
Ketika keberadaan cinta tersamarkan oleh ego.
Rasa sakit itu selamanya abadi.
~angksa
Langit perlahan mulai memerah,mentari tampak mulai tutup waktu sebentar lagi kegelapan akan menyambar langit.
Sementara Gerani masih terduduk disebuah kursi taman berwarna putih.
Menatap nanar kehidupan nya yang begitu dramatis mengurasa banyak deraian air mata jika mengingat nya.
Semua kiasan kuasa kebahagiaan itu hanya singgah tanpa ada satupun ingin menetap.
Sekarang dunianya benar benar sendiri.
—
"Gue enggak nyangka kalok club' gue kedatangan orang terhormat seperti elo"
"Sudahlah Rik jangan banyak bicara"
"Baiklah,apa yang Lo butuhi ? Wanita?"
"Aku datang tidak untuk itu,dan jangan ada satupun wanita yang mendekati ku,aku jijik melihat mereka"
"Baiklah tuan Justin, sekarang apa yang membuat mu menginjakan kakimu diclub gue"
"Tolong ambilkan aku wine"
Eric memberikan sebotol wine pada Justin dan langsung diminum nya tanpa cangkir.
"Wah keliatan nya Lo bener bener frustasi"
"Entahlah aku juga bingung,apa aku sudah gila atau gimana" lanjutnya kembali meneguk wine ditangannya.
"Justin! Udah berhenti elo itu enggak usah sok kuat minum deh udah berhenti"
"Gerani,kenapa kau menangis? Maaf aku menyakitimu" ucapannya meracau tak jelas.
Seorang wanita berambut coklat,dengan pakaian sexy mendekat pada Justin mencoba menggoda nya,"pergi kamu bukan Gerani" Justin menyekal tangan gadis itu yang mencoba menyentuh tangannya.
"Maaf tolong tinggalkan dia sendiri"titah Erik.
"Dasar bayi menyebalkan"
Erik nampak mencari sebuah nama pada gawainya.
"Halo sa elo bisa ke club' gue,Justin mabuk"
"......"
"Iyah, cepetan males gue ngurusin dia, ngerepotin aja baru juga datang udah mabuk"
"......"
"Hahahah elo bisa aja, iyaudah otw "
Beberapa jam kemudian angkas akhirnya datang juga disalah club' terbesar dipusat Jakarta.
Mendapati Justin yang sedang meracu tidak jelas,dan jangan lupakan bahwa dia selalu memanggil nama Gerani disetiap racauannya.
"Gerani apa saya menakuti mu"
"Ahh Gerani kau mirip Dora,tunjukan jalan pulang" racauannya tak jelas sambil menunjuk bujuk botol wine yang sedang dipegangnya.
"Maafkan aku Gerani" raut wajah Justin tiba tiba berubah menjadi muram,air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Lihat temanamu angkasa,gue rasa dia sedang kasmaran"
"Gue tau,dan elo tau kenapa dia kek gini kan?"
"Jelas itu karena egonya. Gue rasa wanita itu punya dayatarik sampai sampai temanmu ini jadi seperti ini"
"Gue jugak ngerasa gitu,gimana kalok elo bantuin gue"
"Bantuin apa?" Angkasa mengedip kan sebelah matanya pada Erik.
"Enggak usah kayak gay deh! Gue jijik *****"
"Hehehe gue masih normal bro,ambil hpnya Justin terus telepon Gerani bilang kalok Justin mabuk,biar dia aja yang bawa ke apartemen dengan begitu racauan Justin bakal didenger langsung sama Gerani"
"Gotcha,ini otak jenis banget" tukas Erik sambil menokok kepala angkasa
" Woy don't touch me, ini rangka limetid edition"
"Bagus juga kepala kambing dari pada kepala lu"
"Udah jangan banyak bacot,buruan lakuin"
Erike merogo kantong celana Justin, memanggil Gerani namun nihil nama gerani tidak ditemukan.
"Sa gadak yang namanya Gerani dikontak dia"lanjut Erik yang sudah mengecek berkali-kali.
"Seriusan Lo,sini cobak gue liat"angkas merebut handphone dari tangan Erik menscrool perlahan kebawa.
Hingga angkasa berhenti pada satu nama kontak yang dia yakini bahwa itu Gerani.
Kepala udang tolol🐽
"Liat deh,gue rasa ini dia"ujar angkasa memperlihatkan nama kontak itu.
"Masak namanya begituan? Absurd banget temen lu bukannya namanya dibuat agak si sweet gitu ini malah giniana"
"Sekarang elo tau kan kalok dia aneh? Hahahaha" mereka berdua tertawa geli seperti orang tak punya dosa.
"Buruan telepon"
"Hallo apa ini rekan kerja Justin"
"........"
