Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Sudah Cukup


__ADS_3

Di sisi lain, tampak Aro yang tengah berjalan dengan Lucy mengekor di belakangnya. Lucy beberapa kali mengeluh karena Aro sama sekali tidak peduli padanya.


"Astaga, kalau gak ingat aku jatuh cinta sejak dia lahir. Sudah kutebas lehernya. Tidak peduli Tante Erika bakalan nangis darah!"


Maki Lucy dalam hati. Aro menarik satu sudut bibirnya. Dia tahu kalau Lucy mengumpatnya. Pria itu bukan tidak peduli, tapi beginilah dirinya. Aro tipe pria cuek setengah mati yang pernah ada di muka bumi. Kalau kemarin dia disebut Yoon KW 2, tapi semakin ke sini dia benar-benar seperti duplikat Yoon.


"Kak, tungguin dong."


Akhirnya Lucy merengek. Jurus terakhir yang biasanya ampuh untuk menarik perhatian Aro. Dan benar saja, pria itu menghentikan langkahnya. Lantas berbalik melihat ke arah Lucy.


"Kau ini calon ratu Iblis. Jangan sedikit-sedikit merengek. Nanti apa kata kaummu. Apalagi kau perempuan."


Mulailah Aro meracau. Begitu Lucy menyebutnya. Jika pria itu mulai banyak bicara, sebab itu bukan diri Aro sebenarnya.


"Namanya juga perempuan, namanya ya ratu."


Aro mendengus kesal. Pria itu sudah lama mendapat warn dari Lucas, ayah Lucy. Asal Aro mencintai Lucy, mereka tidak masalah jika keduanya bersatu. Tapi selama ini, hanya Lucy yang aktif bergerak. Sedang Aro lebih banyak diam.


Gadis itu berjalan di sisi Yoon. Hari ini, sehari sebelum misi penggagalan peluncuran hulu ledak yang berisi virus vampir. Keduanya memutuskan jalan-jalan keluar sebentar. Lebih tepatnya Lucy yang memaksa Aro. Aro mana mungkin berinisiatif mengajak Lucy lebih dulu.


"Kak...."


Aro hanya diam tidak menyahut seperti biasa. Meski begitu, dia selalu mendengarkan perkataan Lucy. Baik yang serius, ocehan kosong. Curhatan, kemarahan atau apapun itu. Walau sikap Aro sangat menyebalkan, tapi Lucy tidak masalah. Dan perlu diketahui, hanya Lucy yang bisa membawa Aro keluar rumah dan Lucy seorang yang mampu membuat Aro menuruti permintaan seorang gadis.


"Kenapa sih gak pernah nyahut kalau diajak ngomong."


Kali ini Aro menarik dua ujung bibirnya meski samar. Pria dengan kemeja hitam dan celana senada itu, terlihat tampan. Berjalan di sisi Lucy sembari memasukkan satu tangan ke dalam saku celanya. Sangat tampan. Satu tangan lagi dia gunakan untuk berjaga-jaga.


Lucy menghentakkan kaki karena kesal. Selalu saja begitu. Tidak bisa apa, Aro bersikap manis sekali saja padanya. Tidak bisakah Aro bersikap seperti pria-pria lain di luar sana. Yang peduli pada wanitanya, atau romantis barangkali. Lucy mendesah jengkel.

__ADS_1


Romantis? Mungkin kata itu tidak ada dalam kamua hidup Aro. Boro-boro romantis, menjawab saat ditanya saja jarang. Lucy benar-benar harus punya stock sabar lebih untuk menghadapi Aro. Seperti katanya tadi, jika saja dia tidak jatuh cinta lebih dulu pada Aro, mungkin dia sudah menghajar Aro sejak dulu.


Sayangnya, bagi Lucy tidak ada pria lain yang mampu menembus dan menggetarkan hatinya seperti Aro. Tatapan dingin Aro, bahkan sejak pria itu lahir ke dunia, membuat Lucy tidak bisa lari dari jerat pesona Aro.


Padahal Lucy bisa saja mendapatkan pria yang bisa memperlakukannya bak ratu. Dia yang seorang putri iblis, sekaligus putri raja vampir saat ini. Tentu banyak pria dari dua dunia yang menginginkannya. Mereka berlomba mendapat perhatian Lucy. Tapi nyatanya itu semua tidak membuat hati Lucy tergerak.


"Mereka hanya ingin menjilatku. Merangkak untuk bisa menempel padaku. Lalu mengambil keuntungan dariku."


Mungkin yang ada di kepala Lucy banyak benarnya. Karena dia sendiri pernah mendengarnya. Dari sekumpulan pria kalangan elit di dunia iblis dan vampir. Mereka menganggap Lucy hanyalah pion yang bisa mereka mainkan lalu buang begitu saja.


