Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Firasat Galbathoriq


__ADS_3

"Teacht."


Sebuah ledakan keras terdengar nun jauh di sana. Ledakan yang membuat penduduk saling berpandangan sembari melihat sekeliling mereka dengan wajah ketakutan. Nara hanya diam melihat lurus ke arah Zuan yang mulai gelisah.


Sementara di tempat The Eternal, pria itu menyeringai senang, mendengar panggilan dari tuannya. Ledakan tadi adalah manifestasi dari jiwanya yang benar-benar terbebas dari jeratan sihir Ragnarok.


"Kau dengar Ragnarok. Aku sendiri yang akan menghabisimu dengan tanganku."


Selanjutnya tubuh The Eternal melenting ke atas seperti pegas. Sebuah ledakan kembali kala tubuh The Eternal menghantam bagian atas bangunan yang berupa lempengan batu.


"Kau ini memang suka pamer."


Maki Galbathoriq, sementara The Eternal hanya tersenyum. Dua ratus tahun keduanya terkunci dalam jerat Zuan dan Ragnarok. Pantaslah jika baik Galbathoriq dan The Eternal senang bukan kepalang.


"Apa perlu kita mengadakan reuni? Tentu dengan ratu kita juga."


Sang naga mendengus kesal mendengar lelucon The Eternal. "Baru kali kita mendapat seorang ratu. Biasanya yang kita lindungi seorang raja."


Tambah The Eternal. Namun percakapan gaib itu terpaksa terhenti karena The Eternal sudah melihat lapangan tempat Nara menunggunya. "Aku datang ratuku."


Nara melihat ke atas, ketika suara deru angin bercampur petir terdengar memenuhi langit di sekitar tempat Nara berdiri. Wanita itu memejamkan mata, hingga bola mata Nara berubah hijau saat sebilah pedang melesat cepat ke arahnya. Semua terkejut, terlebih Zuan. Melihat sebuah pedang dengan aura yang mampu menekan energi dalam siapa saja, sampai ke titik paling rendah.


Sesaat Nara melihat ke arah pedang yang berada di tangannya. Pedang itu besar tapi tidak berat sama sekali, gagangnya berhias sebutir berlian hijau. Mata pedangnya berukir kalimat yang Nara tidak tahu artinya apa. Sungguh sebuah mahakarya luar biasa yang baru kali ini Nara lihat. Bisa Nara rasakan betapa besar energi dalam yang ada dalam pedang tersebut.


"Kau masih meragukanku?"


Satu tebasan dari The Eternal dan atap tempat Zuan duduk hancur berkeping-keping. Pria itu terpaksa melompat turun menghindari serangan The Eternal.


"Terima kasih. Kau sudi bersujud padaku."


Zuan menggeram marah. Saat melompat turun. Pria itu langsung merunduk hingga posisinya seperti orang yang bersujud memberi hormat ala kerajaan Fatian.


"Aku tidak sudi tunduk pada seorang wanita."


Nara menarik satu ujung bibirnya. Senyum sinis yang membuat Zuan semakin kesal. Pada akhirnya pria itu berlalu dari sana dengan hati jengkel setengah mati. Berniat mempermalukan Nara, malah dia sendiri yang kena batunya

__ADS_1


Sampai di ruangannya, Zuan mengamuk. Dia meledakkan ruangannya. Nafasnya terengah, dengan mata memerah menahan marah. Sungguh tidak dia bayangkan, hari ini dia dipermalukan oleh anak ingusan kemarin sore. Yang ternyata benar keturunan Fatian. Zuan pikir sudah melenyapkan keturunan terakhir Fatian. Ternyata dia salah. Dan sekarang anak itu membuatnya dalam masalah.


Semua rencana yang sudah dia susun susah payah, berantakan seketika. Zuan mengepalkan dua tangannya. Dia tidak akan berhenti. Zuan sudah melangkah terlalu jauh, dia tidak akan mundur. Sekarang hanya ada satu cara untuk menekan Nara. Agas, hanya dengan menikahkan Nara dan Agas, Nara akan berada dalam kendalinya.


Hingga malam itu, rencana licik Zuan mulai dijalankan. Agas yang sudah diberitahu akan rencana Zuan tentu saja menuruti perintah pria itu. Dia sudah lama menantikan waktu ini. Memiliki Nara seutuhnya.


Nara sendiri, selalu tidur dengan Lucifer. Tapi malam itu, Lucifer dipanggil ke ruang rahasia. Hingga Nara yang kelelahan setelah melakukan blusukan dadakan, dibiarkan istirahat sendiri. Zuan yang menerima laporan kalau pengawal pribadi Nara sudah keluar dari kamar wanita itu, langsung memerintahkan Agas melancarkan rencana mereka.