"Kebetulan Justin mabuk,dan saya hanya bisa menghubungi disini"
"........."
"Oke akan saya share loc"
"Apa katanya Rik"
"Gue punya feeling kalok cewek ini sih jugak ada feel sama Justin,gue gak nyuruh dia kesini kan cuman ngasih tau dia malah langsung mau datang keknya Panik sih"
"Baguslah"
__ADS_1
"Ceritanya jadi Mak comblang?"tanya Erik cengengesan.
"Hahahaha ngajarin dia gimana caranya menikmati hidup"tukasnya sambil menepuk bahu Erik,"gue pergi dulu"
"Mau kemana Lo"
"Belajar menikmati hidup selagi muda" ujarnya melambaikan tangan
"Dasar play boy kelas kakap cap pantat **** lah yang satunya jomblo tingkat dewa cap abadi,dasar dua sejoli gak beres!" Ujarnya bermonolog kesal melihat dua sejoli ini yang banding berbalik.
****
Beberapa jam kemudian Gerani mendatagi sebuah club terbesar disalah satu pusat kota Jakarta.
Semua mata menatap heran padanya,mungkin karena Gerani masih memakai jas dokter.
Sehingga Gerani menjadi pusat perhatian,hingga maniaknya mengajar seseorang yang melambaikan tangan padanya.
Jangan lupakan seorang pemuda yang meracau tak jelas dibar. Siapa lagi kalau bukan Justin.
Sekarang hobynya bertambah,selain menyebalkan Gerani rasa sekarang dia mulai merepotkan.
"Hei disini" serunya.
Gerani akhirnya mendatangi lelaki itu karena tak mau lama lama menjadi sorotan para lelaki mata keranjang.
"Astaga pak Justin mabuk? Ternyata bapak selain nyebelin ngerepotin jugak yah"omelnya melihat Justin seperti orang gila.
"Dora sudah datang...tunjukan diamana Spongebob"
"Fixs kebanyakan korban kartun"
"Lo Gerani kan? Gue Erik temannya Justin " Erik menjulurkan tangannya dan disambut oleh Gerani.
"Gue Gerani rekannya justin.Iyahudah makasih yah maaf ngerepotin kalok gitu gue permisi dulu"
"Oke sampai jumpa lagi"
Dengan susah payah gerani membopong tubuh kekar Justin.
Oh sangat menyebalkan,dan itu lebih sangat sangat menyebalkan saat Gerani susah payah membopong nya Justin malah cengengesan bermain dengan rambut Gerani.
"Bisa enggak jangan kek gitu"Gerani menepis tangan Justin.
Namun Justin lagi lagi mengulanginya.
"Justiiiiinnnnn!" Gerani menyentil jidat Justin,sang empunya meringis kesakitan barulah.
Selama perjalan Gerani berkali-kali menggeleng gelengkan kepala akibat kelakuan Justin yang tak jelas.
Sungguh konyol, rasanya Gerani ingin sekalimerekamnya lalu menyebarkan di website rumah sakit sebagai balas dendamnya.
Tapi Gerani masih punya hati,tidak seperti manajernya ingat itu!.
"Gerani...kamu itu yah" Justin meracau lagi
"Dasar, udah mabuk jugak masih aja sempetnya marahin aku,awas cinta entar pak" gumamnya sambil memeloto Justin yang berada disampingnya.
Tak selang beberapa lama Gerani tiba diaparteman Justin.
"Pak ini kodenya apaan"
"Upin Ipin, Spongebob Squarepants,Dora aku mau Dora"
"Ya kalik kode apartemen kayak deretan judul kartun, ngerepotin tau gak sih ah"
"Upin Ipin, Spongebob Squarepants,Dora katakan peta"kedua kalinya Justin mengulangi kata yang sama.
"Hah seriusan pak?" Gerani menatap tak percaya lelaki yang disampingnya itu.
Positif thinking Gerani mencoba memasukkan nya, dam it itu beneran berhasil. Tapi kalimat yang terakhir salah.
Untung Gerani jenius,dengan mengurangi jumlah kalimat terakhir dan tada terbuka,hadeh bener bener aneh banget sumpah.
Pantas saja hanya dia yang mengetahuinya,toh kodenya juga aneh.
Gerani membopong tubuh kekar itu menuju sebuah kamar,jujur Gerani cukup lelah menopang tubuh itu Berjam jam terlebih lagi dengan fostur tubuh nya yang tidak tinggi.
"Ahh akhirnya sampai juga,nyusahin aja sih Lo manusia dari kutub Utara" Gerani menghempaskan tubuh Justin diatas ranjang.
Saat Gerani hendak meninggalkan ruangan itu, tangannya dicekal.
"Tunggu" lelaki itu bangkit , terduduk diatas ranjang. Siapa lagi kalu bukan Justin.
