
Gerani berjalan membawa wadah tempat air menuju sumur yang tidak jauh dari medicube.
" Seperti ada yang mengikuti ku" lirih Gerani melihat kebelakang.
" Mungkin perasaan ku saja" Gerani melanjutkan kembali langkahnya.
Setelah usai mengambil air dengan wadahnya Gerani berjalan kembali.
Tiba-tiba dari arah belakang mulut Gerani sudah di bekap, sesaat kemudian semuanya menjadi gelap.
––
Di sisi lain rapat yang di adakan Justin dan yang lainnya telah usai.
Aurel pun akhirnya mencari Gerani yang tiada kunjung mengikuti rapat.
Namun Aurel tidak menemukan Gerani sama sekali. Aurel panik hingga melapor pada angga dan juga Justin yang masih berada di dalam ruang rapat.
" Pak......" Teriak Aurel.
" Ada apa Aurel? Kenapa kamu tergesa-gesa?" Tanya Angga.
" Gee...Gee...Ra..niii..." Ucap Aurel tebatah–batah.
" Ada apa dengan Rani!" Sarkas Justin cemas.
" Gerani hilang" ragu Aurel.
" Apa maksudmu?" Tanya Angga panik.
" Gerani tidak ada di mana–mana aku cari" lanjut Aurel.
" Baiklah kalau gitu aku akan mengumpulkan Tim khusus ku untuk mencari Gerani" ucap Angga kemudian pergi meninggalkan mereka.
" Aurel ikut aku!!" Seru Justin kemudian pergi, Aurel pun akhirnya mengikuti justin.
" Terakhir kali dimana kau melihat Rani?" Tanya Justin di sela–sela jalannya.
" Waktu dia hendak mandi mengambil air di sumur" jelas Aurel.
" Kalau begitu kita cek di sana" seru justin.
Justin dan Aurel pergi menuju sumur yang untuk memastikan jika Gerani berada di sana.
Sementara Angga sudah mengumpulkan para pasukannya
Tanpa terkecuali.
" Kalian semua aku kumpulkan karena ada suatu masalah di sini" ucap Angga.
" Salah satu dokter telah hilang, maka dari itu aku tugaskan kalian untuk mencari di sekeliling dahulu. Apa kalian paham"lanjutnya.
" Siap paham" ucap mereka serempak.
" Laksanakan"titah Angga.
" Siap laksanakan" kini mereka telah bubar dan menyisir daerah sekitar.
" Pak..." Ucap Aurel tergesa-gesa.
" Ada apa rel? Apa kau menemukan Gerani?" Tanya angga.
" Itu pak...anu...itu....apaan sih ah" sentak Aurel pada dirinya sendiri yang gagap tiba–tiba.
" Bicara yang jelas Aurel!" Kesal angga.
" Gerani di culik pak, tadi di sumur saya sama Justin nemuin ember buat Gerani ambil air tergeletak gitu aja"ucap Aurel ragu.
" Kamu serius rel? Lalu dimana Justin"
" Justin pergi kesana pak sepertinya dia mengikuti jejak kaki yang ada" seru Aurel menunjuk arah belakang.
" Mari kita susul Justin"
Aurel dan angga berjalan menyususuri jalan yang di penuhi semak belukar, namun tak jua menemukan Justin.
Hingga malam tiba mereka masih berjalan, hanya senter hp sebagai pelengkap mereka dari kegelapan.
" Pak saya takut" ucap Aurel menarik tangan Angga.
" Jangan jauh-jauh dari saya Aurel" ucap Angga menarik tangan Aurel.
Kresek....kresek...
" Pak itu suara a...pa" takut Aurel yang semakin kencang memegang tangan Angga.
Angga pun bersiap-siap mengeluarkan pistol dari sakunya.
" Tenanglah Aurel" tita angga.
__ADS_1
Mereka berjalan lambat di ikuti Aurel yang kini memegang pinggang Angga, sementara tangan Angga menodongkan pistol ke arah depan.
Hingga muncul sosok gelap di sana berjalan menuju ke arah mereka.
" Jangan bergerak" titah angga yang kini akan menarik pistolnya.
" Sttttt tunggu" kini seseorang itu mulai mendekat.
" Justin" ucap keduanya kompak.
" Astaga hampir aja jantung ku copot" gerutu Aurel mengelus dada, kini dirinya bisa bernafas lega mengetahui bahwa itu bukan hantu atau barangkali penjahat.
