani yang mendengar samar–samar suara Hendra.


" Enggak ada, udah gak bener mungkin telinga Lo" elaknya.


" Telinga gue masih bagus yah, apa per—"


Omongan heran terpotong ketika justin menutup mulutnya, sontak Gerani kesal dan memberontak memukuli tangan Justin.


" Iyaudah sa gue pamit dulu, takutnya ada perang dunia ke empat" pamit Justin dan langsung pergi meninggalkan dua manusia itu.


Justin menyeret Gerani pergi dari dua manusia tersebut dengan masih menutup mulut gerani.


" Ihhh Justin nyebelin!!! " Seru Gerani ketika bekapannya terlepas.


" Udah dong sayang jangan cemberut, mau dicium hmm" goda justin yang langsung mendekatkan wajahnya.


" Gak usah sayang–sayangan" Gerani mendorong wajah Justin menjauh dari hadapannya.


Kemudian pergi meninggalkan justin dan mendahului memasuki pesawat.


Beberapa jam kemudian Pesawat mereka tiba di Bandara Soekarno–Hatta.


Gerani membawa kopernya pergi kerumahnya mengenakan taksi, menolak tawaran Justin untuk mengantarkannya.


Alasannya simpel, Justin sangat menyebalkan dan tidak pernah berpihak dengan Gerani.


Akhirnya Gerani sampai dirumah, dengan perasaan kesal.


" Astaghfirullah setaaaannnnn....." Teriak Gerani mendapati seorang gadis berbaju putih dengan wajah tertipu rambut.


" Geraaannniiii......." Teriak wanita. Tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat nya sendiri. Aurel menyibakkan rambutnya menatap garang Gerani.


" Aaa...Aurel?" Tanya Gerani gelagapan, Gerani sudah tahu bahwa aurel gadis galak yang didepannya sangat marah besar karena dua voucher yang telah dia beli hangus tidak terpakai.


" Elo itu kemana hah? Dari semalam gue nungguin elo dan semalam elo gak masuk kerja. Ngapain elo ke Bali sama justin? Honeymoon? " Amuk Aurel.


" Astaga rel gue jugak enggak mau, tapi itu tuh sih Justin maksa gue asal Lo tahu yah dia gendong gue yang belum apa-apa sampai kebandara"ucap Gerani


" Haha? Seriusan?"Kaget Aurel.


" Hmm" deheman Gerani malas melihat keterkejutan Aurel, " gue istirahat dulu capek banget bye" lanjutnya meninggalkan Aurel. Dia pasti tahu bahwa akan ada sesi interview setelah ini.


" Ehh...ehhh...Gerani gue belum siap ngomong" teriak Aurel melihat Gerani yang sudah naik ke lantai atas.


" Awas aja kalok enggak cerita besok, mending gue pulang" monolognya.


——


Keesokan paginya Gerani sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja kali ini dirinya berangkat pukul delapan karena memang jadwal di rumah sakit sedang free. Hanya menyiapkan beberapa dokumen sebagai relawan URK.


Gerani turun dari kamarnya untuk sarapan dan juga pagi ini pamannya mengunjunginya.


" Paman.." pekik gerani dari kejauhan melihat Robert di meja makan.


" Ekehm yang abis pulang dari Bali, sepertinya ada yang fall in love " ejek pamannya.


Gerani menghampiri pamannya dan duduk bersebelahan dengan pamannya.


" Harusnya paman itu yang nikah lagi " goda Gerani.


" Hahaha paman sudah tua, dan sekarang fokus paman hanya membesarkan mu saja" jelas pamannya.


" Apa perlu Gerani cari kan calon istri buat paman?" Tanyanya.


" Sudah–sudah cepat makan, nanti paman antar ke rumah sakit masih banyak data yang akan diurus" elak pamannya.


" Bibi akhi—akhir ini jarang ke rumah paman dirumah sakit juga jarang keliatan" ungkap Gerani penasaran.


" Ini kalok kerjaannya pacaran aja sama Justin jadi lupa sama sekeliling"


" Apaan sih paman, Gerani gadak apa–apa yah sama Justin"cemberut Gerani.

__ADS_1


" Bibi mu pergi pulang kampung katanya mamanya sakit parah, mungkin selama beberapa bulan baru kembali" jelasnya.