Gerani hanya mengerutkan alisnya, memastikan apakah manajernya ini sedang mabuk?
"Tolong temanin aku Gerani,maafkan aku atas kejadian tadi dirumah sakit"
"Emm Iyah Iyah enggak papa pak,maaf pak saya pulang dulu lebih baik bapak istirahat bapak keknya masih mabuk deh" Gerani bersikap sebaik mungkin takut terjadi apa apa dengannya, pasalnya orang mabuk lebih menyeramkan karena diluar control.
Saat Gerani ingin melepaskan cengkramannya itu, Justru tangannya ditarik sampai gerani terjatuh diatas tubuh kekar Justin.
Degg
Saat itu juga jantung Gerani diambang batas detak jantung,kalau saja tidak ada tulang rusuk pasti jantung nya sudah copot lari entah kemana.
Tangan Justin bergerak mengelus rambut panjang itu,matanya menatap jelas kornea Gerani.
Astaga Justin benar benar tampan, beruntung Gerani dapat melihat senyum itu dengan begitu dekat.
"Ran aku enggak mabuk,aku minta maaf"
Gerani hanya terdiam,tubuhnya bergetar hebat dan sekarang jatungnya sedang mengadakan party tentu saja dentuman itu pasti bisa Justin dengarkan karena jarak mereka yang begitu dekat.
"Maaf membuatmu menangis ran,kumohon temani aku disini ran"
Entah setan apa yang merasuki Gerani hingga kepala tokonya itu mengangguk.
Sekarang mereka sedang dalam situasi yang sulit diartikan, perlahan kesadaran mereka telah hanyut terbawa alam bawah sadar.
***
Keesokan harinya Justin terbangun dahulu, merasakan sesuatu aneh yang sedang dia peluk.
Betapa kagetnya dia jika sekarang sedang dalam posisi memeluk pinggang Gerani.
Perlahan Justin melepaskan cengkramannya,tidak dia tidak ingin Gerani menguasainya.
Namun,semua itu gagal ketika sang empunya terbangun oh dan tentu saja Gerani kaget terlebih dahulu dan berteriak.
"Astaga....dasar cabul....."Gerani langsung bangkit dan melempar apa saja yang ada didekatnya.
"Maksud kamu apa? Jelas jelaa kamu yang tidur di ranjang saya kan?" Bela Justin.
__ADS_1
"Asal bapak tau yah ini semua permintaan bapak yah"
"Jangan Ngada Ngada deh,bilang aja kamu itu emang cari kesempatan"
"Apa? Bapak ini yah enggak tau terima kasih"Gerani memukuli Justin menggunakan bantal guling.
"Aw siniin enggak,bisa rusak bantal saya kamu buat"
"Enggak mau,bodo amat rusak orang enggak tau terima kasih emang harus digituin biar sadar kepalanya"
Alhasil terjadilah aksi tarik tarikan dipagi hari disebuh ranjang yang kini sudah seperti terkena tsunami.
"Kamu berani melawan saya?"
"Bodo amat,nih ****** rasain"Gerani memuku kepala Justin menggunakan bantal guling tersebut
"Siniin enggak"
"Gak mau" sekuat tenaga Justin menarik bantal tersebut hingga Gerani terangkat karena tenaga justin cukup kuat.
Wel posisi mereka sekarang Gerani berada diatas tubuh Justin berbatasan dengan batal guling tersebut.
Duarrr
Gini kan diam Kelen, pusing autor berantem Mulu
Dua bola mata itu kini saling beradu pandang,mata berwarna coklat itu tampak indah noberseri dibawah sinar mentari pagi. Wajah khas bangun tidur itu begitu tampan.
Sesaat mereka saling bertatapan seolah saling memberi isyarat pada bola mata mereka tentang apa yang mereka rasakan dan alami.
Tatapan yang begitu dalam,hingga akhirnya..
"Astaghfirullah.....pagi pagi udah mesum" sontak suara itu menyadarkan mereka dari posisi sekarang dan cepat cepat beranjak.
"Ehemz maaf sa e—emm gue duluan" malu. Itulah yang dirasakan Gerani saat itu tidak bisa berkata lagi saat angkasa memperegoki mereka dengan situasi yang tidak tepat.
"Ngapain kesini sih sa"Justin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.reaksi maling yang sudah ketangkap basah.
"Gila kuy diem diem makan ban dalam gak nyangka gue mah sama Lo,gimana seru gak? Hem?" Goda angkas.
"Apaan sih,keluar sekarang juga"Justin mendorong angkasa keluar dari kamarnya.
Justin mengunci rapat rapat pintunya, akhirnya Justin bisa bernafas lega.
"Woyy gue lapar,gue kesini mau cari makan"teriak angkasa dari balik pintu
"Percuma punya restoran tapi yang punya miskin makanan kan? Udah gila apa gimana?"
