
Pagi ini angga berangkat ke taebak menuju posko jendral Sanjaya untuk memenuhi panggilan.
Akibat inseden semalam malam yang mengharuskan Angga melapor kepada jendral Sanjaya.
" Hormat" kata Angga melapor dan di angguki jendral Sanjaya.
" Apa mereka para penjual senjata ilegal yang menyadra dokter itu?" Tanya Sanjaya memulai interogasi.
" Siap tidak pak" kata Angga.
" Lalu siapa mereka?" Tanya kembali Sanjaya.
" Siap saya masih menyelidikinya, mohon izin" kata Angga.
" Baiklah, asal jangan membuat kegaduhan dan melewati batas" isin Sanjaya.
" Siap laksanakan"
" Kembali ke markas mu" titah Sanjaya.
Setelah melapor pada atasannya Angga kembali ke markasnya menggunakan mobil.
Hingga Angga tiba pada sore hari, mengingat jarak yang lumayan jauh dari tempat Angga.
Setelah sampai di sana, Angga langsung mengadakan rapat pada para pasukan khusus Angga untuk mencari tahu sebab sebenarnya.
Sebelumnya para pasukan Angga sudah mengumpulkan barang-barang bukti yang di temukan di lokasi kejadian.
Tinggallah tugas Angga mencari tahu dalang dari kejadian ini.
" Jadj bagaimana penyelidikan mu di sana Candra" tanya Angga.
" Aku menjamin bahwa ini bukan ulah ******* atau bahkan orang–orang yang ingin menjual senjata ilegal dengan bermaksud mempunyai Sandra" jelas Candra.
" Dan yang lebih aneh lagi, mereka semua malah ikut membakar tubuh mereka bersama ledakan bom" timpal salah satu rekannya.
" Itu sudah ku pastikan, karena di dalam tubuh mereka terdapat chip" jelas Angga.
" Lantas dari mana ketua mengetahuinya" tanya Candra.
" Waktu kita menyerang mereka, aku melihat ada sebuah jahitan di tangan mereka sebelah kanan dan itu berada pada semua anggota"
" Itu artinya musuh itu bukan sembarang, dan apa bila misinya gagal mereka lebih memilih mati, sekarang perketat penjagaan terutama pada medicube gerani" lanjut angga.
Setelah mendengar perintah dari atasannya para pasukannya undur diri untuk melaksanakan tugas mereka.
Sementara Gerani masih tertidur di dalam medicube dengan infus yang menempel pada tangannya.
Angga yang melihat itu menaruh ibah pada Gerani.
__ADS_1
Tidak beberapa lama, mata Gerani mulai mengerjap terlihat bola matanya bergerak ke kanan dan kiri.
" Ran kamu udah bangun?" Tanya Angga.
Gerani langsung membuka matanya dan melihat Angga berada di sana dan bukan Justin.
" Pak Angga" ucap Gerani yang mencoba membangunkan dirinya.
" Kamu tidur aja Gerani kalok masih pusing" ucap Angga namun Gerani tetap terduduk di kepala ranjangnya.
" Pak Justin kemana yah?" Tanya Gerani.
Apa cuman Justin yang ada di pikiran mu Gerani. Batin Angga
" Pak...pak..." Panggil Gerani.
" Ehh Iyah"sadar Angga dari lamunannya.
" Bapak kok melamun sih" tanya Gerani.
" Panggil Angga aja jangan bapak gitu ngerasa udah tua ah" elak Angga.
" Heheh iyah pak eh Angga"cengengesan Gerani.
" Kalok gitu aku panggilin Justin dulu" pamit Angga kemudian pergi meninggalkan Gerani.
Angga berjalan menuju medicube lelaki yang tidak jauh dari situ, disana para dokter sedang berkumpul dan menikmati sarapan mereka bersama.
" Terimakasih" balas justin yang langsung pergi meninggalkan Angga.
Justin berjalan menuju medicube, sembari membawa satu mangkuk bubur untuk sarapan Gerani.
" Morning sayang" sapa Justin ketika memasuki medicube.
" Morning too" balas Gerani dengan senyuman.
" Ini makan dulu, kamu pasti lapar kan?" Tanya justin.
" Banget, malah kemarin yang nyulik gak kasih aku makan lagi kan sebel" balas Gerani dramatis.
Justin tersenyum bahagia, melihat Gerani adalah seorang gadis yang kuat Gerani sama sekali tidak trauma.
Malah di sela–sela keadaan Gerani seperti ini dirinya masih sempat bercanda, tapi yang di katakan Gerani adalah murni pendapat dari dirinya.
" Iyaudah makan ini aaa" titah Justin menyodorkan satu sendok bubur ayam pada Gerani, refleks Gerani langsung membuka mulutnya.
Hingga akhirnya bubur ayam itu telah habis dari Gerani.
" Iyaudah aku mau rapat dulu yah ada agenda yang harus di kerjain" pamit Justin.
__ADS_1
" Iyaudah ayo aku ikut" sarkas gerani yang kemudian ingin turun dari ranjang.
" Enggak sayang! Kamu istirahat dulu" titah Justin.
" Enggak! Lagian aku gak papa ayolah sayang" bujuk Gerani dengam puppy eyes sembari menggoyang–goyangkan lengan Justin.
Melihat itu Justin hanya bisa menghela nafas kasar, mah tidak mau Justin harus mengalah.
" Baiklah, tapi kamu mandi bareng Aurel jangan sendirian kemana–mana. Tunggu di sini dulu aku panggil Aurel dulu" pamit Justin.
" Iyah sayang" kata Gerani kemudian mencium pipi justin secepat kilat.
"nakal yah sekarang, berani cium–cium" goda Justin yang kemudian mendekat namun di dorong oleh Gerani.
" Udah ah sana!!" Usir Gerani malu.
" Gak mau cium dulu?" Goda Justin lagi sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Ihhh enggak Justin!!!" Teriak Gerani malu.
Wajah Gerani memerah akibat ulahnya sendiri, entahlah Gerani merasa rindu dengan Justin karena kejadian tempo hari.
Tak butuh waktu lama Aurel datang menghampiri Gerani kini mereka berdu mandi secara bergantian, Aurel memapah tubuh Gerani.
Sementara para pasukan khusus Angga juga ikut menjaga Gerani, dan memantau keadaan sekitar.
Setelah usai mereka membersihkan diri, mereka menuju ruang rapat.
" Setelah ini akan ada vaksin untuk para tentara pak" ucap Gerani.
" Baiklah, obat–obatan juga sudah sampai" lanjut Angga.
Kini rapat telah usai, karena mereka hanya mengatur jadwal dan mmeberi tahu obat–obatan apa saja yang sudah tiada.
Kini tinggal Justin dan Angga yang berada di ruang rapat, bukan karena alasan apa sebab Angga mengatakan hal penting pada Justin berdua.
" Jadi apa yang ingin kamu bicarakan" ucap Justin to the point.
" Orang yang menculik Gerani murni bukan ulah *******, namun itu ulah seseorang" kata Angga.
" Sudah ku duga dari awal" ucap Justin tersenyum getir.
" Sebaiknya kau awasi gerani, karena dia bukan orang sembarangan" lanjut Angga kemudian pergi meninggalkan Justin sendirian di ruangan.
****
Sejauh ini gimana ceritanya? Sukak gak sama mereka.
Happy reading 🎉
__ADS_1
Maaf kalok ada kesalahpahaman dalam penulisan ♥☃