" Gerani kok enggak dikasih tau bibi sih?" Balas Gerani.


" Gimana mau ngasih tau orang sibuk jalan–jalan dipantai sama Justin berduaan"jelas Robert.


"Uhukk...uhukkk...uhukk..." Gerani tersedak roti Mendengar ungkapan pamannya.


" Pamann!!!!" Pekiknya, " jangan bilang paman mantau semua kegiatan Gerani selama di Bali" ****** malu kan gue sampek ubun–ubun. Lanjutnya dalam hati.


" Maybe" balas Robert ambigu sembari mengerjakan bahunya.


Paman dan keponakannya itu menyelesaikan sarapan pagi merila dengan penuh khidmat disertai godaan receh yang selalu pamannya lontarkan.


Seusai dengan sarapan mereka, pamannya mengantar Gerani menuju rumah sakit Mahendra.


" Selamat pagi pak" sapa Justin melihat Robert dan Gerani berada dihalaman rumah sakit.


" Pagi justin" senyum Robert.


" Gerani paman tinggal masuk dulu yah" pamit Robert mengacak rambut Gerani.


" Udah datang dari tadi?" Basa–basi Gerani yang sudah basi. Jelas jelas justun sudah tiba sedari tadi.


" Udah tadi beli bubur di warung depan, iyaudah yuk masuk ada pemeriksaan psikologis"info Justin.


" Iyaudah pak" serunya.


Mereka berjualan memasuki rumah sakit, kemudian memasuki ruang psikologis untuk menjalankan pemeriksaan.


Serangkaian pemeriksaan psikologis dan juga tes kesehatan tubuh serta vaknisasi memakan waktu yang cuku banyak.


" Gimana ran udah selesai?"


" Udah kok pak tinggal nunggu data–datanya aja lagi diproses"


" Ini udah jam makan siang ran, gimana kita makan diluar"


" Iyaudah ayo pa–"


" Enggak bisa pak Justin, hari ini gerani sama saya. Bapak kan udah dari kemarin bawa temen saya sekarang giliran saya" cekal Aurel.


" Apaan sih rel, astaga baperan banget. Mending elo makan sama Leon" sahut Gerani kesal.


" Nah itu masalahnya ****, gue udah putusin Leon gara–gara dia selingkuh." Ujarnya dramatis, " sekarang ikut gue ke kantin kita makan disana aja" lanjutnya menarik tangan Gerani.


Bukannya selesai sedari tadi malam temannya ini asik mengoceh hubungan nya dengan Leon sembari sekali–kali menangis menarik perhatian orang disekitar.


" Huaaa Lo tau gak Leon tega banget sama gue"umpatnya dramatis.


" Gue trauma buat pacaran lagi, emang dasar fuckboy huaaa" teriak Aurel.


" Huss jangan teriak–teriak gitu rel, malu tau gak diliatin orang" titah Gerani.


" Abisnya gue sedih setengah mati, separuh jiwa, separuh raga tersakiti"  ujarnya membuat Gerani mual dengan percakapan nya.


" Alay benget sih Lo" hardik Gerani.


" Lama–lama nasi goreng Lo itu bakalan ada kuahnya" seru Gerani.


" Bodo amat gue lagi sedih"


Gerani hanya terdiam tanpa menyantap makanan siangnya, sahabat nya satu ini memang benar-benar sudah tidak waras bisa bisanya dirinya berteriak histeris ditempat umum.


Alhasil Gerani jadi malu menjadi sorotan, sementara Aurel sibuk melemparkan sana sini tisu yang dia kenakan.


Akhirnya Gerani beruntung lepas dari Aurel, karena jam kerja nya sudah habis sementara Aurel dipanggil dokter Andre untuk mengerjakan beberapa tugas.


" Ran..raniii...." Teriak justin.


" Iyah ada apa pak?" Jawab Gerani.


" Nanti malam temenin saya kerumah orang tua saya" ucapannya to the point.


" Hah? Ngapain bapak ngajak saya?" Ungkap Gerani dengan keterkejutan.


" Sudahlah Rani, cukup temanin saya saya. Jam delapan saya jemput" jelas Justin yang langsung pergi meninggalkan Gerani dengan keterkejutan.


