Love Scenario Gerani

Love Scenario Gerani
menjauh sebelum jatuh


__ADS_3

Pagi ini mati gerani sembab, Gerani sudah berusaha untuk mengompres matanya dengan es batu namun sialnya tetap saja kelihatan.


Akhirnya Gerani memutuskan memakai kacamata hitam.


Alay? Itu bukan akar masalahnya, hanya saja Gerani tidak ingin Justin mengetahuinya.


Bisa–bisa Justin besar kepala karena mampu membuatnya kalang kabut dengan sikapnya sampai–sampai Gerani terluka begitu larut.


" Astaghfirullah, mau piknik Lo? Udah gila kalik yah! Kerja pakek kacamata, salah jalur neng"


"Sutttt bising amat sih Lo, kek kaleng rombeng lama–lama mulut Lo "


" Lagian Lo juga sih aneh, ngapain coba kayak gitu? Sinting Lo yah?"


"Iyah gue udah sinting, bye" Gerani langsung meninggalkan Aurel yang membuatnya kesal.


" Bentar lagi nih yah ada kabar, penerus tunggal rumah sakit Mahendra dikabarkan sinting gara–gara manajer baru" monolog Aurel.


Semua, mata memandang aneh terhadap Gerani.


Pandangan mereka menyorot pada kacamata hitam yang sedang digunakan Gerani.


Gerani langsung buru-buru masuk ruangan nya karena jujur Gerani tidak ingin menjadi pusat perhatian karena aksinya.


" Ini semua gara–gara Justin, gue jadi kayak gini. Ini jugak matanya harus banget pakek acara nangis–nangisan" dumelnya, memandangi bola matanya di cermin yang digenggamnya.


" Lupa. Gue ada jadwal operasi lagi" lirik Gerani pada jam dinding, mendapati jarum panjang pada pukul delapan, Gerani langsung buru-buru pergi keruang operasi.


Sesampainya diruang operasi, Gerani mengganti pakaiannya dengan pakaian bedah berwarna biru Dongker, dengan masker yang masih dipegangnya.


Saat Gerani ingin memasuki ruang operasi, dan berbalik meninggalkan ruang ganti. Tampak Justin datang dari kejauhan.


Sontak Gerani langsung mengalihkan fungsi maskernya.


Saat ini maskernya, menutupi matanya.


" Ran–" panggil Gerani.


" Sudah cukup pak, saya tau bapak pasti mau mencela saya kan? karena saya salah pakai masker ini. Suka–suka saya. Jangan ikut campur" Gerani langsung pergi meninggalkan Justin dengan mata tertutup masker, meraba-raba dinding agar tidak terjatuh.


Setelah membelakangi Justin, Gerani langsung melepaskan masker dimatanya.


Gerani langsung mencuci tangannya, dan menggunakan sarung tangan bedah.


" Ran maaf, aku mohon beri aku kesempatan. Aku yakin kau bisa menggantikan posisi dia" monolog Justin.


Operasi yang mereka jalanin terasa canggung, para perawat yang ada saat operasi pun menatap aneh pada keduanya.


Untung saja mata sembab Gerani sudah tidak kelihatan lagi.


" Dokter Gerani, akan ada rapat dadakan 15 menit lagi"


" Rapat dadakan? Ada apa perawat chai?"


"Saya tidak tahu dok, saya hanya menyampaikan informasi saja"


"Baiklah kalau begitu, terimakasih"


"Sama–sama" perawat chai langsung meninggalkan Gerani beserta Justin yang disampingnya.


Gerani juga langsung pergi meninggalkan justin, tanpa ada perkataan sama sekali.


Justin hanya memandangi punggung gadis itu yang perlahan menjauh.


Rasanya ada yang sedikit berbeda setelah, Justin benar–benar diacuhkan.


" Kukira keegoisan ini telah berakhir ran, tapi malah semakin dalam"monolognya.


Justin ikut pergi meninggalkan, ruangan operasi.


——


Wakin direktur Andini telah berdiri dipodium, para dokter sekarang telah berkumpul diruanga rapat.


" Selamat siang, sebelumnya saya disini menggantikan ketua yang sekarang sedang keluar kota. Maka dari itu saya akan menyampaikan sedikit informasi" jelas Andini membuka pemberitahuan.


