
Lucifer dan Nara menyerang Zuan bersamaan. Sementara Galbathoriq menangani Ragnarok. Pemandangan itu menimbulkan kesan ngeri di langit Fatian. Baik Lucifer maupun Nara all out dalam menyerang Zuan. Keduanya seakan tidak memberi jeda pada Zuan untuk bernafas. Maupun mempersiapkan serangan.
Sementara di atas mereka, portal penghisap itu semakin menunjukkan ancamannya. Bangunan rumah penduduk mulai terseret ke arah lubang itu. Persis seperti putting beliung bekerja. Hanya saja portal penghisap itu melempar benda yang dia hisap ke dimensi lain.
"Kita harus segera melenyapkan dia."
Lucifer menganggukkan kepala, tanda mengerti. Padahal dalam pikiran Lucifer, melindungi Nara adalah prioritasnya. Keadaan semakin gawat ketika dome transparan yang Hans dan Lucifer ciptakan menghilang. Teriakan dan jerit ketakutan terdengar, saat para Dementor itu mulai memburu para penduduk untuk dihisap jiwanya. Meski para prajurit itu mulai terbangun dan beberapa dari mereka mulai bertindak untuk melindungi para penduduk.
Ailee, Yaxian dan Yuan ikut bertarung melawan makhluk tidak berwajah dan bertulang itu, bersama dengan Lucio dan yang lainnya. Suasana benar-benar menakutkan dan kacau balau. Beberapa penduduk yang lepas dari perlindungan para prajurit langsung menjadi santapan bagi para Dementor.
Melihat hal itu, Nara menjadi geram. Wanita itu menyerang Zuan tanpa ampun. Baik dia maupun Lucifer melakukan hal sama. Hingga aba-aba dari Galbathoriq masuk ke kepala Lucifer dan Nara.
"Sekarang! Fokus keduanya sedang terpecah."
Nara menggenggam The Eternal erat. "Aku ingin Ragnarok." Pinta pedang itu.
Nara pun menyerang jantung Ragnarok, sementara Lucifer berusaha menikam Zuan. Baik Zuan maupun Ragnarok terkejut, karena mereka mulai kehabisan tenaga. Sementara jiwa yang dihiissap Dementor belum ditranfer Agas kepada mereka. Rupanya begitulah peran Agas dalam perang ini.
Jika Zuan dengan mudah bisa Lucifer lukai. Tapi Nara, The Eternal hanya mampu menggores kulit Ragnarok. Zuan jatuh terduduk dengan darah mengalir dari dadanya. Nyeri terasa di dada kirinya.
"Gunakan darahmu." Kata The Eternal. Nara dengan cepat menggigit jarinya lantas mengoleskannya pada bilah The Eternal, pedang itu langsung berpendar terang. Sinarnya bahkan membuat Dementor ketakutan dan menjerit kesakitan.
__ADS_1
Nara melesat ke arah jantung Ragnarok saat makhluk itu memutar tubuhnya dan Nara langsung terbanting ke belakang. Untung saja dia jatuh di tubuh Galbathoriq. "Kau tidak apa-apa?" Galbathoriq bertanya.
Nara mengusap darah yang keluar dari bibirnya. Wanita itu lantas mengulas senyum tipis pada sang suami. Menyiratkan kalau dia tidak apa-apa. Keduanya kembali menyerang Zuan. Kali ini Lucifer memastikan kalau tikamannya tepat sasaran.
Zuan berteriak kala pedang Lucifer menusuk jantungnya. Bersamaan dengan Nara yang berhasil menembus kulit Ragnarok. Naga itu melolong, menahan sakit luar biasa. Saat itulah, Nara merasakan gejolak aneh di perutnya. Hingga kekuatan menekan Nara berkurang.
Lucifer beralih membantu Nara, setelah memastikan Zuan terkapar tidak berdaya. Lucifer dan Nara bersama mendorong The Eternal agar berhasil menusuk jantung naga itu.