" Hah? Seenaknya aja bawak gue. Dikira gue siapanya cobak? Pembokatnya?"monolog Gerani.


Perlahan langit mulai menggelap, mentari telah pergi meninggalkan buana, kini kehitaman bernuansa menjajari suasana Jakarta.

__ADS_1


Tin.. tin...


" Itu pasti mobil justin" monolog nya.


" Bi Gerani pamit pigi dulu yah"pamitnya pada pembantu rumah tangga.


" Iyah non hati–hati"


Gerani keluar mengenakan pakaian santai.


" Cepet banget" ujar Gerani ketika memasuki mobil.


" Jakarta macet ran kita harus cepetan dikit"


" Oke"


Hening. Tiada satupun dari mereka ingin membuka obrolan walaupun hanya sekedar menyapa. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Gerani yang masih berpikir kenapa Justin membawanya, toh itu rumah dia sendiri bukannya kerumah tanpa harus membawa teman?.


Stop. Gerani tidak akan berpikiran macam-macam, sakit rasanya sudah terbang ke langit ketujuh terus di jatuhin gak pakek pengaman, kan gak lucu?


Mobil Justin berhenti pada sebuah rumah dengan halaman yang begitu luas, bahkan dua kali lipat dibanding halaman Gerani dengan pondasi kokoh yang menopang gedung putih besar itu.


" Assalamualaikum mama" sapa Justin.


" Waalaikumsalam, akhirnya kamu pulang jugak mama kirs udah keluar dari KK"


" Emang mama mau? Kehilangan anak mama yang paling ganteng gini"


" Ganteng dilihat dari 9 tikungan 8 tanjakan 7 belokan" tukas anak kecil disebelahnya mamanya.


" Loh ini siapa?"tanya mama justin.


" Ini rekan aku ma"


" Hallo Tante, Gerani" ucap Gerani memperkenalkan dirinya.


" Ratna mamanya justin, ini namanya puspa adiknya Justin"


" Hallo cecan nama aku Puspa" seru Puspa memperkenalkan dirinya.


" Iyaudah ayo masuk, pasti udah pada lapar"


" Paa...papa anak kita bawa calon mantu ini pa"teriak Ratna dari ruang tamu.


" Mamaaaa" pekik Justin.


Faro. Ayah Justin pun langsung mendekati sumber asal keributan itu yang membawa bawa namanya.


" Ya ampun cantiknya, jadi kapan ini nikahnya, bulan depan gimana? Papa udah ga sabar punya cucu" cerocos Faro.


Sementara Gerani hanya terdiam, malu. Tidak tahu apa yang akan dia katakan.


" Pa ini gerani rekan kerja aku di rumah sakit"perjelas Justin.


" Sekarang rekan kerja, beso–besok juga jadi istri Iyah kan pa?" Tanya Ratna meminta persetujuan Faro.


" Iyah bener itu ma"


" Aduh papa mama, ayo dong makan Puspa udah lapar kasian Lo cecannya bulshing digodain terus" untung saja anak kecil berusia sepuluh tahun ini bisa menyelamatkan Gerani.


" Ahh Iyah sayang kamu bener" kata Ratna, " iyaudah sudah ayo makan" lanjutnya.


Mereka makan dengan khidmat, hingga akhirnya makan malam mereka selesai Gerani merasa bahagia karena orang tua Justin menerimanya dengan baik, ini kali pertama Gerani makan bersama seperti keluarga ini setelah bertahun-tahun.


" Pa ma Justin mau izin ke urk jadi relawan disana mungkin sekitar beberapa bulan" ucap Justin memberitahukan niat kedatangannya kerumah.


" Iyaudah hati–hati disana yah jaga kesehatan, calon mantu mama ikut juga?" Tanya Ratna pada Gerani.


" Iyah Tante, kebetulan Gerani wakil ketuanya" ujarnya.


" Wahh udah kayak prangko aja, nempel terus" goda Ratna.


" Iyaudah ma Justin pamit pulang dulu, kasian kalok Gerani pulang nya kemalaman"


" Iyaudah hati–hati kamu, jagain mantu papa" petuah Faro.


" Gerani pamit pulang Tante om Puspa" pamit Gerani mencium kedua punggung tangan orang tua Gerani.


                            ***

__ADS_1


__ADS_2