Lucifer A Guardian Vampire

Lucifer A Guardian Vampire
Ratu Bodoh


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Nara diantar Agas turun ke lantai bawah. Sudut mata Nara mengamati bagian dalam istana yang ternyata sangat megah. Nara menuruni tangga lebar dengan dua pilar besar di kiri kanan ujung tangga. Seluruh ruangan terlihat terang, padahal penerangan hanya berasal dari lilin yang dipasang di dinding batu istana itu.


Mengganti pakaiannya dengan gaun zaman Victoria, Nara sempat menertawakan dirinya sendiri. Ini kalau Lucio melihat penampilannya, bisa ngakak tujuh hari tujuh malam itu anak. Gaun itu terasa menganggu pergerakan Nara. Ahhh... lihat saja. Akan kupatahkan tangan orang yang telah memaksanya memakai gaun yang serasa mencekik pinggangnya. Nara menggerutu dalam hati.


Dalam pandangan Agas, Nara terlihat begitu cantik. Tahu begini, Agas terima tugas ini dari dulu kala. Sesal pria yang berjalan di samping Nara. Nara sendiri seolah tidak memiliki ketakutan akan tempat baru itu. Dia sepertinya sangat mengenali tempat ini. Padahal di belum pernah kemari.


Agas ternyata membawanya ke ruang makan. Di mana sudah menunggu beberapa orang yang duduk di sana. Saat Nara sudah berdiri di depan kursinya. Mereka semua memberi hormat. Seolah Nara adalah pimpinan di sana. Agas lantas memperkenalkan kelima orang yang duduk di sana. Dengan seorang perempuan yang menatap lama pada Nara. Tatapan penuh tanya tanya.


Dari kelima orang itu, tatapan penuh rasa penasaran Nara miliki pada satu orang yang seingat Nara adalah orang yang menghadangnya di gerbang masuk istana itu.


"Kau bisa bermain-main dengannya."


Nara menyeringai mendengar suara di kepalanya. Seolah dia tahu apa yang Nara inginkan. "Panglima Zuan, itukah nama Anda? Bisa ceritakan pada saya, apa yang terjadi di wilayah kita selama saya tidak ada."


Yang bernama Zuan tersenyum tipis. Bukan karena pertanyaan Nara. Tapi karena Nara bertanya sembari memakan sup asparagus yang sudah bercampur racun. Nara sengaja melakukan, padahal suara di kepalanya mencegahnya.


"Apa kau gila? Itu beracun!"


"Kau akan lebih gila lagi, jika tahu apa yang terjadi dengan racun itu."


Yang terjadi selanjutnya adalah Nara yang menyimak penjelasan pria yang bernama Zuan itu, soal kerajaan suku tersebut yang ternyata bernama kerajaan Fatian. Penjelasan selesai begitupun dengan semangkuk sup asparagus yang ludes Nara makan.


"Uuppsss, maaf. Ini terlalu enak jadi aku tidak tahan untuk tidak menghabiskannya."


Cengir Nara tanpa dosa. Semua orang saling pandang, melihat tingkah Nara. Wanita yang beberapa waktu lalu diberitakan sebagai calon pemimpin kerajaan Fatian yang baru.


"Tidak masalah Yang Mulia. Kami justru senang jika Anda sangat menyukai makanan kami."


Nara tersenyum. Melihat ke arah pria yang tampak bijaksana tengah berbicara. Wajahnya memancarkan kedamaian dan ketenangan surgawi. Sepertinya pria itu sudah sampai tahap melepaskan semua nafsuu dunia.


"Dia Yuan. Kau bisa percaya padanya."


"Aku tahu. Eh...sebenarnya kau ini siapa sih? Selalu bicara dikepalaku. Pusing tahu."


"Alah, bukannya kau sering bertelepati dengan suamimu dan yang lainnya?"


"Tapi ini berbeda. Kau seperti berada di kepalaku. Itu...."


Pikiran Nara terpotong, kala Xazian bertanya. "Bagaimana, Yang Mulia? Apa Anda bersedia?"


Nara melongo. Tidak fokus dengan apa yang mereka bicarakan sebelumnya. "Mereka ingin mempercepat pernikahanmu dengan Agas."

__ADS_1


"Hei, aku sudah bersuami."


"Maka tunjukkan kuasamu!"


Nara menarik nafasnya. Menatap tajam Agas yang memandang dirinya sembari tersenyum. Nara menyeringai, apa pria itu pikir, dirinya akan menuruti permintaannya setelah dia dipojokkan.


"Bukankah saya bisa naik tahta tanpa pendamping?"


Perkataan Nara jelas sebuah penolakan untuk Agas. Lebih tepatnya, rencana Zuan kembali tidak berjalan lancar. Agas dan Zuan mengepalkan tangan masing-masing dibawah meja.


