
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, namun Gerani masih tertidur pulas.
Matanya sempat terusik dengan terpaan sinar matahari namun mengigat ini adalah hari libur Gerani memutuskan kembali untuk tidur.
Tok...tok...tok...
" Non bangun"
" Hmzz"
" Temen non nungguin diluar udahan non"
" Hmzz" Gerani hanya bergeming tidak ingin bangun.
Ceklek.....
Pintu kamarnya terbuka," issss bibi bilang sama Aurel suruh tungguin Rani" ujarnya mengira langkah kaki yang masuk itu adalah pembantunya.
" Masih tidur? Bisa ketinggalan pesawat nanti"
Gerani Langsung terbelalak, kaget mendengar suara yang tidak familiar ditelinga nya.
Benar itu adalah Justin Hirata Wijaya.
" Elo??? Ngapain disini. Masuk kamar orang sembarangan. Keluar sana" Gerani bangkit dari tidurnya mendorong Justin keluar.
" Kita kan mau ke Bali ran"
" Enggak tau bahasa Indonesia? Gue enggak mau, pergi sana" dorong Gerani.
Justin Langsung menepis tangan Gerani, tangannya mengangkat tubuh mungilnya dengan mudah.
" Apa–apaan sih Lo, turunin gue " amuk Gerani memukul dada bidang Justin.
" Entar kalok udah sampai pesawat baru" ujarnya yang langsung membawa Gerani turun.
Entahlah sekarang sikap Justin berubah seratus delapan puluh derajat dari yang sebelumnya, kali ini dirinya benar– benar menyebalkan.
" Bi saya izin mau ke Bali sama Gerani yah"
" Iyah den, hati–hati"
" Turunin gue, Lo gila yah? Gue baru bangun tidur Justin! Lepasin gue"
'' berisik!" Ujar Justin.
Justin memasukkan Gerani didalam mobilnya, membuka pintu mobil belakang nya.
Memasukan Gerani dengan kasar, namun saat Justin ingin masuk ke supir kemudi. Gerani keluar kemudian berlari ke arah halaman Gerani yang sangat luas.
" Gerani berhenti kamu....." Teriak Justin.
__ADS_1
Sementara Gerani, membalikan tubuhnya kebelakang menjulurkan lidahnya pada Justin.
" Rani jangan kabur kamu!"
" Bodo amat, pigi sana lo sendirian hahahahah. Enak aja maksa–maksa gue" Gerani mengejek dari sebrang sana, menertawakan Justin.
Alhasil terjadilah aksi kejar-kejaran di taman tersebut.
" Rani berhenti kamu!!!!" teriak Justin yang masih mengejar Gerani.
" Aduh udah deh berhenti, pigi sana sendirian heboh banget jadi manusia" omel Gerani.
" Udah capek ini gue, pagi–pagi buta olahraga, hadehh" ucapannya mengibas ngibaskan tangannya kelelahan.
" Kamu harus ikut sama saya. Titik tidak ada lagi penolakan!"
" Emang gue sapa Lo? Ngatur-ngatur gue" Gerani berlari namun pandangan kebelakang mengomeli Justin.
Gerani terpeleset oleh rumput–rumput yang masih basah, karena kakinya tidak beralas.
Dengan sigap Justin Langsung bergerak menangkapnya hingga sekarang tubuh Justin terjatuh di tanah bersama dengan Gerani.
Mereka saling memandang satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Tidak ada yang bisa mengartikan tatapan mereka yang tampak kosong namun begitu dalam.
Sadar akan hal itu Gerani bergegas bangkit, sebelum dirinya terangkap namun sayangnya pergerakan Gerani sudah Justin sadari.
" Kenak sekarang kamu kan ran!" Kata Justin mencengkram tangan Gerani.
Sungguh melelahkan perasaannya.
Gerani sekarang sudah berada dipesawat pribadi yang cukup besar, dan begitu mewah.
Sebenarnya Gerani penasaran, ingin bertanya milik siapakah pesawat pribadi ini. Jujur Gerani tampak takjub dengan isinya yang begitu minimalis namun terkesan mewah.
Tapi tidak, semua harus diurungkan karena saat ini gerani benar–benar ingin mencabik Justin.
Gerani membersihkan dirinya, setelah itu dirinya memilih untuk tidur. Gerani hanya mengenakan kaos oblong berwarna biru dengan celana Jogger berwarna hitam.
Lucu bukan? Ini namanya salah alamat.
Tapi apalah daya, Gerani tidak membawa satu pun pakainya.
" Ini makan kamu belum makan kan?"
CK sejak kapan dia disini, seenaknya aja masuk sembarangan batinnya.
Justin meletakan sebuah nampan, berisi nasi goreng dan susu dinakas.
Justin beranjak mendekatiku, hingga akhirnya di duduk ditepian ranjang menatapku dalam bisu, " ran kamu belum makan, kamu pasti lapar?"
Bukan lapar bodoh, tapi kesel bisa enggak buka mata Lo batin Gerani, sesekali menatap sinis Justin.
__ADS_1
" Udah deh jangan ngedumel dalam hati, sekarang kamu makan" tangan Justin bergerak menyentuh piring yang berada disebuah nampan.
" Aaaakkk" titah Justin menyodorkan satu sendok nasi disertai gerakan mulut.
Refleks Gerani membuka mulutnya, menerima suapan dari tangannya.
" Pintar" ujarnya mengelus pucuk rambut ku.
Deg...deg...
Senyuman itu begitu memposan, sampai–sampai perutku terus berbunyi kelaparan.
Sementara aku sedang makan?
——
Setelah berjam-jam, perjalanan melelahkan ini akhirnya selesai.
Welcome to Bali batinku.
Gerani berjalan santai, membawa tangan kosong pandangan nya mengedarkan pada seluruh sudut.
Betapa indahnya Bali.
" Apa kamu tidak bisa membantu hah?" Suara bass yang tidak asing lagi dipendegaran Gerani.
Iyah itu Justin yang sedang membawa kopernya.
" Maaf yah, tapi malas berbuat baik sama lo" ujarku tanpa membalikkan badan.
Gerani mempercepat langkahnya, memasuki mobil. Sementara Justin masih berada dibelakangnya.
" Welcome to Bali Gerani, gue senang banget Lo datang deh " sapa angkasa yang menunggu kami di mobil.
" Gue jugak senang, tapi gue enggak senang pigi bareng sama dia" lirik Gerani pada Justin yang baru berada disampingnya.
Justin balik menata sinis matanya," yang mau sama kamu juga siapa!" Balasnya tak kalah sengit.
" Oo masnya sekarang amnesia? Yang nyeret gue kesini siapa? Ah mungkin itu orang gila" ujarnya kemudian memasuki mobil.
Sementara angkasa hanya cengengesan melihat kejadian itu.
" Elo mah bro, kaku banget Pepet teros dong kel–" ujar angkasa merangkul bahu Justin.
" Mau gue buat mulut Lo diem selamanya" sengit Justin memotong perkataan angkasa.
Justin pergi meninggalkan nya dan beralih memasuki mobil. " Yaelah serem amat punya temen satu udah kayak psikopat" ujar angkasa mengelus dada, sembari menyusul mereka berdua.
***
follow Ig mayadasaptyani38
__ADS_1
yang mau baca kelanjutan cerita ini bisa cek akun Wt aku mayadasaptyani yah. sorry kalok telah up