" Rumah sakit kita akan, mengirimkan beberapa relawan. Ini adalah pertama kalinya bagi rumah sakit kita. Kami harap para dokter yang telah ditunjuk dapat berkontribusi secara andil dalam hal ini"


" Para relawan akan mengirimkan relawan dalam jangka waktu cukup lama berhubung jaraknya begitu jauh, yaitu urk"

__ADS_1


Semua terbelalak tak percaya mendengarnya, urk? Sungguh begitu jauh dari Indonesia.


" Saya akan memilih dokter Justin sebagai ketua relawan dan Gerani sebagi wakil ketua relawa. Dan nama–nama untuk anggota relawan akan dipampang pada dinding informasi rumah sakit setelah rapat ini selesai"


"Apa ada yang ingin ditanyakan?"


Kali ini gerani mengangkat tangannya," maaf jika boleh saya tau, kenapa yang dikirim justru para dokter senior?"


" Pertanyaan bagus, rumah sakit kita telah bekerja sama dengan negara urk, maka dari itu kita akan mengirimkan tim medis terbaik. Itulah yang disampaikan ketua pada saya. Dan juga disana kalian semua akan membantu para TNI yang berada disana"


" Selamat siang" Andini mengakhiri pertemuan rapat singkat tersebut dan segera meninggalkan ruangan rapat.


" Hidup ini memang penuh kejutan" bisik dokter Albert pada dokter Andre yang masih berada diruangan.


"Tunggu dokter Justin"panggil dokter Andre yang ingin beranjak pergi.


" Ada apa?"


"Ikut keruangan saya sekarang, ada hal penting yang ingin saya sampaikan" titah dokter Andre yang langsung beranjak dari duduknya.


" Kan ditinggalin lagi, lama–lama si tua satu itu buat darah tinggi naik terus" gerutu dokter Albert


Justin mengikuti dokter Andre keruangan nya, Justin mengerutkan keningnya tidak mengerti mengapa dirinya dibawa keruangan dokter Andre.


Perihal apapun yang ingin dibicarakan dokter Andre, tampaknya begitu serius.


" Silahkan duduk dulu dokter Justin " tawar Dokter Andre, sementara Justin langsung mematuhi titahnya.


" Jadi ada urusan apa, membawa ku kesini?" Tanya Justin tanpa banyak basa-basi.


" Kau ingat dua hari yang lalu Gerani pigsan selama lebih dari 10 jam?"


" Kenapa?" Justin mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


" Aku sempat mengambil stempel darah Gerani, ini silahkan baca ini. Aku hanya minta satu hal padamu. Saat nanti di urk jaga Gerani baik–baik, dia dalam bahaya aku menyadarinya"


" Kenapa harus aku?"


" Karena dirimu lah yang menginginkan kannya" ujar dokter Andre yang berdiri meletakan sebuah map berwarna coklat, kemudian menepuk bahu Justin lantas pergi meninggalkan.


Flashback on


Alhasil Justin harus meng-handle seluruh operasi sendirian.


Setibanya di sana, tak ada suara-suara tanpa kepemilikan penghuni.


Justin menekan–nekan bel berkali-kali namun tak jua ada sahutan.


Justin mencoba membuka pintu rumah Gerani, dan ternyata itu tidak dikunci.


Justin memasuki lantai dua, tepat kearah kamar Gerani.


Betapa kagetnya Justin, mendapati Gerani tergeletak dilantai.


" Ran bangun ran...."


Gerani masih mengerjapkan matanya, sebelum akhirnya kegelapan melanda.


" Ran aku mohon ran bangun....jangan kayak gini ran...." Gerutu justin sambil menepuk-nepuk pipi Gerani berharap mendapatkan kesadarannya kembali.


Akhirnya Gerani dirujuk kerumah sakit, sesampainya disana dirinya langsung yang turun tangan mengecek kondisi Gerani.


Flashback off


Justin masih terduduk, pandangan nya terarah pada sebuah amplop coklat dihadapan nya kini.


Tangannya terulur, mengeluarkan sebuah kertas hasil pemeriksaan.


" Tiniumbenubital? Ternyata dugaan ku benar. Tapi kenapa hasilnya berbeda kemarin?" Monolongnya


Justin meremas kertas hasil pemeriksaan itu menjadi remuk, rahangnya mengeras.