" Apa kau sudah menemukan Gerani" ucap Angga.
" Di sebelah barat ada sebuah bangunan tua, dan aku lihat ada penjaga di luarnya. Aku yakin Gerani pasti di sana" jelas Justin.
" Baiklah aku akan memanggil pasukan ku" kata anggap mengeluarkan monitor nya kemudian menghubungi para pasukannya untuk segera menyiapkan strategi.
Semenit kemudian para pasukannya sudah menyusun siasat.
" Rozer bagaimana rencana" ucap Angga pada monitor.
" Tiger siap selesai" balas pasukannya.
" Leon pasukan penembak jitu sudah tepat target" ucap Angga lagi.
" Tiger siap titik koordinat di pastikan" balas pasukannya.
" Birds sasaran target di temukan" ucap Angga.
" Tiger siap di korban menggunakan rompi bom" balas pasukannya.
" Birds temukan segera titik nya" titah angga.
'' kita harus menunggu beberapa menit lagi setelah pasukan telah selesai menargetkan" jelas Angga.
" Dan kau Aurel tetap di sini sersan Candra akan melindungi mu" lanjutnya.
" Siapamereka? Apa kau tau?" Tanya Justin.
" Aku tidak pernah melihat mereka di sini, ada yang aneh. Biasanya jika para penjual barang ilegal akan menyandra dan meminta persetujuan sementara ini aku tidak tahu" info Angga.
" Emm sebenarnya dokter Andre selalu berpesan sama aku untuk menjaga Gerani, tapi aku tidak tau maksudnya dan sekarang mungkin aku paham" ucap Gerani yang membuat sepasang bola mata kedua lelaki itu menatap binggung pada nya.
" Maksud mu ?" Tanya Angga.
" Iyah dugaan ku benar, sebenarnya selama ini gerani selalu dalam masalah. Ada seseorang yang selalu mengintainya" sela justin yang mengerti maksud dari ucapan Aurel.
" Iyaudah sekarang kita fokus untuk menyelamatkan Gerani" titah Angga.
" Tiger aku sudah tau jenis bom yang ada pada Sandra?" ucapannya di monitor.
" Tiger bagaimana jika aku memotong pergelangan tangannya saja?" Kata pasukannya
" Leon tahan! Jika kau menembaknya rompi akan meledak" ucap angga.
" Tiger apa tidak ada cara lain?" Tanya pasukannya.
" Birds aku akan kesana, tolong kemarin dan lindungi Aurel tetap sebelah Utara" titah Angga.
Tak selang waktu lama kini sersan Candra datang menghampiri mereka.
" Lindungi Aurel kami akan kesana" titah Angga.
" Ini gunakan ini" ucap Candra melempar pistol pada Justin, " kau pasti bisa menggunakannya" lanjut Candra.
Kini Angga dan Justin menyerang penjaga di luar, kini mereka sudah memasuki ruangan tersebut.
" Lepaskan dia" tegur Angga yang sudah memasuki markas.
Terlihat jelas Gerani terduduk dengan sebuah rompi dengan bom yang melekat, mulutydi bekak hanya genangan air mata yang menyiratkan betapa takutnya Gerani saat ini.
"Tiger pasti ada wireless yang terhubung pada pemicunya, jadi ulur waktu" ucap pasukannya pada monitor yang terdapat pada telinga mereka.
" Siapa kau? Apa mau mu?" Tanya Angga.
" Well aku hanya ingin gadis ini mati, jadi jangan ikut campur" ucap bos penjahat tersebut.
" Tutup mulutmu keparat!" Balas Justin emosi.
" Ahh ternyata kau kekasihnya?" Ucap bos penjahat itu.
" Kau sudah melanggar aturan di sini!" Ucap Angga.
" Tiger wireless sudah di temukan. Lampu hijau sebelah kanan, aku yakin" kata pasukannya memberikan informasi.
Angga memberikan aba–aba pada Gerani untuk tidak bergerak. Angga memulai menembak wireless tersebut sedetik kemudian di ikuti para penembak jitu yang sudah bersembunyi.
Akhirnya para penjahat tersebut berhasil di lumpuhkan. Kini waktu yang tersisa hanya 30 detik untuk menjinakkan bom tersebut.
__ADS_1
" Tinggalkan saja aku, waktunya sudah tidak cukup" teriak Gerani dramatis.
