Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Lucio Dan Alexa


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Nara memeluk lututnya, menatap keluar apartement Lucifer yang dindingnya full kaca. Keduanya bukan berada di apartemen yang biasa mereka tinggali. Ini aset Lucifer yang lain. Pembicaraannya dengan sang suami beberapa waktu lalu, masih membekas di ingatan Nara.


"Jangan berpikir kalau hanya kamu saja yang menderita. Papamu juga menderita. Setelah kalian pergi, dia tidak berhenti mencari kalian. Kamu dan juga mamamu."


Lucifer juga mengatakan kalau sang papa telah menanamkan chip ditubuhnya, tapi waktu itu dia tidak bisa melacak lokasi chip tersebut.


"Kenapa tidak bisa?"


"Entahlah, tapi setelah dipikir-pikir, bisa jadi darahmu juga membersihkan chip itu. Darahmu mengerikan. Jadi penasaran, minta sedikit kalau begitu."


Goda Lucifer. Nara langsung memundurkan tubuhnya. Dia sebenarnya belum terlalu tahu kenapa semua orang selalu membicarakan darahnya. Apa darahnya sangat istimewa. Gadis itu menarik nafas pelan.


"Temui dia. Tidak masalah, jika kamu belum bisa menerima. Setidaknya jangan membencinya. Meski dia vampir, dia sangat baik. Kamu tahu kan vampir zaman sekarang tidak ada yang menghisap darah manusia kecuali terpaksa."


Gadis itu mulai merebahkan tubuhnya, lantas mencoba memejamkan mata. Hingga matanya menangkap gelang di pergelangan tangannya.


"Sebenarnya penghubung antara diriku dan kamu adalah gelang ini. Jika gelang ini bertemu darahmu, setitik saja. Aku pasti akan datang padamu. Tapi waktu itu, gelang ini terbawa olehku. Jadi aku tidak bisa menemukanmu. Sampai hari itu."


Masih banyak hal yang belum Nara ketahui soal dirinya dan hal-hal disekelilingnya.


*


*


Lucifer mendorong pelan pinggang Nara. Sesaat gadis itu memanyunkan bibirnya, protes dengan aksi sang suami. Hingga sorot mata pria itu memberinya perintah mutlak.


"Ada apa?"


Hans bertanya tanpa melihat siapa yang datang. Sebab dia hanya mencium aroma Lucifer. Aroma Nara tertutup oleh batu penyegel aura. Gadis itu melangkah masuk ke ruangan Hans dengan ragu. Lucifer dan Nara sedikit berdebat pagi ini. Nara masih belum mau menemui sang papa, tapi Lucifer memaksa untuk segera menyelesaikan masalahnya.


"Ini bukan masalah, cuma belum ketemu timming nya yang tepat."


"Nara!"


Gadis itu mendelik ke arah Lucifer. Tapi Lucifer tampak cuek. Tanpa kata, pria itu mendudukkan dirinya di sofa. Menatap Nara sembari melipat tangannya.


"Kenapa diam saja? Ada yang ingin kau bicarakan dengan Paman?"


Nara menelan ludahnya pelan. Dia masih belum berani bicara pada Hans. Hingga detika berikutnya, Nara memutar tubuhnya. Sampai suara Lucifer membuat Nara mengumpat.


"Nara ada di sini Paman."


Kata Lucifer sembari menatap tajam pada Nara. Mendengar nama Nara disebut, Hans langsung mengalihkan perhatiannnya dari pekerjaannya.


Hans menatap Nara, sedang Nara malah menundukkan wajahnya, sembari memainkan kukunya. Tanda kalau dia gelisah.


"Tidak apa-apa jika belum mau bicara pada Paman."

__ADS_1


"Dia juga merindukanmu. Sama seperti kamu merindukanmu."


Hans berbalik, berusaha menghindari bertatapan dengan Nara.


"Pa...."


Baik Lucifer maupun Hans langsung mengangkat wajah bersamaan, Hans langsung memutar tubuhnya kembali. Melihat Nara yang melihat ke arahnya dengan mata berkaca-kaca. Hingga akhirnya pria itu mendekati Nara setelah mendengar suara pikiran Nara.


"Aku merindukan Papa dan Mama."


Nara menangis kala Hans memeluk tubuhnya erat. Pelukan hangat seorang ayah yang sangat dia damba. Kini terasa nyata. Meski, tubuh Hans dingin, tapi Nara tidak merasakannya. Untuk beberapa waktu Hans memeluk tubuh sang putri. Berapa lama dia harus menunggu untuk moment ini. Lama....sangat lama. Tanpa terasa, air mata Hans ikut mengalir, mengenang Ailee, yang tidak ada di sana bersama mereka.


"Ehemmm, jangan lama-lama pelukannya."


Entah kenapa Lucifer tidak menyukai Hans yang memeluk Nara terlalu lama. Mulai cemburukah dia?


"Kamu cemburu? Aku bapaknya."


"Itu buat merekà yang tahu dia anak Paman, kalo gak, dikiranya Nara pacar Paman."


Hans mendelik mendengar protes Lucifer. Bisa dipastikan jika ada rasa cemburu yang mulai bersarang di hati Lucifer.


"Cemburumu salah tempat."


