
Setelah usai jenazah Robert di mandikan dan di sholat kan, kini tengah hari Gerani beserta kerabat terdekat mereka mengantarkan Robert pada peristirahatan untuk terakhir kalinya.
Gerani terduduk pada gundukan tanah bertabur ribuan bunga warna-warni tersebut, air matanya tiada henti menitih Gerani menatap nisan pamannya dengan sendu.
Hatinya bagaikan tersambar petir untuk kesekian kalinya ribuan luka kini berhasil melumpuhkan pertahanan hati Gerani.
" Sayang sudah ayo kita pulang" ajak Justin mengangkat tubuh Gerani menjauh dari pemakaman.
Di dalam mobil Gerani hanya terdiam, tatapan nya kosong berulangkali Justin mencoba berbicara tapi Gerani hanya diam hingga Justin memutuskan untuk menemani Gerani sampai rumah.
Ketika turun dari mobil Gerani memasuki rumah mengabaikan semua orang di sana termasuk Aurel sahabat Gerani yang berada di sana, Gerani langsung masuk menuju kamarnya menyendiri dengan tangisnya.
" Biarkan Rani sendiri dulu nak justin, lebih baik kita siapkan untuk acara pengajian nanti malam" ucap Andini melihat justin ingin mengejar Gerani.
" Baiklah" ucap Justin yang kini ikut berhambur pada kerabat yang lain mempersiapkan segala hal.
Malam menjelang Gerani masih saja berada di dalam kamarnya melewatkan makan siang, Justin menjadi khawatir hingga memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Gerani tanpa ketukan pintu.
Dan saat itu Gerani dengan kondisi terduduk di bawah lantai mendekap bingkai foto dengan deraian air mata tiada henti.
Justin ikut duduk di samping Gerani mendekap tubuh lemah gerani pada pelukannya.
" Sayang kamu harus kuat, kamu jangan seperti ini" ujar Justin.
__ADS_1
Namun respon Gerani berbeda, Gerani mendorong tubuh Justin hingga menjauh membanting bingkai foto yang ada di dekapan nya.
" Kamu!!!! Ini semua gara-gara kamu brengsek!!!" Amarah Gerani menunjuk Justin.
" Sayang kamu kenapa? Sayang kamu tenang yah" ucap Justin perlahan mendekati Gerani namun, sayang Gerani lagi-lagi mendorong justin.
" Kamu tahu? Jika aku tidak egois mementingkan rasa cemburuku aku pasti akan bertemu pamanku untuk terakhir kali setidaknya aku bisa menuruti permintaan terakhirnya. Sementara kamu asik-asikan bersama cinta pertama mu" ucap Gerani yang mulai melemah.
"Aaakkkhhhhhh..........." Teriak Gerani menghancurkan semua barang-barang yang ada di sekitarnya hingga suara gaduh menimbulkan pusat perhatian.
" Ada apa Justin?" Tanya Aurel.
" Tolong ambilkan tas ku di mobil" titah Justin.
" Baik pak" sahut Roy yang langsung beranjak pergi.
Hingga akhirnya Justin memutuskan untuk memberikan obat penenang pada Gerani dengan kondisi Gerani yang sulit di kendalikan.
" Tolong tinggalkan kami" ucap Justin.
" Jika dia sudah sadar panggil aku nak, biar aku buatkan makanan kesukaannya" amanah Andini yang langsung diangguki Justin.
Kini tinggal Justin dan Gerani berada dalam kamar, sementara Gerani masih tidak sadarkan diri di atas ranjang Justin menatap lekat wajah Gerani dengan penuh kasih sayang hingga Justin ingat bagaimana perkataan Gerani yang terakhir kalinya.
__ADS_1
" Sebenarnya ada apa?" Monolog Justin, hingga akhirnya Justin beralih memeriksa handphone Gerani yang berada di nakas.
Disana terdapat kiriman foto Justin dengan Kayla sekarang Justin paham dengan sikap Gerani.
Rahang Justin mengeras setelah mengetahui sumber sebenarnya, Justin langsung pergi meninggalkan kamar Gerani menuju apartemennya.
Di dalam perjalanan Justin mengirimkan pesan pada kedua sahabatnya untuk datang di apartemen nya.
Sesampainya di sana kedua sahabatnya sudah berada di dalam apartemen Justin.
" Bagaimana sa apa kau sudah menyelesaikan tugas mu" ucap Justin.
" Sudah, dia bukan Kayla dia adalah Sandra seperti dugaan mu Kayla sudah meninggal di tahun lalu dan sepertinya dia meriasi wajahnya mirip dengan Kayla menurut informasi yang ku dapat di merupakan sepupu Kayla dan mereka memang sedikit mirip. Tingga sedikit make over and well begitulah hasilnya" jelas angkasa.
" Satu lagi Justin, orang-orang ku sudah ku suruh menyelidiki kasus kecelakaan paman Gerani dan itu karena ada orang yang menyabotase mobil paman Gerani dengan cara memotong rem mobilnya" tambah Hendra.
Mendengar itu mata Justin memerah, rahangnya mengeras kedua tangannya mengepal menahan amarahnya. Kedua sahabat itu mengetahui bahwa justin sedang emosi mereka mencoba untuk menenangkan Justin jika sampai mereka gegabah maka semuanya hancur.
" Sabar Justin kitah harus lebih pintar dari mereka, kita belum tahu siapa dalang dari semua ini dan juga motifnya" petuah angkasa.
" Iyah itu benar, kami akan membantu mu sebisa mungkin" lanjut Hendra.
" Terimakasih kalau begitu aku ingin kerumah Rani lagi" kata Justin.
__ADS_1
" Kami ikut" sahut keduanya.
***