Pria itu tersenyum saat mengendap-endap masuk ke kamar Nara. Mendapati seseorang bergelung manis di bawah selimut, membuat Agas melebarkan senyumnya. Tanpa basa basi, Agas melepaskan pakaiannya. Dengan tubuh polos, Agas naik ke tempat tidur. Penerangan yang temaram membuat suasana ruangan tidak terlalu jelas. Hingga tanpa mempedulikan siapa yang berada di atas ranjang. Agas langsung menyerang wanita itu tanpa memperhatikan wajahnya. Terlebih wanita yang berada di bawah tubuh Agas langsung menyambut permainan Agas dengan lihai.


"Ahhhh, Nara.... aku tidak tahu kalau kau begitu nikmat. Ini luar biasa."


Racau Agas ditengah hentakan yang dia lakukan. Permainan itu berlangsung cukup lama, hingga Agas ambruk setelah mendapat pelepasannya.


"Wanita ini benar-benar menggairahkan. Aku tidak akan pernah melepaskanmu."


Batin Agas. Tanpa keduanya tahu, sepasang mata melihat aksi menjijikkan Agas dan seorang perempuan yang tidak jelas wajahnya.


Sementara itu, bersamaan dengan Agas yang berpacu dalam melodi cinta. Nara membuka mata di sebuah tempat yang terasa asing baginya. Istri Lucifer itu memegangi kepalanya. Entah kenapa rasanya terasa pusing.


Suara berat dan dalam membuat Nara mengangkat wajahnya. Dilihatnya seorang pria berhodie dengan baju berwarna abu-abu dengan campuran warna biru berdiri di hadapannya. Pria itu terlihat maskulin dengan otot lengan yang terbentuk sempurna. Juga dada bidang berotot yang samar tercetak di pakaiannya yang sedikit ketat.


"Siapa kau?"


Nara balik bertanya. Dia sama sekali tidak tahu siapa pria itu dan mengapa dia ada di sini. Satu ringisan pelan terdengar dari bibir Nara. Dengan tubuh yang mulai terasa panas. Hasratnya naik tiba-tiba. Melihat sikap Nara, pria di hadapannya mendengus kesal. Sihir itu mulai bekerja. Pria itu mendekat ke arah Nara. Telunjuknya menyentuh kening Nara. Hingga tanda api berwarna hijau di dahi Nara menyala terang. Tanda yang sama dengan yang pria itu miliki. Karena saat tanda Nara bercahaya, simbol di dahi pria itu juga bersinar. Tanda mate antara keduanya sudah tercipta.


"Siapa kau?"


Tanya Nara lagi. Pria itu menarik nafasnya pelan. Lantas menatap Nara yang mulai menguasai diri. Hasrat itu menguap begitu saja. Denga Nara menggelengkan kepalanya pelan.


"Kau tidak mengenali suaraku?"


Nara terdiam, sedikit mengingat suara pria itu. Hingga kemudian mata Nara membulat.


"Kau si naga itu."

__ADS_1


Senyum pria itu mengembang sebagai jawaban atas ucapan Nara. "Ya, aku Galbathoriq."


Nara semakin tidak percaya. Naga besar berwarna abu-abu itu memiliki rupa manusia yang begitu tampan.



Kredit Pinterest.com


Galbathoriq


Nara melongo melihat wujud manusia Galbathoriq, terlebih ketika pria itu membuka hodie-nya dan memperlihatkan wajahnya. Kulit putih bersih, dengan hidung mancung dan bibir tipis berwarna merah pudar. Sepasang mata mata berwarna biru dengan sebaris alis tebal mempertegas tampilan sempurna Galbathoriq.


"Jaga pikiranmu, Nara!"


Nara seketika nyengir mendengar perkataan penuh sindiran dari pelindungnya itu.


"Kau benar-benar memberiku kejutan."


Kata Nara sembari mengubah posisi duduknya. "Apa suamimu tidak menggoda seperti diriku?"


"Haish jangan sembarangan bicara. Kau tahu jelas soal itu."


Galbathoriq terkekeh, ya dia tahu benar bagaimana kehidupan Nara. Bahkan jika pria itu mau, dia bisa menyatroni kehidupan malam Nara dan Lucifer, tapi dia tidak seusil itu.


"Kenapa kau membawaku kemari?"


Mimik wajah Galbathoriq berubah serius. Pria itu memiliki firasat kalau perang besar akan pecah sebentar lagi. Perang yang sudah lama tidak terjadi di tanah utara. Perang yang akan menentukan nasib kerajaan Fatian selanjutnya.


***


Teacht berarti datanglah dalam bahasa Irlandia.


Up lagi readers...


Jangan lupa ritual jempolnya...

__ADS_1


****


__ADS_2