"Yeelah elo mah pelit amat,mentang mentang lagi kasmaran temen ditelantarin awas elo kalok minta bantuan gue lagi"
"Aku enggak pernah minta bantuan kamu sa,satulagi apa kita teman?"
Skakmat loh kan.
"Itu mulut bener bener yah pengen gue tampol"monolog angkasa geram melihat Justin akhirnya dia memutuskan kembali dari pada sakit hati untuk kesekian kalinya.
Justin merebahkan kembali tubuhnya diatas ranjang, mengulang ingatanya kembali pada kemarin malam.
Wajah itu dipandang nya dari dekat,mata bulatnya dengan pipi gembul nya tampak cocok untuknya ditambah dengan gingsul yang menambah manis wajah itu.
Kim Gerani Hell Mahendra pemilik wajah itu.
"Astaga Justin,jangan—jangan pernah pikiran cewek itu" Justin bangkit dari ranjangnya mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Lebih baik aku mandi saja,pikiranku benar benar kacau"Justin meuju kamar mandi mengguyurkan tubuhnya dengan shower.
Benar saja saat Justin mencoba memejamkan matanya merilekskan pikiran nya,malah wajah Gerani muncul kembali.
Sontak Justin gagal fokus,memilih memberhentikan aksi drama mandi paginya dan bergegas kerumah sakit.
—
"Rani......"teriak Aurel dari kejauhan yang melihat Gerani baru saja turun dari taksi.
"Rel ada apa?"
"Kemana aja sih? Mau ikut aku enggak entar malam. Aku ada party"
"Enggak deh rel aku lagi sibuk"
"Sibuk kenapa jugak? Gak asik mah biasanya paling antusias kalok urusan party" Aurel merasa aneh dengan sahabat nya satu ini pasalnya Gerani adalah "ratu pesta" dan ini pertama kalinya Gerani menolaknya.
What? Are you sure?
"Tapi aku emang lagi enggak enak badan aja butuh istirahat"kalian pasti tau kan kenapa Gerani tiba-tiba menjadi seperti ini.
"Eh itu ada manajer Lo,baru datang keknya"
Tanpa menoleh,Gerani langsung meninggalkan tempat itu mendengar nama itu disebutkan.
"Ran...kok ditinggali sih" teriak Aurel yang melihat Gerani sudah pergi meninggalkan nya.
"Good morning dokter Justin"sapa Aurel yang melihat Justin yang baru saja sampai.
"Too"
Tanpa ba bi Bu dari perkataan itu Justin langsung pergi meninggalkan,bahkan senyuman Aurel hanya dibalas dengan tatapan mata saja.
"Etdah buset,dicuekin wahahahah"Aurel menangis dramatis plus lebay.
"Ganteng ganteng gadak akhlak, nyakitin hati cewek aja,sakit hati Adek bang dicuekin" monolognya.
Justin melangkah masuk kedalam rumah sakit, mencari Gerani yang kelihatan nya menghindar dari Justin.
"Gerani...tunggu" teriak Justin yang menemukan punggung gadis itu.
Bukannya berhenti malah pergerakan nya semakin cepat,"******! Pura pura gak denger ran,pura pura"Gerani memukul jidatnya dengan tangan. Frustasi.
"Gerani berhenti!"bentak Justin. Kali ini gerani berhenti entah kenapa langkahnya menjadi berat.
"Kenapa kamu menghindari saya" namun Gerani hanya tertunduk.
"Jawab Gerani!"
"Maaf pak saya tidak dengar,saya duluan pak. Permisi" Gerani masih saja menundukan kepalanya entah mengapa setiap kata yang Gerani lontarkan begitu berat.
Gerani memilih pergi dari keadaan itu,dia tidak mau bertanggung jawab lagi atas perasaan nya yang kacau nantinya.
Justin mencekal tangan Gerani,"tunggu jangan pergi ran,aku belum selesai"
"Maaf pak saya mohon jangan libatkan masalah tadi dalam pekerjaan,saya tau saya bodoh sampai sampai berani satu ranjang sama bapak,tapi pak itu permintaan bapak dan juga itu sudah malam. Harusnya saat itu saya sadar kalau bapak sedang mabuk. Tolong pak jangan hanya bisa memarahin saya,saya melakukan itu juga atas dasar bapak" Gerani mencekal tangan Justin dan pergi dari hadapannya dengan wajah yang masih menunduk,linangan air mata itu pasti terlihat oleh Justin.
Maafkan aku ran, berkali-kali aku membuatmu menangis,maaf karena kamu berkali-kali terluka,kamu berhasil ran. Kamu berhasil menerobos masuk batin Justin
__ADS_1
Justin menatap sendu punggung gadis itu yang perlahan menjauh dari sisinya.
***