"Sedikit lagi."
Di tengah usaha keduanya membunuh Ragnarok, naga itu justru mengeluarkan kekuatannya. Lucifer dan Nara kewalahan. "Mundurlah. Akan kuselesaikan ini. Zuan sudah sekarat. Seharusnya Ragnarok pun sama."
"Tapi.....aargghhhh...." Nara meringis ketika sesuatu serasa menyerang dirinya dari dalam. "Lucifer....istrimu harus menyingkir dari sana." Gelombang kekuatan Ragnarok semakin kuat. Dan Lucifer setuju dengan ide naga pelindung Nara itu.
Nara mendelik ketika Lucifer menghempaskan tubuhnya menjauh. Namun bersamaan dengan itu, tubuh Nara benar-benar melemah. Tubuh Nara terlempar bebas, melambung tinggi di langit Fatian. Lantas meluncur turun dengan cepat. Galbathoriq bergerak menyusul Nara, dalam hitungan detik, naga besar itu sudah berubah wujud menjadi manusia. Pria itu menangkap tubuh Nara lantas memeluknya erat.
Di tempat Lucifer, pria itu jelas kewalahan mendorong The Eternal untuk menikam jantung Ragnarok. Dia perlu dorongan ekstra. Terlebih kekuatannya mulai melemah. Sedang Ragnarok terus bergerak liar, berusaha menghempaskan Lucifer dari dadanya.
"Jangan melepasku, bodoh!"
The Eternal protes karena dorongan Lucifer kian lemah. "Siapa juga yang mau melepasmu, peyang!" Balas Lucifer judes. "Tapi aku kehabisan tenaga." TambahLucifer.
__ADS_1
The Eternal menggeram marah. Sementara Ragnarok semakin menggila. Dan Zuan jelas sedang sekarat. Saat Lucifer benar-benar kehabisan tenaga dan si pedang terus mengomel, bantuan datang. Lucio, Excel, Dominic, dan Aro bersamaan memberikan kekuatannya pada Lucifer. Hingga The Eternal terdorong menusuk jantung Ragnarok.
Naga besar itu meraung ketika jantungnya tertikam The Eternal. "Sekarang kita impas!" Pedang itu bergerak semakin dalam dan jantung Ragnarok hancur seketika. Naga itu meraung kesakitan. Tubuh Ragnarok menggelepar di angkasa, lantas menukik turun menghunjam bumi.
Lucifer yang tidak siap dengan hantaman kekuatan Ragnarok ikut terlempar. Sama dengan yang lainnya. Namun karena tenaga Lucifer sudah terkuras habis. Pria itu benar-benar tidak punya daya untuk mengontrol tubuhnya. Akhirnya tubuh Lucifer menghantam tembok istana Fatian.
Ringisan lirih terdengar dari bibir pria itu. Di depan sana. Para Dementor mulai menghilang. Portal penghisap pun sama. Sedang Ragnarok sudah terkapar di tanah dengan tubuh Zuan tergolek tidak jauh dari tubuh besar Ragnarok. Mati.
Seulas senyum terukir di bibir Lucifer sebelum pria itu menutup mata. Semua berakhir sampai di sini. Perang berakhir, langit Fatian kembali cerah. Saat Lucifer baru saja menutup mata. Sebuah bisikan masuk ke kepala Lucifer.
"Lucifer bangun. Nara membutuhkanmu. Putra kalian membutuhkanmu."
Mata Lucifer kembali terbuka. Putra? Mata pria itu seketika berubah merah. Tanda mate di belakang telinga Lucifer bercahaya. Pria itu tengah memanggil jiwa Nara. Putra? Dia akan jadi seorang ayah. Senyum Lucifer mengembang sebelum tubuh pria itu melayang, jatuh ke bawah. Lucifer mengalami luka dalam setelah mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan jiwa Nara dan sang putra.
"Bertahanlah."
*****
Up lagi readers
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
****