
Nara menarik nafasnya dalam, melihat ke arah Lucifer dan sang ayah. Hari ini seminggu setelah kepulangan mereka dari Black Castle. Setelah perayaan pernikahan Lucio dan Alexa. Kemungkinan juga merencanakan pernikahan Aro dan Lucy, serta Dominic dan Xinyan.
Ya, Dominic dan Xinyan akhirnya memutuskan untuk mencoba saling mengenal satu sama lain. Tapi usulan dari Aiden, membuat sang putra mendelik kaget.
"Papa akan naik ke tempat ayah Xinyan. Melamarnya untukmu."
"Mati aku!"
Kata yang Dominic ucapkan begitu sang papa mengatakan ingin segera melamar Xinyan. Sontak tawa meledak di ruangan itu.
"Disuruh nikah kok mati. Enak tahu."
Dominic kembali mendelik mendengar perkataan asal dari pengantin baru rasa pengantin lama. Lucio, pria itu berkata sembari menaikkan satu alisnya. Akhirnya hanya satu umpatan yang bisa Dominic katakan.
"Siap?"
Tanya Hans. Dan sang putri mengangguk. Di belakang mereka, Excel juga mengangguk siap. Pria itu sudah siaga dengan lima monitor yang menyala di depannya. Dia begitu antusias seperti biasa. Meski dia tahu kalau perjalanan mereka kali ini akan sulit. Excel sendiri tidak yakin kalau teknologinya bisa digunakan di tempat itu. Mengingat betapa kuatnya aura kekuatan yang tersembunyi di sana.
"Oke kalian bisa pergi dalam...."
Hitungan mundur dimulai, Nara mengeratkan pegangannya pada tangan Lucifer. Begitu mereka menghilang. Menggunakàn teleportasi untuk mengarungi ruang dan waktu. Berpindah ke dimensi yang lain.
Tak perlu waktu lama, dan Nara langsung bisa merasakan udara dingin menusuk serasa menampar wajahnya. Wanita itu membuka matanya dan mendapati hamparan padang salju tersaji di depan mata. Mereka telah sampai di lembah itu.
Satu kode dari Lucifer dan Nara pun mulai mengikuti langkah ayah dan suaminya. Di depan mereka, tampak Hans yang serius berkomunikasi dengan Excel. Di sini rupanya sinyal masih bagus. Hingga komunikasi masih bisa berlangsung lancar.
Ketiganya berjalan tertatih. Kembali menuju dinding tinggi menjulang di depan sana. Perlu usaha ekstra untuk menuju ke tempat itu, sebab ternyata salju lebih tebal dari saat terakhir kali Hans dan Nara menginjakkan kakinya di sana.
"Pintu gerbangnya ada di depan Nara. Tapi masih tersegel."
"Hack dong."
Mendengar perkataan Lucifer, Excel mendengus kesal. Ya kali kekuatan sihir bisa dihack. Lucifer terkekeh mendengar umpatan Excel di ujung. Sementara itu Nara, seolah ada yang menuntunnya, wanita itu menggigit ujung jarinya dan mengusapkanya ke dinding bersalju di hadapan mereka.
Meski tidak banyak, tapi anehnya darah Nara langsung beraksi pada dinding tersebut. Sebuah pola unik langsung terbentuk, mengikuti alur yang terpahat tak kasat mata pada dinding itu. Sebuah pola diagram sihir kuno, begitulah Excel menyebutnya.
Terdengar suara benda bergeser, dan tiba-tiba saja tubuh ketiganya sudah menghilang. Terserap oleh kekuatan yang sama sekali tidak bisa mereka rasakan. Ketiganya berada di sebuah lorong panjang dengan obor yang tertancap di kiri kanan dinding tembok tempat itu.
__ADS_1
Kredit Pinterest.com
"Teruslah bergerak. Ada aura misterius di ujung jalan itu."
Excel berucap. Rupanya komunikasi masih bisa digunakan di sana. Hal yang membuat Excel senang bukan kepalang. Dia tentu penasaran bagaimana sinyal teknologi masih bisa digunakan. Di tengah gempuran kekuatan sihir di tempat itu.
Mendengar permintaan Excel, Hans tersenyum. Lantas mengikuti langkah Nara, Hans dan Lucifer bergerak menyusuri lorong panjang yang jauh dari terpaan salju di sana. Lorong itu terasa hangat, berbeda dengan lembah di luar tadi. Dingin menusuk tulang.
Ketiganya berjalan dengan kewaspadaan penuh. Siaga pada hal yang mungkin saja berada di tempat itu.
"Kalian hampir sampai."