Yang paling menyakitkan Lucy adalah kala mereka menyebut dirinya murahan. Hidup di tengah kumpulan pria tampan. Tanpa segan dan ragu melakukan kontak fisik dengan pria-pria itu. Kadang Lucy berpikir, begitu rendahkah nilai dirinya di mata pria di luar sana.


Padahal pria yang selalu mengelilinginya adalah Lucifer, Lucio, Excel, Dominic dan tentunya Aro. Circle pertemanan Lucy memang hanya itu. Sebab dia tidak percaya orang lain di luar sepupunya sendiri. Mungkin sekarang ditambah Nara, istri Lucifer dan Lexa, kekasih Lucio.


"Hati-hati."


Aro menarik tangan Lucy, ketika gadis itu hampir bertubrukan dengan seorang pejalan kaki lainnya. Selalu saja begini. Aro mencebikkan bibirnya. Kesal pada ketidakwaspadaan putri Asha itu. Ceroboh mungkin menjadi salah satu sifat Lucy yang perlu mendapat perhatian ekstra.


"Aku hanya ceroboh saat bersamamu."


Cengir Lucy yang kini bergelayut manja di lengan Aro. Sementara Aro, pria itu hanya bisa mendengus kesal mendengar jawaban Lucy. Pria itu tidak menolak sentuhan Lucy. Hal itu juga berlaku pada Aro. Tidak ada gadis lain yang bisa menyentuh dirinya selain Lucy.


"Kak...apa kita akan berhasil besok."


Tanya Lucy ragu. Dia hanya sekedar bertanya. Tidak mengharap jawabaan.


"Setidaknya kita akan berusaha." Tidak diduga Aro menjawab pertanyaan Lucy.


Rencana memang sudah disusun. Strategi terbaik sudah mereka siapkan. Dalam hal ini, Hans menginginkan tingkat keberhasilan dari rencananya adalah seratus persen. Mereka tidak boleh gagal.

__ADS_1


Tidak bisa Aro pungkiri. Dia cukup cemas dengan misi mereka besok. Terutama menyangkut keselamatan Lucy. Meski dia tahu, bagaimana tangguhnya putri Lucas ini saat di medan perang. Sama seperti Lucifer. Lucy benar-benar jelmaan iblis di arena pertarungan. Wajah cantik mempesona itu langsung menebarkan aura kematian saat musuh sudah di depan mata.


"Aku cemas. Bukan soal aku, tapi soal Nara."


"Ada Lucifer yang menjaganya."


Sahut Aro cepat. Lucy menghela nafasnya. Hal itu membuat Aro menghentikan langkahnya. Pria tersebut menoleh ke arah Lucy. Dia tahu kegundahan gadis itu.


"Kita sudah mempersiapkan semua dengan baik. Jadi percayalah pada rencana Paman Hans dan kemampuan kita."


Lucy menatap bola mata Aro yang berwarna hitam legam. Bola mata yang akan menyala merah jika Aro marah. "Kecemasanmu tidak beralasan."


Tambah Aro. "Berjanjilah padaku satu hal. Kakak akan menjaga diri."


"Kata-kata itu seharusnya untukmu."


Seketika hening menyapa keduanya. Saat mereka saling bertatapan. Aro tidak menampik kalau Lucylah pemilik hatinya. Hanya saja dia tidak bisa mengekspresikan hal itu. Pria itu juga tidak pernah memberitahukan perasaannya pada siapapun.


Perlahan Lucy mendekat ke arah Aro, memangkas jarak di antara mereka. Hingga perlahan gadis itu menarik kerah Aro. Lantas tanpa ragu mencium bibir Aro. Aro sesaat membeku, merasakan bibir lembut Lucy menyentuh miliknya. Ini bukan kali pertama Lucy menciumnya.


Entah kenapa rasanya kali ini berbeda. Ada kecemasan dalam tiap gerakan bibir Lucy di atas bibir Aro. Merasakan kegundahan Lucy, Aro perlahan menarik tubuh Lucy semakin dekat ke tubuhnya. Pria itu memeluk erat tubuh Lucy. Meyakinkan kalau besok semua akan baik-baik saja.


Perlahan Aro mulai membalas ciuman Lucy. Pria itu ingin Lucy rileks tanpa memikirkan rencana mereka besok. Tak lama, keduanya sudah larut dalam pertautan bibir mereka.


Inilah yang membuat Lucy yakin, kalau Aro punya perasaan yang sama padanya. Pria itu juga mencintainya. Meski Aro tidak pernah menyatakannya pada Lucy. Putri iblis itu tidak mempermasalahkannya. Asal Aro selalu berada di sisinya. Itu sudah cukup.


****


Ritual jempolnya ya guys...

__ADS_1


Like, komen dan votenya ditunggu...terima kasih..😘😘


***


__ADS_2