Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Jatuh Cinta?


__ADS_3

Lucifer muncul di ruangan Hans. Pria itu cukup terkejut melihat Lucifer di sana. Keduanya terlibat pembicaraan soal roh pengendali pikiran yang mulai menguasai Nara. Hans sendiri telah melakukan beberapa penelitian. Suku yang menguasai kemampuan seperti yang Nara miliki hanya hidup di wilayah utara. Wilayah pegunungan dengan tebing curam dan terjal mendominasi daerah itu.


Selama memeriksa wilayah tersebut, Hans sama sekali tidak menemukan satu orang pun di sana. Bekas pemukiman pun tidak ada. Bagaimana mungkin di sana ada kehidupan.


"Tapi Nara benar-benar memiliki kemampuan itu. Dia hampir menguasai pikiranku. Juga aku pikir ada yang tidak beres dengan suku itu. Roh itu bilang kalau ada pengkhianat diantara mereka. Hingga suku mereka musnah."


Hans mengerutkan dahinya mendengar perkataan Lucifer. Pria itu pikir harus pergi ke wilayah itu sebelum akhir pekan ini.


*


*



Kredit Pinterest.com


Hans merapatkan coatnya, tubuhnya baru saja muncul di sebuah pegunungan bersalju di wilayah utara. Kalau kemarin, dia hanya menggunakan pikirannya untuk menjelajahi tempat ini. Kali ini dia akan memeriksa tempat itu dengan cara manual. Menurut Lucifer, suku itu masih ada yang tersisa. Dan mereka mencoba berkomunikasi dengan Nara. Mengingat Nara selalu bertanya soal siapa yang yang selalu memanggilnya.


Sejauh mata memandang, hanya tebing curam dengan warna putih mendominasi. Dinding pegunungan yang begitu kokoh terhampar di sekeliling Hans. Pria itu memutar badannya, lagi-lagi hanya ada lembah dengan tumpukan salju yang tebal menyelimuti. Pria itu mencoba mendekati dinding tinggi di hadapannya. Sedikit menggunakan kemampuan melayang. Sebuah bidang dengan kemiringan mendekati 70°. Hans merasakan satu getaran samar di balik dinding tinggi itu. Getaran kehidupan.


Hans memejamkan mata, saat menyentuh dinginnya salju yang menutupi dinding tersebut. Beberapa waktu berlalu, Hans membuka matanya kembali. Aneh, getaran itu menghilang perlahan. Hans mengerutkan dahinya. Pria itu heran, dia tadi jelas merasakan adanya energi kehidupan di sana. Tapi kini hal itu lenyap.


Hans terdiam beberapa waktu di tempat tersebut, pria itu menarik nafasnya dalam. Lantas berlalu pergi dari sana. Tanpa dia tahu, ada sesuatu yang memantau pergerakan Hans dari satu titik dalam dinding pegunungan terjal tersebut.


Sejenak berkutat dengan pikirannya sendiri, Hans tiba-tiba saja berbalik. Hatinya berdesir hebat.


"Ailee! Kaukah itu?"


Pria itu berteriak di tengah hamparan gunung dan tebing bersalju. Satu kilatan kecil terasa menyambar hati Hans, dia merasakan keberadaan sang istri di tempat itu. Hans mencengkeram butiran salju di hadapannya. Dia yakin itu adalah Ailee. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di tempat mengagumkan ini. Dia mulai menyakini kalau Ailee masih hidup.


Pria itu menggeram marah. Lantas berbalik. Hans sempat menoleh sebelum akhirnya menghilang dari sana.


"Aku akan kembali dan menemukanmu!"


Hans jatuh berlutut ketika muncul di ruang panel utama laboratoriumnya. Excel dengan cepat membantu Hans duduk. Menaikkan lengan baju Hans, lantas menyuntikkan sesuatu pada Hans.


"Tempat itu menyerap energi dalam. Ini berbahaya untuk kaum kita."

__ADS_1


"Suku utara sejak dulu tidak memiliki toleransi dengan bangsa vampir."


Hans memejamkan matanya. Dia teringat saat berada di sana, dia merasa ditekan oleh sebuah kekuatan besar. Satu di antara kekuatan itu, dia merasakan kehadiran Ailee di sana.


"Bisa kau gunakan sinar ultra merah untuk melihat masuk ke tebing itu. Aku merasa ada kehidupan di sana."


Excel bergerak cepat. Monitor besar di hadapannya langsung menunjukkan landscape pegunungan yang tadi Hans kunjungi. Gambar tiga dimensi itu berotasi di depan Excel begitu pria itu menggerakkan kursornya. Hening sejenak, Excel mulai asyik dengan perintah Hans. Sedang Hans malah memijat pelan pelipisnya.


"Tidak ada apa-apa di sana."


"Kau yakin?"


"Tentu saja tidak!"


