
Suara kepakan sayap terdengar beradu di langit Fatian. Tujuh sayap bergerak cepat membawa tubuh tuannya meliuk dan melayang, menghindari serangan dementor, yang berusaha menghissap jiwa mereka. Lucy beberapa kali hampir menjadi korban makhluk tidak berwajah itu. Untung Aro selalu waspada dengan keselamatan Lucy. Gadis itu sedikit enggan berhadapan dengan Dementor.
"Mereka menjijikkan." Gumam Lucy berkali-kali. Satu lesatan anak panah kembali meluncur dari busur panas apinya. Anak panah tunggal itu segera memecah diri jadi ratusan. Lantas memburu Dementor bak rudal balistik berkendali.
Para Dementor yang jadi korban anak panah Lucy seketika melebur, terbakar lantas menguap tanpa sisa. Tapi anehnya, para Dementor ini seakan tidak habis jumlahnya. Mereka terus ada dan bertambah banyak.
"Ada yang tidak beres." Gumam Excel yang didengar oleh Hans. Dua pria itu tampak bertarung menggunakan keahlian masing-masing. Hans yang sealiran dengan Lucifer, seorang pengguna pedang. Dan Excel, putra Aiden yang dianugerahi energi dalam menciptakan bola api. Sama seperti Aro dan Dominic. Juga Lucio.
Ledakan bola api menjadi pemandangan yang menarik sekaligus mengerikan di langit tanah utara yang dingin. Langit yang seharusnya membiru cantik, kini telah berubah menjadi kelam, gelap bak malam tanpa bintang. Padahal pemandangan langit malam di tanah tinggi utara, termasuk salah satu yang tercantik di seluruh muka bumi.
Beberapa anak Fatian justru terpesona dengan pemandangan langit malam yang berkelap kelip seperti kembang api. Mereka bersorak kegirangan. Sibuk menunjuk ke langit pekat di atas mereka. Tanpa mereka tahu, apa yang sebenarnya terjadi di atas sana. Pertaruhan nyawa demi tahta Fatian dan meluruskan kesalahan yang selama ini terjadi.
Ekor mata Hans yang tajam menangkap pergerakan aneh dari Agas. Pria itu hanya berdiri diam, sambil memandang ke arah para Dementor yang terus menyerang Hans dan yang lainnya. Sampai Hans menyadari sesuatu. Agas merapalkan mantra dalam diam. "Dominic...."
Pria yang disebut namanya itu, langsung melemparkan bola api hitamnya, hingga fokus Agas terpecah. Dan Dementor itu mulai kehilangan kendali. "Dia kuncinya!" Excel berseru. Hans segera melesat ke arah Agas. Menyerang pria itu tanpa ampun. Agas jelas kelabakan menerima serangan Hans yang notabene sangat pro di medan perang. Katakan, medan perang model mana yang belum pernah Hans lakoni bersama Luis dan yang lainnya.
Meninggalkan Hans yang bertarung melawan Agas. Nara dan Lucifer disibukkan dengan Zuan dan Ragnarok. Keduanya bahu membahu melawan pria yang ternyata sangat kuat. Nara tersenyum pada sang suami. Pelatihannya tidak sia-sia. Gadis itu berubah menjadi mesin tempur di medan perang seperti Lucifer. Bersama Galbathoriq yang selalu meng-cover keselamatannya. Dan The Eternal yang begitu menggebu ingin menghabisi Ragnarok. Ketiganya menjadi trio yang membuat Zuan dan Ragnarok terpojok berkali-kali.
Belum lagi serangan Lucifer yang membuat ruang gerak Zuan terbatas. "Sial! Aku terlalu meremehkan kemampuan tuan putri itu." Gumam Zuan. Hingga perlahan, pria itu memejamkan mata. Lantas membukanya kembali. Memandang lurus pada Lucifer.
Lucifer seketika merasakan sakit kepala yang luar biasa. Menusuk begitu dalam. Pria itu jatuh berlutut di angkasa dengan dua sayap besarnya melindungi dirinya.
"Nara, selamatkan suamimu. Zuan mencoba mengendalikan Lucifer."
Perkataan Galbathoriq membuat Nara langsung bergerak. Wanita itu langsung fokus pada Lucifer, "Jangan berharap kau bisa mengambil Lucifer dariku!" batin Nara tenang.
Satu hentakan kekuatan dari Nara dan Zuan terpukul mundur dengan dada kiri terasa nyeri. Pria itu menggeram marah. Sementara Nara tersenyum menang. Di ujung sana, Lucifer tampak sedang mengatur nafasnya. Rasa berdenyut itu masih terasa di kepalanya. Sungguh menyakitkan ketika ada yang menerobos masuk pikiranmu tanpa izin dan memaksa. Padahal Lucifer punya benteng pikiran yang lumayan kuat. Paling kuat di antara yang lain.