Justin keluar dari ruangan dokter Andre, melemparkan kertas itu asal.


" Geraniii..." Teriak Justin yang melihat Gerani melintas dihadapannya.


" Kan mampu gue, kenapa coba harus ketemu manusia kulkas" monolog Gerani,. kemudian menoleh kebelakang tampak Justin mengarah padanya.


Namun Gerani langsung bergegas bergerak pergi, itu keinginannya.

__ADS_1


Sebelum tangannya berhasil dicekal oleh Justin.


" Mau kemana kamu ran, saya memanggil kamu"


" Maaf pak tapi saya mau meriksa pasien dulu, permisi" alasannya, yang kemudian mencoba melepaskan cengkramannya Justin.


Namun nihil, cengkramannya itu malah semakin menguat.


" Ihh bapak, lepasin dong " suara Gerani yang tampak mulai mengesal.


" Ran saya cuman mau bilang kalau besok acara launching angkasa kamu pergi dengan saya"


" Bodo amat, temean bapak jugak bukan saya! Jadi saya enggak mau pigi. Pigi aja sendiri males pigi sama manusia kulkas dari kutub Utara" yah sekarang Gerani sudah tidak diam–diam dalam hatin menyumpah serapah manajernya ini.


" Saya tidak ingin penolakan, pokoknya besok saya jemput kamu"


" Bodo amat, pigi sana sendiri. Bye" Gerani menghempaskan cengkraman tangan Justin yang mulai melonggar kemudian pergi meninggalkan justin dengan sengit.


––––


Hari mulai mengelap, jam kerja Gerani sudah habis namun dirinya masih bersantai diruang operasi bersama dengan Aurel.


Seperti para gadis-gadis diluar sana, jika hari weekend akan tiba mereka mengobrol merencanakan perihal perawatan.


" Ran gue ada sesuatu buat Lo "


" Apaan rel, tumben Lo ngasih gue sesuatu pasti ada udang dibalik gajah nih"


" Gak lucu lawak Lo yah"


" Terus apaan sih yang mau Lo kasih hah?"


" Tada...." Aurel mengeluarkan dua tiket nonton.


" Nonton? Seriusan Lo rel?"


" Iyah dong, ini tuh susah banget gue dapetin tiket nya, OMG susah bat dah"


" Gilak jago Lo rel" ujar Gerani mengacungkan dua jempol untuk Aurel.


Sementara Aurel yang diberi pujian seperti itu, mengibaskan tiket itu pada dirinya. Sesekali tersenyum alay membanggakan dirinya sendiri.


" Kalok gitu Lo siap–siap yah rel, kita pergi jam delapan sekalian ke mall dulu"


" Oke gue ik–"


" Gerani enggak bisa ikut" potong lelaki itu yang tiba-tiba muncul.


" Siapa Lo? Ngatur-ngatur gue! Ini urusan pribadi gue, dan gue udah bilang gue enggak mau ikut! Bisa bahasa Indonesia kan?" Ujarnya sinis.


"  Stttt ran ga sopan" bisik aurel


" Maaf yah, tapi gue udah gak bisa sopan lagi sama dia. Gue udah terlanjur sakit banget"


" Ran saya tau kamu kecewa sama sikap saya, saya enggak masalah kamu mau gak sopan atau apapun, tapi tolong maafin saya"


Sementara Aurel, dia hanya terdiam menyaksikan aksi drama yang dirinya sendiri binggung untuk memberikan judul apa yang tepat.


" Maaf tapi itu urusan Lo, sekarang gue cuman mau Lo jauh–jauh. Ini kan rencana Lo? Buat gue hancur dan sakit hati Iyah?" Mata Gerani mulai berkaca-kaca.


" Ran tap–" omongan Justin terpotong ketika Gerani langsung pergi dihadapannya.


" Ran...tunggu ran..." Teriak Justin yang mencoba mengejar Gerani.


Namun punggung gadis itu perlahan sudah menjauh dari panggangannya.


                           ****


Note:


* Tiniumbenubital: obat bius atau obat penenang.


Following mayadasaptyani38


Fllwig *******_ms17


Jangan lupa follow akun Wt aku yah❤


Kasih vote dan saran kalian kalok sukak sama ceritanya ❤

__ADS_1


__ADS_2