Excel tersenyum, pria itu kembali mengutak otik banyak tombol, panel, layar besar dan kecil. Semua pria itu mainkan dengan lihai. Excel adalah hidden genius di bidang IT. Kepintarannya disembunyikan dari dunia luar. Dengan alasan sama, untuk melindunginya dari incaran pihak-pihak yang hanya ingin memanfaatkan kecerdasan Excel di bidang ini.


Mungkin tidak banyak yang tahu kalau Excel adalah putra Aiden dan Maria. Sahabat Hans. Juga teman karib ayah Aro, Lucifer juga Lucy. Sama dengan Nara, Excel juga lahir dari rekayasa genetik. Hanya saja kelahiran Excel adalah keajaiban karena Maria mampu melahirkan normal berpuluh tahun lalu, setelah pembuahan dilakukan secara tabung.


Secara kasat mata, tidak ada apa-apa di tempat itu. Tapi insting Excel meyakini kalau sesuatu yang besar dan mengagumkan ada di lembah pegunungan dingin dan bersalju tersebut.


"Tetap saja, jika kekuatan sihir yang kita hadapi. Itu akan....syuulliitt...."


*


*


Nara mendesah kesal, sejak tadi dia tidak bisa mengoleskan serum yang Hans sediakan untuk menghilangkan memar dan nyeri di punggungnya. Dia tidak mau memanggil sang ayah, sebab dia tahu kalau Hans sedang sibuk.


Meminta bantuan Lucifer, yang benar saja. Bukannya membantu, yang ada pria itu akan menjahilinya habis-habisan. Nara sedikit banyak mulai hafal perangai Lucifer di rumah. Di kantor, jangan ditanya. Dia seperti kutub utara yang pindah ke sana. Dingin, tidak ramah. Dan semua sifat yang seharusnya membuat illfeel semua orang. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku untuk Lucifer.


Nyatanya Nara pernah mendengar, kalau banyak karyawan perempuan berkata akan tergila-gila pada Lucifer jika pernah bertemu pria itu.


"Jadi gila beneran iya, bukannya tergila-gila. Hadeeuuhh, susah amat sih."


Gadis itu menggeram kesal. Karena lagi-lagi tangannya tidak mampu menggapai tempat memar membiru yang ada dipunggungnya.


Sementara itu, di luar kamar, Lucifer mengetuk pintu kamar sang istri. Seperti biasa, ketukan pintu Lucifer tidak akan membuahkan hasil. Hingga akhirnya, dia masuk meski tanpa seizin pemiliknya.

__ADS_1


"Ra....Annara Sumanara...kamu di mana?"


Pria itu memanggil Nara. Sedikit mengerutkan dahi, tidak menemukan Nara di kamar itu. Hingga terdengar bunyi benda jatuh dari arah kamar mandi. Pria itu langsung melesat masuk ke sana.


"Apa yang terjadi?"


Lucifer seketika menghentikan kalimatnya. Melihat piyama Nara yang tersingkap di bagian belakang. Pria itu sesaat terdiam. Hingga kemudian dia berdehem pelan, mencoba menguasai diri. Pria itu sepertinya tahu apa yang terjadi pada.


"Berbalik."


Nara melongo ketika Lucifer merebut botol serum dari tangannya. Lalu mendorong tubuh Nara untuk membelakanginya.


"Mau apa?"


Nara menatap Lucifer melalui pantulan kaca di depannya. Tanpa menjawab, Lucifer menundukkan pandangannya, lantai menaikkan piyama Nara lagi. Pria itu seketika menelan ludahnya, melihat punggung mulus sang istri dengan tali bra berwarna hitam terkait di sana.


"Aku bisa melakukannya sendiri."


Nara ingin berbalik, tapi Lucifer menahannya. Hingga detik berikutnya, Nara memejamkan mata. Merasakan dinginnya serum yang menyentuh kulitnya. Lucifer menyapukan serum itu dengan lembut. Sembari menatap ekspresi wajah Nara dari cermin besar di hadapannya.


Pria itu terus menatap Nara, hingga akhirnya Nara membuka matanya. Dan melihat Lucifer yang tengah menatapnya intens. Seolah tidak berkedip, pandangan pria itu membuat jantung Nara berlarian di tempatnya. Debaran jantung, desiran hati semua membuat Nara membeku di tempatnya.


"Sial! Dia benar-benar bisa membuatku gila!"


Umpat Nara dalam hati. Sudut bibir Lucifer tertarik pelan.


"Apa aku mulai membuatmu jatuh cinta?"


Dua bola mata Nara membulat cantik. Melihat Lucifer yang tersenyum penuh arti padanya.


*****



Kredit Pinterest.com


Modelannya begini...ya jelas bikin jantung gak aman.... 🤭🤭🤭

__ADS_1


Okey...ritualnya jempolnya jangan lupa....supaya jantung author aman...🤣🤣


**


__ADS_2