Justin bergerak memegang tangan Gerani, " tenanglah aku yakin dia bisa" ucap Justin menenangkan.
Kini rompinya sudah terlepas dari tubuh Gerani.
" Aku hanya bisa melepaskan rompinya, berlindung lah" titah Angga berdiri melemparkan rompi tersebut pada bangunan tua itu.
Justin bergerak jatuh memeluk tubuh Gerani.
" Maafkan aku Rani" bisik Justin.
Sementara Aurel dan Candra yang melihat ledakan tersebut merasa kaget, apa lagi Aurel untuk pertama kalinya dalam kehidupan baru kali ini dirinya melihat ledakan sebuah bom.
" Gerani..." Lirih Aurel menangis.
" Tenanglah, teman mu selama" ucap Candra menenangkan.
" Aku takut" lirih Aurel.
" Sudah jangan menangis" titah Candra menghapus air mata Aurel.
" Leon Sandra aman dan segera kembali ke markas" ucap pasukannya di monitor.
" Ayo kita kembali, mereka sudah selamat" ajak Candra.
Kini mereka semua telah berkumpul di markas mereka, sementara Gerani masih di rawat oleh Justin karena Gerani pingsan dalam dekapan nya.
Justin turun langsung untuk memeriksa tubuh Gerani, untung saja Gerani pingsan karena syok dan sedikit luka tembak pada bahu sebelah kanan yang sudah Justin jahit.
" Bagaimana keadaan Gerani?" Tanya Angga.
" Dia sudah baik–baik saja hanya syok dan sedikit luka tembak, dan sudah ku jahit" info Justin.
" Terimakasih" kata Justin menepuk bahu Angga kemudian berlalu meninggalkan nya.
Justin merasa bersalah telah cemburu pada Angga pasalnya Angga lah yang lebih melakukan banyak hal untuk menyelamatkan Gerani.
" Apa Gerani sudah sadar?" Tanya Angga pada Aurel yang sudah keluar.
" Sudah tapi sebaiknya biarkan dia istirahat, kelihatan nya Gerani masih syok pak" jelas Aurel.
" Baiklah, kau silahkan istirahat Aurel" nasehat Angga.
" Baik pak saya permisi"
Aurel kini pamit pergi meninggalkan angga membawa kembali peralatan obat tersebut ke medicube.
Setelah beberapa menit kemudian seseorang memanggil Aurel hingga menghentikan langkah Aurel.
" Pak Candra? Ada apa pak? Apa ada yang terluka" tanya Aurel.
" Mari ikut aku" Candra menarik tangan Aurel hingga memasuki medicube dan mendudukkan Aurel.
" Pak ada apa?" Tanya Aurel binggung yang melihat Candra tampak mencari obat–obatan di lemari.
Angga kini berjongkok tepat di hadapan Aurel dan menarik kakinya.
" Bapak ngap— awww" ucapan Aurel berubah menjadi ringkihan sakit ketika Angga menaikan celana Aurel.
" Lihat ini!" Sentak Candra.
Aurel tidak merasa ada sebuah duri tajam yang cukup besar menancap di kakinya yang sudah mengeluarkan banyak darah.
" Biar aku aja pak, emang bapak bisa?" Tanya Aurel tidak enak.
" Kamu meragukan saya" ucap Candra mengeluarkan jarum suntik.
" Eh pak enggak usah di bius" tolak Aurel ketika Candra hendak menyuntiknya.
" Kamu yakin? Apa tidak sakit?"
" Iyah pak, hitung–hitung latihan teriak" ucap Aurel cengengesan
Lucu. Batin Candra.
" Baiklah kamu tahan yah" kini Candra menarik duri tersebut hingga membuat Aurel berteriak.
Setelah usai Candra membersihkan luka Aurel dengan alkohol dan membalutnya, kini rasa sakit mulai di rasa oleh Aurel.
Dan malam itu Aurel ditemani candar, setelah usai makan Aurel masih di temanin Candra hingga pada akhirnya Aurel terlelap terkena pengaruh obat yang telah diminum Aurel.
***
Selamat membaca readers ♥
Semoga suka sama ceritanya, menurut kalian gimana sih ceritanya?
Kalian sukak gak kalok Aurel sama Candra?
__ADS_1
Jangan lupa vote, komentar, dan kritikan yang membangun ❤.
See you next time ❤