Suara Excel terdengar di kepala Hans, kali ini telepati. Karena sinyal Excel mulai terganggu, meski GPS masih berfungsi. Setelah beberapa waktu berlalu, mata ketiganya langsung melihat secercah cahaya putih nun jauh di depan sana. Pintu keluar benar sudah dekat. Cahaya itu semakin lama semakin besar, hingga ketiganya perlu memejamkan mata. Untuk menyesuaikan dengan cahaya terang di tempat itu.
Mata Nara membulat sempurna, kala melihat padang salju itu tidak seperti terakhir kali dia mengunjunginya. Saat terakhir berada di sana, tempat itu hanya tanah bersalju kosong tanpa ada kehidupan. Kehidupan tidak Nara temukan di tempat itu. Tapi dibalik tebing terjal di atas sana.
Namun sekarang, dihadapan Nara, terlihat banyak rumah menyerupai tenda. Dengan beberapa orang berpakaian aneh. Mirip penampilan orang Mongolia dengan baju tebal penghalau rasa dingin. Di atas kepala mereka juga dibebat dengan topi tebal dari bulu binatang.
Kredit Pinterest.com
"Benar tempat ini yang memanggilmu?"
Tanya Lucifer. Nara mengangguk sebagai jawaban. Wanita itu mulai berjalan mengikuti langkah sang ayah. Hari ini mereka memutuskan untuk mencari suara yang terus memanggil Nara. Pencarian membimbing mereka sampai ke tempat ini. Tempat yang diperkirakan di huni suku utara yang terkenal berisi para pengendali pikiran.
Mereka perlu menuruni tebing curam untuk sampai ke pemukiman di padang yang berselimut salju tipis di bawah mereka. Tempat mereka muncul ternyata ada di atas bukit. Fokus Nara bukan pada pemukiman itu. Tapi istana yang di bangun megah diantara tebing yang menjadi satu dengan dinding. Itu sangat menakjubkan. Seperti bangunan Petra di Yordania.
Tidak tahu kenapa kehadiran Nara dan yang lainnya tidak menarik perhatian penduduk lokal. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing tanpa peduli dengan kedatangan Nara. Ini aneh, apa karena aura vampir mereka sudah dihilangkan. Hingga aura mereka tidak membuat suku itu curiga.
Mereka melangkah mendekati bangunan istana, istana yang dibangun disela-sela ceruk tebing yang dindingnya tegak lurus. Ini mengagumkan. Berkali-kali kata itu muncul di benak Nara. Hingga Lucifer mengulum bibirnya.
"Udik amat sih."
Nara manyun mendengar ledekan sang suami. Tentu saja Nara terheran-heran. Di tengah bangunan futuristik yang tiap hari dia lihat di kota, pemandangan saat ini jelas jauh berbeda. Bagi Nara ini sangat cantik. Lebih mengesankan dari ribuan bangunan yang pernah dia lihat di kota.
"Kita seperti kembali ke masa lalu."
Gumam Nara lirih.
__ADS_1
"Andai kita kembali ke masa lalu. Papa harap ada mamamu di sana."
Nara seketika menatap wajah sang papa. Nada sendu dan binar rindu itu terpancar jelas di wajah dan ucapan Hans. Wanita itu kini menyadari betapa cintanya Hans pada mamanya.
"Nara tidak tahu....."
"Sudahlah, lagipula tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Siapa tahu ada kejutan untuk Papa."
"Isshhh, kalau itu hanya untuk Papa, Nara bagaimana?"
"Kamu ya sama dia. Mau ngapain lagi?"
Keduanya memandang Lucifer yang memicingkan matanya.
"Ada apa?"
"Mereka datang."
Tak lama, ketiganya sudah dikepung oleh pasukan dengan pedang terarah pada Nara dan yang lainnya. Ketiganya reflek mengangkat tangan dengan posisi mengapit Nara.
Excel sudah memperingatkan kalau mereka jangan melawan. Karena gelombang kekuatan di tempat itu sangat besar.
"Siapa kalian? Beraninya menerobos masuk wilayah suci kami!"
Satu pertanyaan tegas datang dari arah depan. Di mana seorang pria berpakaian jenderal, seperti masa dinasti kekaisaran Cina kuno berjalan mendekat ke arah mereka.
Mata Nara seketika berubah hijau. Sesuatu dalam dirinya seolah bergejolak. Ada rasa marah dan dendam yang langsung menguasai wanita itu. Satu ringisan kecil dari Nara membuat Hans dan Lucifer menoleh ke arah wanita itu.
"Dia pengkhianat!" Satu kalimat terucap dari bibir Nara, tapi itu bukan suara Nara. Hal yang membuat Lucifer dan Hans heran.
Pria tadi menyeringai, meski lirih tapi pria itu bisa mendengar ucapan Nara.
"Galbathoriq, kau kembali."
****
Up lagi readers....
Jangan lupa ritual jempolnya...
__ADS_1
****