Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Papaku Vampir


__ADS_3

Nara memundurkan langkahnya, saat Hans mendekat ke arahnya. Apa yang baru saja didengar Nara dari bibir seorang pria yang duduk di hadapan Hans, membuat dirinya shock.


Hans adalah ayahnya? Ini pasti mimpi. Bertahun lamanya dia menanyakan soal hal ini pada mamanya, tapi sang mama tidak mau menjawab. Wanita itu hanya menjawab kalau papanya orang hebat. Kalau dia adalah Hans, tentu dia pria yang luar biasa. Yang membuat Nara kesal, kenapa sang ayah tidak segera memberitahunya. Hans memang terkesan selalu menjaga jarak dengannya. Apa kehadirannya tidak diinginkan. Apa dirinya adalah anak buangan.


Bermacam pikiran buruk memenuhi kepala Nara. Dia kecewa pada kenyataan yang baru saja dia ketahui.


"Jangan berpikir kalau aku tidak menginginkanmu."


Nara menatap wajah Hans yang juga menatapnya. Ada gurat lara di wajah pria yang masih terlihat tampan. Ketika Hans bicara, Nara semakin memundurkan langkahnya. Dia ingin lari dari sana. Di belakang Hans, Excel dan pria tadi hanya berdiri diam.


"Kenapa tidak mau mengatakannya jika kamu tahu itu."


"Nara dengarkan aku dulu..."


"Apa aku tidak diinginkan?"


Hans membulatkan matanya. Tidak diinginkan? Yang benar saja, Hans dan Ailee harus menunggu lama, untuk mendapatkan Nara, bagaimana bisa gadis itu berkata dia tidak diinginkan.


"Nara bukan seperti itu..."


"Lalu kenapa kamu tidak memberitahuku? Kenapa?"


Rasa kecewa Nara berubah menjadi marah. Hans sungguh tidak mau mengakui dirinya sebagai anaknya.


"Apa itu benar? Apa benar kalau aku anakmu?"


Satu pertanyaan Nara membuat hati Hans galau. Dia takut kalau Nara tidak bisa menerima kalau dirinya seorang vampir. Sungguh sebuah keraguan yang tidak berdasar. Bagi Nara, siapapun orang tuanya, dia akan menerimanya, memiliki keluarga yang lengkap adalah impiannya.


"Nara....itu...."


"Astaga, apa susahnya sih bilang iya."


Gemas Dominic. Pria itu dan Excel sejak tadi hanya menonton drama Hans dan Nara tanpa berani bersuara.


"Dia kan kayak perempuan. Terlalu banyak hal yang dipertimbangkan."


Dominic berdecak kesal mendengar jawaban enteng dari Excel. Perhatian dua laki-laki itu teralihkan ketika mereka merasakan gelombang kekuatan menekan pikiran mereka.


"Apa ini?"


Excel menatap lurus ke arah Nara. Bola mata Nara sudah berubah menjadi hijau. Dari tubuh gadis itu, menguar suatu kekuatan yang membuat ketiganya merasa di jerat tali tidak kasat mata di leher masing-masing. Mereka serasa dicekik. Di depan sana, tampak Hans yang berusaha mendekati Nara.


Emosi Nara membuat gadis itu tidak bisa mengendalikan diri. Ketika pikiran mereka semakin ditekan, rasa sakit mulai menghantam kepala masing-masing.


"Dia ini apa sih?"


Lucio bertanya pada Excel di tengah ringisan lirih yang keluar dari bibirnya. "Dia seorang mind controller."

__ADS_1


Dominic membulatkan matanya, pengendali pikiran? Istri Lucifer punya kekuatan langka itu.


"Nara hentikan! Kamu bisa melukai kita semua!"


Hans berusaha masuk ke pikiran sang putri. Tapi Nara sudah terlanjur di luar kendali. Dia belum bisa mengendalikan dirinya dan kekuatannya. Excel dan Dominic saling pandang. Kepala mereka serasa mau pecah. Seperti ada bom yang akan meledak di dalamnya. Di depan sana, Hans malah sudah jatuh berlutut, serangan ini memang ditujukan untuk Hans. Tapi spektrum gelombang kekuatan Nara juga berimbas pada Excel dan Dominic.


Benda-benda di sekitar mereka mulai berjatuhan. Hancur berantakan, berserakan tidak karuan.


"Nara berhenti! Kamu bisa melukai kita semua."


Hans kembali berteriak, tapi Nara tidak menggubrisnya. Sampai akhirnya, satu sosok muncul di hadapan Nara. Sosok itu langsung memeluk tubuh Nara, berusaha meredam emosi sang istri. Kemunculan Lucifer mungkin terhitung lambat, tapi bagaimana lagi, dia juga baru saja selesai membantai vampir newborn yang hampir membuat kekacauan di wilayah barat. Karena Dominic sedang on duty alias bertugas, maka dia dan sang adik yang berangkat memeriksa kekacauan itu.


"Hentikan ini."