"Kerajaan ini milikku sejak awal bukan? Jadi saya bisa naik tahta kapanpun dan tanpa syarat apapun. Untuk pendamping, saya sudah memiliki pilihan."


Semua jelas terkejut. Bagaimana tuan putri mereka sudah memiliki pilihan pendamping, bila tuan putri mereka baru turun dari meditasi di puncak tinggi.


Tapi tidak untuk Agas dan Zuan. Mereka sedikit heran, bukankah seharusnya Nara mengikuti semua perkataan mereka. Ini aneh.


"Apa Paman yakin sudah mengendalikan pikirannya?"


Pertanyaan Agas membuat Zuan geram. Berani sekali Agas meragukan kemampuannya. Dia adalah pengendali pikiran terakhir yang mampu melampaui kemampuan pendahulunya. Jika pendahulunya mengendalikan pikiran harus bersentuhan fisik. Zuan tidak, pria itu mampu mengontrol pikiran orang lain dari jarak ratusan meter. Kemampuan yang Zuan dapat setelah berlatih selama ratusan tahun.


Tanpa dia tahu, Nara malah sudah belajar memblokir pikiran orang lain yang ingin mengendalikan pikiran. Di bawah pelatihan dan perlindungan Lucifer, Nara benar-benar menjadi gadis yang tangguh.


"Tentu saja, dia berada dalam genggamanku. Ditambah racun itu, dia akan melemah secara perlahan. Lalu mati tanpa ada yang mencurigainya."


Agas sedikit bergidik mendengar perkataan Zuan, yang terdengar sangat mengerikan. Dia jelas memiliki rasa lebih pada Nara. Ada rasa tidak rela saat mendengar Nara akan mati.


Agas terdiam. Dia sekarang bingung dengan perasaannya sendiri.


*


*


"Siapa kau?"


Nara bertanya setelah mengunci kamar. Memastikan tidak ada yang menguping pembicaraannya. Sementara wanita itu sedang menginterogasi suara yang menganggu kepalanya.


"Aku adalah mate-mu"


Nara mendengus kesal. Dia tidak mau punya mate lain. Mate-nya adalah Lucifer, sang suami.


"Aku sudah punya mate."


"Aku tahu."


"Lalu kenapa kau...."

__ADS_1


"Aku adalah pelindung di tanah ini. Aku adalah mate bagi keturunan raja Fatian. Pemimpin negeri ini. Kau!"


"Hei, aku tidak berniat jadi ratu ya. Ogah. Ribet."


"Tapi itu takdirmu."


"Aku bisa memilih takdirku. Aku datang ke sini untuk menyelesaikan masalah. Bukan menjadi ratu. Aku lebih suka jadi ilmuwan seperti papaku. Atau....."


"Kau tidak ingin tahu siapa aku, atau dimana mereka. Kau tidak ingin tahu di mana dia?"


Pertanyaan suara itu membungkam bibir Nara. Ya, dia ingin tahu semua itu. Tapi lebih dulu dia ingin tahu soal suara yang meneror kepalanya.


"Aku ingin tahu soal itu semua. Tapi mari mengawalinya dengan, siapa kau?"


Hening sesaat, tidak ada suara yang memenuhi kepala Nara.


"Galbathoriq. Itu namaku."


Nara terdiam, dia seperti ingat sesuatu. Hingga tiba-tiba dia merasa dejavu. Dikepalanya tengah terputar rekaman saat Galbathoriq kalah bertarung dan hampir mati. Beberapa waktu berlalu, hingga tiba-tiba darah mulai keluar dari hidung Nara. Nara tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi dadanya rasanya sesak sekali.


"Nara, jangan terlalu jauh memasuki pikiranku. Kendalikan dirimu."


Galbathoriq setengah berteriak saat darah Nara semakin deras mengalir. Hingga detik berikutnya, wanita itu memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Nara! Tidak! Lepaskan aku!"


Galbathoriq berteriak saat Nara ambruk di lantai kamar dengan darah mengalir dari hidung dan mulut wanita itu.


"Kau ini bodoh sekali atau bagaimana? Sudah kubilang jangan terlalu masuk ke pikiranku!"


Pekik Galbathoriq. Naga besar itu menggeram, dia menggerakkan tubuhnya liar. Berharap kalau rantai di lehernya akan terputus. Lalu dia bisa menolong ratunya. Tapi semuanya gagal.


"Aku akan membalas mereka yang sudah menyakitimu."


Lirih Nara dalam pikiran Galbathoriq. Membalas apanya, jika saat ini saja Nara ambruk hanya karena kenangan yang naga itu tunjukkan.


"Ratu bodoh!"


Ujung bibir Nara tertarik mendengar umpatan lirih Galbatoriq.


****


Up lagi ya guys...


Jangan lupa ritual jempolnya...

__ADS_1


****


__ADS_2