"Paman kan pria juga."


"Berhenti. Debat mulu!"


*


*


"Senanglah tu, punya papa."


Ledek Lucifer sambil berbisik di telinga Nara. Pria itu sejak tadi hanya diam, melihat tingkah Nara. Gadis itu tersenyum sendiri, seraya menatap pemandangan dari apartemen Lucifer. Pertemuan Nara dan sang papa berjalan lancar. Kemarahan Nara kemarin hilang setelah Hans meminta maaf, juga menjelaskan alasannya kenapa tidak memberitahu Nara soal dirinya.


"Aarrgghh, sakit."


Lucifer protes ketika Nara mencubit lengannya. Nara sendiri sedikit heran, Lucifer sekarang banyak bicara. Tidak seperti dulu yang hanya diam seperti patung.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


Lucifer menatap lurus pada Nara yang juga tengah memandang ke arahnya. Pria itu tengah memainkan gelas berisi darah di tangannya. Tidak biasanya Nara menunjukkan ketertarikannya pada darah .


"Apa rasanya?"


Nara tiba-tiba bertanya, sambil menopang dagu dengan satu tangannya. Lucifer langsung menghentikan acara minum darahnya. Dia cukup terkejut dengan pertanyaan Nara.


"Ini manis. Tapi lebih manis darahmu."


Dari tempat Lucifer duduk, pria itu mampu mencium aroma memabukkan darah Nara. Sangat menggoda.

__ADS_1


"Apa yang akan terjadi jika kau menggigitmu."


"Tidak akan banyak yang berubah, mengingat kamu darah campuran. Sama seperti Dominic."


Dominic?"


"Pria yang hampir kau ledakkan kepalanya bersama Excel kemarin"


Nara langsung salah tingkah mengingat kejadian kemarin. Gadis itu cukup terkejut ketika Lucifer menceritakan kalau Dominic, kakak sepupunya. Nara hanya akan menjadi abadi jika Lucifer menggigitnya, menjadikannya vampir sisi dominan dalam diri sang istri.


"Aku akan minta maaf padanya jika bertemu nanti."


"Mungkin sudah saatnya mengenalkanmu pada keluargaku. Meski Paman Hans adalah sahabat Papa, tapi aku pikir perlu membawamu ke hadapan mereka."


"Lain kali saja."


Di sisi lain, seorang wanita berambut pirang terkejut, ketika dia mendapati seorang pria berada di kamar pribadi.


"Kamu lagi. Bisa tidak sih kamu jangan muncul di kamarku. Ini area pribadiku."


Protes wanita itu. Sementara sang pria hanya tersenyum tipis. Sambil memainkan gelasnya. Meski dia sedikit terganggu dengan tingkah wanita itu.


"Lexa, bisa tidak kau jangan berganti baju di sini? Kau memancingku."


Wanita yang dipanggil Lexa itu tidak menggubris perkataan pria itu. Dengan santai melepas dress yang membalut tubuh langsing dan seksi miliknya.


"Kenapa? Bukankah kau sudah terbiasa melihatnya, Lucio."


Pria yang dipanggil Lucio itu tersenyum. Ya, dia adalah Lucio, adik Lucifer. Pria itu tengah berada di kamar Alexa Sergie. Gadis yang waktu itu menggigit lengannya, Lucio marah, hingga tanpa pikir panjang menggigit Alexa, mengubahnya menjadi vampir sekaligus menandainya.


Hingga yang terjadi sekarang, Lucio sering muncul di kamar Lexa. Karena sudah ditandai, maka secara kasar Lexa adalah milik Lucio. Mereka tinggal meresmikan hubungan, dan keduanya sudah menjadi sepasang suami istri. Meski sampai sekarang Lucio belum melakukannya.


Awalnya Lexa ketakutan melihat Lucio muncul di kamarnya, tapi begitu pria itu mulai menyentuhnya, Lexa tidak menolak. Lexa memang sudah biasa berhubungan dengan banyak laki-laki. Tapi sentuhan Lucio jelas berbeda. Bahkan akhirnya, pada Lucio-lah, Lexa menyerahkan mahkotany. Ya, mereka sudah sering bercinta.


Vampir pria mudah sekali terpancing gairahnya. Terlebih mereka yang sudah punya pasangan. Kecuali Lucifer. Melihat Lexa yang sengaja menggodanya. Lucio tanpa ragu menyambutnya. Menahan tangan Lexa ketika wanita itu ingin memakai gaun tidurnya.


"Tidak perlu dipakai. Nanti aku repot melepasnya."


Detik berikutnya, Lucio sudah menyerang Lexa. Mencium penuh gairah bibir Lexa, wanita itu bahkan langsung mengalungkan tangan di leher Lucio. Hingga dada sintal Lexa langsung berhimpitan dengan tubuh Lucio yang masih terbalut kemeja.


Tak berapa lama, suara desaahhan sudah memenuhi kamar Alexa, kala tubuh polos Lucio mulai menyatukan diri dengan Lexa. Malam itu kembali menjadi malam panjang bagi keduanya.


****



Visual Lucio dan Alexa...


Ritual jempolnya jan lupa..


Like, vote dan komennya ditunggu...

__ADS_1


***


__ADS_2