Bisik Lucifer lirih. Mata Nara masih fokus pada Hans, rasa marah membuat Nara tidak peduli pada Hans. Dia ingin melukai pria itu.


"Nara......"


Kali ini Lucifer melepas pelukannya. Nara sebenarnya tahu Lucifer ada di hadapannya. Gadis itu mulai hafal aroma sang suami. Merasa pelukannya tidak bisa mengalihkan fokus Nara pada Hans, Lucifer dengan cepat menangkup sisi wajah Nara. Detik berikutnya, dia mencium bibir sang istri.


Hal itu sukses mengalihkan fokus Nara, hingga gelombang kekuatan itu mulai berkurang. Untuk sesaat keduanya menikmati ciuman itu. Hingga Lucifer menghilang, membawa Nara pergi dari sana.


"Aku bawa dia dulu."


Hans seketika mengumpat, sekaligus menjatuhkan tubuhnya, mendengar perkataan Lucifer. Pun dengan Dominic dan Excel. Dua pria itu malah sudah telentang dengan nafas terengah. Gila! Kepala mereka masih menyisakan satu denyutan nyeri yang cukup menyakitkan.


Protes Dominic.


*


*


Bruuukkkkk


Tubuh Lucifer dan Nara jatuh di ranjang besar dan empuk. Pria itu belum melepaskan tautan ciumannya pada sang istri. Justru yang terjadi, keduanya semakin panas berperang dengan lidah masing-masing.


Nara menyalurkan rasa marahnya melalui pertukaran saliva mereka. Awalnya Lucifer yang berada di atas, tapi detik selanjutnya Nara mendorong tubuh Lucifer, berganti dirinya yang menindih tubuh sang suami. Hingga di satu titik, Nara berhenti memagut bibir Lucifer. Ditatapnya wajah tampan pria yang telah menjadi suaminya.


"Kamu menginginkannya?"


"Aku ingin membunuhnya!"


Arrrghhh...


Lucifer meringis ketika jemari lentik Nara mencekik lehernya. Tapi tak berapa lama, ringisan Lucifer berubah menjadi seulas senyum tipis. Melihat Lucifer malah tersenyum. Nara menjadi kesal lagi. Gadis itu menundukkan wajahnya lantas menggigit leher Lucifer.


Tubuh Lucifer menegang. Sentuhan Nara di area sensitifnya membuat tubuhnya terpancing. Dibawah sana sesuatu mulai bergejolak. Terlebih satu kaki Nara berada di antara dua pahanya.

__ADS_1


"Nara berhenti atau aku akan menandaimu sekarang."


Perkataan Lucifer membuat Nara menghentikan kegilaannya. Dia tahu makna ditandai, adalah awal dari penyatuan mereka. Lucy sedikit banyak memberitahunya soal hal itu.


"Aku ingin membunuhnya."


Nara berteriak marah, setelah melemparkan tubuhnya ke samping Lucifer. Sementara Lucifer masih terengah, berusaha meredam gejolak tubuhnya.


"Kalau tidak ingat kamu putri Evander Hans, sudah aku tandai dari dulu kamu."


"Bagaimanapun dia ayahmu. Kecebong yang membuatmu lahir adalah miliknya."


Jawaban santai Lucifer membuat Nara mendelik. Keduanya berbaring berdampingan. Lucifer berhasil meredam gejolak dalam tubuhnya.


"Kamu tahu?"


"Aku bahkan ada saat kamu lahir."


Nara menjauhkan tubuhnya. Menutupi tubuhnya memakai selimut.


"Aisshh, kamu lahir dan sekarang jelas berbeda. Dulu kamu menggemaskan, sekarang kamu menggairahkan."


Bisik Lucifer, lagi-lagi Nara mendelik mendengar perkataan dari pria yang sudah membuang jaketnya, menyisakan kaos hitam yang membalut tubuh seksinya.


"Mesum kamu!"


"Aku beritahu ya, klan vampir terkenal dengan tingkat gairahnya yang tinggi. Kami bisa bercinta dengan siapapun saat kami terpancing. Paham?"


"Termasuk kamu?"


"Tentu saja tidak. Jodohku sudah tertulis sejak namaku keluar sebagai Yang Terpilih hari itu."


Nara menaikkan satu alisnya, tidak paham dengan perkataan sang suami.


"Siapa?"


"Kita bahas itu nanti. Sekarang aku beritahu kenapa papamu enggan mengakuimu sebagai putrinya."


Nara kali ini langsung menegakkan tubuhnya. Bersiap menghadapi kenyataan paling buruk dalam hidupnya.


"Dia takut kamu akan menolaknya, jika kamu tahu dia seorang vampir, sama sepertiku."


Ha? Hans seorang vampir. Ayahnya seorang vampir. Nara menggelengkan kepalanya pelan. Ini sungguh di luar dugaan Nara. Ada darah vampir dalam tubuhnya. Dia setengah tidak percaya.


"Papaku vampir? Gumam Nara pelan.


*****

__ADS_1


__ADS_2