__ADS_1
Satu ringisan dari Lucy dan Excel memecah fokus Nara. Keduanya terluka dan ini tidak bagus. Sang ayah masih bertarung dengan Agas, yang rupanya kemampuannya lumayan juga. "Ini harus segera di akhiri!" Nara membatin.
Para Dementor mulai melayang turun. Satu hal yang membuat semua mulai khawatir. Pelindung yang Hans dan Lucifer buat perlahan melemah.
"Setengah jam sampai mereka bisa memakan seluruh rakyatmu dengan bebas, sampai habis."
Suara Excel masuk ke kepala Nara. Wanita itu menggeram marah. "Mari hentikan semua sampai di sini." Nara meluncur ke arah Zuan dengan Galbathoriq sebagai pijakannya. Dan The Eternal sebagai tamengnya. Wanita itu menyerang Zuan head to head. Bersamaan dengan dua naga mereka yang juga saling cakar. Suara auman memenuhi langit Fatian. Buncahan percikan api semakin sering terlihat. Saat pedang Nara dan pedang Zuan beradu.
Sementara Lucifer justru terdiam, mengamati sang istri yang bergerak lincah melawan Zuan. Pria itu sesekali mengayunkan pedang merah delimanya. Memusnahkan Dementor yang mendekatinya.
Zuan dan Nara terus berduel sengit, hingga Lucifer mendekat. Ikut menyerang Zuan. Nara mundur ketika Lucifer menggantikan dirinya berhadapan dengan Zuan.
"Bagaimana untuk mengalahkannya?" Tanya Nara di tengah hela nafas yang memburu. Nara jelas mulai kelelahan.
"Dia harus dibunuh bersamaan dengan pelindungnya."
"Apa itu juga berlaku untukku?"
"Itu juga berlaku untuk kita. Itulah kenapa aku masih bertahan selama dua ratus tahun ini. Karena ibumu lalu dirimu masih hidup. Kecuali aku dibunuh dengan sihir pelebur seperti kemarin."
Nara mengangguk paham. Sementara Lucifer kini melompat mundur. Zuan melempar Lucifer dengan kekuatannya.
"Kalian membuatku muak!"
Zuan berteriak. Pria itu mulai mengangkat dua tangannya ke atas. Serangkaian mantra sihir terapal dari bibirnya. "Dia akan menghisaap kita semua."The Eternal berkata.
"Maksudmu apa?"
__ADS_1
Belum ada jawaban, tapi Lucifer sudah memberi kode kepada Nara. Sebuah portal penghissap sudah dibuka oleh Zuan. Angin kencang mula bertiup. Kilat di langit seketika saling menyambar. Dan portal itu mulai bekerja. Semua benda mulai terseret ke arah lubang besar itu.
"Lihat yang sudah kau lakukan pada negerimu. Kau menghancurkannya hanya karena keegoisanmu."
Nara terbahak. Siapa yang salah, siapa yang kena marah.
"Eh, Pak Tua kalau ngomong jangan sembarangan!"
Lucio berteriak konyol. Meski dia dikerumuni Dementor karena ikut menjaga dome transparan di bawah, pria itu masih bisa mendengar ucapan Zuan. Satu ledakan bola api, Lucio buat. Para Dementor itu sejenak berhenti bergerak. Sebelum mereka kembali menyerang Lucio yang kali ini dibantu Dominic.
Di atas sana, Nara dan Lucifer sedikit berdebat. Ragnarok harus ditikam di jantungnya menggunakan The Eternal. Hanya itu cara untuk melenyapkan makhluk besar itu.
"Itu berbahaya." Sanggah Lucifer. Dan perdebatan itu terus berlangsung.
"Eh bisa tidak kalian akur sebentar seperti kalau kalian lagi tanam saham."
Ucapan The Eternal membuat Nara mendelik. Hingga saran dari Galbathoriq membuat suami istri itu setuju.
"Oke, mari lakukan dan akhiri semua sampai di sini." Kata Nara mulai mengambil ancang-ancang. Detik berikutnya, tubuh wanita itu sudah melesat ke arah Zuan. Bergerak sesuai rencana dadakan yang mereka harap bisa berhasil.
Portal penghisap itu semakin menggila. Dome pelindung para penduduk dan tentara itu perlahan mulai menghilang. Negeri Fatian di ambang kehancuran.
****
Up lagi readers
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
__ADS_1
***